Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 52 Aku kembali


__ADS_3

“Aku kembali, Mia”, ujarnya memecah keheningan. “Aku rindu dengan keluargaku, teman-temanku dan kehidupanku disini”. Mia masih tidak bergeming, tangannya terkepal kuat di bawah meja.


“Aku tidak mau lagi mengasingkan diriku hanya untuk menghindarimu. Aku muak bersembunyi darimu”.


“Kenapa kau harus bersembunyi dariku, apa kau melakukan kesalahan padaku”. Mia masih enggan menatapnya, tatapannya hanya tertuju pada dinding kaca yang menjadi pebatas café itu dengan jalan di depannya.


“Kau benar, aku tidak melakukan kesalahan sama sekali. Yang aku lakukan hanya sebuah usaha untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, dan aku mendapatkannya”. wanita itu terliat tersenyum lebar.


“Aku sudah memberimu waktu tujuh tahun untuk melupakannya. Sekarang, aku dan suamiku juga putri cantik kami akan tinggal di sini, di Jakarta”. Seperti ada yang menusuk hatinya saat mendengar wanita itu menyebut kata suamiku dan juga, anak…


“Dia sudah melupakanmu, dia sudah lama melupakanmu, Mia.  Jadi jangan pernah coba-coba mencarinya atau aku akan membuatmu menyesal”. Mia melirik wanita itu dan pandangan mereka bertemu. Mencarinya untuk apa? Mia bahkan sudah mulai melupakannya. Bukan, dia sedang berusaha melupakannya dengan meyakini perasaannya pada Donny.


“Kenapa kau takut aku mencarinya?”. Mia berusaha setenang mungkin, jika Fiona ada disni sekarang mungkin Fiona akan menjambak dan mencakar wanita ini.


“Apa kau takut dia kembali padaku”. Raut wajah wanita itu berubah dingin, tatapannya seolah akan menusuk Mia tepat di jantungnya. Namun sesaat kemudian wanita itu kembali menunjukkan wajah tenangnya.


“Itu tidak akan pernah terjadi, dia sudah terikat hidup dan mati denganku”, ucapnya dangan santai.


“Aku peringatkan padamu sekali lagi, Mia. Jangan mencarinya, bila kau tidak sengaja bertemu dengannya jauhi dia jangan menyapanya”. Peringatnya kali ini dengan sungguh-sungguh.


“Kalau kau melakukannya aku akan membuatmu kehilangan sekali lagi. Kau tahu kan, aku bisa melakukan apapun”. Wanita itu meninggalkan Mia, dia pergi tanpa menyentuh minuman yang tadi dia pesan. wanita itu masuk ke dalam mobilnya, dia mencengkeram erat setir mobilnya. Wajah tenang dan datar yang dia tunjukkan di depan Mia kini berubah menjadi tegang dan pucat.


Dia takut suaminya tidak bisa lagi menahan diri dan mencari gadis itu. itu sebabnya dia datang lebih dulu mencari Mia dan mengancamnya walau dia tahu ancamannya sama sekali tidak berarti.


Tapi dia sudah memilih untuk kembali ke negaranya, tempatnya di lahirkan dan di besarkan. Walaupun kemungkinan suaminya akan kembali bertemu dengan gadis yang selalu dicintainya bisa saja terjadi, dia sudah siap. Dia memiliki kartu kunci untuk menahan laki-laki itu disisinya, anak mereka.


Sementara itu Mia masih diam di tempatnya, wajahnya pias dan seluruh tubuhnya terasa gemetar. Mia bukan takut dengan ancaman Monika tentu saja, namun sesungguhnya dia tidak siap menghadapi masa lalu yang kembali datang mengusik ketenangan hidupnya.


Jangankan melangkah, beridiri saja dia tidak mampu. Kakinya serasa tidak bisa mengimbangi tubuhnya.

__ADS_1


“Anda tidak apa-apa, Nyonya”. Mia mendongak, Leo datang mencarinya. Leo terkejut melihat wajah pucat Mia.


“Tolong bantu aku berdiri”. Dengan sigap Leo memegang lengan Mia dan memapahnya ke mobil. Leo memberi sebotol air mineral pada Mia, gadis itu mengambilnya dan mengahbiskan setengahnya. Dia menarik nafas dalam sambil memejamkan matanya.


“Leo, bisakah aku minta bantuan Al”. ucapnya dengan suara lemah


“Ada apa, Nyonya. Al pasti akan membantu anda”.


“Aku tidak mau kembali ke kantor, bisa Al mengurusnya”. Mia merasa tidak mungkin melanjutkan pekerjaan dengan hati yang sangat kacau seperti sekarang”.


“Tentu saja, Nyonya”.


“Tas dan ponselku juga masih ada di mejaku”.


“Baik, Nyonya”. Leo kemudian menghubungi Alfandy untuk menyampaikan permintaan Mia.


“Apa kita akan langsung pulang?” Tanya Leo. Mia masih memejamkan matanya mengusir segala fikiran yang mengganggunya.


Al menerima pesan dari Leo dan menyampaikannya pada Donny.


“Siapa yang dia temui sampai membuatnya seperti itu?” Donny meletakkan penanya, dia menunggu jawaban Alfandy. Sekertarisnya itu pasti tahu siapa yang tadi Mia temui.


“Wanita itu, Tuan. Monika”. Donny terkejut, dia mengambil ponselnya akan menghubungi Mia.


“Ponsel Nyonya masih tertinggal di kantornya, Tuan. Nyonya meminta saya mengambil tas dan juga ponselnya”.


“Apa saya masih ada jadwal penting hari ini Al?”, Al membuka tabletnya. “Hanya rapat dengan bagian IT, tuan”. jawab Al.


“Apa ada lagi?”

__ADS_1


“Tidak ada, Tuan. hanya beberapa berkas yang harus anda periksa”.


“Tunda itu, Al. Ikut saya, saya mau menjemput, Mia”.


“Baik, Tuan”.


Donny tahu saat ini istrinya pasti sangat membutuhkannya. Dan dia ingin ada di sana, saat gadis itu membutuhkannya. Dia tidak akan membiarkannya merasakan kesedihannya sendiri, dia ingin selalu menemaninya.


Al melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Donny yang memerintahkannya. Dia sudah tidak sabar untuk memeluk istrinya, dia ingin memberikan pundaknya agar gadis itu bisa bersandar padanya.


Mobil Leo sudah terparkir di sana, di tempat malam itu Donny menjemputnya. Tempat itu memang sangat baik untuk menghilangkan kesedihan, deburan ombak yang menghantam karang yang membatasinya memberi ketenangan tersendiri bagi seseorag yang memang membutuhkan ketenangan.


Donny turun terlebih dulu bahkan ketika Al belum mematikan mesin mobilnya. Gadis itu sedang duduk di sana, di tempatnya duduk malam itu.


“Sepertintya kamu sangat menyukai tempat ini”. Suara Donny membuat gadis itu terkejut, antara percaya dengan tidak. Dan suaminya itu benar-benar ada di sampingnya sekarang. Dia baru saja memikirkannya, memikirkan seandainya saja Donny ada disini, mungkin suasana hatinya akan merasa jauh lebih baik.


Sudut bibirnya tertarik, Donny duduk sangat rapat dengannya. Dia bisa mencium bau parfum Donny dari jarak yang sedekat ini. Dan itu kembali menenangkan fikiran dan hatinya.


“Kamu belum menjawabnya, kenapa kamu sangat menyukai tempat ini?”. Donny menyelipkan rambut istrinya yang terus menari-nari di terpa angin ke belakang telinga.


“Tempat ini bikin aku sedikit tenang”. Jawabnya. ‘Dan kehadiran kamu sekarang membuat aku lebih tenang’.


Mia menyandarkan kepalanya di pundak suaminya, Donny lansung memeluk bahunya. Leo dan Al yang berada di belakang mereka tersenyum. Al bahkan mengabadikan momen manis itu dengan kamera ponselnya.


“Mas masih ada kerjaan nggak?” Donny menggeleng, “Tidak, kenapa”. Mia mengangkat kepalanya dari pundak Donny dan sekarang sudah berdiri di depannya.


“Temani aku lihat sunset yah”. Gadis itu menarik-narik tangan Donny seperti anak kecil yang minta di belikan permen oleh ibunya.


“Baiklah”. Mia melonjak kegirangan.

__ADS_1


Mia sangat antusias ketika matahari sudah berada di permukaan laut, warna jinnga keemasan terlihat jelas dalam pantulan air yang bergemuruh. Dia selalu mengagumi senja, pemandangan indah yang membuat hatinya menjadi tenang. Sudah sejak lama sejak terkhir kali dia melihat pemandangan seindah ini. Dan sekarang ada seseorang yang menemaninya melihat keindahan itu membuat suasana hatinya menjdai jauh lebih baik.


‘Semoga kebahagian ini tidak sepertimu senja, yang hanya bisa di nikmati keindahannya sesaat saja’.


__ADS_2