Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 54 Kiriman makan siang


__ADS_3

“Fioanaaaaa….” Mia melempar sahabatnya dengan bantal. Fiona tidak pernah berhenti menggodanya saat menceritakan kejadian tadi pagi. Yah, hanya kejadian tadi pagi yang Mia ceritakan. Dia tidak mau membuat Fiona berfikir kalau Donny adalah laki-laki pengecut yang m*s*m yang hanya berani melakukannya secara sembunyi-sembunyi.


“Apa itu yang pertama”, tanya Fiona lagi-lagi menggoda Mia. Lalu Mia jadi ingat kalau mereka pernah melakukannya sekali dan berhasil membuat hubungan mereka menjadi canggung walalupun hanya beberapa hari karena Mia tidak membiarkannya berlangsung lama.


“Jadi ini bukan pertama kalinya”. Tawa Fiona kembali menggema, dan bantal lagi-lagi mendarat tepat di wajahnya.


Fiona bergegas keluar kamar saat samar-samar mendengar ketukan pintu. Itu tidak mungkin Alex karena laki-laki itu mengambil cuti untuk mengunjungi orang tuanya di Bali.


Ada dua orang laki-laki dan seorang wanita membawa beberapa kantong yang Fiona yakini itu adalah makanan.


“Maaf, Nona. Apa betul anda Nona Fiona”. Fiona mangut-mangut dengan wajah keheranan.


“Ini untuk anda”. Fiona membulatkan matanya, sejak kapan dia pesan makanan sebanyak itu.


“Tapi saya tidak pernah memesan makanan, mungkin kalian salah”, sanggahnya.


“Tidak, Nona. Ini dari Tuan Donny untuk anda”. Kelopak mata Fiona kembali membulat. “Tuan Donny”, serunya bertanya-tanya. Fiona lalu tersadar kalau saat ini Mia sedang bersamanya, mungkin makanan ini di kirimkan Donny untuk istrinya, hanya memakai namanya saja.


“Baiklah, terimakasih”. Fiona hendak mengambil semua kantong itu tapi mereka menepis tangan Fiona dengan sopan.


“Tunjukkan dapur anda, Nona. Kami akan menyajikannya di atas meja makan anda”. Kali ini Fiona membuka mulutnya sedikit lebar lama dia terdiam sampai akhirnya sedikit mundur memberi jalan pada tiga orang di depannya.


“Silahkan lanjutkan kegiatan anda, Nona”. Fiona langsung berlari ke dalam kamar dan menceritakan pada Mia apa yang terjadi luar tadi. Mia menunjukkan ponselnya pada Fiona yang terdapat pesan dari Donny bahwa dia mengirimkan makan siang untuk mereka.


“Orang kaya memang beda”. Mereka berdua tertawa bersama.


“Lalu, bagaimana rencana kamu selanjutnya kalau wanita itu ingin mengambil kembali miliknya”. Mia menghentikan ketikan di papan keyboard di ponselnya lalu menatap sahabatnya itu. Dia sudah memikirkan ini sebelumnya, dia tidak akan menyerah begitu saja.

__ADS_1


“Bukankah kamu yang menyuruhku merebutnya. Tidak, aku tidak merebutnya. Aku mempertahankannya. Kali ini aku akan melakukan apapun untuk mempertahankannya disisiku. Aku akan berusaha, aku mau mencobanya sekalipun gagal adalah harga yang harus aku bayar. Aku akan mencobanya”. Mia sudah mantap dengan niatnya, dia sudah memutuskan akan mempertahankan Donny disisinya. Apapun caranya


“Do whatever you want, Mi. kamu berhak mendapatkan kebahagiaan. Aku akan selalu mendukung apapun yang akan kamu lakukan, selama kamu meyakininya”. Fiona mengusap  lembut lengan Mia, kedua gadis itu lalu berpelukan saling memberi kekuatan.


Mereka lalu keluar dari kamar melihat apa yang di lakukan ketiga orang itu di dapur. Ketiga orang itu sudah tidak terlihat lagi di dapur. Mia dan Fiona sama-sama terkejut melihat meja makan kecil mereka penuh dengan makanan yang menggugah selera.


Segera saja mereka menarik kursi dan duduk lalu makan dengan lahapnya. Kedua gadis itu memiliki pendapat yang sama tentang makanan, selagi indra perasa masih bisa merasakan nikmatnya aneka rasa makanan maka selama itu juga mereka akan menikmatinya dengan suka cita.


“Monika juga datang menemuika kemarin”. Suasana ceria itu tiba-tiba hening, “Aku nggak apa-apa”. Ucapnya melihat Fiona menatapnya dengan wajah sedih.


“Aku mau mencoba mempertahankan pernikahanku, itu artinya aku sudah melupakannya”. Mia kembali memasukkan potongan sosis ke mulutnya. Fiona hanya mangut-mangut, dia tidak percaya Mia bisa semudah itu melupakan laki-laki itu.


“Apa yang Monika katakan padamu?”, tanya Fiona sedikit penasaran apa yang membuta wanita itu berani menampakkan wajahnya di depan Mia.


“Dia dan suaminya akan menetap di sini”.


“Mi….”


“Ya sudah, karena kamu nggak apa-apa sekarang bantu aku memberaskan meja ini”. Mia lalu berdiri dan mulai membereskan piring-piring yang berserakan di atas meja. Makanan yang tidak habis dia masukkan ke dalam lemari pendingin sesuai instruksi Fiona, mereka akan memakannya lagi nanti saat makanan yang baru mereka makan sudah tercerna dengan baik.


Fioan takjub, jarang-jarang Mia mau membantunya membereskan bekas makan mereka. Apalagi sekarang dia tinggal di istana bersama pangeran tampan yang mulai jatuh cinta padanya, pasti Mia akan semakin malas mengerjakan apapun.


Tapi hari ini gadis itu membantu Fiona, bahkan sampai menyapu lantai yang kotor akibat makan yang berjatuhan saat dia membersihkan meja. Ini harus di catat di museum rekor indonesia.


Fioana terkekeh sendiri dengan pikirannya. Mia hanya mengkerutkan keningnya melihat Fiona yang tiba-tiba terkekeh.


“Aku sangat jarang bertemu Alex akhir-akhir ini, apa dia baik-baik saja”, Tanya Mia. Mereka sedang duduk di depan televisi. Mia dengan telaten memakaikan cat di kuku jemari Fiona.

__ADS_1


“Dia baik-baik aja, kayaknya dia mau nikah sama perempuan yang di jodohkan orang tuanya”


“Miaaaaaa”…. Mia yang mendengar Alex akan di jodohkan menjadi tidak konsentrasi hingga cat di kuku Fiona jadi belepotan dan mngotori jari sahabatnya itu.


“Aku pikir selama ini Alex suka sama kamu, Fi”, ucapannya sukses mendapat pelototan tajam dari Fiona.


“Kita bersahabat kan, Mia. Dia baik sama aku dan baik juga sama kamu” Mia setuju dengan itu, tapi menurutnya tatapan Alex pada Fiona itu berbeda dia hanya tidak mau mengatakannya karena tidak mau membuat persahabatan mereka jadi renggang.


“Lalu bagaimana dengan kamu, Fi”. Fiona mengernyit “Bagaimana apanya?” tanyanya tidak pafam.


“Bukankah kamu juga harus membuka hati kamu?” Fiona terdiam, Mia tahu dengan jelas alasannya.


“Aku tidak mau di permalukan saat orang-orang tahu kalau aku hanya anak yang di buang orang tuaku”. Mia menutup botol cat kuku dan menyimpannya di atas meja.


“Pasti akan ada orang yang mau menerima itu. Laki-laki baik dengan keluarga yang baik. kamu hanya perlu membuka hati dan melihat itu, Fi. Sama seperti aku, kamu juga harus mencobanya. Mmmm”.


“Alex juga pernah bilang begitu”, Mia menaikkan alisnya, “Alex bilang apa?”


“Seperti yang kamu bilang”. Jawabnya acuh.


“Kalau Alex menyukai kamu, apa yang akan kamu lakukan?” Mia bertanya dengan hati-hati. Fiona diam sejenak dalam hatinya mengulang pertanyaan Mia ‘apa yang harus aku lakukan?’


“Mi, kamu menggangu suasan hatiku saja. Pulang deh, suami kamu pasti nungguin kamu”. Mia berdecak kesal.  Selama ini fikirannya sama dengan Fiona, menutup hati dari yang namanya cinta dengan alasan yang berbeda. Tapi sekarang saat perasaannya pada Donny semakin nyata dia juga ingin agar sahabatnya itu menemukan kebahagiaan seperti Fiona yang menginginkan kebahagian untuknya.


“Aku serius, Fiona”. Raut wajah Mia benar-benar menunjukka keseriusan. Fiona menghela nafasnya pelan.


“Aku akan melihat keseriusannya dan kalau keluarganya menerimaku, akan aku coba”. Mia menghambur memeluk sahabatnya dengan perasaan senang.

__ADS_1


“Aku akan jadi yang pertama mendukung hubungan kalian”. Fiona memutar bola matanya malas, jawabannya tadi hanya asal-asalan agar Mia berhenti bicara tentang Alex, Fiona sedang kesal padanya karena tidak mengajaknya ikut ke Bali. Alex bisa tinggal di rumah orang tuanya dan dia menginap di hotel. Mereka bisa jalan-jalan saat ada waktu.


Tapi Alex beralasan ada hal penting yang harus dia lakukan di kampung Ibunya itu jadi dia tidak bisa mengajak Fiona. Gadis itu benar-benar berfikir persahabatannya dengan Alex adalah murni persahabatan dan tidak ada perasaan apapun di antara mereka. Mia hanya sedang mendongeng pikirnya.


__ADS_2