Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 38 Tentang Fiona


__ADS_3

Mia benar-benar menggunakan kartu yang Donny berikan padanya, Fiona memaksanya memakai kartu itu dan membeli beberapa barang-barang bermerk. Mia menawarkan pada Fiona tapi gadis itu menolak mati-matian.


Selesai berbelanja mereka istrihat di café yang ada di Mall itu.


“Bagamana hubungan kamu dengan Tuan Donny”, tanya Fiona hati-hati. Dia sengaja mengajak Mia ke mall untuk sedikit menghiburnya. Dan melihat wajahnya yang sudah kembali cerah membuat Fiona sangat lega.


Mia diam sejenak. “Aku, aku akan mencobanya, Fi”. Fiona mengernyit tidak mengerti.


“Aku akan menjalani sisa waktu pernikahanku dengan Mas Donny dan mencoba menjadi teman yang baik untuknya, tidak ada salahnya menurutku”. Mia mengaduk-aduk jus orangenya, dia akan coba mengabaikan perasaan apapun itu yang ada di hatinya


 “Tapi berjanji satu hal padaku”, ucap Fiona. “Aku tidak mau melihatmu seperti dulu”. Mia mengangguk dengan senyuman. Fiona memperhatikannya, senyuman itu tidak seperti biasanya. Ada yang Mia coba sembunyikan darinya.


“Mi…, kamu tahukan kalau Donny punya kekasih. Jangan jatuh cinta padanya, mmm”. Gadis itu menghela nafasnya berat lalu mengangguk.


 “Pulang yuk…”. Ajak Mia, dia tidak ingin Fiona membicarakan tentang perasaannya pada Donny lagi.


“Ayok”. Balas Fiona.


“Aku di jemput Alex, katanya dia mau lewat sini”. Mia menemani Fiona menunggu Alex, dan tidak lama mobil Alex sudah terlihat. Laki-laki itu membunyikan klason mobilnya.


“Bye Mi…”? Mia kemudian masuk ke dalam mobil, Leo sudah menunggunya dengan setia.


“Kamu dari mana? Habis pacaran?”. Alex terkekeh dengan pertanyaan Fiona yang seolah sedang cemburu. Gadis itu memanyunkan bibirnya ketika Alex mengabaikan pertanyaanya.


“Kamu cemburu…” ucap Alex kemudian.


“Cemburu… sama kamu?”. Alex tertawa, wajah Fiona sangat imut saat dia sedang kesal. Tawanya sangat elegan membuat Fiona merasakansesuatu yang aneh di hatinya. Alex masih tertawa membuat Fiona memalingkan wajahnya dan hanya melihat jalanan dari jendela mobil di sampingnya.


“Temani aku makan yah, aku belum makan apa-apa dari tadi pagi”. Fiona hanya menjawab laki-laki itu dengan berdehem. Senyum terbit di bibir Alex.


“Bagaimana hubungan Tuan Donny dan Mia”. tanya Alex

__ADS_1


“Mereka… mereka baik-baik saja”. Jawab Fiona tanpa menatap Alex, dia sibuk dengan minuman yang ada di depannya.


“Fi…”


“Hemmm…”


“Kenapa kamu tidak mencoba membuka hati kamu”. Fiona mengalihkan pandangannya pada Alex, iris gelapnya menatap intes bola mata biru milik Alex. “Kenapa kamu tiba-tiba bicara seperti itu”.


“Alex, kamu tahu alasannya. Aku sudah menceritakan semua padamu kan, lalu kenapa kau masih bertanya seperti itu?”. ucap Fiona kesal.


“Bagaimana kalau ada orang yang mau menerima semua itu?”. Fiona terdiam, laki-laki di depannya ini terlihat serius bicara padanya.


“Kenapa kamu jadi ngomong ngelantur sih, habis di cekokin apa sama pacar-pacar kamu”.


“Aku serius, Fiona”. Fiona lagi-lagi terdiam. “Dan aku juga tidak punya pacar asal kamu tahu”. Alex yang kesal lalu mengajak Fiona pulang padahal makanannya belum di habiskan. Mereka hanya diam di sepanjang perjalanan menuju rumah Fiona.


Fiona larut dalam pikirannya sendiri. Gadis itu memikirkan apa yang Alex katakan padanya, memcoba membuka hati. Tapi siapa yang akan menerima dirinya yang berasal dari keluarga berantakan.


Tidak lama setelah perceraian, ayahnya sudah mengajak istri barunya tinggal di rumahnya yang ternyata sudah di nikahi saat masih menjadi suami ibunya.


Begitupun dengan ibunya, dia tinggal bersama laki-laki yang menjadi selingkuhannya. Entahlah mereka sudah menikah atau tidak.


Tidak ada yang meninginginkannya, baik ibu atau ayahnya. Mereka tidak memperdulikannya sama sekali, mereka menjalani hidup dengan pasangannya masing-masing dan mengabaikan putri satu-satunya yang masih sangat membutuhkan mereka.


Mia yang sangat dekat dengannya mengajaknya tinggal bersama, ayah Mia menyayanginya seperti dia menyayangi Mia.


Fioana mendapatkan kasih sayang dari ayah Mia yang tidak lagi dia dapatnya dari orang tuanya.


Sejak saat itu Fiona yang masih berusia lima belas tahun memutuskan semua hubungan dengan orang tuanya. Dan hingga hari ini, kedua orang tuanya tidak pernah datang mencarinya atau sekedar bertanya kabanya.


Dia juga memutuskan untuk tidak pernah jatuh cinta, karena menurutnya tidak akan ada keluarga yang akan menerima seorang gadis yang mempunyai orang tua seperti orang tuanya.

__ADS_1


Seperti Mia, banyak laki-laki yang juga mengejarnya tapi tidak pernah Fiona pedulikan. Dia mulai terbiasa hidup sendiri hingga saat ini.


Entahlah, mungkin suatu hari akan ada orang yang meluluhkan hatinya dan menirima semua masa lalunya.


Mobil Alex sudah trparkir di depan rumah kontrakan sederhana. Fiona turun lalu Alex juga ikut turun bersamanya.


“Aku capek, mau numpang istirahat”. Fiona hanya berdecak lalu membuka pintu rumah. Gadis ini juga tidak risih berada satu rumah dengan laki-laki. Kadang juga Alex menginap di rumahnya dan dia tidak keberatan. Toh mereka tidak melakukan apapun.


Fiona meninggalkan Alex yang sudah berbaring di sofa. Di menuju kamarnya dan meletakkan belajaanya tadi bersama Mia.


Dia duduk di tepi tempat tidur, menarik nafas dalam-dalam. Sudah sejak lama dia melupakan semuanya, rasa sakit hati dan juga kecewanya pada orang tuanya. Dia juga ingin di cintai, tapi sekali lagi dia takut akan penolakan walaupun dia belum pernah mencobanya sekalipun.


Fiona memasak makan malam untuk Alex, laki-laki itu sedang tidur dengan nyaman seperti biasa bilang sedang ada di rumah itu. tidak seperti Mia yang tidak tahu apa-apa tentang dapur, Fiona justru senang berrada di dapur.


Alex yang terbangun karena wangi masakan Fiona memperthatikan wanita itu tanpa sepengetahuannuya. Gadis cantik itu mengenakan kaos panjang di bawah lutut dan menggulung asal rambutnya.


Kedua sudut bibir laki-laki itu tertarik, apalagi saat Fiona dengan lincahnya mengaduk-aduk bumbu di dalam penggorengan. Dia


“Sejak kapan kamu berdiri di situ”. Fiona hampir saja menjatuhkan piring panas yang dia pegang saat berbalik mendapati Alex sedang bersandar di dinding dapur sambil memperhatikannya.


“Fi, kamu mau menikah denganku?”


Deg… jantungnya berdetak lebih cepat berkali-kali lipat. Seandainya saja piring tadi masih dia pegang mungkin akan jatuh dan menimpa kakinya.


“Hahahahaa…”, wajah terkejut Fiona berubah menjadi orang bodoh saat Alex tertawa. Laki-laki itu tanpa rasa bersalah menarik kursi dan mulai menyendokkan lauk kepiringnya dengan santai tanpa memperdulikan wajah Fiona yang memerah. 


“Alex…….”. Fiona yang kesal manrik sendok dari tangan Alex. “Siapa yang mempersilahkan kamu makan”. Serunya kesal.


“Aku sangat lapar, Fi. Aku akan mati kelaparan kalau kau tidak memberiku makan sekarang”. Ucapnya dengan wajah memelas. Fiona hanya memutar bola mata jengah lalu makan dengan wajah yang kesal.


Laki-laki itu tersenyum, suka sekali melihat wajah kesal Fiona.

__ADS_1


__ADS_2