
Mia lagi-lagi terbangun dan melihat Donny sudah tidak berada di sampingnya, dia memeriksa kamar mandi tapi kosong, kamar mandi itu nampak basah seperti seseorang baru saja mandi beberapa menit yang lalu.
Gadis itu lalu berlari kecil keluar kamar mencari suaminya di ruang kerja dan tetap tidak ada, lalu dia berlari menuju dapur berharap Donny masih ada di sana sedang sarapan. Namun di dapur dia juga tidak menemukan suaminya.
“Lihat Mas Donny nggak?” tanyanya pada pelayan yang dia temui. Pelayan itu menunduk sopan padanya, “Tuan sudah berangkat ke kantor, Nyonya. Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu.
Mia mengangguk, “terima kasih”. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, dia merasa Donny benar-benar menghindarinya.
Jam dua belas tepat Mia sudah meninggalkan mejanya, dia khawatir pada Donny yang mabuk semalam. Hari ini dia memutuskan untuk menemui Donny di kantornya. Gadis itu tidak mau Donny terus menghindarinya.
“Leo, kita ke kantor Mas Donny yah”. Pinta Mia
“Anda sudah buat janji dengan Tuan”
“Aku kan istrinya, lagi pula ini jam makan siang”.
“Bukan begitu, Nyonya. Siapa tahu Tuan mungkin ada janji dengan kliennya di luar kantor”. Ucap Leo hati-hati karena Mia terlihat kesal saat dia bertanya apakah sudah membuat janji.
“Saya akan menghubungi Al”, Leo sudah mengambil ponselnya tapi Mia mencegahnya dengan cepat.
“Jangan…”, Leo menaikkan alisnya. Mia takut Donny akan menolaknya jika tahu dia akan datang.
“Saya mau kasih kejutan”, alasan yang baik pikirnya. Tidak ada yang tahu kalau ada sesuatu yang sudah terjadi di antara mereka.
“Baik, Nyonya”. Leo kemudian mengemudikan mobilnya menuju kantor pusat Oliver Group.
Seorang penjaga keamanan berlari kecil membukakan pintu mobil ketika mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama gedung . Penjaga kemanan tersebut sangat mengenal mobil yang baru saja berhenti. Dia menundukkan kepalanya sopan meski tidak tahu siapa wanita yang baru saja turun dari bomil yang biasa di pakai pemilik gedung ini.
__ADS_1
Mia berjalan mendekati meja resepsionis. “Ada yang bisa kami bantu” ucap salah satu resepsionis dengan sopan.
“Saya ingin bertemu dengan Ma…, Tuan Donny Adriaono”. Ucapnya dengan memasang senyu manisnya. Kedua resepeionis itu memperhatikan Mia dengan seksama lalu saling memandang. Selama ini tidak ada sekertaris ataupun karyawan perusahaan lain yang berani bertemu langsung dengan atasan mereka. wanita ini sangat tidak sopan menurut mereka.
“Maaf, apakah anda sudah membuat janji”. Mia menghela nafas, tentu saja akan sulit oarang seperti Tuan Donny Adrioano akan sulit di temui dengan cara seperti ini.
Tiba-tiba Leo masuk ke dalam gedung itu dan menghampiri Mia. “Anda tidak akan bisa bertemu Tuan jika melalui mereka, silahkan ikut saya”. Mia memberi senyum pada kedua resepsionis yang memandangnya tidak suka lalu mengikuti Leo.
“Anda belum makan apapun sejak tadi, Tuan”, di dalam kantor Presiden Direktur Alfandy sedang memohon agar Tuannya itu mau makan karena sejak tadi pagi atau mungkin sejak semalam Tuannya itu belum makan apapun.
“Saya tidak lapar, Al”. Hanya kata itu yang sejak tadi Donny katakan. Sudah waktunya makan siang tapi Donny masih saja sibuk memeriksa dokumen-dokumen yang meumpuk di depannya.
Sementara itu diluar ruangan utama Presiden Direktur, Mia kembali mendapat kesulitan untuk masulkke dalam ruangan utama karena dua sekertaris menghalanginya. Leo tadi hanya mengantarnya sampai lift.
“Anda tidak bisa masuk, Nona. Tuan Donny sedang makan siang”, ucap salah satu sekertaris itu.
Pintu kayu raksasa itu akhirnya terbuka setelah sedikit drama di depannya. Donny dan Al sontak melihat ke arah pintu yang terbuka, siapa yang berani masuk saat jam makan siang Tuan Donny.
Donny berdiri dari duduknya dan berjalan cepat ke arah tiga gadis itu, salah satu sekertaris wanita itu memegang pergelangan tangan Mia dengan cukup keras,semnetara dua orang petugas kemanan yang tadi di hubungi segera datang untuk membawa pengacau keluar.
“Maafkan kami, Tuan. kami sudah melarangnya masuk, tapi Nona ini malah menerobos masuk ke ruangan anda. Maafkan kami”. Sementara Donny masih tercengang melihat istrinya ada di depannya, salah satu sekertaris itu memberi aba-aba kepada petugas keamanan untuk membawa Mia keluar.
Belum sempat petugas keamanan itu melangkah Donny sudah mengehntikannya. “Kalian boleh pergi”. Perintahnya datar. Mia menarik tangannya dari sekertaris itu dan mengusap-usapnya.
“Tapi, Tuan. gadis ini…”
“Apa saya harus mengulangi kata-kata saya!” dua penjaga keamanan segera pergi dan juag dua sekertaris wanita itu melihat kesal pada Mia lalu menutup pintu denga pelan.
__ADS_1
“Kenapa datang tidak memberi kabar sebelumnya?, apakah mereka menyulitkan kamu?” Mia mengangguk “Aku takut Mas Donny nggak mau ketemu sama aku jadi aku langsung datang ke sini aja”. Jawabnya sambil melihat sekeliling ruangan itu.
“Mana Leo, kenapa dia tidak menagntar kamu sampai ke ruangan ini”.
“Dia tadi mengantarku sampai ke lantai ini, katanya dia harus ke kamar mandi”. Donny mengehla nafas kesal. Harusnya Leo mengantar Mia sampai di ruangannya, agar tidak di persulit seperti tadi.
“Sakit?” Donny tiba-tiba memegang pergelangan tangan Mia yang tadi di pegang kuat oleh sekertarisnya. “tidak”. Jawabnya
“Mas Donny baik-baik aja?”. Tanyanya ketika mengingat salah satu tujuan datang kemari. Donny mengagguk dengan senyuman sebagai jawabannya.
“Tahu nggak, Mas. semalam aku mendorong Alfandy dan Bu Mira keluar dai kamar”. Mia tertawa mengingat kejadian semalam saat dua orang kepercayaan Donny itu tidak mau meninggalkan kamarnya.
Donny tercengang melihat tawa Mia, ini pertama kalinya dia melihat gadis itu tertapa seperti itu. cantik, gadis itu sangat cantik saat dia tertawa seperti itu. bahkan Alfandy tidak mengedipkan matanya melihatnya.
“Masak mereka tidak percaya aku bisa mengurus suamiku sendiri”.
Donny lagi-lgi tertegun. Gadis itu menyebut dirinya dengan sebutan suamiku, entah kenapa seperti ada angin yang berhembus di hatinya. sejuk.
“Mas Donny belum makan?” Mia melihat ada kotak makanan yag isinya masih utuh di atas meja.
“Saya belum lapar”. Mia lalu melihat jam yang terpasang di dinding rtuangan itu. “Sudah hampir jam satu, kenapa belum makan?”.
Gadis itu menarik suaminya dan memaksanya duduk di sofa, lalu mebuka kotak makan itu. “Mas mau aku suapin”. Donny menaikkan alisnya, dia melirik Alfandy sekilas.
“Kamu sudah makan?” tanya balik pada Mia.
“Aku kangen sama Mas Donny, sudah dua malam nggak ketemu. Jadi aku kesini pas jam istirahat”. Jawabnya jujur. Dia memang merindukan suaminya, dia tidak mau membuat hubungan mereka jadi canggung.
__ADS_1
Donny menarik sudut bibirnya, dia menunduk menahan senyuman. Dia senang dengan perlakuan dan ucapan gadis itu. sejujurnya, dia juga sangat merindukan istrinya itu.