
Malam sudah semakin larut, beberapa jiwa mungkin sudah terbang ke dalam mimpi. Mia sudah sejak tadi memejamkan mata walau belum benar-benar terlelap, badannya terasa sangat dingin. Dia mengeratkan selimut ke tubuhnya mencoba mencari kehangatan.
Donny masih ada di ruang kerjanya, kecanggungan yang kembali tercipta di antara mereka membuat Donny memilih tidur di ruang kerjanya agar Mia merasa nyaman walaupun dia sangat ingin memeluk gadis itu.
Mia tidak bisa tidur hingga dini hari, tubuhnya hangat walaupun dia merasa kedinginan. Dia tidak inign merepotkan siapapun lagi. Hingga akhirnya dia ketiduran. Tapi tidurnya tidak berlangsung lama karena perasaan yang tidak nyaman.
Hingga pagi menjelang Mia memaksakan dirinya untuk ke kantor walalupun penglihatannya seperti berkunang-kunang. Kepalanya pusing sekali.
Mia keluar kamar lebih dulu saat Donny ada di kamar mandi. Dia masih tidak mau bertemu dengan laki-laki itu. itu akan membuatnya mengingat kesedihannya.
“Nyonya, wajah anda sangat pucat. Anda sakit?”. Bu Mira panik dan terkejut melihat wajah pucat Mia. gadis itu hanya menggeleng.
“Bu, saya sarapan di kantor aja”. Meminum teh hangat yang sudah tersedia di meja, dia tidak berselera makan sama sekali.
“Tidak, Nyonya. Anda harus sarapan di rumah atau Tuan Donny akan memarahi kami semua”. Mia yang sama sekali tidak punya tenaga untuk meladeni ocehan Bu Mira berlalu meninggalkannya dan tidak memperdulikan perkataannya.
“Leo, ayok”. Mia masuk ke dalam mobil lebih dulu sebelum Leo sempat membukakan pintu mobil untuknya. Mia duduk menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada sandaran mobil lalu memejamkan matanya.
“Anda sakit?, wajah anda sangat pucat”. Ucap Leo khawatir.
“Aku nggak apa-apa”. Leo yakin terjadi sesuatu anatar Tuan dan Nyonyanya, karena Donny tidak akan membiarkannya pergi dengan wajah seperti mayat hidup.
“Nyonya, anda yakin baik-baik saja?” tanya Leo tidak yakin kalau gadis itu baik-baik saja. Mia tidak menjawabnya dan keluar dari mobil.
Dia bertemu Cilla di lobby, gadis itu mengahmpiri Mia yang nampak pucat. “Mi, badan kamu panas banget”. Mia tidak memperdulikan Cilla dia malah meminta Cilla untuk memapahnya ke kursinya.
Cilla mengambilkannya air hangat dan juga obat pereda demam. Namun sebelum Mia meminumnya gadis itu tumbang tidak sadarkan diri.
Cilla yang panik segera memanggil bantuan untuk membawa Mia ke rumah sakit. Saat di lobyby, Leo yang sedang berbincang bersama temannya langsung berlari melihat salah satu teman Mia yang dia kenali berjalan terburu-buru dengan seorang laki-laki menggendong seorang gadis. Dan benar saja itu adalah Nyonya mudanya.
__ADS_1
Leo segera mengarahkan orang itu agar memasukkan Mia ke dalam mobilnya, Cilla masuk lebih dulu agar Mia bisa bersandar padanya. Leo yang panik mengemudikan mobilnya secepat yang dia bisa. Dia menghubungi Alfandy sambil fokus pada jalanan yang ada di depannya.
Di perjalanan menuju rumah sakit gadis itu menyempatkan menghubungi Fiona, yah setahunya Mia masih tinggal bersama Fiona.
“Fi, Mia pingsan. Badannya panas banget. Kenapa kamu biarain dia ke kantor dalam keadaan sakit begini”, omel Cilla. Fiona terkejut, dia langsung meminta ijin pada Alex untuk melihat keadaan Mia. Alex yang sedang banya k pekerjaan tidak bisa menemani Fiona walaupun dia sama khawatirnya dengan Fiona.
Ponsel Leo berdering dan nama Tuan Donny terpampang di layar.
“Iya Tuan”, jawab Leo
“Bawa Nyonya ke rumah, Leo”. Donny mematikan ponselnya setelah memberi perintah pada Leo. Donny tahu Mia tidak suka berada di rumah sakit.
Leo tidak berfikir lagi kalau di mobil itu ada orang lain yang tidak mengetahui tentang pernikahan Tuan dan Nyonyanya. Dia memutar arah mobilnya yang sudah hampir sampai di rumah sakit. Sesuai perintah Donny, dia akan membawa Mia kerumah. Donny pasti sudah memanggil Dokter pribadinya yang tidak lain adalah sepupunya.
Mobil Donny tiba lebih cepat, Alfandy membawa mobil gila-gilaan tadi. Donny menunggu mobil Leo di depan pintu.
Leo tidak menjawabnya karena tidak tahu harus berkata apa, dia tidak ingin salah bicara. Biar saja Alfandy nanti yang mengurus teman Nyonyanya ini.
Mobil sudah berhenti, Donny membuka pintu mobil. Dia segera menggendong Mia yang tidak sadarkan diri masuk ke dalam rumah dan membawanya ke kamar. Cilla membuka mulutnya dengan lebar, matanya membulat sempurna. Dia sangat terkejut.
Gadis itu masih dengan keterkejutannya di dalam mobil. Dia bahkan melupakan temannya yang tadi membuatnya panik. Tiba-tiba Alfandy masuk dan duduk di balik kemudi membuatnya kemabli terkejut.
“Saya akan mengantar anda kembali”. Kata Alfandy dengan gaya santainya.
“Tadi itu Tuan Donny Adriano kan?”, pertanyaan Cilla tidak mendapatka jawaban dari Alfandy.
“Apa hubungan Tuan Donny dan Mia?”. Alfandy mendesah, gadis ini sama saja seperti Fioan dan tentu juga Nyonya Mudanya.
“Anda tidak boleh mengatakan kepada siapun apa yang anda lihta tadi”, kata Al dengan nada dinginnya.
__ADS_1
“Tuan Donny dan Nyonya sendiri yang akan mengumumkan kepada publik nanti”. Bibir gadis itu kembali terbuka “Nyonya…?” katanya.
“Jadi Mia itu Nyonya muda Oliver Group”. Cilla menutup mulutnya yang semakin terbuka lebar. Gadis itu berpindah duduk di samping kemudi membuat Alfandy terlonjak kaget.
“Apa yang anda lakukan!” serunya.
“Jadi sejak kapan mereka menikah?” Alfandy sudah mulai geram dengan tingkah teman Mia yang satu ini. Dia meliriknya tajam lalu tatapannya kembali fokus pada jalan di depannya.
“Hei, kalau di tanya jawab dong”, Cilla dengan refleks memukul lengan Al. Gadis itu mulai kesal dengan laki-laki di sampingnya itu.
“Bukan hak saya menjawab anda, Tuan dan Nyonya yang akan menjawabnya nanti”. Cilla mendengus kesal, dia melirik laki-laki di sampingnya.
‘bukankah dia yang datang bersama Tuan Donny waktu itu’, tanyanya dalam hati. ‘Pantas saja waktu itu Mia mengusirku, ternyata suaminya datang menjemputnya’. Gadis itu senyum-senyum sendiri membuat Alfandy menngeleng-gelengkan kepalanya.
“Eh, Mia akan baik-baik saja kan?, Tuan Donny tidak akan menyakitinya kan? Dia sedang sakit, kenapa aku meninggalkannya tadi”. Gadis itu baru sadar kalau tadi dia sangat panik sewaktu Mia pingsan. Dia terlalu sibuk dengan keterkejutannya hingga membuatnya melupakan temannya yang sedang sakit.
“Nyonya akan baik-baik saja, anda tidak perlu mengkhawatirkannya”.
“Syukurlah kalau begitu”. Ucap Cilla tulus.
“Hei…” lagi-lagi memukul lengan Al. “Santai aja, jangan terlalu formal”. Gadis itu tersenyum padanya, Al melihatnya dan…
Manis, senyum Cilla sangat manis.
“Aku Pricilia, kamu bisa panggil Cilla”. Katanya memperkenalkan diri. Al hanya mengacuhkannya, gadis itu lalu tersenyum lagi.
“Pantas saja Mia bilang kamu itu menyebalkan. Sekarang aku setuju sama Mia, kamu memang menyebalkan”. Katanya dengan terkekeh.
Mobil sudah sampai di depan Wijaya Mandiri, Cilla lalu turun dari mobil sedan mewah itu. Al membunyikan klaksonnya saat mobilnya kembali melaju.
__ADS_1