
Mia masih mengurung dirinya di kamar, kamar yang dulu dia tempati sebelum pindah ke rumah Donny. Kamar itu terlihat rapi dan bersih karena Fiona selalu menyempatkan diri membersihkanya. Kepalanya terasa pusing dan matanya perih menangis sepanjang hari.
Hati dan fikirannya benar-benar kacau. Walaupun dia sudah menyiapkan dirinya untuk keadaan seperti ini tapi tetap saja dia masih tidak mampu menghadapinya. Hatinya kembali berdarah. Perjanjiannya dengan Donny tinggal sebulan lagi, dia akan meminta Donny untuk menyelesaikan perjanjian mereka segera agar dia tidak perlu kembali lagi ke rumah itu.
Pintu terbuka, Fiona sengaja melarangnya mengunci pintu. Mia diam tidak bergerak dari tempatnya, lalu sebuah sentuhan hangat terasa membelai lembut pipinya. Mia menyibakkan selimutnya dan mematung ketika melihat siapa yang ada di hadapannya.
“Maafkan, saya”. Mia sudah ingin memeluknya tapi fikirannya menahannya. Tangan itu terulur lagi hendak menyentuh pipinya, tapi Mia menepis tangan itu dengan halus.
“Mas Donny kenapa ke sini?” ucapnya dengan suara parau.
“Menjemput istri saya, Ayo pulang”. Sudut bibir Mia terangkat membentuk sebuah senyuman getir.
“Aku akan tinggal disini sampai perjanjian kita berakhir”. Donny menautkan kedua alisnya
“Saya tahu saya salah, saya akan menjelaskan semuanya”. Mia menggeleng lemah, “Mas Donny tidak salah, aku yang salah. Aku terlalu nyaman berada di samping Mas Donny sampai melupakan status pernikahan kita”. Mia menundukkan kepalanya, dia tidak sanggup menatap wajah itu.
Donny memperbaiki duduknya pada posisi yang bisa menatap Mia dengan lebih dalam. “Apa maksud kamu?” tanya Donny tidak mengerti. Mia masih enggan menatapnya, wanita itu menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan teratur. Donny bisa melihat gurat kesedihan tergambar jelas di wajah cantik itu.
Dengan sisa-sisa kekuatannya dia akhirnya menatap wajah itu, matanya langsung tertuju pada luka yang ada di sudut bibir suaminya, tangannya serasa ingin terulur menyentuh luka itu tapi sekian detik kemudian kesadarannya kembali.
“Bukankah beberapa minggu lagi perjanjian pernikahan kita berakhir”. Seperti ada aliran listrik yang menjalar di tubuhnya saat dia mengatakan kata berakhir. Juga dengan Donny, hatinya bergetar mendengarnya. Donny mendesah pelan, dia mengerti maksud istrinya.
“Kamu tidak ingin melanjutka pernikahan kita?” tanya Donny dengan selembut mungkin. Mia terdiam, dia memandang langit-langit rumah menahan air mata yang siap jatuh kapan saja.
“Apa yang ingin Mas Donny perlihatkan padaku sampai aku harus mempertahankan pernikahan ini?”. Mia menatap Donny, menyeka cairan bening yang masih tertahan di pelupuk matanya.
“Apa yang selama ini kita lakukan tidak ada artinya untuk kamu?”.
“Justru aku yang ingin bertanya, apa semuanya tidak ada artinya untuk Mas Donny?”, suara Mia mulai bergetar, air matanyapun mulai berjatuhan.
__ADS_1
“Apa Mas Donny mau menunjukkan padaku betapa cinta Mas Donny pada Natasya?”. Memperjelas pertanyaanya melihat Donny yang masih diam.
“Natasya?” Donny meghela nafas lagi, dia jadi semakin mengerti maksud pembicaraan ini.
“Apa kamu pikir saya pernah melakukannya dengan Natasya, atau dengan wanita lain?”. Mia menatap Donny meminta penjelasan lebih dari apa yang baru saja di katakannya.
“Saya pertama kali melakukannya dengan kamu”, Mia terkejut tapi dia berusaha menutupinya, hari itu benar-benar yang pertama untuk mereka. “Dan sejak saya melakukannya, saya sudah memilih kamu untuk menjadi ibu dari anak-anak saya”. Ucap Donny masih dengan suara lembutnya.
“Lalu Natasya?”
“Saya sudah mengakhiri hubungan saya dengan Natasya sebelumnya”. Donny menatap Mia dengan lembut. “Saya sudah menikah dengan kamu, dan saya merasa nyaman dengan pernikahan kita. Saya fikir kamu juga memiliki perasaan yang sama dengan saya”. Mia melihat dengan dalam iris gelap Donny, dia melihat ketulusan Donny dalam ucapannya.
“Ikut saya pulang, ya”. Ucap Donny yang masih berusaha membujuk istrinya.
“Lalu bagaimana dengan perjanjian kita?”. Donny tersenyum menyeringai, “Bukannya perjanjiannya sudah kita langgar sejak lama”.
“Mas”. Mia tertunduk malu.
Dia berhasil mempertahankan apa yang ingin dia miliki dengan mempertaruhkan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya.
Donny merapatkan duduknya di samping istrinya. Dia memeluknya dengan penuh sayang, melepaskan rasa rindu di hatinya.
“Apa istrinya Mas Donny yang cantik ini sudah tidak marah lagi”. Wajahnya bersemu merah mendengar Donny memanggilnya seperti itu. Mia lalu melepaskan dirinya dari dekapan Donny. “Apa yang Mas Donny lakukan di Paris?”. Donny menghela nafas.
“Dia”. Ada jeda sebelum dia melanjutkannya, “Dia sempat koma karena overdosis alkohol”. Donny menunduk, Mia bisa melihat kesedihan yang sekilas nampak di wajahnya. Walau bagaimanapun, mereka pernah saling mencintai tentu saja Donny tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Apalagi untuk seseorang seperti Donny yang memiliki hati yang hangat untuk orang-orang di sekitarnya.
Gadis itu pasti sedang terpuruk, dia pasti menangis karena terluka. Mia pernah merasakannya, dia juga pernah ada di posisi yang sama dengan Natasya. Serasa bahwa hidup sudah tidak ada artinya lagi ketika cinta yang kau yakini akan menemanimu sepanjang hidup pergi meninggalkanmu.
“Dia minum sangat banyak padahal toleransi tubuhnya dengan alkohol sangat rendah”. Ucap Donny lagi menambahkan.
__ADS_1
“Maafkan saya, karena tidak memberi tahu kamu sebelumnya. Saya hanya menjaga agar itu tidak menajdi beban fikiran kamu. Saya ingin memeluk kamu sambil menceritakannya saat saya pulang agar kamu tidak merasa sedang terkhianati. Saya benar-benar tidak tahu kalau ada video seperti itu yang akan tersebar. Percayalah kalau saya tidak bermaksud melukai kamu”.
Mia menggenggam kedua tangan suaminya, “aku percaya”. Ucapnya, Donny kembali memeluknya.
Natasya menceritakan padanya tentang pertemuannya dengan Mia dan pembicaraan mereka. Donny sangat bersyukur Mia mau berjuang mempertahankan hubungan mereka. Dia yakin dengan pilihannya, Mia memang layak untuk di cintai.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Mia dengan tulus. Donny membelai pipi lembab istrinya, seperti dugaannya, hati gadis ini memang sangat baik dan lembut. “Dia sudah lebih baik”. jawab Donny.
“Ini kenapa?”, tangan Mia akhirnya tergerak menyentuh luka di sudut bibir Donny yang sedari tadi mengusiknya, Donny memegang tangan Mia yang sedang menyentuh bibirnya dan menciumnya lembut.
“Ini bayaran karena sudah membuat kamu menangis”. Mia mngernyit, “Hadiah dari papa” kata Donny.
“Papa…?”
“Papa dan Mama ada di rumah, mereka menunggu kamu”. Mia diam tanpa ekpresi. Papa mertuanya memang menyayanginya, dia tahu. Tapi Mama mertuanya belum menerima dirinya.
Awalnya Mia tidak perduli karena pernikahan ini hanya sementara. Tapi setelah dia memutuskan untuk tetap mempertahankan pernikahan ini, dia jadi ragu dengan sikap Mama mertuanya padanya. Dia tidak pandai mengambil hati orang lain, dia tidak terbiasa berpura-pura hanya agar orang menyukainya. Lalu bagaimana dia bisa mengambil hati Mama mertuanya.
“Mama wanita yang baik, dia tidak akan melakukan hal-hal yang buruk sama kamu”. ucap Donny seperti membaca kekhawatiran yang nampak jelas di wajah istrinya.
“Mama pasti akan menyayangi kamu dengan sendirinya, kamu tetap menjadi diri kamu saja”. Mia menyipitkan matanya, “Mas baca pikiran aku?” tanyanya. Donny tertawa “ada di tertulis disini”. Katanya dengan menyentuh kening istrinya.
“Mas…”. Mia memukul dada suaminya, Donny menangkap tangan kecil itu dan menariknya agar lebih dekat. Dia menyelipkan tangannya di tengkuk Mia, mendongakkan wajah istrinya lalu menempelkan bibirnya. Mereka berpagutan cukup lama menyalurkan rindu dan cinta yang masih tependam.
******
Terimakasih atas dukungannya ☺🙏
maafkan bila ada yang tidak sesuai dalam katanya... saya akan terus belajar 🙏
__ADS_1
thank you once again all... ☺🙏