
Vincen kembali menghubungi Ludwil, dia ingin mendesak Ludwil agar cepat menyerahkan seluruh Asetnya.
Ludwil membuat begitu banyak alasan, tapi karena Vincen sudah tahu jika Brodi telah menemui Baron, Vincen tidak terburu - buru untuk memeras Ludwil.
Dia ingin membuat Ludwil semakin prustasi, karena Vincen yakin jika Baron juga tidak akan memberitahu lokasinya, jadi dia dengan santai ingin mempermainkan Ludwil.
Di ruangan Ludwil, dia sedang berpikir bagaimana caranya untuk menemukan Aulia, karena sekarang orang yang bisa mencari informasi dengan cepat sudah tidak ada, jadi dia harus mengandalkan semua anak buahnya.
Sayangnya anak buah Ludwil semuanya tidak seperti Luke, hanya Luke yang bekerja sepenuh hati untuknya, yang lain hanya sekedar percaya jika ada uang.
Karena Ludwil tidak seperti Narendra atau kakeknya, yang benar - benar memperhatikan kemakmuran anak buahnya, Ludwil berpikir selagi ada uang semuanya dapat dibeli olehnya, tapi dia tidak berpikir jika hati manusia tidak bisa dibeli dengan mudah, mereka bisa membelot kapan saja jika ada orang yang mampu membayar mereka lebih tinggi.
Ponsel Ludwil berdering " Halo !" Ludwil tanpa ragu langsung mengangkatnya.
" Tuan Zain, besok adalah batas waktunya, ingat itu baik - baik, jika semua kemauanku tidak kamu penuhi maka ucapkan selamat tinggal untuk putrimu !" gertak Vincen diseberang telepon.
" Aku akan memenuhinya, tolong jangan apa - apakan putriku " jawab Ludwil memohon.
" Itu semua tergantung dengan keputusan anda besok Tuan Zain, jangan mengira jika aku hanya main - main !" Setelah mengatakan itu, Vincen langsung mematikan Panggilannya.
Ludwil semakin panik, dia tidak tahu harus berbuat apa, Baron juga sampai sekarang tidak menghubunginya, sementara anak buahnya yang lain seakan - akan hanya diam saja.
Ludwil menelpon semua depertemen yang dia kenal untuk membantunya, tapi semua jawaban mereka hanya , baik, iya, serahkan saja pada kami dan anda tenang saja.
Jawaban - jawban tersebut, bukannya membuat Ludwil tenang, tapi dia malah semakin prustasi, pasalnya jawaban seperti itu seolah menggantung, entah bisa di andalkan atau tidak.
***
Di tempat penyekapan Vincen menyeringai senang, karena dia tahu jika dari nada suara Ludwil, dia sedang panik.
Tapi saat dia sedang Asyik membayangkan wajah Ludwil yang sedang Frustasi, tiba - tiba Tari menegurnya " Vincen, apa benar kamu menyekap seorang Wanita ?" tanya Tari dingin.
__ADS_1
" Eh... maksud Nyonya ?" Vincen malah bertanya balik.
Saat Tari di beritahu Narendra jika Vincen menyekap Aulia, Tari yang notabenya sama - sama Wanita, dia langsung mencari Vincen.
Karena dia tahu bagaimana rasanya di jauhkan dari keluarganya, untuk itu Tari ingin menemui Aulia dan menghiburnya.
" Buka pintunya !" tegur Tari.
" Tapi Nyonya, nanti dia melarikan diri bagaimana ?" Vincen bertanya seperti orang bodoh.
" Mau melarikan diri kemana coba, masa orang sebanyak itu tidak bisa mengawasi seorang Wanita !" jawab Tari ketus.
Vincen hanya bisa menurut, dia membuka pintu ruang penyekapan, Tari langsung masuk, dia melihat seorang wanita muda yang sedang memeluk kakinya diatas ranjang.
Tari menghampirinya dan bertanya dengan lembut " apakah kamu yang bernama Aulia ?"
Saat mendengar suara Tari, Aulia mendongakan kepalanya, dia menatap Tari dengan penuh pertanyaaan.
" Ka..Kamu siapa ?" Tanya Aulia bingung.
" Aku Tari, apa kamu mau keluar dari sini ?, tapi sebelum itu kamu harus berjanji padaku dulu jika kamu tidak akan bertinfak nekad jika keluar dari sini " ucap Tari Lembut.
Vincen tidak rela mainannya akan direbut oleh Tari " Nyonya.... , jangan se..."
" Diam kamu !" Tari membentak Vincen.
Seketika Vincen terdiam, Entah kenapa dia jadi sangat patuh, padahal dulu dia tidak sepatuh itu pada Tuannya.
" Sial !, kenapa aku bisa takut padanya ?, apa karena pengaruh Tuan Narendra ?" Vincen bertanya - tanya dalam hatinya.
Aulia yang melihat Vincen sangat patuh pada Tari, dia menatap Tari dengan seksama, dia kemudian memikirkan tawaran Tari.
__ADS_1
Aulia menghela napas " Baik, saya akan ikut dengan Anda "
Tari tersenyum " Tapi kamu harus janji dulu, aku tidak mau bikin kecewa suamiku "
" Saya janji tidak akan berbuat nekat jika keluar dari sini !" ucap Aulia yakin.
Aulia sudah memikirkan matang - matang nasibnya ditempat tersebut, dia teringat dengan ucapan Vincen, jika dia beruntung akan melayani majikannya, jadi saat ada kesempatan, Aulia tidak mau membuangnya begitu saja, walaupun dia tidak tahu bagaimana nanti Ayahnya, tapi setidaknya dia ingin memperbaiki nama Zain.
Saat Aulia di bawa keluar dari ruangan tersebut, Wajah Vincen cemberut, dia seakan kehilangan barang berharganya.
Aulia menjulurkan lidahnya ke arah Vincen, pasalnya dia selama ini kesal karena selalu di ceramahi Vincen, Saat dia membawakan makanan.
Vincen tidak tahu harus tertawa atau menangis, dia sendiri bingung dengan kejadian terasebut, di sisi lain dia ingin Aulia bebas, tapi di sisi lain juga dia ingin terus mengurung Aulia seolah miliknya.
Tari membawamasuk Aulia kedalam Vila, Narendra yang kebetulan melihatnya bertanya " Siapa dia mih ?"
" Lah... masa papih tidak kenal dengan orang yang diceritakan sendiri ?" Tari malah balik bertanya.
Narendra mengerutkan keningnya " Jadi kamu Aulia Zain ?" tanya Narendra pada Aulia.
Aulia hanya mengangguk lirih, dia menatap Narendra takut, Karena menurut Aulia anak buahnya saja menyeramkan, apalagi Majikannya ?.
Aulia menundukan kepalanya tidak berani menatap Narendra yang terus memperhatikannya, Tari kemudian nyeletuk " dia memang Cantik, tidak usah dipandang terus !" tegur Tari ketus, sambil menarik Aulia kesebuah kamar.
Narendra mengernyitkan dahi, dia tidak tahu kenapa tiba - tiba Tari marah padanya.
.
.
.
__ADS_1
.