
Anak buah Ludwil yang lainnya juga semuanya sudah dibereskan , Brodi turun dari mobilnya dan mengecek para pekerja.
" Apa kalian ada yang terluka ?" tanya Brodi kesemua orang.
" Tuan , tolong ayah saya , dia tertembak " ucap pria muda yang terlihat sangat khawatir.
Brodi melihat luka tembak di bahu pria paruh baya tersebut , Wajah pria paruh baya terlihat pucat menahan sakit.
" Rosi !!, cepat rawat dia !" Brodi memanggil anak buahnya yang seorang dokter.
Rosi dengan sigap langsung menghampiri orang tersebut ,bersama dua teman dokternya. Mereka langsung mengeluarkan peluru dari bahu pria paruh baya tersebut.
Setelah semuanya selesai , Brodi menyuruh para sopir untuk melanjutkan perjalanan , dan akan di kawal anak buah Brodi.
Tak berselang lama Eliot dan pasukannya datang " Tuan Brodi bagaimana kondisinya ?"
Brodi menjitak helm Eliot " kamu terlambat "
" Ma..af Tuan Brodi " Eliot menunduk malu.
Brodi menghela napas " Buat pos penjagaan disini !, besok pengiriman pekerja tahap dua akan sampai , kita harus bersiap - siap !" ucap Brodi pada Eliot.
" Baik Tuan Brodi !" Jawab Eliot tegas.
Walaupun Eliot bawahan Vincen ,tapi Eliot sangat menghormati Brodi, pasalnya Brodi adalah orang terkuat di Aditya Army , kemampuannya suda tidak diragukan lagi , pertarungan jarak dekat, penggunaan pisau , penembak jitu semuanya dimiliki Brodi.
Brodi juga pemimpin yang baik untuk anak buahnya, dia menyerang musuh dengan penuh perhitungan, karena itu semua misinya hampir sempurna, dan tidak pernah ada anak buahnya yang tewas dimedan perang.
Eliot dan bawahannya mulai membangun tempat pos penjagaan dilokasi tersebut , sesuai dengan perintah Brodi.
***
__ADS_1
Semenatara itu ,Vincen yang di suruh menghadap Narendra , dia baru sampai di Vila Narendra dengan mobilnya.
Bandi yang sudah tahu jika Vincen akan datang , dia menyambutnya dengan sopan , pasalnya dia tahu jika Vincen memiliki tempramen yang buruk.
Narendra menunggu Vincen di halaman belakang , Bandi mengantarnya kesana , terlihat Narendra sedang memegang sebuah pistol ditangannya.
Vincen langsung menyapa Narendra " Halo .. Cucu Tuan Naraya !"
" Doorrrr !!"
" Arghhhh !!" Kaki Vincen langsung berlubang dan ambruk di tanah.
Bandi terkejut dengan tindakan Narendra, tapi dia lebih terkejut lagi saat Narendra menunjukan sorot mata yang begitu dingin.
' glek ' Bandi menelan ludah , dia tidak pernah melihat Narendra yang seperti itu , karena Narendra yang dia tahu sangatlah berbeda dengan yang sekarang.
Vincen meraung " Berani - beraninya kamu ...."
" Tuan Narendra.."
" Diam kau Bandi !!!" Narendra membentak Bandi.
Vincen berkeringat dingin , dia tidak tahu jika nyali Narendra ternyata lebih besar daripada yang dia kira, Vincen akhirnya menundukan kepalanya " Maaf Tuan Narendra saya salah !, Saya bersumpah akan melayani Anda dengan sepenuh Hati mulai hari ini " ucap Vincen tulus.
Narendra mengangguk , dia melemparkan pistol pada Bandi " Bersihkan darah dia agar tidak mengotori lantai " Ucap Narendra sambil melangkah pergi.
Setelah Narendra pergi ,Vincen tertawa " Hahahaha.. inilah Tuan yang aku mau , dia sangat mengagumkan !" Ucap Vinven senang , dia seakan melupakan peluru yang bersarang dikakinya.
Bandi menghela napas , kelakuan Vincen memang membuat orang yang melihatnya geram , tapi Bandi tidak bisa berbuat apa - apa .
Vincen di papah Bandi untuk segera dibawa ke markasnya untuk mendapatkan perawatan medis, pasalnya semua kelompok Aditya Army pasti memiliki ahli medis.
__ADS_1
Sementara Narendra dia sedang gemetar ketakutan di kamarnya , dia hanya bertindak seperti pemimpin didepan Vincen ,Karena Narendra sudah diberitahu Wiradi jika Vincen bukan orang yang mudah menundukan kepalanya pada orang lain ,walaupun Narendra adalah cucu Naraya.
Jadi Narendra berpura - pura untuk menjadi orang yang dingin didepan Vincen , tujuannya agar Vincen mau menurut padanya dan rencana tersebut berhasil.
Tari yang baru masuk ,melihat tubuh Narendra bergetar , dia bertanya " Kamu kenapa pih ?"
" Ah.ti...dak.. a..pa - a..pa " jawab Narendra terbata.
Tari duduk disamping suaminya " Cerita sama mamih pih, pasti telah terjadi sesuatu kan ?" tanya Tari sambil menggenggam tangan Narendra.
Narendra menatap wajah Tari " Aku menembak kaki anak buahku mih "
Tari sedikit terkejut , Tapi dia mencoba untuk tenang ,agar Narendra tidak menambah beban " jika memang anak buah papih yang bersalah bukankah itu biasa saja , lagian juga papih juga bilang sendiri jika papih harus lebih tegas sama anak buah papih kan ?, jadi menurut mamih itu hal yang biasa " ucap Tari sambil tersenyum.
Narendra menatap istrinya penuh dengan kasih " Terima kasih Mih .... kamu memang yang terbaik " ucap Narendra Tulus.
Narendra memeluk istrinya, ketegangan di tubuhnya perlahan menghilang setelah mengobrol dengan istrinya.
pada dasarnya memang saling bicara dalam rumah tangga memang sangat baik , karena dengan kita berbagi masalah yang kita alami dengan pasangan kita , maka tidak akan ada rasa curiga satu sama lain.
Hal tersebut mungkin sepele ,tapi sebenarnya berperan besar di sebuah hubungan , karena dengan kita saling berbagi pendapat maka kita akan menemukan sebuah titik terang yang didapat oleh kedua belah pihak.
Berbeda jika kita punya masalah saling memendam pendapat satu sama lain , maka pecayalah di situ akan menjadi awal malapetaka dalam rumah tangga kalian..
.
.
.
.
__ADS_1