Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 48 Runtuhnya tembok itu


__ADS_3

Kelelahan dan ngantuk membuatnya tidak bisa menahan matanya lagi. Mia terlelap dengan damai di pundak suaminya. Bahkan ketika sampai di rumah dia hanya bergeliat kecil di gendongan suaminya.


Donny meletakkannya hati-hati di tempat tidur, dia meninggalkannya menuju kamar mandi setelah menyelimuti tubuh istrinya sampai d*danya. Donny lalu ikut bergabung dengan istrinya di bawah selimut. Dia menaruh lengannya di bawah leher Mia lalu sebelah tangannya memeluk pingang istrinya. sebentar saja Donny sudah bergabung dengan Mia di alam bawah sadar.


 Pagi ini Donny mengajak Mia joging di sekitar taman yang tidak jauh dari rumahnya. Tidak ada orang yang memperhatikan mereka walau di keramaian dan itu mebuat Mia merasa nyaman. Pakaian yang Donny kenakan tidak terlalu membuatnya mencolok. Mereka bergabung dengan orang-orang yang juga ikut olahraga pagi di taman.


Di sekitarnya juga di bangun beberapa sarana olah raga, ada juga lapangan sepak bola mini dan juga taman bermain anak. Pedagang kaki lima memanfaat kan akhir pekan dengan berjualan di sekitar keramaian.


 Banyak anak muda dari perumahan sekitar yang sedang berkumpul di lapangan sepakbola. Ada pertandingan kecil-kecilan di sana. Mia mengajaknya ke sana untuk menonton dan tanpa Mia sangka Donny tidak menolaknya dan terlihat antusias.


Mia tahu Donny sedang berusaha masuk ke dunianya dan menghiburnya, hatinya merasa sangat hangat untuk itu. Dia menyukainya.


Mereka pulang dengan berjalan kaki walaupun Leo mengikuti mereka dari belakang dengan mobil.


Sampai di rumah, Mia langsung masuk dapur dan mencari sesuatu yang segar untuk dia minum.


“Apa anda menginginkan sesuatu, Nyonya?” Bu Mira yang melihatnya menuju dapur mengikutinya dari belakang.


“Mmm.. aku mau jus jeruk”, ucapnya. “Akan saya buatkan, Nyonya. Anda bisa menunggu nya di kamar, saya akan mengantarnya”.


“Aku akan menunggu di sini, buatkan dua gelas yah”. Mia ingin memberikannya juga untuk Donny, laki-laki itu banyak mengeluarkan keringatnya karena memang serius berolah raga sedangkan Mia hanya sibuk memperhatikan suaminya.


Mia melihat Bu Mira sangat lincah membuat jus pesanannya. Seketika ada rasa iri dalam hatinya melihat para pelayan sangat telaten dalam mengurus semua keperluan Donny mulai dari pakaian hingga makanan sementara dia tidak tahu apapun.


Jangankan membuat jus, mengupas buah saja dia kadang minta tolong pada Fiona. Dulu dia memang hidup seperti putri, Ayahnya dan orang itu sangat menyayangi dan memanjakannya.


Semua pekerjaan rumah termasuk memasak di kerjakan oleh pembantu, dia tidak pernah melakukan apapun. Hingga akhirnya dia terbiasa, dan sampai sekarang dia tidak bisa melakukan apapun.

__ADS_1


Neneknya pernah mengomelinya tentang itu, “bagaimana kalau mertuamu menyuruh mu ini dan itu, apa yang akan kamu lakukan, nak. Kau harus membiasakan dirimu”. Begitu kata nenek dulu.


Mia tidak memperdulikannya karena dia tidak pernah berfikir untuk memiliki mertua. Tujuan hidupnya hanya satu waktu itu, mengembalikan rumah Nenek. Lalu setelah itu dia akan menyusul Ayahnya dan meminta maaf karena kebodohonnya yang membuatnya harus kembali kehilanga sosok yang sangat mencintainya.


“Ini, Nyonya”. Bu Mira memberikan nampan yang berisi dua gelas jus jeruk segar pada Mia.


“Terimakasih”. Mia lalu membawa nampa itu ke kamar. Dia menemukan Donny sudah segar dengan rambut yang masih setengah basah.


“Kenapa kamu yang bawa”. Donny mengambil satu gelas dan meminumnya sampai tersisah setengahnya.


“Mas…”


“Hemm…”


“Aku mau belajar masak”. Donny menyipitkan matanya, “Kenapa?” tanya Donny penasaran.


Donny mendekat dan mengusap pipinya dengan sayang. “Di rumah ini sudah ada yang mengerjakan semuanya, kamu tidak perlu melakukan apapun”. Mia masih memanyunkan bibirnya, “tapi kan aku juga mau sekali-sekali ada di dapur”.


“Kamu sedang berusaha jadi istri yang baik”. Mia terdiam, benarkah ?. Benar, kenapa dia harus repot-repot belajar masak, bukankah dia tidak menyukainya sejak dulu. Lalu dari mana datangnya keinginan untuk belajar memasak.


“Benar juga, perjanjian kita kan berakhir sebentar lagi, untuk apa repot-repot”. Ada rasa kait di hatinya dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan sendiri. Pun dengan Donny, dia seperti tidak rela Mia mengucapkan kata berakhir.


Mia lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dia sudah gerah dengan keringat yang menempel di tubuhnya. Namun Donny menahan langkahnya. Dia membalikkan tubuh Mia agar menghadap ke arahnya.


“Saya tidak bermaksud seperti itu, saya hanya tidak ingin kamu kelelahan atau terluka”.


“Kenapa”.

__ADS_1


“Karena saya menyayangi kamu…”


“Seperti adik”. Kali ini Donny yang terdiam. Lidahnya seperti membeku tidak bisa mengatakan apapun, walau sebenarnya dia ingin sekali mengungkapkan isi hatinya pada gadis itu.


“Aku mengerti kok”. Mia menarik sudut bibirnya sedikit terpaksa lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Dia menyalakan shower dan berdiri tepat di bawahnya, air matanya menetes tanpa sebab.


‘apa aku benar-benar suka sama kamu, Mas. Aku pikir aku memang suka sama kamu’.


‘apa yang harus aku lakukan’


Mia menjatuhkan dirinya di bawah guyuran air dingin yang mengalir dari shower, kedua tangannya memeluk kedua kakinya yang menekuk. Dia baru saja merasakannya beberapa hari terakhir. Tidak, dia tidak tahu sejak kapan dia mulai merasakannya. Rasa yang sama yang pernah ada beberapa tahun yang lalu saat dia mulai mengerti apa itu cinta.


Juga rasa yang sama beberepa menit yang lalu saat orang yang dia yakini akan menjaganya seumur hidup malah pergi meninggalkannya. Donny hanya menganggapnya adik tapi dia dengan lancang malah jatuh cinta pada seseorang yang sudah memiliki kekasih itu.


Mia menangis tanpa suara memegangi dadanya yang terasa nyeri yang tidak mampu dia bendung.


Tembok yang selema ini dia bangun akhirnya runtuh juga. Cara Donny melindunginya, menjaganya dan memanjakannya membuat pertahanan yang dia bangun perlahan-lahan retak hari demi hari hingga akhirnya runtuh.


Dia jatuh cinta, akhirnya. Setelah sekian lama dia menjaga hatinya agar tidak tersentuh cinta, agar tidak ada yang bisa melukainya kini sia-sia sudah.


Dia memegangi dadanya yang masih berdenyut nyeri, meratapi dirinya yang begitu bodoh membiarkan Donny masuk ke dalam hatinya.


Tanpa Mia ketahui bahwa laki-laki yang dia tangisi itu juga merasakan hal yang sama dengannya. Laki-laki itu juga jatuh cinta padanya hanya saja belum mengukapkannya dengan kata tapi sudah menunjukkan dengan perhatian berlebih yang dia berikan.


Suara ketukan pintu dengan keras menghentikan tangisnya, dia sadar sudah sangat lama berada di kamar mandi. Tubuhnya juga sudah menggigil kedinginan.

__ADS_1


Mia membersihkan dirinya dengan sisa-sisa kekuatan. Lalu keluar dari kamar mandi.


__ADS_2