
Natasya melemparkan amplop coklat di depan kakaknya yang berisi bukti-bukti kecurangannya selama menjadi Manager adiknya. Natasya sangat marah dan tentu saja dia juga kecewa.
“Kau tidak perlu melakukannya seperti pencuri, kau tinggal minta padaku aku akan memberikan sebanyak yang kau mau”. Amelia terkejut, bagaimana adiknya yang bodoh itu bisa mengetahui kecurangannya selama ini.
“Lalu apa ini?” Natasya kembali melemparkan kertas-kertas yang menunjukkan bahwa dialah dalang di balik tersebarnya videonya dan Donny. Amelia menjadi semakin panik.
“Aku sudah bilang padamu jangan melakukan apapun. Aku membiarkannya menunggu terlalu lama, aku bersalah padanya. Dia sudah cukup baik mau datang ke Paris menjengukku bahkan merawatku sampai aku keluar dari rumah sakit. Kenapa kau malah melakukan sesuatu yang mempermalukan ku di depannya”. Natasya teriak di depan kakaknya, dia sangat marah setelah mendapat kiriman tentang semua itu.
“Kau memang bodoh karena melepaskannya begitu saja, Natasya”. Ucapnya kemudian.
“Lalu apa yang harus aku lakukan, berlutut dan memohon. Apa itu menjamin bisa mengembalikan kepercayaan dan cintanya padaku”. Natasya memejamkan matanya lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya.
“Aku lelah, Kak. Pulanglah ke Indonesia, aku rasa kita tidak bisa lagi berjalan bersama”.
“Kau mau membuangku, setelah semua yang kulakukan untukmu”, seru Amelia.
“Sshhh… Kau bilang melakukannya untukku”. Natasya kembali mengambil amlop yang tadi dia lemparkan pada kakaknya dan menunjukkan bukti trasnfer Amelia ke rekening banyak laki-laki.
Amelia kembali tercengang, tidak mungkin Natasya bisa mengetahui semuanya sampai sedetail itu.
“Aku benar-benar merasa bersalah padamu saat kau bilang kau menukar tubuhmu dengan kesuksesanku, itu melukai hatiku yang terdalam. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk memberikan semua yang kau minta. Tapi hari ini aku tahu, kau melakukannya untuk dirimu untuk bersenang-senang. Benarkan?” Mata Amelia berkilat memancarkan kemarahan, tangannya terkepal kuat.
Natasya kembali merasa terpuruk, belum sembuh luka akibat kepergian Donny dan sekarang orang yang paling dia percaya dalam hidupnya pun dengan tega mengkhianatinya. Dia merasa bahwa semua ini adalah hukuman yang pantas dia terima setelah menyia-nyiakan cinta yang begitu tulus untuknya.
Amelia meninggalkan Paris dengan amarah yang membucah di dadanya. Sumber uangnya sudah tidak ada lagi sekarang, bagaimana dia akan bersenang-senang dengan semua lelakinya.
“Ini semua pasti ulah Donny, brengsek”. Makinya meninjukan tangannya ke tembok. Dia tidak mungkin bisa membalas dendam pada Donny, laki-laki itu berada jauh dari jangkauannya.
***
__ADS_1
Hari ini Mia kembali mengunjungi suaminya di kantor, Donny akan mengajaknya makan siang bersama. Bila sedang tidak ada janji makan siang dengan koleganya, dia akan mengajak istrinya makan siang bersama agar wanita itu tidak terlalu bosan hanya berada di rumah. Dia juga selalu pulang tepat waktu dan hanya membawa beberapa pekerjaan yang memang sangat penting.
Dia ingin menghabisakan waktu lebih banyak dengannya, mendengarnya bercerita atau hanya sekedar bermanja-manja padanya sepanjang hari. Donny menyukainya, dia merasa beruntung memiliki wanita itu sebagai istrinya. Seorang wanita yang bergantung padanya sepenuhnya, yang selalu membuat semua letihnya menguap hanya dengan melihatnya.
Donny langsung menghentkan gerakan jari-jarinya di keyboar begitu melihat istrinya sudah berdiri di depan pintu ruangannya. Sekertaris wanita yang mebawanya menundukkan kepala sebelum meninggalkannya.
Satu hal itu yang selalu membuatnya risih, saat orang-orang menundukkan kepala di depannya. Dia merasa tidak nyaman. Tapi dia mulai membiasakannya, bagaimanapun dia adalah istri dari seorang yang di pandang dan di hormati.
Satu kecupan di kening, kedua pipi dan kecupan singkat di bibir.
“Mas, sebenarnya aku kangen banget sama Fiona”. Mulai merayu suaminya, tujuannya datang hari ini adalah untuk makan siang bersama Fiona walaupun Donny sudah bilang mereka akan makan siang bersama, dia merindukan sahabatnya.
“Fiona sedang sibuk, dia mengambil alih semua pekerjaan Alex”. Fiona di angkat menjadi Manager keuangan menggantikan Alex yang meminta di mutasi ke Bali karena tidak bisa memenangkan hati Fiona. Dia tidak sanggup untuk melihat gadis itu setiap hari. Donny menyetujui permintaan Alex mengingat hubungan baiknya dengan Mia.
Dan mengenai Fiona, dia mendapatkan promosi bukan karena hubungannya denga istri pemilik perusahaan, melainkan karena kerja kerasnya dan dedikasinya pada Perusahaan.
“Lagi pula Fiona mungkin sudah punya janji dengan Al”, Mia mengernyit, Donny gemas dan mencubit pipinya.
“Fioan dan Al? tidak mungkin”, elaknya tidak percaya. Donny hanya menganggkat bahunya.
“Mas, aku mau ketemu Fiona….”. merengek manja pada suaminya. Donny terkekeh lalu menghubungi Al.
Mia menelisik dengan seksama laki-laki yang baru masuk ke ruangan suaminya itu. Wajahnya lumayan tampan, kulitnya sawo matang, dari segi fisik dia tidak kalah dari Alex. Tapi kepribadiannya, Mia menggeleng ngeri sendiri kalau sahabatnya bisa menyukai laki-laki seperti sekertaris suaminya.
“Kenapa melihat Al seperti itu”. Donny terkekeh, dia tahu Mia sedang menilai Al.
“Tolong antar Mia ke ruangan Fiona”. Perintah Donny, Mia jadi sumringah tidak sabar menodong Fiona dengan berbagai pertanyaan. “Kita akan tetap makan siang bersama”, ucap Donny sebelum Mia pergi. Wajahnya menjadi cemberut, Donny mencium bibirnya yang mengerucut di depan Alfandy. Alfandy yang merasa tidak nyaman melihat pemandangan itu langsung membuang pandangannya ke langit-langit ruangan itu.
‘dasar orang yang lagi di mabuk cinta, tidak tahu kalau ada orang lain di ruangan ini apa’ gerutu Al dalam hati.
__ADS_1
“Masss…” Mia mendorong dada suaminya menjauh, laki-laki itu tergelak lalu mencium kening istrinya.
“Al, kamu suka sama Fiona?” Bola mata Al melebar, ‘Dasar Tuan Donny, tidak bisa di andalkan menjaga rahasia’. Celoteh Al dalam hatinya lagi.
“Al…?”
“Maafkan saya, Nyonya”. Ucap Al.
“Kenapa minta maaf?”
“Karena saya memang menyukai Fiona”. Akhirnya Al mengakuinya pada Mia, dia dan Fiona memang belum memberitahukan hubungan mereka pada Mia karena Al tahu dia punya nilai yang buruk di mata Nyonya mudanya itu.
Mia meninju dadanya, Al hanya menunduk. Dia meninggalkan kedua wanita itu, AL mengepalkan tangannya ke udara seolah memberi semangat pada Fiona saat tatapan mereka bertemu.
Fiona memeluk Mia, mengambil hatinya. “Kenapa kamu nggak ngomong sama aku soal kamu dan Al?” Mia mendorong dada Fiona, dia kesal karena dia bukan orang pertama yang tahu.
“Al bilang dia pernah bikin kamu marah, makanya dia takut kalau kamu tahu. Dia mau menunjukkan keseriuasannya sama aku dulu baru kami ngomong sama kamu”. Mia menggeleng dengan bibir yang terbuka.
“Keseriusan? memangnya hubungan kalian sudah sampai mana?” Fiona mengalungkan lengannya ke lengan Mia, “Dia baik kok, Mi. mukanya aja yang kadang serem”. Ucap Fiona sambil terkekeh sendiri.
“Mi, jangan marah ya. Restuilah hubungan kami ini. Ya ya yaaa”. Mia tersenyum lalu memeluk Fiona.
“Aku hanya mau yang terbaik buat kamu Fi, kalau kamu memang bahagia kenapa aku harus menolaknya”. Ucapnya tulus. Fiona mengeratkan pelukannya lalu menghujani Mia dengan ciuman di kepalanya.
“Fi, jangan cium-cium. Cium Alfandy sana”. Ucap Mia kesal, hanya suaminya yang boleh menciumnya.
“Iya, sebentar”. Ucap Fiona dengan genit.
“hah, sudah sejauh itu”. Fiona menaikkan sebelah bahunya, Mia geleng-geleng kepala tidak percaya.
__ADS_1
Dalam hati dia bersyukur ada orang yang bisa menggerekkan hatinya, biarpun itu Alfandy asalkan Fiona bahagia Mia pasti akan ikut bahagia.