Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 92 Baby Angel


__ADS_3

Donny terlihat mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin, sesekali dia mendengar suara teriakan istrinya membuatnya ingin mendobrak pintu itu dan menerobos masuk menemani  istrinya. Mia membuatnya berjanji untuk tidak masuk sampai bayinya lahir, dia tidak mau Donny melihatnya kesakitan dan melarangnya untuk hamil lagi.


Saat di mobil sewaktu mengantarnya ke rumah sakit, Mia tidak berhenti meringis kesakitan. Wajahnya pucat dan berkeringat. Donny berkali-kali mengucapkan kata maaf merasa bersalah melihat istrinya kesakitan.


“Tenang lah Don, istrimu di tangani ahlinya di dalam”, Rafeal mencoba menenangkannya, dia pusing sendiri melihat sepupunya mondar-mandir seperti setrika di depannya.


“Lebih baik kau banyak berdoa Don”, kali ini Johan yang berbicara. Johan dan Laura tiba di tanah air seminggu yang lalu, Mia ingin di temani Laura saat dia melahirkan. Dan sekarang Laura ada di ruang bersalin menggenggam erat tangan menantunya yang sedang berjuang melahirkan calon penerusnya.


Pintu ruangan terbuka, seorang Dokter wanita keluar dari ruangan itu. “Selamat, Tuan”, kata Dokter itu.


“Boleh saya melihatnya”. tidak memperdulikan Dokter yang masih ingin mengatakan sesuatu. Dokter itu tersenyum lalu mengangguk “Silahkan”, jawabnya.


Donny melangkah cepat masuk ke dalam ruagan itu, dia melihat istrinya terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit memberinya ciuman di setiap inci wajahnya sangat lega bahwa istrinya baik-baik saja walaupun wajahnya masih pucat. Seorang perawat yang baru saja membersihkan bayi yang baru lahir itu memberikannya pada Laura yang sudah tidak sabar menggendongnya.


“Lihatlah, anak kalian. Dia seperti seorang putri yang sangat cantik”. Laura meletakkan bayi itu ke samping Mia, wanita itu tanpa sadar meneteskan air mata melihat makhluk kecil yang dia bawa di dalam perutnya selama sembilan bulan kini sudah lahir ke dunia dengan selamat.


“Matanya sama dengan matamu sayang”, ucap Donny mengelus dengan hati-hati makhluk kecil itu. Mia masih terpaku melihat makhluk kecil itu bergerak-gerak di sampingnya.


“Siapa namanya Mas?” Donny terlihat berfikir “Angelica Oliver, dia adalah malaikat kecil kita”.


“Angel, nama yang cantik”. Mia tersenyum lalu mencium putri cantiknya.


 Seminggu pasca melahirkan, Mia sudah di perboleh kan pulang ke rumah. Dia menggendong baby Angel, sementara Donny mendorongnya di atas kursi roda.


Suasana rumah begitu meriah menyambut kedatangan baby Angel. Donny memberikan bayinya ke gendongan Laura sementara dia menggendong istrinya keluar dari mobil. Baginya, istrinya tetap menjadi prioritas utamanya.


“Mas, aku kan gak apa-apa. Aku sudah bisa jalan sendiri kok”. Mia protes melihat suaminya masih begitu protektif.

__ADS_1


“Kata dokter kamu masih harus banyak istrirahat”. Titik, Donny tidak mau di bantah. Mia memutar bola matanya, kalau sudah seperti ini Donny tidak akan mendengar apapun yang dia katakan.


Laura menyusul mereka membawa baby angel yang menangis, dan memberikannya pada Mia. “Dia mungkin lapar, Mia”.


“Sayang, lapar ya…”, Mia membuka kancing bajunya dan mulai menyusui baby Angel. Donny masih di tempatnya, diam memperhatikan apa yang di lakukan istri dan bayinya.


“Mas Donny kenapa?” Donny baru akan melangkah naik ke tempat tidur tapi Laura sudah lebih dulu membuka pintu kamar tanpa mengetuk lebih dulu. Donny melirik kesal pada Mamanya.


“Sayang, vitamin kamu ketinggalan di mobil”. Donny mengambil botol berwana putih itu dari tangan Mamanya dan meletakkannya di atas nakas.


“Baby Angel sudah tidur ya”, Laura mengambil baby angel yang sudah tertidur dari gendongan Mia dan meletakkannya di box. Dia mencium cucunya sebelum meninggalkan kamar itu.


Donny mengikuti Mamanya dan mengunci pintu begitu Laura melewati pintu. Donny segera berbalik dan naik ke atas tempat tidur.


“Sayang…” Dia mencium bibir istrinya dengan sedikit terburu-buru, tidak halus dan lembut seperti biasa. Tangannya bergerak merem*as dada istrinya juga dengan sedikit kasar membuat Mia meringis dan melepaskan bibir dan juga tangan Donny.


“Maaf”, bisiknya penuh penyesalan karena sudah menyakiti istrinya. Dia kembali menyatukan bibir mereka, kali ini di lakukannya dengan lembut dan mesra seperti biasa membuat Mia ikut hanyut dalam pagutan mereka. Donny menarik kepalanya menghentikan aktifitas yang semakin panas. Dia tersenyum menatap istrinya lalu memberi kecupan lembut di keningnya.


Baby Angel sudah memasuki usia empat bulan, dia sudah mulai lincah memainkan semua barang yang di pegangnya. Pipi gembulnya membuat semua orang gemas mencubitinya. Ada pengasuh khusus bersertifikat yang mengasuh dan sesekali menemaninya tidur. Mia sebenarnya menolak jika ada orang lain yang membantunya mengurus anaknya, tapi Donny memaksa dengan alasan tidak mau melihat istrinya kelelahan. Padahal Mia sangat menikmati setia waktu bersama malaikat kecilnya.


Tadi malam baby Angel tidur bersama pengasuhnya setelah Mia memberinya asi dan menidurkannya. Beberapa hari ini Donny terlihat seperti anak kecil yang cemburu pada anaknya sendiri. Dia ingin menguasai istrinya seorang diri, memeluknya sangat posesif, menciumi setiap inci tubuh istrinya seperti aroma terapi yang menenangkannya.


“Mas Donny sakit?” Mia menempelkan punggung tanggannya di kening suaminya, dia kaget melihat wajah pucat Donny saat bangun tidur. “tidak demam” gumamnya.


Donny menarik istrinya yang sudah akan beranjak dari tempat tidur dan memeluknya lagi, menenggelamkan wajah di ceruk leher istrinya.


“Mas, sudah pagi. Bangun yuk”. Tidak melepaskan malah semakin menekan kepalanya di tempatnya tadi. Sudah tidak bisa menahannya Donny berlari menuju kamar mandi dan menumpahkan semua isi perutnya.

__ADS_1


Mia buru-buru bangun dan mengejar suaminya, “Mas Donny kenapa?” dia terperanjak melihat suaminya duduk lemas di depan closet.


“Rasanya perutku mual, dan kepalaku pusing”, Donny kembali muntah, Mia berjongkok di samping suaminya, mengurut lembut tengkuknya dan sesekali mengusap punggungnya.


“Aku panngil Dokter Rafael yah”. Setelah menghubungi Dokter Rafael, Mia menekan tombol intercom yang tersambung di dapur. Dia meminta di bawakan sesuatu yang hangat untuk meredakan mual suaminya.


Suara pintu di ketuk, Mia berjalan membuka pintu. Sudah ada Bu Mira dan baby Angel dalam gendongan pengasuhnya. Mia mengambil baby Angel dan mempersilahkan Bu Mira masuk. Pengasuh baby Angel lalu pergi dengan wajah kesalnya.  


Tidak lama berselang, Dokter Rafael datang dengan muka bantalnya. Dia baru tidur satu jam sebelum mendapat telepon dari Mia.


“Tidak ada yang salah dengan perutmu, lambungmu juga baik-baik saja”, ucap Dokter Rafael “Saya akan meresepkan obat anti muntah. Kamu harus menghabiskannya walaupun sudah tidak mual lagi”. Dokter Rafael mengambil baby Angel dari gendongan Mia, dia menciuminya dengan gemas. Baby Angel tertawa senang, dia suka sekali berada di gendongan Paman tampannya.


“Mas Donny sudah baikan?” Donny mengangguk lalu menjentikkan jarinya agar istrinya mendekat. “Mas…” wajah khawatir sudah tidak nampak lagi di wajah Mia, wajahnya sekarang memerah setelah mendengar apa yang Donny bisikkan padanya.


“Mas Donny mau ke kantor?” tanyanya setelah sadar dari tersipunya.


“Saya sudah merasa lebih baik. Ayo”. Donny menarik tangan istrinya menuju kamar mandi.


“Raf, titip Angel ya”. Rafael menggelengkan kepala melihatnya, mereka selalu terlihat seperti pengantin baru.


“Sabar, Rafael. Sebentar lagi kamu juga akan menikmati rasanya jadi penganti baru” gumamnya lalu tersenyum. Rafael lalu keluar dari kamar utama dan menyerahkan Baby Angel pada Bu Mira.


“Bu, kamar saya apa selalu di bersihkan?” tanyanya. Dia akan melanjutkan tidurnya di rumah itu, rumah yang juga sebenarnya adalah rumahnya.


“Tentu saja, tuan. Anda mau istrihat?”.


“Iya, aku baru tidur sejam saat Mia menelfon. Aku malas pulang ke Apartemen”, Ucapnya. Bu Mira lalu mempersilahkannya berjalan menuju kamarnya.  

__ADS_1


__ADS_2