Suami Pengamen Menjadi Miliarder

Suami Pengamen Menjadi Miliarder
Bab 81


__ADS_3

Baron menimbang - nimbang kemungkinan yang akan terjadi, karena dia belum mengenal Narendra dengan pasti, jadi dia berniat memastikan dulu apa niat Narendra.


" Apa anda bisa jelaskan lebih detail lagi tentang rencana anda ?" tanya Baron pada Narendra.


Narendra tersenyum " Tentu saja......"


Narendra kemudian menjelaskan rencana dia untuk menguasai semua Aset milik Ludwil, Baron yang mendengar itu mengangguk mengerti, dia tahu garis besar yang ingin dilakukan Narendra.


Baron bertanya pada Brodi " Tuan Brodi, saya akan berada di pihak kalian, tapi saya tidak bisa menjanjikan jika harus membela anda di Zelris, saya hanya akan bersikap Netral seperti yang Tuan Narendra inginkan, apakah anda tidak keberatan ?"


Brodi mengangguk mengerti " Itu sudah cukup, terimakasih Baron atas pengertian kamu !"


Baron ngobrol sebentar dengan mereka, kemudian dia meninggalkan tempat tersebut, karena akan tidak Elok jika dia berlama - lama di Bar Royal untuk Komandan sepertinya.


Brodi menghela napas setelah Baron pergi " Vincen sialan, dia sudah menebak semua yang akan terjadi "


Narendra tersenyum " Sebenarnya apa yang terjadi Brodi ?" tanya Narendra bingung.


Narendra sebenarnya tidak tahu jika anak Ludwil di culik oleh Vincen, saat dia mengatakan niatnya untuk menaklukan Ludwil juga sebenarnya hanya masih sekedar wacana.


Tapi siapa yang menyangka jika ternyata Vincen sudah bisa menebak isi pikiran Narendra, semua ucapan yang Brodi dengar dari mulut Narendra sama persis dengan yang dikatakan Narendra.


Untuk itulah Brodi menggerutu, karena kali ini dia kalah satu langkah dari rencana Vincen.


Brodi tersenyum kecut " Sebenarnya rencana yang anda maksud sedang Vincen jalankan, Vincen juga kemarin menculik anak Ludwil, untuk itulah saya bingung, kenapa rencana anda sama persis dengan Vincen, walaupun perbedaannya anda akan menggunakan cara halus, sementara Vincen dengan cara kasar " Brodi menjelaskan sedetail mungkin.


Narendra membelalakan matanya karena terkejut, pasalnya dia juga belum memberitahu rencana apapun pada Brodi ataupun Vincen.


" Brodi, apa kamu yakin Vincen mengatakan itu semua ?" tanya Narendra penasaran.


Brodi mengangguk " Semuanya sama persis seperti yang anda katakan Tuan !"


Narendra menghela napas lega, dia berpikir untung saja Vincen anak buahnya, jika dia lawannya akan sangat merepotkan melawan orang yang mampu bepikir jauh kedepan.

__ADS_1


****


Sementara itu Ludwil semakin tidak sabar, pasalnya dia belum menerima informasi dari Luke. Dia menelpon Luke juga nomornya tidak aktif.


Akhirnya Ludwil menghubungi bawahan lainnya, untuk mencari tahu kemana Luke pergi, karena dari tadi pagi dia tidak melihat batang hidungnya.


Bawahan Ludwil memasuki ruangannya " Tuan Ludwil !"


" Duduklah !" ucap Ludwil datar.


Saat Bawahannya baru duduk, Ludwil langsung bertanya " Apa kamu melihat Luke ?, kenapa dari tadi pagi dia susah di hubungi ?"


Bawahan Ludwil terkejut karena Ludwil tidak tahu jika Luke telah tewas karena kecelakaan " Tu..Tuan Zain, apakah anda tidak tahu jika Tuan Luke kecelakaan dan tewas ditempat ?"


Ludwil tercengang " apa maksudmu ?!" tanya Ludwil tidak percaya.


" Tuan Zain, tadi pagi Tuan Luke kecelakaan, Mobilnya di tabrak Truk dan ringsek " Jawab bawahan Ludwil.


***


Narendra yang sudah pulang bersama Brodi, dia duduk sofa kamarnya bersama Tari.


Narendra merebahkan tubuhnya, dia tiduran di oaha Tari sambil menatap wajah istri yang menemaninya dari Nol.


Narendra tersenyum saat menatap Tari, Tari yang melihat itu mengerutkan keningnya " Papih kenapa?, senyum - senyum sendiri kaya orang gila " ucap Tari menggoda suaminya.


" Aku memang sudah gila dari dulu, memangnya Mamih gak tahu ?" tanya Narendra usil.


" ih.. gak lucu pih bercandanya " Tari mencebikan bibirnya.


" Memang kenyataannya aku sudah gila, lebih tepatnya tergila - gila dengan Mamih " Narendra menaik turunkan alisnya.


Tarin mencubit pipi Narendra " Sudah Tua juga, masih gombal seperti anak muda !" ucap Tari sambil tersenyum.

__ADS_1


" Justru itu, dengan begitu Cinta kita akan terus awet muda " ucap Narendra genit.


Tari tersenyum malu - malu, pasalnya Narendra selalu bisa membuatnya selalu terngiang - ngiang dengan rayuannya.


Tari bersyukur sekarang sudah tidak ada perusak Rumah tangga yang masuk dalam kehidupan mereka.


Walaupun dulu Rumah tangga mereka selalu diterpa masalah, tapi sekarang mereka bisa menjaga keutuhan rumah tangga mereka dengan baik.


Narendra mengernyitkan dahi saat melihat istrinya tertegun sambil tersenyum menatapnya " Tuhkan, Mamih juga sama sepertiku " tegur Narendra, membuat Tari tersadar.


Tari hanya menanggapinya dengan senyum manisnya " Terimakasih Pih..."


Tari mengecup lembut Bibir Narendra, di beri sinyal tentu saja Narendra tidak menyia - nyiakannya, dia langsung membalas perbuatan Tari, hingga mereka melakukan kegiatan panas di kamar tersebut.


***


Sementara itu Vincen sedang mengantar makanan untuk Aulia, karena Aulia adalah kunci kehancuran Ludwil, Vincen merawat Aulia dengan baik.


" Makanlah..., dan itu baju ganti buat kamu !" Vinven menaruh makanan dan baju ganti disamping Aulia.


Aulia menatap Vincen " Apa yang akan kamu lakukan setelah menghancurkan Ayahku ?, apa kamu tidak punya sedikitpun rasa keperikemanusiaan ?!" Ucap Aulia sambil menitihkan air matanya.


Vincen tersenyum, dia menarik sebuah kursi dan duduk dihadapan Aulia " seharusnya pertanyaan itu kamu tanyakan pada Ayahmu !, aku hanya mengikuti permainannya, apa kamu tahu, sudah berapa keluarga yang dihancurkan Ayahmu ?!" Tanya Vinven dingin.


Aulia tidak bisa menjawab, pasalnya Walaupun dia tidak melihat langsung tindakan Ayahnya, tapi dia memang mendengar jika Ayahnya melakukan segala cara untuk menghancurkan bisnis orang yang sedang berkembang di Zelris.


Vincen mendengus " dengan kamu diam seperti itu, kamu pasti tahu sebusuk apa ayahmu !, Bersyukurlah karena aku tidak langsung membunuhmu !, nikmati hidupmu baik - baik, siapa tahu Tuanku akan menerima kamu sebagai pelayannya nanti !" Setelah mengatakan itu Vincen langsung bergegas pergi dari ruangan tersebut.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2