
Sementara itu , Wira dan Jony yang berhasil menangkap Roger dan Felix , mereka sudah sampai di Vila Narendra.
Narendra yang sudah di telepon Jony jika mereka akan sampai di Vilanya , dia menunggu di depan Vila bersama dengan Tari.
Mobil yang di bawa Wira dan Jony memasuki gerbang Vila , mobil Van tersebut berhenti di depan vila persis.
Wira dan Jony keluar dari mobil , mereka mengeluarkan Felix dan Roger yang sudah tersadar dari pintu belakang mobil.
Saat Narendra akan menghampiri Roger dan Felix ponselnya berdering , dia melihat nama Wiradi di layar ponsel.
Narendra langsung mengangkatnya " Ada apa paman ?"
" Naraya ndra .." Suara Wiradi bergetar di seberang telepon.
" Kenapa dengan kakek ,paman ?" tanya Narendra penasaran.
Wiradi twrdengar menghela napas " kamu yang sabar yah ndra , Naraya tidak bisa tertolong lagi , kami akan membawanya pul..."
Wiradi belum selesai bicara Narendra menjatuhkan ponselnya , Narendra menitihkan Air mata.
Tari yang melihat itu bertanya " Pih..ada apa ?"
Narendra ambruk di depan istrinya " Kakek Naraya mih.., kakek...!!!" Narendra berteriak.
Tari menutup mulutnya tidak percaya , dia lansung menggerakan kursi rodanya sendiri agar bisa memeluk suaminya " pih..sabar pih..."
Wira dan Jony yang melihat Narendra dan istrinya menangus saling menatap, mereka bertanya - tanya apa yang sebenarnya terjadi.
tapi beberapa saat kemudian ,Narendra melepaskan pelukan Tari , dia menghampiri Roger dengan wajah yang menggelap.
Tanpa basa - basi Narendra langsung memukul wajah Roger sekuat - kuatnya " Buuggg !!" Roger terhuyung dengan serangan mendadak Narendra.
" Bruakkk !!" punggung Roger menabrak samping mobil.
Tidak sampai di situ Narendra memukuli Roger dengan brutal sambil menitihkan air matanya.
__ADS_1
" Bug
" Bug
" Bug
" Bug
puluhan pukulan membabi buta Narendra mengenai Wajah Roger dengan telak , pelipis Roger bocor , darah mengalir dari pelipisnya dengan deras.
Tapi tidak menghentikan pukulannya , dia terus menerus menghujani Roger pukulan tanpa berbicara sepetah katapun.
Felix yang melihat itu begidik ngeri , pasalnya dia tidak tahu jika Narendra akan sebrutal itu.
Tari berteriak histeris melihat suaminya seperti itu " pih..!, hentikan pih... kamu jangan seperti ini , hiks.. hiks... !"
Jony melerai Narendra , dia memeluk Narendra dengan Erat " Tuan hentikan , anda jangan seperti ini "
" Lepaskan aku !!, akan kubunuh bajingan yang telah membunuh kakekku dengan tanganku sendiri !!, Lepaskan Jony !!!" Narendra berteriak terus menerus.
" Ada apa ini Jony ?" Tanya Bandi Bingung.
" Aku juga tidak tahu , tiba - tiaba tuan seperti ini setelah menerima telepon " Ucap Jony tidak berdaya karena Narendra terus meronta.
" Lepaskan Aku !!!, akan kubunuh dia dengan tanganku sendiri !!!, Lepaskan !!!" Mau bagaimanapun Jony yang sudah terlatih beladiri tentu saja dia lebih kuat dari Narendra, Walaupun Narendra meronta - ronta Jony madih sanggup memeganginya.
Bandi menghela napas " jadi Tuan Narendra sudah tahu jika Tuan Naraya sudah tidak ada "
Jony dan Wira terkejut , pasalnya mereka mengira jika Narendra marah karena hanya sekedar melihat Roger , tapi ternyata karena Naraya meninggal.
Bandi menepuk kedua pipi Narendra dengan tangannya " Tuan Narendra dengarkan aku , anda tidak pantas mengotori tangan anda sendiri untuk melenyapkan mereka , tenanglah Tuan , jika anda seperti ini Tuan Naraya pasti akan bersedih di alam sana "
Narendra menangis " Tapi dia membunuh kakek Bandi !"
" Saya tahu Tuan , tapi alangkah baiknya Tuan tenang lebih dulu , kita anatar kepergian Tuan Naraya setelah itu urus mereka " ucap Bandi lembut.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Bandi , Narendra mulai tidak meronta - ronta lagi , Jonypun melepaskannya , Narendra ambruk di tanah " Kakek..., hiks..hiks... "
Felix yang mendengar Naraya sudah meninggal tertawa ,walaupun dia sudah babak belur " Hahahaha... akhirnya mati juga kau Tua bangka !"
Bandi tanpa banyak kata memukul tengkuk Roger hingga dia pingsan , pasalnya dia tidak ingin membunuh Roger begitu saja.
Bandi mau membuat Roger tersiksa terlebih dahulu sebelum menemui ajalanya , agar Narendra bisa sedikit melampiaskan amarahnya " Jony , sekap mereka di ruang bawah tanah !, jangan beri mereka makan atau minum, Sumpal mulut mereka agar tidak menggigit lidah untuk bunuh diri !" Bandi mmerintah dengan tegas.
" Baik !" Jony langsung membawa Roger dan Felix ke ruang Bawah tanah di bantu anak buahnya.
Setelah kepergian mereka , Wira yang merasa bertanggung jawab dengan kematian Naraya , dia berlutut di hadapan Narendra.
" Tuan Narendra , ini semua salah saya karena telah mencelakakan kalian, saya siapa menerima hukuman apapun " Ucap Wira lemah.
Narendra tidak menggubris ucapan Wira , dia bangkit dan menghampiri istrinya , mendorong kursi rodanya masuk kedalam Vila.
Bandi menghela napas " Bangunlah , Tuan Narendra sepertinya sangat menyukaimu , karena dia tidak menghukummu , jangan sia - siakan kebaikan Tuan Narendra " Bandi pergi dengan menepuk bahu Wira.
Bandi kemudian menyuruh semua pelayan dan anak buahnya untuk mempersiapkan pemakaman Naraya.
Sementara Narendra dan Istrinya di dalam kamar sedang saling menguatkan , Mereka berdua tidak percaya jika Naraya akan meninggalkan mereka dengan cepat.
" Pih.. sini obati lukamu lebih dulu " Tari meraih tangan Narendra yang terluka akibat memukuli Roger, Karena dia tidak pernah belajar bela diri jadi tangannya tidak seperti tangan anak buahnya.
Tari membalut tangan Narendra dengan perban " Pih... hangan bersedih lagi yah , kita akan menjalani ini bersama - sama "
Narendra menatap istrinya dengan sendu , dia tidak berbicara hanya bisa menunjukan raut wajah yang sangat sedih pada istrinya , Tari yang sudah selesai membalut luka Narendra ,dia langsung memeluk suaminya.
.
.
.
.
__ADS_1
.