
Wira bukanlah orang bodoh yang akan memasuki ruangan bos mafia tanpa persiapan, dia melemparkan gas tidur seukuran granat pada ruangan tersebut.
Felix dan Roger otomatis terkejut , mereka mencoba menahan nafas dan membuang gas itu keluar , tapi sayangnya Wira sudah mempersiapkan banyak gas tidur sebelum berangkat ke tempat Roger dan Felix.
" Brengsek !!, siapa kalian !!?" Roger meraung.
Sementara Felix yang tidak kuat lagi menahan napas dia menghirup gas tidur dan langsung ambruk di lantai " Bruggg !!"
Roger melihat Felix yang terkapar " Dasar Babi gendut !!"
Roger mencoba keluar dengan menodongkan pistolnya ke pintu, sambil berjala perlahan.
Wira dan Jony yang mengenakan Masker gas ,mereka mendengar langkah kaki dari dalam.
Tentu saja mereka tidak membiarkan itu, Mereka berdua menembaki pintu masuk , bertujuan untuk menghentikan langkah Roger.
Roger mengumpat dalam hati " Bajingan !!, kalau begini terus aku juga tidak tahan lagi !!"
Gas tidur sudah memenuhi ruangan tersebut, Roger juga sudah berkeringat karena menahan napas terlalu lama.
akhirnya Roger menyerah , dia menghirup udara di dalam ruangan tersebut yang di penuhi dengan gas tidur.
Seketika mata Roger langsung berangsur - angsur memberat " Bruggg !!" Tubuh Rogerpun ambruk di lantai.
Wira dan Jony yang mendengar suara tubuh jatuh di lantai langsung memeriksa dengan kaca , benar saja ternyata Roger dan Felix sudah terkapar di lantai.
Jony dan Wira langsung bergegas mengikat mereka dan menyeretnya keluar dari markas tersebut.
Di pintu markas baku tembak masih terjadi , bawahan Jony tidak satupun yang terluka ,pasalnya mereka tidak di haruskan untuk membunuh musuh , melainkan menjaga keselamatannya.
" Ah.. Tuan Jony lama banget Anying !!!"
" Benar .. kalau begini mereka akan busa merangsek ketempat kita !"
" Diam kalian !!, tetap fokus !, jangan banyak mengeluh !" Ketua kelompok tersebut menegur bawahannya.
" Siap ndan !!" Mereka seketika berhenti mengeluh dan melanjutkan tugas mereka.
Beberapa saat kemudian dari dalam markas terdengar suara Jony dengan pengeras suara " Kalian semua menyerahlah , Bos kalian sudah kami lumpuhkan !!"
Anak buah Roger yang mendengar suara itu langsung berhenti menembak , mereka kemudian menoleh ke arah pintu masuk Markas, terlihat Wira menyeret Roger sambil menodongkan senjatanya di kepala Roger.
" Buang senjata kalian dan tarh tangan kalian di kepala atau aku akan membunuh Bos kalian !!" Wira berkata dengan tegas.
Anak buah Roger tentu saja langsung menurut, mereka membuang senjata mereka ke tanah .
__ADS_1
Bawahan Jony yang melihat itu langsung bergegas mengamankan senjata yang mereka lemparkan di tanah untuk mengurangi resiko jika ada yang bertindak nekad.
Jony terlihat berlari dalam markas , karena dia tadi menggunakan ruang penyiaran Markas Roger.
Jony dan bawahannya membawa Roger dan Felix ke mobil mereka , sementara Wira melemparkan 5 granat sekaligus ke arah anak buah Roger yang sedang berjongkok di tanah.
Tentu saja anak buah Roger terkejut , mereka mencoba melarikan diri sayangnya sudah terlambat.
" Duar !
" Duar !
" Duar !
" Duar !
" Duar !
Seketika tempat tersebut hening setelah bunyi ledakan granat yang terakhir , hanya tersisa mayat yang berhamburan di tanah.
Jony yang melihat itu menggelengkan kepalanya " benar - benar tidak punya perasaan !" tapi Jony kagum, karena tindakan Wira mencegah anak buah Roger untuk membalaskan dendam.
Mereka kemudian meninggalkan tempat tersebut dengan Membawa Roger dan Felix hidup - hidup tanpa Luka secuilpun.
***
Karena mau bagaimanapun Naraya sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri.
Sebenarnya di rumah sakit juga ada pelayan Naraya yang menjaga 24 jam untuk sesekali membersihkan tubuhnya dan mengantisipasi jika Naraya bangun maka dia akan langsung melaporkan pada pengawal yang berjaga di depan pintu ruangan tersebut.
Tiba - tiba kondisi Naraya melemah , Pelayan yang ada di tempat tersebut langsung melaporkan pada Wiradi saat Napas Naraya tersengal - sengal.
Wiradi bergegas memanggil Dokter, Dokter yang mendapat laporan tersebut langsung bergegas untuk memeriksa Naraya.
" Detak jantungnya melemah , siapkan alat kejut jantung !!" ucap Sang Dokter cepat.
Suster yang membantu dokter tersebut langsung menyiapkan alat kejut jantung.
Wirada dan pelayan yang menunggu di luar ruangan cemas " Bertahanlah Naraya !!" Gumam Wiradi.
Pelayan yang bersama Wiradi terlihat berkomat - kamit membacakan do'a untuk majikannya , dia terlihat meneteskan air matanya.
Di dalam Ruangan , dokter langsung mengejutkan jantung Naraya yang semakin melemah.
" Tit
__ADS_1
" Tit
" Tit " terdengar suara mesin yang masih lemah.
" Sekali lagi !" Dokter menekankan alat kejut jantung pada dada Naraya.
" Tit
" Tit
" Tit
" Tittttttttttttttttttttttttttt " terlihat garis lurus di mesin , Narayapun menghembuskan napas terakhir.
" Jam 10.30 , Kematian Naraya aditya , lepas semua alat yang menempel pada tubuh Tuan Naraya sus " Ucap dokter tidak berdaya.
" Baik Dok !" Suster mengangguk mengerti.
Dokter keluar ruangan , Wiradi dan pelayan langsung menghampirinya.
" Bagaimana dok ?" Tanya Wiradi serius.
Dokter menggelengkan kepalanya " Kami sudah berusaha semaksimal mungkin , tapi Tuhan berkata lain , Tuan Aditya sudah menghembuskan nafas terakhir , Maaf Tuan Wiradi "
Pelayan ambruk di tanah mendengar kematian majikannya , Sementara Wiradi menonjok kaca di ruangan tersebut " Prangggg !!!"
" apa gunanya kalian !!, Mengurus seperti ini saja tidak bisa !!" Wiradi meraung tubuhnya gemetar .
" Tuan Wiradi , kami sudah berusaha semaksimal mungki... " Dokter belum selesai bicara , Wiradi mencekal kerah Dokter denga tangannya yang berlumaran darah hingga jjas dokter yang putuh berwarna merah.
" Berusaha !!, Kalian hanya bersantai - santai setiap hari !, jaluan tidak pernah memikirkan Naraya hidup atau mati 6 apa kalian puas sekarang !!!" Wiradi meraung membuat kegaduhan di tempat tersebut.
Dokter berkeringat dingin , dia ketakutan hingga kencing di celana , pasalnya dia tahu siapa Wiradi .
" Tuan tenanglah " ucap salah satu anak buah Wiradi.
Tapi Wiradi malah menendangnya hingga terlempar dan menabrak dinding " Bruugggg !!"
Wiradi melempar dokter hingga nyungsep di lantai , Wiradi kemudian ambruk di tanah sambil menitihkan air matanya " Naraya... kenapa kamu pergi lebih dulu " Suaranya bergetar , terdengar kegetiran dalam nada bicara Wiradi....
.
.
..
__ADS_1
.