
Berita tentang kematian Naraya sudah menyebar luas keseluruh sosial media, ada yang terkejut, prihatin dan merasa biasa saja , Orang - orang tersebut mengekspresikan dirinya sendiri - sendiri.
Tentu saja berita tersebut membuat pengejar berita , seperti Wartawan langsung menyerbu kediaman Aditya , Mereka menunggu kepulangan jenazah Naraya.
Ambulan yang membawa jenazah Naraya sampai di kediaman keluarga Aditya , Semua anak buah Naraya dan Wiradi semuanya menyambut kepulangan Tuan mereka.
Mereka semua juga mendisiplinkannpara Wartawan agar tidak mengahalangi jalannya ambulan.
" Gila... penjagaannya ketat banget !" ucap seorang Wartawan.
" Benar, bagaimana kita bisa mendapatkan berita kalau kayak begini !" keluh temannnya.
" Ya ..mengambil Foto saja sangat susah , tapi tidak heran sih , Yang meninggal Tuan Naraya , ya jelas penjagaannya seketat ini !" Para Wartawan menggerutu satu sama lain.
Di belakang mobil ambulan terlihat iring - iringan polisi yang mengawal pejabat nomor satu di negara tersebut, beserta beberapa menteri kabinet.
Jelas saja kematian Naraya membuat gaduh negara , pasalnya Naraya juga berperan besar buat negara ,berkat perusahaannya Negara juga ikut maju seiring bertumbuhnya perusahaan Naraya.
Jenazah Naraya yang sudah di kemas dalam Peti dengan baik di bawa masuk kedalam Aula Vila terlebih dahulu.
Wiradi dan para pejabat menunggu Narendra dan istrinya keluar dari kamar , untuk memberikan penghormatan terakhir pada kakeknya.
Narendra mendorong kursi roda Tari , dia terlihat tabah ,padahal di dalam hati dia sangat terluka , karena orang tuanya yang tersisa sudah meninggalkannya.
Pejabat nomor satu di negara tersebut menghampiri Narendra " Saya turut berduka Cita atas kepergian Tuan Naraya , Tuan Muda Aditia "
Narendra hanya menganggukan kepalanya , dia kembali mendorong kursi roda istrinya mendekat ke peti mati.
Saat di samping peti Mati , Narendra menghampiri Kakeknya yang sudah terbujur kaku di pati mati , dia ambruk di lantai sambil menangis.
" Kakek , kenapa kamu meninggalkanku secepat ini , kita baru bertemu beberapa bulan , aku belum sempat membahagiakanmu , aku belum sempat menunjukan kredibilitasku , aku, aku... hiks..hiks..." Air mata Narendra bercucuran.
Narendra bersimpuh di lantai dekat dengan peti mati , dia menundukan kepalanya sambil menangis tersedu - sedu.
Adegan tersebut membuat hati semua orang bergetar , pasalnya mereka sudah mendengar jika Tuan Muda Aditia baru di temukan beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
Tapi sekarang mereka sudah di pisahkan kembali oleh sang pencipta , tentu saja hati Narendra akan sangat terluka.
Kebahagian yang dia rasakan hanya beberapa bulan saja , sebelum akhirnya dia menjadi sebatang kara lagi.
Walaupun sekarang dia sudah mewarisi seluruh aset Aditya , tapi apa itu bisa di bandingkan dengan kehilangan orang tuan satu - satunya.
Tari menggerakan kursi rodanya agar dapat memeluk suaminya dengan mudah , dia ikut merasakan rasa sakit yang Narendra rasakan , pasalnya dia juga merasakan kasih sayang Naraya.
Dari luar Ayu dan Silvia Masuk dengan tergesa - gesa dengan di antar Bandi.
" Narendra ,Tari " Ayu memeluk keduanya dari depan.
Sementara Silvia hanya ikut bersimpuh di samping Narendra.
Tangis keduamya semakin pecah saat kedatangan Ayu , Narendra tidak bisa menahan dirinya sama sekali .
Setelah Narendra dan Tari sudah mulai tenang , Jenazah mulai di Sholatkan , dan kemudian di bawa ke pemakaman.
Acara pemakaman berlangsung seperti melepas seorang pahlawan , mereka semua menaruh hormat terakhirnya pada Naraya.
***
Tari yang menemaninya merasa sedih " Pih... makan dulu yuk, dari pagi papih belum makan apapun " Tari menyodorkan sepiring makanan pada Narendra.
Tapi Narendra tidak menoleh , apa lagi berkata , Tari Menangis " Pih... jangan seperti ini , Papih harus kuat , papih masih punya aku dan anak - anak " Air mata bercucuran di pelupuk mata Tari.
Tari sudah tidak tahu harus membujuk Narendra dengan cara apa lagi , andaikan dia sudah bisa berjalan kembali , dia ingin memeluk suaminya dengan penuh kasih.
***
Di Aula Vila, Wiradi dan yang lainnya terus memeperketat penjagaan , dia tidak mau di hari berkabung keluarga Aditya akan terjadi masalah tambahan.
" Bandi , bagaimana keadaan kedua manusia biadab itu ?" tanya Wiradi geram.
" Mereka berdua di jaga Jony dan anak buahnya , Lux dan anak buahnya juga menjaga di balik bayangan " Jawab Bandi .
__ADS_1
Wiradi mengangguk " Awasi terus mereka , Biara Narendra yang memberikan hukuman pada mereka berdua "
" Saya mengerti Tuan Wiradi !" jawab Bandi tegas.
Winda tiba - tiba keluar dari kamarnya bersama dengan Pengasuh pribadinya " Kakek , Kakek mana Paman , Kok Winda dari pagi tidak melihat kakek ?"
Lulu pengasuh Winda berkata " Tuan Wiradi maaf , Nona dari tadi meminta bertemu Tuan Naraya , Karena biasanya Tuan Naraya memberikan dongeng pada Nona jika mau tidur " Ucap Lulu tidak berdaya.
' Deg ' Wiradi semakin tersayat hatinya , dia memaksakan senyum , menghampiri Winda " Kakek Naraya sedang pergi , bagaimana kalau Kakek Wiradi yang membacakan dongong untuk Winda ?" ucap Wiradi lembut.
" Kakek Wiradi bisa membacakan dongeng juga ?" Tanya Winda polos.
" Tentu saja " jawab Wiradi yakin.
" Tapi Winda maunya dongeng yang Waktu itu kakek Naraya belum selesaikan , apa kakek Wiradi bisa ?" Winda bertanya lagi.
Wiradi tersenyum , dia menggendong Winda " Tentu saja bisa , ayo kita ke kamar , biar kakek yang menemani Winda untuk malam ini " Wiradi mencubit hidung Winda.
" Okeh " Winda tersenyum manis.
Wiradi pun membawa Winda ke kamarnya , dia mengobrol dengan Winda sambil menggendongnya agar lebih akrab.
Biasanya Winda tidak seperti itu , Contohnya saat Naraya di rumah sakit selama satu minggu , Winda tidak pernah menanyakan keberadaannya.
Tapi entah kenapa di kematian Naraya , Winda mencarinya , mungkin karena Naluri seorang anak kecil pada orang yang menyayanginya.
.
.
.
.
.
__ADS_1