
“Sudah baikan?”. Tanya Donny akhirnya. Mia mengangguk sambil tersenyum. Donny lalu menuntunnya masuk ke dalam mobil.
“Bagaimana Mas Donny tahu aku ada disini?”. Tadi dia ingat kalau dia pergi dengan terburu-buru, lalu tiba-tiba dia menepuk keningnya pelan.
“Kenapa?”
“Tas aku masih ada di hotel”. Jawabnya, dia lalu meraba saku celana bahannya. Mia mendesah pelan ketika tidak menemukan ponselnya.
“Teman-teman aku pasti cariin aku”.
“Kamu mau menghubungi mereka?”. Mia mengangguk, “tapi aku tidak hafal nomor ponsel mereka”. ucapnya dengan wajah sedihnya.
Donny menepuk kepalanya pelan, tanpa sadar Mia menyandarkan kepalanya di pundak Donny. Laki-laki itu terkesiap, dia merasakan debaran halus di hatinya.
Tidak lama Mia akhirnya tertidur di pundaknya, Donny memeluk bahunya dan mendekatkan gadis itu agar dia bisa memeluknya lebih erat.
Mia terbangun saat Donny akan menggendongnya. Di depan sudah ada Bu Mira yang menunggu mereka dengan khawatir, tapi melihat Mia sudah kembali bersama Donny membuta perasaan khwatir itupun hilang.
“Apa anda sudah makan, Nyonya?”. Mia memegangi perutnya, dia belum makan apapun. Tadi siang dia hanya makan sepotong burger dan cola.
“Aku mau istirahat aja”. Donny menahannya yang sudah akan berlalu. “Kamu belum makan?”
“Aku tidak lapar”. Jawabnya. Donny meminta pada Bu Mira agar membawa makan malam Mia ke kamar, dia akan membujuknya untuk makan.
Mia sudah membersihakan dirinya, dia melihat ada banyak makanan di atas meja yang ada di dalam kamar. Tapi dia sama sekali tidak berselera melihat makanan itu membuta Donny menjadi khawatir.
“Kamu sakit? Apa perlu saya panggilkan Dokter Rafael?” Mia menggeleng dan naik ke atas tempat tidur. Donny masih belum menyerah untuk menyuruhnya makan. “Makan sedikit saja, yah”, bujuknya.
Matanya berkaca-kaca, dia menunduk menyembunyikan air matanya yang mulai menetes. Donny terkejut melihat Mia memperlihatkan air matanya di depannya, selama ini Mia tidak pernah menangis langsung di depannya.
“Kenapa menangis?” tanyanya khawatir. “saya tidak akan memaksa kamu makan lagi kalau kamu memang tidak mau makan”, Donny memeluknya dari samping.
“Kenapa Mas Donny baik banget sama aku”. Donny terdiam, alasannya menangis ternyata bukan karena Donny memaksanya makan.
Donny mencium pusuk kepalanya dan membelainya lembut. “Karena kamu istri saya”.
__ADS_1
“Tapi kita menikah karena Ayah ku dan Papanya Mas Donny. Lagi pula kekasih Mas Donny …” ucapannya terpotong ketika Donny meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya.
“Apapun alasan kita menikah, kamu tetap istri saya”. Air matanya mengalir lebih banyak. Dia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Hatinya merasa nyaman berada di sana, Donny memeluknya lebih erat sambil mencium pucuk kepalanya.
Mia benar-benar merasa tenang setelah menyandarkan kepalanya di dada suaminya, hingga akhirnya dia tertidur di dalam pelukan suaminya.
Donny membaringkannya dengan benar, lalu menyelimuti istrinya. Dia menyentuh wajah itu perlahan, menghapus jejak-jejak air mata yang masih terlihat.
“Kamu kenapa, Mia. Siapa yang membuat kamu sampai sesedih ini?”. Donny mengambil ponselnya di atas nakas dan menghubungi Alfandy, kali ini dia tidak ingin melewatkan apapun tentang istrinya.
“Apa yang kamu dapat Al”. Donny langsung memerintahkan Alfandy untuk melihat apa yang terjadi di hotel itu.
“Nyonya sepertinya menghindari seseorang, Tuan.” jawab Al dari seberang sana.
“Siapa?” donny mengkerutkan keningnya walaupun Al tidak bisa melihatnya
“Istri dari mantan kekasih Nyonya, Tuan”. Donny terdiam, dia langsung mengalihkan pandangannya pada gadis yang sedang tertidur di samping.
“Saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu”. Donny meletakkan poselnya, dia menarik Mia lebih dekat padanya dan memeluknya. Dia akan menunjukkan pada gadis itu perasaannya yang sebenarnya. Perasaan yang tidak dia ketahui sejak kapan mulai ada di hatinya.
Matahari sudah membagikan cahayanya pada seluruh penduduk bumi. Donny menutup rapat tirai tebal itu sehingga tidak ada cahaya matahari yang akan mengganggu tidur istrinya.
Donny sudah bangun satu jam yang lalu, dia tidak berolah raga seperti biasanya di hari libur. Dia ingin tetap berada di kamar itu dan menemani istrinya hingga ia terbangun.
Gadis itu bergeliat kecil,selimutnya sudah tidak beraturan walau Donny berulang kali membenarkannya. Dia membuka matanya perlahan, meregangkan otot-ototnya lalu bangun dan duduk di atas tempat tidur.
“Selamat pagi”, Donny mengahampirinya. “Sudah merasa lebih baik”, Mia mengangguk sambil tersenyum. Tadi malam tidurnya terasa sangat nyenyak, dia tidak tahu kalau suaminya memeluknya sepanjang malam.
“Mau sarapan di bawah atau di bawa ke kamar”, tanya Donny dengan lembut.
“Sarapan di bawah aja”, Mia lalu bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
“Mas, aku mau ketemu Fiona”.
“Fiona lagi banyak pekerjaan, sepertinya hari ini dia masuk kantor”.
__ADS_1
“Nggak apa-apa, aku ketemu sekalian makan siang aja”.
“Bagaimana kalau kamu ikut saya ke kantor, kamu bisa langsung ketemu sama Fiona pas jam istrihat”. Mia mengangguk setuju. Lalu dengan cepat menghabiskan sarapannya.
Mia memakai tshirt dan celana jeans seperti biasa saat akan keluar bersama temannya.
“Sepertinya saya harus membawa kamu berbelanja”. Donny memperhatikan penampilan istrinya yang sangat sederhana. Mia mengerucutkan bibirnya, dia sadar Donny sedang menilai penampilannya.
Dia lalu masuk kembali ke ruang ganti. Dress yang dia beli bersama Fiona tempo hari menjadi pilihannya. Dress berwarna peach tanpa lengan, panjangnya di bawah lutut dengan sedikit belahan di samping. Heels lima centi berwarna hitam juga tas pemberian kakak iparnya menjadi pelengkapnya.
Mia mengoleskan sedikit lipblam di bibirnya, mengikat tinggi rambutnya membiarkan anak-anak rambutnya jatuh tidak beraturan. Mia semakin terlihat cantik.
“Istri Donny Adriano memang harus terlihat cantik dan elegan”. Mia tersenyum lalu mengalungkan lengannya di lengan Donny.
Para pelayan yang berpapasan melihat mereka dengan senyum ceria, benar-benar pasangan yang serasi.
Alfandy menyerahkan sebuah tote bag pada Donny saat mereka sudah duduk dengan nyaman di dalam mobil. Donny lalu memberikannya pada Mia.
“Apa ini”, tanyanya membuka tote bag. Mia terkejut melihat isinya.
“Makasih, Mas”. Donny membalasnya dengan senyum.
Mia menghidupkan ponsel itu, yah Donny memberikannya ponsel baru. Mia semakin terkejut melihat isinya sama persis dengan ponselnya yang hilang. Semua kontak telepon tidak ada satupun yang terlewatkan.
Mia lalu menghubungi Cilla, gadis itu berteriak di seberang sana membuat Mia menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
“Maaf Cil, aku merusak acara kamu?”
“Iya, aku baik-baik aja”. Mia lalu mematikan sambungan setelah membuat temannya itu yakin bahwa dia memang baik-baik saja.
****
Terimakasih banyak untuk dukungannya... mohon tegurannya kalau ada kalimat atau tanda baca yang salah, maklum masih amatir....
once again, makasih 😊🙏🙏
__ADS_1