
“Anda mau kemana Nyonya”. Mia terlonjak kaget saat membuka pintu kamarnya sudah ada Al yang berdiri di sana.
“Sejak kapan kamu ada di situ?”. tanya mia penasaran
“Baru saja, Nyonya”. Jawab Al dengan sopan. Mia hanya mengangguk sambil terus berjalan.
“Anda mau ke mana, Nyonya?". Tanya Al sekali lagi.
“Aku mau ke kontrakan?”.
“Saya akan mengantar Anda”. Mia tidak menggubrisnya dan terus berjalan. Al membuka pintu untuknya, Mia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.
“Kenapa kamu nggak ikut Mas Donny ke Paris, kamu kan sekertarisnya”. Mia mulai pembicaraan mencoba akrab dengan Al seperti Dia dan Leo.
“Ada banyak yang bisa membantu Tuan di sana, Nyonya. Saya punya pekerjaan yang lebih penting di sini”.
“Kalau kamu punya pekerjaan penting, terus kenapa sekarang kamu disini. Saya nggak apa-apa kok naik taksi online, sudah biasa”. Ucap Mia yang merasa tidak enak harus membuat Alfandy meninggalkan pekerjaannya.
“Saya sedang mengerjakan pekerjaan penting saya, Nyonya”. Mia mengernyit tidak mengerti, lalu seketika mulutnya ternganga. Wanita itu berpindah duduk di samping Al membuatnya terkejut. Al menstabilkan nafasnya yang terengah karena terkejut. Sekilas dia lalu mengingat seorang gadis yang juga pernah melakukan hal yang sama.
“Nyonya, Tuan akan marah besar kalau melihat anda melakukan hal seperti itu”. Pandangannya kembali tertuju pada jalan didepannya.
“Al, jangan bilang kalau Mas Donny menyuruh kamu mengawasi aku”?.
“Bukan mengawasi anda, tapi menjaga anda”. Bibirnya sedikit terbuka, Donny meninggalkan Al untuk menjaganya.
“Kenapa? Kenapa aku harus di jaga? Dulu juga tidak ada yang menjagaku, tapi aku baik-baik ajakan”. Protesnya yang entah pada siapa.
Dia lalu diam memandangi jalan lurus di depannya, sejak kapan suaminya jadi over protektif seperti ini.
‘Apa seperti ini jadi istri orang kaya, ada yang jagain. Apa diam-diam ada pengawal pribadi juga yah yang ikutin aku’. Mia menoleh kebelakang dan bibirnya lagi-lagi terbuka tidak percaya.
“Al, yang di belakang itu siapa?” Mia melihat mobil sedan hitam yang biasa dia lihat terparkir di halaman rumah Donny.
“Tidak usah memperdulikannya, Nyonya. Anggap saja anda tidak melihat mereka”. Lagi-lagi sukses membuatnya terkejut.
__ADS_1
“Mereka? maksud kamu?”. Al menghela nafas dengan berat. “Mereka di tugas kan Tuan Donny menjaga anda”.
“sejak kapan?”. Mia semakin antusias sekaligus penasaran.
“Sejak Anda menikah dengan Tuan”. Mia menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan tangannya. Jadi benar, ada pengawal pribadi yang menjaganya dan ternyata sudah ada sejak lama, dan dia tidak pernah menyadarinya.
Mobil Al sudah berhenti di depan kontrakan Fiona. “Apa Alex juga ada di dalam, Nyonya?”. Mia mengernyit. “Kenapa?”
“Bukankah Tuan sudah melarang anda dekat dengannya”. Mia berdecak “Alex nggak ada”. Ucapnya lalu keluar dari mobil setelah Al membukakan pintu untuknya.
“Mi…” Fiona muncul entah dari mana sambil membawa kantong kresek warna hitam.
“Kamu dari mana?” tanya Mia. “dari warung”, jawab Fiona sambil mengangkat kantongannya. Mereka lalu masuk bersama sambil saling merangkul tapi tiba-tiba saja Fiona berhenti saat melihat siapa yang tadi mengantar Mia.
“Eh, sekertaris Al, nggak mau masuk” Fiona menawarkan basa-basi.
“Saya di sini saja”, tolak Al dengan sopan.
“Kamu bisa pergi kok, saya pulangnya nanti malam. Kan Mas Donny juga nggak ada di rumah”. Mia merasa tidak enak kalau Al akan menunggunya sampai malam.
“Tuan Donny ada urusan apa ke Paris?” Tanya Fiona.
“Bukannya karena pekerjaan”, jawab Mia. Fiona yang bekerja di kantor pusat Oliver Group harusnya lebih tahu darinya.
“Setahuku nggak ada masalah sama perusahaan yang ada di Paris”. Mia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Donny, tapi sialnya panggilannya tidak dapat terhubung. Mia jadi penasaran, apa yang di lakukan Donny di Paris kalau memang bukan urusan pekerjaan. Mia mencoba berfikir positif, mungkin saja memang ada pekerjaan tapi Fiona tidak tahu.
“FI, kita bahas kamu aja”. Fiona mengernyit, “Kenapa aku?” tanyanya heran.
“Kamu sama Alex”. untung saja dia sudah selesai minum jadi air itu tidak tersembur keluar karena terkejut.
“Memangnya aku sama Alex kenapa?”
“Fi, coba buka hati kamu dan lihat ketulusan Alex”. Fiona hanya mendesah, Alex mulai menjaga jarak dengannya waktu di kantor dan itu membuat hatinya sedikit terluka karena Alex tidak pernah mempelakukannya seperti itu
“Jujur sama hati kamu Fi, apa memang tidak ada sedikitpun rasa untuk Alex. Dia selalu memperlakukan kamu dengan baikkan”. Fiona sudah coba menyelami hatinya sendiri saat Alex mengatakan perasaannya kepadanya. Dia menyukai Alex, hanya sebatas sahabat dan tidak ingin lebih dari itu.
__ADS_1
“Aku selalu menganggap Alex seperti kakakku sendiri, aku tidak punya perasaan yang lain padanya, Mi”.
“Kamu yakin?”. Fiona mengangguk mantap. Mia terlihat kecewa, dia sangat ingin melihat Alex dan Fiona bersama. Bukan, yang paling dia inginkan adalah melihat Fiona bahagia. Tidak perduli dengan siapapun itu asalkan Fiona bisa merasakan apa yang sekarang dia rasakan. Mencintai dan dicintai.
‘Mencintai dan dicintai? Sekarang hanya aku yang mencintai Mas Donny, tapi apakah dia juga sudah mencintaiku?. Dia tidak pernah mengatakannya padaku. Apakah dia masih mencintai wanita itu?’ Mia menghela nafasnya, dia memang belum mengetahui isi hati suaminya yang sebenarnya.
‘Apa yang akan wanita itu lakukan untuk memperjuangkan cintanya, apa dia dan Mas Donny sudah….’ Mia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak berani membayangkan seandainya kejadian tujuh tahun lalu terulang lagi dengan alur yang sama. Tepukan Fiona di bahunya membutanya tersadar dari lamunannya.
“Kamu lagi mikirin apa, Mi? serius banget sampai geleng-geleng kepala”.
“Aku belum cerita sama kamu, kalau wanita itu pernah datang menemuiku?” Fiona menatap Mia dengan sebelah alis terangkat.
“Monika?” tanya Fiona, Mia menggeleng. “Natasya, kekasih Mas Donny”. Fiona diam memperhatika ekpresi Mia, lagi-lagi wajah cantik itu terselimuti awan mendung.
“Dia billang akan memperjuangkan cintanya, akan merebut kembali apa yang menjadi miliknya”. Fiona menghampirinya “Kalau dia bilang begitu, berarti Tuan Donny sudah pergi darinya kan?” Mia menatap Fiona seperti menemukan sebuah kebenaran, lalu kembali menunduk menyadari bahwa mereka pernah saling mencintai.
“Bagaimana kalau Mas Donny kembali padanya?” tangannya gemetar membayangkannya. Walaupun bibirnya selalu berkata akan mencoba tapi tetap saja ada rasa takut yang terselip di sana.
“Kamu harus yakin dengan Tuan Donny, dia sudah memperkenalkan kamu secara tidak langsung pada semua orang kan, itu artinya dia sudah mengakui kamu sebagai istrinya”. Benar, kenapa Donny sampai berani memperkenalkannya di depan umum.
Fiona terus menenagkannya yang tiba-tiba menjadi gelisah, ada perasaan aneh yang datang mengganggunya entah apa itu, seperti hal buruk yang mungkin akan terjadi. Fioan keluar rumah dan menemukan Alfandy sedang tertidur di dalam mobilnya.
“Sekertaris Al” panggil Fiona mengetuk-ngetuk kaca mobil. Al dengan sigap terbangun dan membuka pintu.
“mmm… Mia sedang nggak enak badan, jadi dia akan nginap di sini. Anda pulang saja”.
“Saya akan menghubungi dokter”. Fiona langsung mencegahnya.
‘Dasar orang kaya’ ocehnya dalam hati.
“Dia nggak perlu dokter, aku bisa jaga dia kok”. Alfandy tidak mendengarkan Fiona, dia menjauh dari Fiona saat panggilannya terhubung.
“Nyonya tetap harus pulang, Fiona. Ini perintah dari Tuan Donny”.
“Memangnya apa yang Tuan Donny lakukan di Paris”. Al memberinya tatapan tajam membuatnya berlari kecil kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
“Mi, katanya kamu nggak boleh nginap”. Mia berdecak lalu akhirnya ikut pulang dengan Alfandy. Dia bisa saja bersih keras untuk tinggal. Tapi mengingat Alfandy dan orang yang mengikutinya tadi membuatnya memutuskan untuk pulang.