
Aulia di bawa kesebuah kamar tamu, dia juga diberikan pakaian ganti oleh Tari, Aulia sedikit tertegun karena Tari sangat baik padanya.
Aulia kemudian bertanya pada Tari, saat dia akan keluar dari kamar " Nona... kenapa anda sangat baik pada saya ?, bukankah saya tawanan anda ?"
Tari tersenyum. dia menjawab dengan singkat " Karena aku Wanita, sama seperti kamu " Setelah mengatakan itu Tari keluar dari kamar.
Aulia tertegun dengan jawaban Tari, pasalnya jawaban Tari membuat dia bingung, kenapa hanya alasan sama seorang Wanita ?, apakah tidak ada alasan lainnya ?.
Semakin berpikir Aulia semakin bingung, Jadi dia hanya bisa bersukur saja, karena masih ada orang baik yang mengeluarkan dari tempat lembab yang penuh nyamuk itu.
Sementara itu, Vincen sedang menemui Narendra, dia merasa keberatan jika Aulia harus tinggal didalam Vila, pasalnya dia masih ingin bermain - main dengannya.
Narendra menjawab dengan enteng " kamu bilang saja sama istriku, aku tidak mau bertengkar dengannya karena masalah ini "
Vincen menghela napas " Tapi Tuan, kalau Nanti dia mencoba kabur bagaimana ?, dia kartu As kita, jika sampai dia bisa kabur, Ludwil pasti bisa lolos dari rencana ini !" Ucap Vincen merengek.
Narendra mengerutkan keningnya, dia merasa jika ucapan Vincen tidak sejalan dengan ekspresinya, karena Narendra melihat jika Vincen seperti pria yang di pisahkan dengan Wanitanya.
Narendra menatap tajam Vincen " Apa kamu jatuh cinta dengannya Vincen ?" tanya Narendra menyelidik.
" A..apa ma..ksud Tuan, mana mungkin saya jatuh cinta dengannya !" jawab Vincen tergagap.
Narendra tersenyum saat melihat Tari " Sayang, Vincen ingin bicara padamu "
Sontak saja Vincen kaget, dia langsung menoleh kebelakang, benar saja Tari sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
" Mau bicara apa !" tanya Tari ketus.
Vincen belum menjawab, Narendra buka suara " Katanya dia keberatan jika pujaan hatinya di bawa begitu saja oleh kamu !"
Tari membelalakan matanya karena terkejut, dia menatap Vincen yang sedang tersipu, Tari juga ikut terkejut, dia yang tadinya memasang wajah galak langsung melemas.
Tari duduk di samping Narendra " Astaga Vincen... ingat umur !, kamu menyukai Wanita muda ?, memangnya kamu belum punya istri ?"
__ADS_1
Tari berbicara seperti itu karena menurut Tari Vincen lebih tua dari Narendra, karena wajah dia terlihat sangat tua.
Vincen menghela napas " Memangnya wajahku setua itu ?, lagi pula apa aku salah menyukai Wanita muda ?"
Narendra dan Tari saling menatap, Narendra langsung tertawa terbahak - bahak " hahahahaha....."
Narendra tertawa sampai sakit perut, jika Tari tidak mencubitnya mungkin dia akan terus tertawa seperti itu.
Tari bertanya dengan serius " Memang umur kamu berapa Vincen ?"
" Nyonya, Aku masih 35 tahun, memangnya salah jika aku belum menikah ? " jawab Vincen getir.
" Astaga.... " Tari menutup mulutnya tidak percaya.
Narendra juga sama terkejutnya, karena Narendra mengira jika Vincen seumuran dengan Brodi, tapi siapa yang menyangka jika hanya wajah Vincen yang terlihat tua, tapi umurnya masih produktif untuk seorang pria.
" Vincen kamu serius ?" tanya Narendra penasaran.
" Kamu keluar dulu, panggil Brodi dan Bandi kesini, aku mau bicara dengan mereka !" Narendra memberikan perintah.
Vincen hanya bisa menurut, dia belum mendapat jawaban, tapi Narendra sudah mengusirnya, Vincen keluar dengan wajah ditekuk.
Saat dia memanggil Brodi, tentu saja Brodi mengerutkan keningnya saat melihat Vincen yang lesu, pasalnya dia selalu melihat Vincen yang seperti Iblis.
Tapi Brodi tidak bertanya Karena Narendra memanggilnya, jadi dia pikir ada masalah penting yang akan di bicarakan dengannya.
Brodi dan Bandi masuk kedalam dan memberikan salam, Narendra langsung menyuruh mereka berdua duduk.
" Brodi, aku mau bertanya padamu, apa benar Vincen belum menikah ?" tanya Narendra setelah Brodi duduk.
Jelas saja Brodi terkejut, pasalnya dia kira Narendra ingin membahas masalah penting, tapi malah bertanya masalah Vincen.
Brodi terlihat menghela napas " Tuan Narendra, memangnya perlu ditanyakan ?, sudah jelas bukan, mana ada Wanita yang mau dengan Iblis sepertinya, Wanita penghibur saja lebih memilih bunuh diri saat disuruh melayaninya "
__ADS_1
Narendra, Tari dan Bandi terkejut, mereka bertiha menganga karena tercengang mendengar perkataan Brodi.
" Brodi !, kamu jangan bercanda " ucap Narendra serius.
" Tuan Narendra, buat apa saya berbohong dengan anda, saya sudah bekerja dengannya sepuluh tahun, tepatnya waktu dia masih remaja, saya tahu semuanya tentang dia, gara - gara kejadian Wanita penghibur yang bunuh diri, dia menutup hatinya untuk seorang Wanita " Brodi berkata dengan lesu.
" Tuan Brodi, bukankah itu terlalu keterlaluan, setahu saya, Wanita penghibur akan melayani siapa saja, walaupun dia berparas buruk rupa ?" tanya Bandi yang ikut penasaran.
Brodi menghela napas lagi " Sebenarnya bulan vuma wajahnya yang menakutkan, Vincen tidak bisa bertingkah lembut sedikitpun pada Wanita, dia cenderung kasar dengan seorang wanita, entah itu kelainnya atau apa, aku juga tidak tahu " ucap Brodi tidak berdaya.
" Tapi dia menyukai Aulia, Brodi !" Narendra nyeletuk begitu saja.
Brodi terkejut " Benarkah ? " tanya Brodi penasaran.
Narendra dan Tari mengangguk, Brodi bertanya lagi " Kenapa anda bisa tahu jika Vincen menyukainya ?"
Narendra tertawa " Hahahaha... dia merengek seperti anak kecil saat Istriku membawa Aulia masuk Vila "
" Pantas saja tadi wajah dia lesu, jadi itu alasannya, Kalau Aulia mau jodohkan saja Tuan, lagi pula sebentar lagi Aulia juga bakal sebatang kara, saya yakin Vincen akan menghabisi Ludwil " ucap Brodi serius.
Tari ikut bicara " bagaimana mungkin dia tega membunuh Calon mertuanya ?, bukankah itu mustahil Brodi ?"
Narendra dan Bandi mengaggukan kepalanya setuju, pasalnya walaupun Ludwil sudah berbuat jahat, tapi karena dia calon mertuanya mana mungkin dia tega.
Brodi tersenyum getir " itulah Vincen, tidak ada yang tahu hatinya seperti apa, saya juga sering salah menebak isi pikirannya " Brodi berkata dengan tidak berdaya.
Narendra hanya menghela napas, dia memikirkan banyak hal tentang Vincen, jika ucapan Brodi benar, maka Vincen di besarkan dengan kasar, atau lebih tepatnya kehidupannya saat dia maih anak - anak tidak ada yang membimbingnya.
.
.
.
__ADS_1