Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 47 Jalan-jalan


__ADS_3

Suasana kantor di akhir pekan tidak seramai biasanya, hanya orang-orang yang memiliki pekerjaan penting yang akan datang untuk bekerja.


Al turun lebih dulu membuka pintu untuk Donny dan Mia. Donny menggenggam tangannya hingga sampai ke ruangannya, dua sekertaris Donny terlihat berdiri dan menunduk hormat pada mereka. Mia menyapa mereka dengan tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya.


‘Jadi benar dialah sang Nyonya Muda’.


‘Dia terlihat berbeda dari waktu pertama datang kemari, dengan penampilan seperti itu terlihat jelas kalau mereka sangat serasi’.


Begitulah mereka hanya bisa bermonolog dengan dirinya sendiri.


Donny duduk di kursi kebesarannya sedagkan Mia hanya memainkan ponselnya sambil sesekali mencuri pandang pada suaminya yang terlihat sibuk memainkan jari-jarinya di atas keyboard dan kadang membaca kertas-kertas yang tersusun rapi di depannya.


Laki-laki itu terlihat sangat mempesona ketika sedang serius dengan pekerjaannya. Mia tidak lagi memainkan ponselnya,saat ini pandangannya terfokus pada sosok indah ciptaan Tuhan. Donny yang menyadari sedang di perhatikan, mengalihkan pandangannya dari layar komputernya. Sudut bibinya tertarik saat pandangan mereka bertemu.


Donny meninggalkan kursinya dan duduk di samping Mia.


“Mau makan atau minum sesuatu?”. Mia menggeleng, “Sudah mau jam makan siang, lagi pula aku juga masih kenyang”.


“Mas kerja lagi aja”. Donny mengusap rambutnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Salah satu sekertaris Donny masuk keruangannya setelah menerima intercom darinya.


“Tolong antar istri saya ke divisi keuangan”. Perintah Donny pada sekertarisnya. “silahkan ikut saya, Nyonya”. Mia pamit pada suaminya lalu mengikuti sekertaris wanita itu.


“mmm… maafkan atas kelancangan sayan tempo hari, Nyonya. Saya tidak tahu kalau anda istri Tuan”. ucap sekertaris itu meminta maaf dengan tulus. Mia hanya memberinya senyuman manis sebagai balasannya. Dia tahu mereka semua hanya melakukan pekerjaannya.


Mereka sudah sampai di divisi keuangan. Mia meminta sekertaris itu meninggalkannya saat melihat Fiona dari jauh.

__ADS_1


“Fi…”panggi Mia. Seisi ruangan itu terkejut melihat asal sumber suara.


‘bukankah dia wanita yang hari itu bersama Tuan Donny’


‘cantik’


‘pantas saja Tuan Donny menyembunyikan istrinya, cantik begini’


Fiona berlari kecil dan segera memeluk Mia. Semalam Cilla menghubunginya dan menceritakan apa yang terjadi, dia menghubungi Mia berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Hingga harapan terakhirnya adalah sekertaris Al. Fiona menghubungi sekertaris Al untuk menanyakan keberadaan Mia, gadis itu baru tenang ketika Al mengatakan bahwa Mia saat itu sudah bersama Donny.


“Apa yang terjadi semalam? kenapa kamu ninggalin Cilla? Terus kenapa kamu bisa ada di sini?”


“Fi, bisa nggak sih tanya satu-satu”. Mia mengedarkan pandangannya pada kantin perusahaan, hanya ada beberapa orang saja di kantin itu. Fiona tidak bisa meninggalkan kantor jadi dia hanya mengajak makan siang di kantin Perusahaan.


“Aku melihat Monika semalam”. Fiona menghentikan kunyahan di mulutnya dan langsung saja menelannya. Dia menelisik ekpresi sahabatnya,wajahnya sepertinya mendung lagi. Akhir-akhir ini Fiona sering melihat wajah mendung Mia dan itu membuatnya khawatir.


“Aku baru saja mencoba berdamai dengan masa laluku, aku tahu aku tidak harus terus hidup dengan bayang-bayang mereka. tapi kenapa saat aku mulai mencobanya dia datang lagi”.


“Mi”. Fiona sangat mengkhwatirkan Mia, dia takut jiwanya akan terguncang lagi dengan kehadiran Monika. Mia menengadahkan wajahnya, dia tidak mau menangis disini. Sebagian orang di sini sudah tahu bahwa dia adalah istri Donny Adriano.


Hanya bertemu dengan Monika saja bisa membuatnya sesedih ini, bagaimana nanti kalau dia bertemu dengannya, dengan laki-laki yang sudah memporak-porandakan hatinya walaupun dia juga tidak bermaksud melakukannya.


“Kamu mau liburan nggak, aku bisa ambil cuti dan kamu juga. Kita tinggalin kota ini dulu”. Bujuk Fiona, dia tidak mau Mia bertemu dengan Monika atau bahkan lebih parah bertemu dengan laki-laki itu.


Mia menggeleng, “aku tidak mau lari lagi, Fi. Aku akan menghadapinya.” Katanya sendu. Fiona tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa memberi pelukan pada sahabatnya itu.


Ya, Mia harus mengahdapinya. Dia tidak boleh memabwa Mia pergi, Mia harus bisa melupakan semuanya. Hanya dengan seperti itu dia akan bisa hidup dengan damai.

__ADS_1


Alfandy datang menjemputnya di kantin, dia melirik makanan di meja hanya berkurang sedikit saja dan itupun hanya makanan yang ada di depan Fiona.


“Tuan Donny memnita anda kembali ke ruangannya, Nyonya”. Kata Al sopan.


Mia dan Fiona berdiri dari duduknya. Fiona memeluk Mia cukup lama, “All is well”, bisiknya pada Mia.


Donny menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, dia akan membawa Mia jalan-jalan hari ini. Dia tidak ingin membuat gadis itu melupakan kesedihannya.


Mereka sampai di salah satu mall terbesar di kota itu, Donny menggenggam tangannya memasuki mall. Banyak pasang mata yang tertuju pada mereka apalagi ketika beberapa orang dengan setelan jas lengkap berlari kecil hendak menghampiri mereka tapi terhenti karena Donny mengisyaratkan untuk tidak mengganggunya.


“Mas, kita jadi pusat perhatian”. Bisik Mia, Donny semakin memperat genggamannya membawa Mia ke dalam sebuah toko pakaian dan meminta karyawan toko untuk memperlihatkan pada istrinya pakain dengan model terbaik.


Mia tidak mau mengecewakan Donny dengan menolaknya, akhirnya dia memilih beberapa pakaian yang cocok menurutnya. Lalu Donny membawanya ke toko perhiasan, dan lagi Mia tidak mau menolak. Dia memilih sebuah kalung yang sangat indah dengan berlian kecil. Donny merasa senang melihat Mia tidak lagi menolak seperti biasa.


Mia merasa pakain yang Donny pakai terlalu mencolok, dia memaksa Donny menggantinya dengan pakaian casual. Mereka akhirnya memilih pakaian couple dan juga topi couple.


“Nonton yuk, Mas”. ajak Mia. Donny mengangguk setuju. Lalu mereka memilih film romantis komedi. Hari itu bioskop sangat ramai, Mia terus memperhatikan Donny, takut kalau laki-laki itu merasa tidak nyaman. Tapi ternyata Donny sangat menikmatinya. Mia tersenyum samar dan kembali mengarahkannya pandangannya pada layar besar di depannya.


“Kamu capek?” tanya Donny


“Nggak, Mas Donny sudah capek?” tanyanya balik. Donny menggeleng, dia tidak merasa lelah sama sekali, justru sebaliknya. Dia menyukainya, ternyata membuat seseorang bahagia tidak harus selalu dengan memberinya kemewahan.


Menemaninya berjalan-jalan dengan menggenggam tangannya juga bisa membuatnya senang. Seperti Mia, gadis itu tidak lagi memperlihatkan wajah muramnya.


“Mas, aku lapar”. Mia memegangi perutnya yang keroncongan, dia tadi tidak menyentuh makannya sama sekali. Dia lalu mengajak Donny ke food court. Mia membulatkan matanya saat Donny mencoba makanan yang dia pesan, gadis itu tidak menyangka sama sekali kalau laki-laki itu mau mencoba makanan tidak masuk akal yang dia makan.


Mereka bermain seharian, Donny sejenak melupakan imagenya sebagai seorang Presdir. Laki-laki itu berjalan di setiap lantai di mall itu dengan menggenggam jemari istrinya dengan sesekali memasuki toko kalau ada yang membuat Mia tertarik, dia sekarang hanya seorang laki-laki yang sedang berusaha menyenangkan hati gadis yang di sayanginya.

__ADS_1


Begitupun dengan Mia, dia melupakan kesedihannya dan ikut menikmati hari itu dengan ceria. Hingga menjelang malam mereka baru keluar dari Mall. 


__ADS_2