Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 36 Keberanian Fiona


__ADS_3

“Mi, kamu tahu nggak laki-laki tampan yang kemarin datang ke Perusahaan kita”? Mia mengenyit, ingatannya lalu tertuju pada Donny.


“Ternyata dia pemilik perusahaan kita yang baru”. Mia hanya mengangguk tanpa ekspresi. “Tapi sayang banget dia ternyata sudah menikah”. Mia menarik kursi lalu menyalakan komputernya mengabaikan Cilla yang terus memuja muji suaminya.


“Cill… kamu nggak punya kerjaan”. Mia yang merasa bising mendengar kekaguman temannya pada suaminya akhirnya bicara. Tapi gadis itu terus mengoceh tidak memperdulikan lirikan tajam Mia padanya.


“Tapi laki-laki yang bersamanya kemarin juga tampan”. Mia sontak berbalik, pasti yang di maksud Cilla adalah sekertaris Al. “Laki-laki itu pasti sekertarisnya”. Mia menggelang, bagaimana mungkin wanita seperti Cilla bisa terpesona dengan wajah kaku dan menyebalkan Alfandy.


“Bukannya kamu masih punya pacar, Cil?. Dan kamu tadi bilang apa? Tampan. Orang menyebalkan begitu kamu bilang tampan?”.


Cilla mengernyit, “dari mana kamu tahu kalau dia menyebalkan?”.


“Dari mukanya lah”, balas Mia. “Kerja, Cill. Kerja”. Cilla masih ingin berbicara dan menyanggah ucapan Mia, tapi manager mereka tiba-tiba datang dan memberikan mereka setumpuk pekerjaan.


Cilla mendesah panjang sementara Mia, gadis itu tanpa ekspresi apapun melanjutkan pekerjaannya.


Hari ini Mia dan Fiona sudah janji untuk makan siang bersama. Kali ini  Mia yang menjemput Fiona karena Alex sedang berada di luar negeri bersama dengan Direktur keuangan Oliver Group.


“Kamu kenapa, Mi?”. Fiona melihat wajah mendung dari sahabatnya itu, pasti terjadi sesuatu padanya.


“Mas Donny sangat baik padaku, aku bisa merasakan kalau dia tulus menyayangiku”. Gadis itu menunduk. Fiona tahu kemana arah pembicaraan sahabatnya.


“Dia juga dulu seperti itu, dia juga sangat baik padaku, dia juga sangat menyayangiku”. Mata Mia mulai berkaca-kaca, Fiona yang tadinya duduk berseberangan dengannya kini berpindah duduk di sampingnya dan merangkul sahabatnya itu.


“Aku terbiasa dengan kasih sayangnya, aku terbiasa dengan perhatiannya. Dia melakukan semua untukku, apapun dia yang melakukannya. Aku hanya duduk diam, dia yang malakukan semuanya”. Air matanya mulai menetes, pelayan yang membawakan pesanan mereka mendekakatkan kotak tissu padanya.


“Terimakasih”, ucap Fiona. Pelayan itu tersenyum sambil mengangguk lalu meningalkan mereka.


“Tapi dia pergi, dia meninggalkan aku…”, mia diam sejenak menutup matanya membiarkan butiran-butian bening  yang mengenangi matanya berjatuhan.


Fiona memeluk sahabatnya itu erat. Hatinya juga ikut terluka melihat Mia seperti itu. Waktu bertahun-tahun ternyata tidak bisa membuatnya melupakan rasa sakit di hatinya.

__ADS_1


Bagaimana bisa dia melupakannya, bila hubungan yang sudah terjalin sejak usianya sepuluh tahun hanya di isi dengan kebahagian selama delapan tahun hubungan mereka. orang itu memperlakukannya seperti putri yang sangat berharga, menyayanginya melebihi dirinya sendiri.


Lalu tiba-tiba orang itu meninggalkannya karena sebuah insiden, membuat gadis itu sangat terpuruk. Dia seperti kehilangan separuh dari dirinya.


Makanan yang tadi masih berasap-asap hanya berkahir begitu saja, baik Mia ataupun Fiona tidak menyentuh makanan itu sama sekali. Leo menurunkan Mia di Wijaya Mandiri lalu mengantar Fiona kembali ke kantornya.


Leo tadi melihat mata sembab Mia dan sekarang melihat Fiona diam dengan wajah yang murung.


Fiona sudah sampai di kantor Oliver Group. Dia harus melakukan sesuatu untuk Mia. harus.


Gadis itu tidak kembali ke mejanya, dia menuju lantai tertinggi gedung ini. Dia harus bicara pada Donny. Pintu lift terbuka, matanya langsung menangkap sosok laki-laki yang ingin dia temui.


“Fiona?”. Bukan hanya Donny, Alfandy dan juga dua sekertaris wanita Donny terkejut melihatnya. Dia datang dengan tangan kosong , tidak membawa berkas atau apapun membuat semua orang mengernyit.


Keberanian yang tadi dia kumpulkan selama lift itu membawanya ke lantai tertinggi gedung ini tiba-tiba lenyap begitu Donny menatapnya, walaupun Donny melihat dengan cara yang biasa saja. Fiona ingin kembali tapi tidak mungkin lagi. Fiona menarik nafasnya lalu mulai berbicara.


“Maafkan saya, Tuan Donny. Bisa saya berbicara dengan anda”. Tangannya gemetar, dan bibirnya terasa membeku. Donny menaikkan alisnya lalu kemudian mempersilahkan Fiona masuk ke ruangannya. Alfandy lalu mengikuti mereka di belakang dan ikut masuk ke ruanagn Donny.


“Bisakah anda membatalkan perjanjian anda dengan Mia”. Donny menyipitkan matanya, sementara Alfandy tercengang mendengarnya. Donny bisa mengerti jika Mia menceritakan tentang perjanjian mereka dengan Fiona.


“Maksud kamu?”. Fiona diam, tangannya saling meremat gemetar. Keberaniannya hilang lagi mendengar suara bariton Donny, belum lagi Alfandy yang menatapnya tidak suka.


“Apa maksud kamu, Fiona. Kenapa kamu ingin saya membatalkan perjanjian itu”. wajah Fiona masih menegang, dia sudah selancang ini berbicara dengan Donny. Tapi dia sudah memikirkannya dengan baik. kehilangan pekerjaan akan lebih baik dari pada menyaksikan kejadia bertahun-tahun yang lalu terulang lagi.


Dia lalu mengangkat kepalanya, iris gelapnya secara berani menatap manik hitam Donny.


“Mia pernah terluka, seseorang pernah menghancurkan hatinya. orang itu memberikan perhatian yang berlebih padanya membuat Mia bergantung padanya seutuhnya. Lalu dia pergi”. Fiona bisa melihat wajah dingin Donny, itu membuat keberanian dirinya hilang lagi. Dia menunduk. “Maafkan saya”. Ucapnya lirih.


“Saya tidak akan meninggalkannya”. Ucap Donny tegas, Fiona mendongakkan wajah menatapnya.


“Tapi bagaimana jika dia jatuh cinta pada anda? Mia pernah mengalami kecelakaan yang sangat parah bersama ayahnya, dia koma berbulan-bulan. Dia lalu bangun dari tidur panjangnya, dia membuka mata dan bernafas  seperti orang lain tapi dia kehilangan dirinya bahkan berkali-kali mencoba mengkahiri hidupnya”. Gadis itu menyeka pipinya yang basah lalu kembali berbicara, rasa sayangnya pada Mia membrinya kekuatan yang luar biasa.

__ADS_1


“Dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayahnya”.


“Luka di sekujur tubuhnya bisa di obati, tidak butuh waktu yang lama luka-luka di tubuhnya hilang tidak membekas. Tapi luka di hatinya, bahkan setelah tujuh tahun luka itu masih basah”.


“Dia kehilangan orang itu dan juga ayahnya diwaktu hampir bersamaan”. Gadis itu menarik tissu dari kotak tissu yang dis sodorkan Alfandy padanya.


“Saya dan Nenek melihat semuanya, kami menyaksikan bagaimana dia terpuruk sampai kembali menemukan alasannya untuk melanjutkan hidupnya. Jadi saya mohon, jangan buat luka yang sama untuknya”. Donny diam, dia mencerna semua perkataan Fiona. Dia tidak menyangka istrinya pernah melalui hal seberat itu.


Alfandy meletakkan sebotol air meneral didepannya. Laki-laki itu ikut tersentuh dengan apa yang Fiona ceritakan. Dia juga tidak menyangka gadis yang selalu nampak ceria itu pernah melewati hal mengerikan dalam hidupnya.


“Saya mengerti, Fiona. Saya pastikan itu tidak akan pernah terjadi”. Donny memperhatikan Fiona, gadis itu benar-benar terlihat tulus menyayangi Mia.


“Terima kasih sudah menceritakan ini pada saya”. Ucap Donny tulus.


“Kamu boleh langsung pulang, Alfandy akan mengantar kamu”. Gadis itu tercengang, dia menatap Donny dan Alfandy bergantian.


“Apakah saya di pecat?”. Kedua alis Donny terangkat. Gadis itu lalu menangis terisak.


“Tentu saja tidak, Fiona. Bagaimana kamu bisa bekerja dengan wajah seperti itu!” Fiona sontak mengambil ponselnya yang dia taruh di sampingnya tadi. Wajahnya memang terlihat berantakan dengan mata memerah.


“Jadi saya bisa datang kembali bekerja besok?”.


“Tentu saja, Fiona”.


Fioan lalu tersenyum dan menghapus jejak-jejak air mata di pipinya.


“Maafkan atas kelancangan saya, Tuan”.


“Saya mengerti”.


“Permisi”. Fioan lalu meninggalkan ruangan Donny di ikuti Alfandy di belakangnya.

__ADS_1


“Saya bisa pulang sendiri”, ucapnya menahan Alfandy. Gadis itu lalu mengangguk-angguk setelah melihat cara Donny menatapnya. Dan akhirnya dia pulang di antar Alfandy.


__ADS_2