
Saat ini Mia dan Dimas sedang duduk berhadapan, Mia yang sudah keluar dari café terpaksa masuk lagi saat Dimas mengatakan ada hal yang harus mereka bicarakan setelah sebelumnya terjadi keributan kecil di luar tadi.
Dua orang pengawal yang selalu mengikuti Mia berlari mendekat saat melihat Leo memukul orang itu. mereka mengcengkram tangannya dan Leo kembali memukul wajahnya dengan keras.
“Leo… hentikan”, teriak Mia saat Leo akan kembali melayangkan tinjunya. Mia melihat wajah Dimas yang sudah yang sudah seperti di keroyok orang satu kampung padahal Leo hanya meninjunya dua kali. Darah segar mengalir dari pelipis dan sudut bibirnya membuat Mia memalingkan wajahnya.
“Aku ingin bicara sebentar saja dengan mu Mia”.
Bugghh…
Kali ini Leo mengarahkan tendangannya ke perut Dimas saat laki-laki itu berusaha melepaskan diri dari kukungan dua pengawal Mia. Darah segar keluar dari mulutnya.
“Ayo kita pergi, Nyonya”. Ucap Leo dengan sopan seperti biasa tapi tidak dengan raut wajahnya. Dia sangat marah saat melihat Dimas dengan kurang ajarnya memegang tangan Nyonya mudanya. Mia baru kali ini melihat wajah Leo yang seperti itu. Tatapannya pada Dimas seolah akan menusuk laki-laki itu dengan pedang panjang tepat di jantungnya.
“Aku harus bicara dengannya, Leo”.
“Tuan Donny akan membunuh saya kalau membiarkan anda berbicara dengannya, Nyonya”. Leo masih berbicara dengan sopan walau ada penekanan di setiap katanya.
Leo ingat laki-laki itu yang membuat Mia membeku saat melihatnya di Mall, juga laki-laki yang sama yang membuatnya menangis di pemakaman tempo hari. Leo tidak tahu ada hubungan apa di antara mereka, yang dia tahu dia harus melindungi Nyonya mudanya dengan baik.
Mia menghubungi Donny lalu menceritakan apa yang terjadi walau tidak sepenuhnya, Donny terdengar menarik nafas di sebrang sana.
“Mas Donny mau bicara denganmu”, Mia memberikan ponselnya pada Leo.
“Biarkan mereka”, Leo nampak kesal mendengar Donny membiarkan mereka berbicara. “Jangan jauh dari istriku!” perintah Donny dari sebrang.
__ADS_1
“Baik, Tuan”. Leo memberikan kembali ponsel itu pada Mia. dia memberi kode pada dua pengawal untuk melepaskannya.
Setelah seorang pelayan toko membersihkan darah yang masih menempel di wajahnya barulah Mia bisa melihatnya.
“Maafkan aku karena membuat keributan ini”, ucap Dimas mengawali percakapan. Mia masih diam memandanginya. Walaupun pelipis dan bibirnya robek, wajah itu masih terlihat tampan. Tapi ada yang hilang dari wajah itu membuatnya terasa asing.
“Terima kasih sudah hidup dengan baik”. Kelopak mata Mia sedikit melebar, “Aku hanya datang untuk mengatakan selamat tinggal padamu, kata yang tidak sempat aku ucapkan tujuh tahun lalu walaupun sekarang sudah sangat terlambat”. Mia masih diam, dia belum tahu harus mengatakan apa pada laki-laki itu.
“Hiduplah dengan baik Mia, setidaknya aku bisa sedikit memaafkan diriku” ucapnya tulus.
“Mas Dimas akan pergi lagi”. Wajah itu melengkungkan bibirnya membentuk senyuman indah mendengar suara Mia, wanita itu mematung menatapnya. Senyuman itu, senyuman itu yang hilang yang membuat wajahnya terasa asing. Jantung Mia berdegup kencang, rasa rindu yang dia yakini sudah hilang kini kembali lagi.
Dia benar-benar merasa sudah melupakan laki-laki itu dan kenangannya, nyatanya semua itu hanya ucapan-ucapan yang dia karang dalam dirinya untuk membuatnya lebih yakin bahwa dia memang telah melupakannya. Tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja saat mengingat kembali bagaimana bahagianya mereka dulu.
“Kau tahu, beberapa tahu terakhir aku bekerja dengan sangat keras. Aku membangun bisnisku sendiri bersama beberapa teman kuliahku di Inggris, walaupun banyak kegagalan di awal tapi kami berhasil melewatinya dan sekarang bisnis yang ku bangun berkembang dengan baik di beberapa kota di Inggris”.
“Aku punya banyak uang sekarang untuk melawan keluarga Monika. Aku akan merebut hak asuh anakku”. Ucapnya yakin.
“Kau akan memisahkan ibu dan anaknya?”
“Itu harga yang harus dia bayar karena memisahkan ku darimu, aku akan membuatnya merasakan kehilangan orang yang paling dia cintai dalam hidupnya.” Senyuman itu hilang lagi berganti dengan wajah dingin yang di penuhi amarah, Mia menunduk takut melihatnya.
Bahkan tanpa sepengetahuan Monika, Dimas mempekejakan beberapa orang ahli di perusahaan keluarag Monika di Bandung untuk mengacaukan internal Perusahaan itu, dan sebentar lagi perushaan itu akan bangkrut. Mereka tidak akan punya apa-apa lagi. Mereka harus membayar sangat mahal sudah memisahkan dua orang yang saling mencintai.
“Hiduplah dengan bahagia, aku yakin suamimu sangat mencintaimu”. Dimas melirik ke ara Leo dan dua orang pengawal yang hanya berjarak lima meter dari mereka.
__ADS_1
“Mas sendiri, apa Mas Dimas akan hidup dengan baik?” wajah itu kembali menampakkan senyuman hangat. “Aku pasti hidup dengan baik, aku punya seorang putri cantik yang haru ku besarkan”. Mia menatap wajah yang sedang tersenyum itu cukup lama. Membiarkan Dimas tetap jadi Mas Dimasnya yang selalu bersikap lembut dan hangat padanya. Bukan Dimas yang dingan dengan tatapan penuh amarah yang dia lihat sebelumnya.
“Aku hidup dengan bahagia, suamiku sangat menyayangiku”
“Apa kau juga mencintainya?” Mia mengangguk cepat, Dimas tersenyum getir melihat reaksi cepat Mia. Ternyata hanya hatinya yang tidak berubah dia tetap mencintainya setelah bertahu-tahun.
“Aku mencobanya, membuka hati padanya. Tidak, hatiku yang memaksaku menerima kehadirannya. Mungkin hatiku juga sudah lelah menangis”.
“Mas, cobalah membuka hatimu. Lihatlah di sekitarmu, pasti banyak wanita yang akan membuatmu bahagia”. Ucap Mia dengan tulus. Dimas hanya mengangguk.
‘Aku tidak mau membagi cintaku dengan siapapun, cinta ini hanya untukmu’
“Suamimu datang”. Mia membulatkan matanya lalu berbalik. Suaminya, laki-laki yang sudah membalut luka di hatinya dengan semua kasih sayangnya datang menjemputnya dengan kerennya.
Mia menatap Dimas yang masih duduk dengan tenang di depannya. Laki-laki itu akan tersimpan dengan baik di hatinya sebagai sesuatu yang indah yang pernah terjadi di masa lalunya yang tidak mungkin dia lupakan. Lalu dia berbalik menatap laki-laki yang tengah berjalan dengan gagahnya ke arahnya. Laki-laki itulah yang akan menjadi masa depannya, dia ingin membuat lebih banyak cerita indah dengannya. Laki-laki yang akan menemaninya menghabiskan sisa hidupnya. Suaminya yang sudah menyembuhkan semua luka di hatinya.
Mia berdiri dari duduknya dan memeluk suaminya saat laki-laki itu sudah berada di depanya. Donny memberi kecupan di bibir istrinya dengan lembut membuat Dimas memalingkan wajahnya. Hatinya teriris perih melihatnya.
“Selamat tinggal Mia”. pamitnya. Mia memberikan senyumnya sebagai perpisahan mereka selamanya. Dimas lalu beranjak meninggalkan tempat itu, dia menundukkan kepalanya saat bersitatap dengan Donny. Walaupun mereka tidak mengenal, tapi dia tahu siapa Donny dan bagaimana kekuasaan laki-laki itu.
Dimas sudah merelakan Mia sejak dia meninggalkannya tujuh tahun lalu walau tidak pernah sedetikpun dia berhenti mencintainya. Dia tidak mungkin membuat wanita itu kembali padanya setelah pengkhianatan yang dia lakukan walaupun dia tidak melakukannya dengan sengaja. Dia menyiksa dirinya dengan menutup semua akses yang bisa terhubung dengan Mia. selama tujuh tahun dia menahan dirinya untuk tidak melihat wanita yang sangat dia cintai itu dan itu benar-benar membuatnya hampir saja menjadi gila.
Dia bertahan dengan Monika selama tujug tahun hanya untuk putrinya dan untuk menjalakan balas dendamnya. Saat dia sudah memiliki segalanya, diapun melancarkan aksi balas dendamnya kepada Monika dan seluruh keluarganya.
‘Bahagialah Mia, aku memang tidak layak memberi bahagia itu untukmu lagi. Aku akan hidup sendiri sepanjang sisa hidupku sebagai hukuman karena meninggalkanmu. Aku sayang padamu’
__ADS_1