
Dokter Rafael membereskan peralatannya setelah selesai memeriksa Mia. Dia memberikan kertas resep pada Bu Mira karena dia tidak sempat membawa obat saat Donny menghubunginya tadi. Dia juga jadi panik dan hanya membawa peralatan yang ada di hadapannya saja.
“Dia hanya demam”, Kata Dokter Rafael.
“Kenapa dia tiba-tiba bisa demam, kemarin dia baik-baik saja”. Kemarin Mia bahkan masih olah raga bersamanya. Dokter Rafael mengangkat bahunya. “mungkin dia terlalu lama bermain air”. Donny lalu teringat kemarin, gadis itu memang sangat lama di dalam kamar mandi.
“Terima kasih, Raf”. Dokter Rafael menepuk bahunya dan berlalu. “Aku ada operasi besar siang nanti, aku pergi dulu”, pamitnya kemudian.
Donny mengusap pelan tangan Mia yang sedang terpasang selang infus. “Maafkan saya, harusnya saya tidak meninggalkan kamu semalam”, ucap Donny lirih. Dia kembali merasa bersalah karena tidak menemani istrinya yang ternyata sudah sakit sejak semalam.
Bu Mira masuk membawa nampan berisi air putih dan obat yang baru di beli dari apotek.
“Maafkan saya, Tuan. Harusnya saya menahan Nyonya tadi pagi”, sesal Bu Mira.
Donny tersenyum getir, dia mengusap surai yang terikat rapi itu. “memang ada yang bisa menghentikan apa yang ingin dia lakukan”. Pandangannya tidak pernah lepas dari gadis yang sedang tertidur lemah di depannya.
Dia tadi meninggalkan rapat dengan bagian HRD dengan terburu-buru setelah Al membertihunya bahwa Mia pingsan di kantornya.
“Tuan, ada beberapa berkas penting yang harus anda tanda tangani”. Di tangannya ada beberapa map yang dia pegang. Donny medesah, dengan berat hati melepas tangan Mia yang sedang dia genggam. Al memberikan map yang paling atas lebih dulu. Pandangannya kemudian bergulir pada gadis yang sedang tergeletak lemah di depannya.
‘Kenapa anda bisa tiba-tiba sakit, Nyonya?’ tanyanya dalam hatinya. walaupun tidak pernah menunjukkannya, laki-laki itu sebenarnya juga sangat perduli pada istri Tuannya sama halnya dia perduli dengan Donny. Menurutnya gadis itu adalah wanita yang sudah membuat Donny memutuskan hubungan sia-sianya dengan Natasya. Dan dia sangat berterima kasih untuk itu.
Donny membaca berkas yang sedang di pegannya sambil sesekali melirik istrinya yang masih memejamkan matanya.
“Jangan ganggu saya untuk urusan apapun, Al. Kamu bisa menghadle semuanya kan?” Memberikan map terakhir setelah selesai dia tanda tangani.
“Iya, Tuan. Maafkan saya”. Al lalu meninggalkan Donny.
Mia membuka matanya saat matahari sudah mulai terbenam, dia bergerak-gerak merasa tidak nyaman. Lalu melihat tangannya yang terpasang selang infus dan melihat sekitarnya. Ini adalah kamarnya, bagaimana bisa dia ada di sini.
__ADS_1
Donny keluar dari ruang ganti dan melihat Mia yang hendak bangun. “Kamu butuh sesuatu”, Donny melangkah cepat.
“Kenapa aku bisa ada di sini”. Seingatnya tadi dia masih berada di kantor.
“Jam berapa ini?, aku tidur berapa lama?” Donny terkekeh pelan. “Sekarang sudah petang, kamu tidur sekitar delapan jam”. Jawab Donny.
“Makan ya, kamu belum makan apa-apa dari tadi pagi kan?”. Mia menggeleng “Aku mau minum aja”. Donny memberi segelas air putih padanya, dia menghabiskan setengah air itu dan memberi gelasnya pada Donny.
“Permisi, Tuan, Nyonya. Nona Fiona ada di bawah, katanya ingin mengunjungi Nyonya”. Beritahu Bu Mira.
“Bawa Dia kemari, Bu” Jawab Donny. “Dia datang tepat waktu”, katanya sambil tersenyum melihat Mia.
“Mi…” Fiona sudah berlari kecil hendak memeluk Mia. “Tuan Donny”, sapanya, Donny hanya menganggukkan kepalanya.
“Saya ada di ruang kerja kalau kamu mebutuhkan saya”. Donny lalu meninggalkan Mia dan Fiona, dia meminta kepada Bu Mira untuk membawa makanan untuk Mia, Fiona pasti akan membuatnya makan.
“Kenapa bisa sakit, Mi”. Fiona melihatnya lagi, mendung itu lagi-lagi menghiasi wajah cantiknya. Gadis itu masih diam.
“Rebut dia dari kekasihnya”. Ucap Fiona dengan penuh penekanan.
“Fi…!”
“Kenapa, kamu tidak mampu”. Fiona benar-benar seperti tersulut api, dia bahkan lupa kalau sahabatnya itu sedang sakit. Mia tercengang, tidak menyangka Fiona akan mengtakan hal seperti itu.
“Dia punya seseorang yang dia tunggu”. Ucapnya lirih, suaranya masih sangat lemah. “Lagi pula dia hanya menganggap aku adiknya”.
“Kamu tahu itu dan kamu masih berani memberikan hatimu padanya”.
“Aku tidak memberikannya, hatiku menguasai semua pikiranku dan berlarih ke arahnya. Aku tidak mau, aku menolaknya dengan keras. Kau tahu bagaimana setiap hari aku bergelut dengan hatiku menolak apa yang aku rasakan”. Fiona mendesah, dia memeluk sahabatnya.
__ADS_1
“Lagi pula aku tahu bagaimana rasanya di tinggalkan orang yang kita cintai…”
“Kamu tahu rasanya kan, masih ingin merasakannya”. Mia lagi-lagi tercengang. Benar, rasa sakit itu, apakah dia harus merasakannya lagi.
“Bukankah seseorang juga pernah mematahkan hatimu”. Fiona mengangkat sebelah alisnya. Gadis itu sebenarnya sudah bisa menebak bahwa sahabatnya itu akan luluh dan goyah. Melihat Mia yang tidak menolak saat Donny menggengam tangannya di hadapan banyak orang. Mia tidak pernah sampai sejauh itu pada laki-laki lain. Dan terlebih lagi mereka tinggal di atap dan di kamar yang sama.
Pintu terbuka membuat keduanya sontak melihat ke arah pintu itu. Bu Mira masuk bersama dua orang pelayan membawa nampan berisi makanan untuk Mia dan juga untuk Fiona.
Bu Mira menaruh meja kecil di tempat tidur dan menyajikan makanan itu. “Bu, Aku makan sebentar lagi. Simpan saja makanannya di sana”, ucap Mia menunjuk meja yang ada di kamar itu.
Bu Mira melirik Fiona seperti mengatakan tolong bantu saya agar Nyonya mau makan. Tapi Fiona hanya diam sampai bu Mira dan kedua pelayan itu keluar dari kamar.
“Kamu adalah istrinya, dia sudah mengakui itu di depan banyak karyawannya. Walaupun dia tidak mengatakannya secara langsung”. Fiona melanjutkannya, dia tadi tidak mau bicara apapun di depan Bu Mira.
“Kamu punya kesempatan yang lebih besar, Mi. Kamu tinggal bersamanya di sini, di kamar ini”.
“Fi…, apa maksud kamu”.
“Karna kamu sudah jatuh cinta padanya, perjuangkan dia. Aku yakin kamu bisa melakukannya. Kamu tidak kalah cantik dari kekasihnya”.
“Tapi mereka sudah lama bersama”
“Lalu kamu dan dia, berapa lama kalian bersama. Bukankah kalian juga berpisah. Ahh, dia yang meningalkan kamu”.
“Fi…!” kali ini ucapan Fiona sedikit menyinggung hatinya. Fiona hanya tidak mau Mia terluka lagi dengan alasan yang sama. Cinta.
“Sudahlah, kamu sedang sakit sekarang. Aku tidak akan bicara lagi”. Fiona lalu mengambil mangkuk bubur yang tadi di letakkan Bu Mira.
“Aku kira kamu lupa aku sakit”
__ADS_1
“Tadi memang lupa, habisnya kamu membuatku kesal”. Mia mengerucutkan bibirnya. Fiona meletakkakan kembali meja kecil di atas tempat tidur lalu ikut makan bersama Mia.
“Jadi kamu sakit karena frustasi?” tanya Fiona sambil mengunyah. “Makanannya enak, kamu makan seperti ini setiap hari”. Lanjutnya terus berbicara mengejek sahabatnya, tidak perduli Mia sudah menatapnya kesal.