Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 63 Tidak ada persahabatan yang murni


__ADS_3

Mia menunduk melihat wajah suaminya memastikan sekali lagi bahwa laki-laki di sampingnya itu sudah kembali menjadi suaminya yang lembut dan hangat.


“Kamu kenapa?” tanya Donny dengan gemas.


“Mas Donny seram banget kalau marah, aku saja sapai merinding”. Donny mendekatkan wajah istrinya ke dadanya lalu merangkulnya. “Maaf kalau saya buat kamu takut. Apa dia sering berbuat kasar padamu?” Mia mendongak dengan kepala yang tetap bersandar di dada suaminya.


“Aku tidak terlalu perduli”. Donny mengecup lembut pucuk kepala istrinya.


“Mas mau balik kantor?” Donny hanya menjawabnya dengan bergumam, dia masih sibuk mencium kepala istrinya di semua sisi lalu saat Mia kembali mendongak Donny dengan cepat menyambar bibir merah muda istrinya yang sedari tadi menggodanya.


Mia mendorong pelan kepala Donny, dia melirik Alfandy lalu memukur lengan Donny. “Maaf”. Kata Donny sambil terkekeh.


  ***


 “Jadi kamu beneran suka sama aku? Sejak kapan?” Fiona memutar bola mata jengah dengan tingkah konyol Alex.


“Kalau masih mau terus mengoceh yang tidak jelas, lebih baik turunkan aku disini”. Omel Fiona, tapi Alex tidak memperdulikannya. Baginya menggoda gadis itu adalah hal paling menarik yang sayang di lewatkan.


“Jadi kamu bersahabat denganku karena ada maksud lain, hah”. Fiona menghela nafasnya dengan pelan. Entah kerasukan apa laki-laki di sampingnya ini hingga terus menganggunya.


“Fi, aku serius”. Alex mengunci pintu mobil dari dalam mencegah Fiona yang akan turun saat mobil sudah terparkir di depan kontrakannya.


“Alex, aku capek banget. Aku mau makan, mandi dan tidur”. Ucap Fiona dengan nada yang memelas agar laki-laki di sampingnya itu berhenti mengganggunya  dan berhasil, Alex membuka kunci  pintu mobil lalu Fiona turun dari mobil Alex. Fiona tersenyum penuh kemenangan berhasil mengelabui Alex.


“Kenapa kamu turun juga?” senyum langsung memudar di wajah Fiona berganti dengan raut wajah kesalnya.


“Aku mau numpang makan”. Fiona geleng-geleng kepala, kehabisan kata-kata dengan tingkah menyebalkan laki-laki itu. Fiona berjalan dengan malas masuk ke dalam rumah yang sudah dia tempati sejak datang ke Jakarta bersama Mia da Neneknya enam tahun lalu.


“Fi, bagaimana caranya aku meluluhkan hati kamu yang beku itu?”.

__ADS_1


“Alex, please stop. Bercanda kamu nggak lucu”.


“Apa kamu pikir aku bercanda?” Tangan Alex terulur membersihkan noda saos di bibir Fiona, gadis itu terkesiap untuk sekian detik. Dia langsung menepis tangan Alex yang masih tertempel di bibirnya ketika kesadarnnya kembali di detik berikutnya.


“Aku serius, Fi”. Fiona kembali tergugu saat wajah dan suara Alex berubah menjadi lebih serius.


“Maafkan aku yang sudah jatuh cinta padamu, aku tidak bisa lagi menepis perasaaku sendiri walau berulang kali aku meyakini diriku bahwa kita hanya sebatas sahabat”. Gadis itu masih saja terdiam di tempatnya dengan bibir yang terbuka.


“Aku tidak mau terlambat mengakui perasaanku padamu, walaupun mungkin hubungan kita tidak akan seperti dulu lagi”.


“Apa aku tidak ada kesempatan?”


“Alex Aku…”


“Orang tuaku sudah mengetahui semua tentangmu”, Fiona membulatkan matanya dengan sempurna, sudah sejauh itukah perasaan Alex padanya.


“Mereka menerima mu, orang tuaku tidak mempermasalahkan asal usulmu”. Deg, jantung Fiona berdetak cepat, benarkah ada orang yang mau menerimanya dengan latar belakang keluarga seperti keluarganya.


“Maafkan aku Fiona, aku harap persahabatan kita tidak akan berubah setelah aku mengatakan perasaanku padamu. Aku pergi dulu. istrirahatlah”. Alex meninggalkannya yang masih diam mematung di tempatnya.


Ternyata benar kata orang-orang, tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Salah satunya pasti memiliki rasa yang lain. Fiona menghela nafas kasar lalu berdiri membereskan meja makan dengan perasaan yang kacau. Bagaimana dia bertemu dengan Alex nanti.


Bunyi ponsel menglihkan pikirannya, nama Mia tertera di layar ponselnya. gadis itu mendesah sebelum menjawab, Alex pasti sudah cerita padanya.


Sementara itu di rumah mewah Donny, Mia mula kesal dengan suaminya yang mulai menunjukkan rasa cemburunya. Dia dan Alex berbicara cukup lama di telepon mengabaikan suaminya yang sengaja pulang lebih awal agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama.


“Aku, Alex sama Fiona. Kita bertiga bersahabat, Mas”. entah sudah berapa kali Mia mengatakannya. Donny yang awalnya tidak mempermasalahkan hubungannya dengan Alex mulai merasa jengah melihat ke akraban mereka.


“Tapi kamu wanita yang sudah menikah Mia, tidak baik terlalu dekat dengan seorang pria”. Donny berkata dengan sangat lembut tidak mau membuat istrinya merasa di batasi dalam pergaulannya walaupun sebenarnya dia sangat ingin melakukannya

__ADS_1


“Jangan dekat lagi dengannya, Mia”. putus Donny tidak mau lagi di bantah. “Atau saya akan pindahkan dia ke anak perusahaan di luar kota atau mungkin di luar negeri”. Mia melepaskan dirinya dari rangkulan suaminya.


“Mas, aku lagi berusaha membantu Alex untuk meluluhkan hati Fiona, kalau Alex di pindahkan bagaimana aku mendekatkan mereka”. protes Mia, Donny mengernyit.  “Kenapa kamu mau mendekatkan mereka?”


“Alex suka sama Fiona, tapi Fiona menutup hatinya sangat rapat”.


“Lihatkan, tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan”. Donny kembali menyandarkan Mia di dadanya. Mia menyudahi pembicaraan Fiona dan Alex. Donny tidak akan bisa membantunya.


Dia kan berusaha sendiri menyatukan dua orang yang dia sayangi itu. sekarang dia sudah bahagia dengan suaminya. Tentu dia juga ingin membuat sahabatnya bahagia.


Donny mengambil ponselnya yang bergetar di samping nakas, di layarnya tertera nama Natasya. Donny membangunkan Mia dari dadanya, dia berdiri menjauh dan mengusap layar hijau di ponselnya.


Keningnya mengernyit ketika bukan suara mantan kekasihnya yang dia dengar.


“saya akan ke sana”. Donny menutup teleponnya, seketika dia terlihat sangat panik. Dia kembali menekan-nekan di layar ponselnya lalu mendekatkan ponsel itu di telinganya.


“Al, siapkan pesawat sekrang juga, saya harus ke Paris malam ini”. Katanya setelah penggilannya terhubung.


“Apa…, kalau begitu carikan saya tiket secepatnya. Secepatnya, Al”. Suaranya terdengar sangat khawatir sehingga membuat Al di seberang telepon menajdi panik. Donny mengatur nafasnya, pandangannya kemudian terarah pada wanita cantik yang sedang memandangnya di atas tempat tidur. Dia mendekati wanita itu lalu memberinya kecupan hangat di bibir.


“Saya harus ke Paris malam ini”. Katanya membelai wajah istrinya seperti merasa sedikit bersalah harus meninggalkannya.


“Apa ada masalah?” tanya Mia, Donny memberinya senyum yang akan menenangkannya.


“Saya akan jelaskan saat kembali nanti”. Mia mengernyit  tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya.


Bu Mira masuk setelah Donny memanggilnya melalui intercom, dia masuk ke ruang ganti dan mengemasi baju Donny yang akan dia bawa. Setelah selesai Bu Mira membawa koper itu keluar.


“Saya akan pergi bersama Leo, Al akan menemani kamu disini”.

__ADS_1


“Loh, nggak kebalik, biasanya aku kan sama Leo”. Donny hanya memberi senyum pada Mia, tidak berniat memberi jawaban.


Sebelum keluar dari kamar Donny memberi ciuaman yang panjag untuk istrinya. Dia mungkin akan sangat merindukannya nanti.


__ADS_2