Suami Pengamen Menjadi Miliarder

Suami Pengamen Menjadi Miliarder
Bab 87


__ADS_3

Aulia masuk berasama dengan Narenda, Brodi, Vincen dan Bandi.


Narendra sudah menyiapkan berkas - berkas yang akan di gunakan untuk memindahkan Aset Ludwil.


Ludwil beranjak bangun dari ranjang dengan susuah payah saat mendengar Suara Aulia " Aulia, apa itu benar - benar kamu ?" tanya Ludwil senang.


" Ya... ini aku, Ayah lebih baik kamu menyerah saja, aku sekarang akan bekerja untuk Tuan Narendra !" ucap Aulia tanpa basa - basi terlebih dahulu.


Ludwil yang sudah duduk tercengang, dia tidak percaya jika anaknya akan mengatakan hal tersebut " Aulia! Apa maksudmu ?".


" Ayah, masa kejayaan kamu sudah berakhir, kamu juga selama ini telah menelantarkan aku demi gundik - gundikmu !, jangan harap aku akan memaafkanmu !" Ucap Aulia ketus.


Ludwil meraung " Dasar anak tidak tahu terimakasih! Aku yang telah membesarkanmu! Aku memberikan apapun yang kamu mau! Tapi apa ini balasan kamu !?"


" Diamlah kau Pria Tua Bodoh! Atau kubunuh !" Vincen menodongkan senjatanya, pasalnya dia marah karena Aulia dibentak - bentak oleh Ludwil.


Narendra mengangkat tangannya " Kalian diam dulu, biar aku yang bicara pada Tuan Zain baik - baik. "


Narendra mendekati Ludwil, dia menarik sebuah kursi dan duduk sembari mnyilangkan satu kakakinya " Tuan Zain, mari kita bicara bisnis, Aku tidak akan megambil alih Aset anda, melainkan memberikan semua Aset anda pada putri anda, jika anda memang peduli padanya buktikan disini !"


" Bandi bawa itu kemari !" Ucap Narendra tegas.


Bandi langsung bergegas menyerahkan berkas yang dia bawa " ini Tuan !"


Narendra menyuruh Bandi kembali ketempatnya dan menyerahkan berkas - berkas dan sebuah Bolpoin pada Ludwil.


Ludwil membaca semua berkas, dia terkejut karena ucapan Narendra benar jika semua Asetnya akan dilimpahkan pada Aulia.

__ADS_1


Ludwil menoleh ke arah Narendra " Sebenarnya apa rencana kamu !" ucap Ludwil ketus.


" Rencanaku? Bukankah anda sudah lihat sendiri, itulah rencanaku ?" jawab Narendra santai sembari menunujuk berkas - berkas Aset Ludwil.


Ludwil percaya jika berkas - berkas tersebut memang asli, pasalnya disana ada tanda tangan pejabat Zelris, ditambah berkas - berkas tersebut semuanya memiliki stempel pengadilan Zelris, itu saja membuktikan jika semuanya sudah disiapkan dengan matang.


Yang membuat Ludwil geram sebenarnya karena para pejabat Zelris ternyata bersekongkol dengan Narendra, jika Narendra bisa mendapatkan berkas tersebut dengan mudah berarti semua itu benar.


Ludwil mengendurkan emosinya, dia sudah tahu jika dia sudah kalah " Apakah benar ini semua untuk Aulia ?" tanya Ludwil lemah.


" Tentu saja, anda bisa melihatnya sendiri bukan ?" jawab Narendra sembari tersenyum.


Ludwil menatap Aulia dengan sendu. " Aulia, Ayah harap dengan Ayah memberikan semuanya untukmu, maka kamu akan memaafkan Ayah !"


Ludwil menatap berkas - berkas tersebut, di langsung menandatangani semua berkasnya kemudian memberikan pada Narendra.


Narendra menghampiri Aulia dan memberikan berkas tersebut " Ayahmu sangat baik, tidak perlu kekerasan untuk merayunya. " Ucap Narendra penuh Arti.


Aulia mengangguk, dia mengeluarkan Pistol yang daritadi dia sembunyikan " Maaf Ayah !" tangan Aulia bergetar, dia juga menitihkan air mata.


" Aulia apa yang kamu lakukan !, Narendra Bajingan Kamu ....!"


" Dorr !" Peluru tembakan Aulia tepat mengenai kepala Ludwil, karena dia sering mengikuti kegiatan olah raga menembak, jadi Aulia bisa mengarahkan bidikannya.


Ludwil terkapar diranjang tersebut dengan darah yang mengalir di lubang kepalanya, sementara Aulia ambruk di lantai sambil menangis, walaupun Ludwil selalu mengabaikannya, tapi dia tetap saja Ayahnya.


Perjanjian Aulia dengan Narendra sebelum menemui Ludwil, dia harus membunuh Ludwil dengan tangannya sendiri, jika dia berhasil melakukannya, maka Narendra akan membuatnya menjadi wanita terkuat di Zelris dengan bantuannya.

__ADS_1


Walaupun Aulia sempat ragu, tapi akhirnya dia membulatkan tekadnya untuk melakukan hal tersebut, dia rela menjadi bawahan Narendra daripada harus melihat Ayahnya yang terus bertingkah seperti Iblis.


Narendra membawa berkas - berkas tersebut pergi, sebelum pergi dia menegur Vincen " Kamu tenangkan Aulian Vincen dan urus mayat Ludwil secepatnya !"


" Dimengerti Tuan Narendra ! " jawab Vincen tegas.


Narendra meninggalkan tempat tersebut bersama Brodi dan Bandi, sementara Vincen mengurus sisanya bersama anak buahnya.


Narendra masuk kekamarnya, tubuhnya bergetar hebat, Walaupun dia sekarang harus lebih kejam, tapi tetap saja melihat anak yang membunuh Ayahnya itu sangat menakutkan.


Narendra menyenderkan tubuhnya di sofa kamarnya, dia menghela napas " Ya ampun... apakah begini rasanya jadi orang yang kejam ?, apakah Aulia akan baik - bak saja ?" gumam Narendra sembari menatap langit - langit kamarnya.


Seperti biasa Tari datang disaat yang tepat, dia duduk disamping suaminya sambil tersenyum simpul " Kenapa lagi pih ?" tanya Tari lembut.


Narndra menghela napas lagi " Entahlah Mih, apakah aku sangat kejam menyuruh Aulia untuk membunuh Ayahnya sendiri ?"


Tari menutup mulutnya karena terkejut " Astaga... maksud papih apa ?"


Narendra tersenyum getir " musuhku selama ini Ayahnya Aulia, dia yang hampir membunuh kita, tapi sekarang dia sudah di bunuh Aulia, apakah aku kejam Mih ?" Narendra menatap Tari dengan sendu.


Tari menggelengkan kepalanya " Mungkin Papih memang kejam, tapi itu untuk membela diri Pih, yang paling penting dimana Aulia sekarang ?" tanya Tari khawatir.


" Dia dengan Vincen, mungkin dihalaman " ucap Narendra lemah.


Tari langsung beranjak dari duduknya, dia langsung pamit pada Narendra untuk menemui Aulia, pasalnya dia yakin jika Aulia sangat sedih sekarang.


Narendra mengangguk mengerti, pasalnya dia juga tahu rasanya kehilangan keluarganya, apalagi Aulia yang menghilangkan nyawa ayahnya sendiri, Narendra tidak bisa membayangkan sehancur apa hati Aulia.

__ADS_1


__ADS_2