
Hari ini Mia sudah di perbolehkan pulang setelah empat hari di rawat di rumah sakit. Dia sudah bosan berada di tempat itu apalagi Donny tidak memperbolehkannya turun dari tempat tidur kecuali ke kamar mandi.
“Tunggu disini”, Donny keluar lebih dulu, Leo sudah membukakan pintu untuknya. Mia memekik kaget saat Donny menggendongnya.
“Mas, aku bisa jalan sendiri”, protesnya yang di abaikan Donny. Dia mengalungkan tangannya di leher suaminya dan mnyembunyikan wajahnya di dada. Banyak pelayan yang melihat mereka membuatnya malu.
“Mau makan sesuatu?” Mia menggeleng, akhir-akhir ini ***** makannya turun drastis.
“Makan sedikit saja, ya. Kasian bayinya kalau mamanya tidak mau makan”.
“Jadi Mas Donny cuma kasian sama bayinya, sama aku nggak?” Mia jadi cemberut, dia cemburu sama bayinya sendiri.
“Bukan begitu…?”
“Mas Donny selalu panggil dia sayang, aku saja tidak pernah di panggil seperti itu”. Donny membulatkan matanya, dia diam memperhatikan istrinya. Mata wanita itu nampak sendu seolah akan mengeluarkan air mata.
“Sayang, sayangnya Mas Donny”. Donny mengecup matanya yang berair “Mas Donny sayang sama kamu, sama bayinya juga. Kalian berdua adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidup saya”. Mia menatap suaminya, tatapannya terlihat begitu begitu tulus dan jujur. Dia jadi merasa bersalah sudah mengatakan yang tidak-tidak pada suaminya.
Mia memeluk suaminya, “maafin aku, Mas”.
“Kenapa minta maaf”, Donny mengecup matanya lagi yang masih berair “Kamu tidak melakukan kesalahan apapun”, ucapnya kemudian.
“Sekarang kamu istirahat, ingat dokter bilang jangan banyak berfikir”. Donny membaringkann istrinya dan mau tidak mau Mia menurutinya walaupun badannya sudah pegal terus berbaring.
__ADS_1
“Mas Donny mau kemana?” Mia memegang tangan suaminya yang akan pergi, Donny kembali duduk di sampingnya. “Mas Donny harus kembali ke kantor, ada rapat penting yang tidak bisa di wakilkan”.
Mia mengangguk mengerti, selama dia di rumah sakit Donny sudah sering meninggalkan kantor hanya untuk memastikan dia makan dan istirahat dengan baik. Donny lalu pergi meninggalkannya setelah memberi kecupan di seluruh permukaan wajahnya.
Setelah sepuluh menit sejak Donny keluar dari kamar, Mia turun dari tempat tidur. Dia ingin duduk di balkon dan melihat halaman hijau.
“Nyonya…” Bu Mira berteriak kaget ketika tidak menemukan Mia di tempat tidur, hampir saja dia menjatuhkan nampan di tangannya. Donny memberinya perintah untuk menjaga Mia agar dia tidak turun dari tempat tidur kecuali untuk ke kamar mandi.
Wanita setengah baya itu berjalan lebih dalam lalu menemukan Mia sedang duduk di balkon, Mia sudah menunggunya dari tadi suaminya pasti tidak akan membiarkannya sendiri. Setidaknya sampai dia benar-benar merasa lebih baik, padahal Mia merasa jauh lebih baik sekarang. Tapi suaminya yang mulai posesif itu tidak mau percaya padanya dan berfikir Mia masih harus banyak istirahat.
“Nyonya, kenapa anda turun dari tempat tidur. Tuan akan marah kalau dia melihat anda berada disini”. Ucap Bu Mira sambil meletakkan nampan di atas meja.
“Mari, Nyonya. Saya akan membantu anda kembali ke tempat tidur”.
“Banyak angin”, Bu Mira memakaikan selimut itu pada Mia, Mia pasrah saja menerimanya padahal dia tidak kedinginan sama sekali.
“Apa yang Bu Mira bawa”, merapatkan selimut ke tubuhnya, ternyata sangat nyaman duduk di balkon kamar dengan selimut membelit tubuhnya.
“Saya bawakan teh hangat dan sandwich, mungkin Nyonya mau memakannya”. Mia melihat teh itu dengan tatapan tidak suka.
“Bu, jangan bawakan aku teh lagi ya, aku nggak suka baunya”. Bu Mira mengernyit, teh adalah minuman favorit Mia setelah jeruk panas. Lalu dia ingat kalau wanita hamil memang menjadi tidak suka pada apa yang biasanya mereka suka.
“Aku mau minum susu”. Bu Mira tersenyum “memang lebih baik minum susu, Nyonya. Saya akan membuatkannya untuk anda”. Bu Mira meninggalkannya lalu tatapannya kembali pada pohon-pohon hijau yang tertata dengan rapi di halaman.
__ADS_1
Ada empat orang penjaga keamanan yang berjaga di gerbang, lalu ada dua lagi yang berdiri di depan pintu utama. Dan entah di mana lagi Donny menempatkan penjaga keamanan di rumahnya. Tiba-tiba dia merasa hidup di dalam sangkar emas. Sejak tahu dirinya hamil, Donny semakin protektif dan membatasi ruang geraknya.
“Apa yang anda fikirkan, Nyonya?” Terlalu asyik dengan lamunannya sampai tidak sadar Bu Mira sudah sejak tadi berdiri di sampingnya. Mia hanya menoleh lalu kembali memandang lurus ke depan.
“Tuan pasti sangat menyayangi anda, itu sebabnya Tuan menjadi sangat protektif pada anda”. Mia menghela nafas “apa aku tidak bisa sebebas dulu lagi?”
Bu Mira tersenyum dan menyodorkan susu hangat pada Mia, dia mengambilnya dan meminumnya sampai tandas. Bu Mira tersenyum dan mengambil gelas kosong Mia dari tangannya.
“Ini susu khusus untuk ibu hamil, Tuan meminta menyiapkannya untuk anda”. Mia tersenyum senang melupakan lamunannya tentang sangkar emas. “Nanti malam buatkan aku lagi ya, Bu”. Pinta Mia dengan semangat.
Setelah menghabiskan susunya, Mia lalu memakan sandwich yang tadi di bawa Bu Mira. Dia menghabiskan dua potong dan memaksa Bu Mira memakan dua potongnya. Dia juga memaksa wanita paruh baya itu duduk di sampingnya karena sejak tadi dia hanya berdiri saja.
“Jangan sungkan padaku, Bu. Bu Mira boleh santai padaku kalau Mas Donny tidak ada”. Bu Mira hanya tersenyum kecut, dan mengiyakan nya.
Mia merasa sangat nyaman berada di balkon, langit cerah yang beranjak sore membuatnya terlihat indah. Angin sejuk yang hanya menyentuh wajahnya membuatnya mengantuk, dia ingin tidur tapi tidak ingin pindah dari tempatnya.
Dia menyandarkan kepalanya dikursi lalu memejamkan mata. “Jangan tidur di sini, Nyonya. Kita masuk ke dalam saja, ya”. Mia yang tidak tega melihta wajah khawati Bu Mira lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju tempat tidur masih dengan selimut yang membelit tubuhnya.
Setelah menyandarkan kepalanya pada bantal, wanita itu langsup terlelap dengan damainya. Bu Mira membenarkan selimutnya,”Tuan Donny pasti sangat bahagia memiliki istri seperti anda” gumam Bu Mira sambil memandangi wajah damai Nyonya mudanya.
Bu Mira melihat keheboan jagat raya tentang video asusila yang beredar. Dia merasa kasihan pada Natasya karena mempunyai kakak seperti Amelia. Dia juga tahu penyebab video itu bisa sampai tersebar. Dari cerita yang dia dengar dari Leo, kakak mantan kekasih Donny itu dengan berani membayar orang untuk mencelakai Mia.
Dan kejadian itu bahkan membuat Mia sampai mengalami pendarahan, Donny tentu saja murka. Membuatnya hancur hal yang sangat gampang untuk Donny. Bu Mira kembali menatap Mia yang tertidur lelap.
__ADS_1
“Anda harus menjaga diri anda dengan baik, Nyonya. Tuan tidak bisa menoleransi sedikitpun jika itu menyangkut keselamatan anda dan juga bayinya”. Katanya lagi.