
Mereka melanjutkan kegiatan mereka setelah makan malam, Donny sepertinya sangat merindukan tubuh istrinya sehingga dia tidak bosan terus menjamahnya. Mungkin dia tidak akan berhenti seandainya tidak melihat wajah lelah istrinya.
Donny merapatkan selimut di tubuh polos istrinya dan menjadikan lengannya sebagai bantal. Di kecupnya setiap inci wajah cantik yang terlihat lelah itu.
“Terima kasih”, bisaknya. Donny kemudian ikut memejamkan mata dan bergabung bersama Mia di alam mimpi.
Matahari sudah meninggi saat Mia membuka matanya, badannya terasa pegal dan bagian intinya berdenyut nyeri.
“Mas Donny…” umpatnya pada suaminya. Mia berjalan tertatih menuju kamar mandi dengan selimut yang melilit tubuh polosnya.
“Sejak kapan Bu Mira ada disini”. Bu Mira sudah berdiri di depan pintu saat Mia membuka pintu kamar.
“Baru saja, Nyonya”, jawabnya bohong, padahal sudah hampir dua jam dia menunggu Mia membuka pintu. Donny melarang keras Bu Mira masuk ke dalam kamar sebelum Mia sendiri yang membuka pintu karena tidak mau ada yang mengganggu tidur istrinya. Itu sebabnya dia hanya berdiri di depan pintu dan tidak berani masuk.
“Bu…” ragu-ragu mengatakan, takut Bu Mira dan yang lain menganggap dirinya pemalas atau seenaknya.
“Ada yang anda inginkan”. Tanya Bu Mira. “mmm… aku lapar, tapi aku nggak mau turun”. Ucapnya ragu-ragu. Mia masih merasa nyeri di pangkal pahanya. Bu Mira tersenyum.
“Saya akan membawa sarapan anda ke kamar, Nyonya. Silahkan anda masuk kembali ke kamar anda”.
“Bu….” Bu Mira yang sudah hendak pergi menyiapkan sarapan di tahan Mia, “Aku mau makan soto ayam, boleh nggak?” Bu Mira lagi-lagi menampilkan senyumnya.
“Tentu saja, Nyonya” Jawabnya. “Tapi mungkin agak lama karena koki baru akan menyiapkannya, saya akan membawa cemilan untuk anda sambil menunggu pesanan anda”. Lanjutnya. Mia mengangguk lalu masuk kemabli ke dalam kamar setelah Bu Mira menjauh.
Mia mengambil ponselnya lalu bermaksud menghubungi suaminya, tapi di urungkan karena takut mengganggu. ‘Mas Donny pasti sibuk’ gumamnya. Dia menyimpan ponselnya di atas nakas, tidak lama kemudian ponsel itu bergetar pertanda pesan masuk.
‘Apa istrinya Mas Donny yang cantik sudah bangun’ tanya Donny lewat pesan singkat, dia sedang memimpin rapat ketika Bu Mira menyampaikan padanya kalau istrinya baru saja bangun. Donny sudah sejak tadi menunggu dengan gelisah.
‘Baru bangun, soalnya semalam ada orang yang nggak ada capeknya menggerayangiku’. Balasnya dengan menambahkan emoji sedih.
Donny yang membaca pesan itu tergelak membuat semua orang yang mengikuti rapat mengalihkan pandangan dari layar besar ke arahnya. Donny berdehem saat menyadari semua orang sedang memandangnya, lalu rapat kembali di lanjutkan.
__ADS_1
‘Kamu bisa minta Bu Mira apa pun yang kamu inginkan, jangan sungkan padanya’, kembali mengirim pesan sambil sesekali melihat orang-orang seperti seorang murid yang takut ketahuan bermain ponsel saat guru sedang menjelaskan di papan tulis.
Bu Mira masuk membawa nampan berisi empat potong sandwich dan segelas teh hangat. Mia mengambil satu potong sandwich lalu mengambil gambar selfi dengan menggigit sandwich itu dan mengirimkannya pada suaminya.
“Apa anda membutuhkan yang lain”. Mia menggeleng dengan cepat, Bu Mira yang melihatnya sibuk dengan ponselnya lalu keluar meninggalkannya.
Mendapat kiriman foto menggemaskan dari istrinya membuat senyum terkembang di bibirnya. Orang-orang saling menatap melihat keanehan rapat kali ini. Donny yang biasanya memasang wajah dingin dan serius saat sedang rapat dan membahas masalah yang penting tidak terlihat hari ini.
Yang nampak sekarang seperti laki-laki yang sedang jatuh cinta dan berbalas pesan dengan kekasihnya. Donny kembali bedehem, lalu menyudahi rapat yang sebenarnya sudah selesai sejak tadi.
“Saya mau rangkuman rapat hari ini, jangan ada yang terlewatkan”, Perintahnya pada Al. Dia menyadari tidak memperhatikan apapun yang di jelaskan saat rapat tadi
“Baik, Tuan”. jawab Al.
‘Saat anda jatuh cinta dengan Natasya sepertinya anda tidak sebahagia ini, Tuan’ Ucap Al dalam hatinya dengan senyum yang juga terukir di bibirnya. Dia juga baru kali ini melihat Donny tersenyum membalas pesan seseorang apa lagi sampai tergelak dan dalam keadaan rapat. Ini benar-benar di luar dari kepribadian seorang Tuan Donny Adriano.
Alfandy menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak sadar bahwa dirinya juga sering melakukan sesuatu yang di luar akal sehatnya saat bersama Fiona. Dua gadis itu membuat dunia mereka berdua berubah.
Selang tidak lama terdengar ketukan pintu, Mia menyahut dari dalam. Bu Mira masuk dengan seorang pelayan di belakangnya. Mia bertepuk tangan seperti anak kecil saat aroma soto ayam itu memenuhi indra penciumannya.
“Pelan-pelan, Nyonya. soto ayamnya masih panas” ucap Bu Mira yang melihat Mia meringis perih saat langsung saja memasukkan kuah panas itu ke dalam mulutnya.
Mia memakan makanan itu dengan lahap seperti orang kelaparan yang tidak pernah di beri makanan sampai Bu Mira terheranheran di buatnya.
“Anda mau lagi Nyonya?” mangkok itu sudah bersih dalam sekejap tidak tersisa setetes pun kuahnya.
“hemm?” Mia menaikan alisnya bertanya tidak mengerti. “Soto ayamnya, anda mau lagi?”. Iris matanya seolah berbinar cerah.
“Memangnya masih ada?” tanyanya senang, “masih ada, Nyonya. Saya akan mengambilkannya”.
“Tidak perlu, aku turun makan saja”. Tanpa menunggu Bu Mira, Mia sudah keluar kamar lebih dulu sambil berlari kecil. Dia susah melupakan pegal dan nyerinya, yang ada di fikirannya sekarang hanya makan dan makan.
__ADS_1
Fiona menatap tidak percaya dengan sosok yang ada di hadapannnya saat ini. Laki-laki yang sudah menorehkan luka di hati sahabatnya, beraninya dia menampakkan diri di depannya. Tangannya terkepal menghampiri laki-laki itu yang ternyata memang sudah menunggunya.
Bugh… kepalan tangannya mendarat sangat keras di pipi laki-laki itu.
“Masih berani kamu menampakkan wajah kamu di depanku?” ucap Fiona dengan nada tinggi, laki-laki itu tampak tidak bergeming mendapat bogeman dari Fiona, malah Fiona yang merasa kesakitan.
“Apa Mia hidup dengan baik selama ini?”. Bibir Fiona terbuka lebar sambil membuang nafas kasar.
“Siapa kamu sampai bertanya tentang kehidupannya”. Ucap Fiona sarkas.
“Aku bertemu dia kemarin”
“Apa….?” Fiona menjadi panik, bagaimana reaksi Mia saat bertemu dengannya.
“Dengar, Mas Dimas. Jangan pernah muncul di hadapannya, dia sudah menjalani hidupnya dengan bahagia sekarang. Dia sudah melupakan kamu”.
“Aku akan pergi”. Dimas menatap Fiona dengan tatapan memohon. “Bantu aku bertemu dengannya sekali lagi”.
“Kamu tahu, tujuh tahun lalu aku sangat ingin membunuh kamu. bagaimana mungkin kamu bisa pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun padanya, dan sekarang kamu mau aku membantu kamu bertemu dengannya”.
“Aku punya alasan ku sendiri”.
“Setidaknya jelaskan padanya agar dia tidak terlalu terluka”. Dimas menarik nafas dalam sambil menutup matanya. Sepertinya dia salah menemui Fiona, gadis itu tidak mungkin membantunya. Dia lalu beranjak meninggalkan Fiona.
“Dia hidup dengan baik, dia sudah menikah dengan laki-laki yang memberinya banyak cinta”. Langkah Dimas terhenti, dia berbalik menatap Fiona.
“Biarkan dia bahagia kali ini, kehadiran kamu hanya akan mengorek luka hatinya yang mungkin sudah mengering”.
“Pergi dan menghilanglah seperti tujuh tahun ini”.
__ADS_1
Fiona menatapnya penuh kemarahan lalu beranjak meninggalkannya.