Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 80 Hamil


__ADS_3

Rumah mewah Donny sejak beberapa hari lalu sudah di pantau orang orang yang tidak di kenal secara bergantian , mereka memperhatikan yang mana mobil yang di pakai targetnya dan juga bagaimana pengawalannya.


Setelah mengetahui informasi yang mendetail, mereka baru menyusun rencana.


“Kapan kalian akan bergerak”, kata seorang wanita dari seberang telepon kepada pimpinan preman itu.


“Kami akan melakukannya hari ini, kami pastikan dalam dua jam target akan kami dapatkan”, katanya. Wanita di sebrang sana tersenyum puas.


Salah satu motor yang berboncengan memantau mobil yang membawa targetnya, dan beruntungnya mereka mobil sedan yang biasa meengikuti mobil itu dari belakang terlihat meninggalkan halaman restoran saat targetnya masuk kedalam restoran itu. Hanya seorang lelaki yang menemaninya, tentu mereka berfikir pekerjaan ini akan lebih mudah.


Mobil targetnya sudah keluar, mereka lalu memberi kode pada temannya yang lain yang sengaja berjauhan agar tidak terlalu mencolok. Dua motor jalan lebih dulu mendahului mobil targetnya, satu motor di sisi kiri dan satu motor di sisi kanan. Mereka terlihat normal seperti pengendara biasa.


Seolah mendapat bantuan dari langit, mobil itu berbelok ke arah yang sepi dan melajukan kecepatannya. Laju mobil itu kalah dengan laju motor yang lebih cepat. Lalu mobil itu berhenti ketika satu motor menghadangnya.


Pengendara motor yang tidak di kenal itu turun dari motornya dan menggedor-gedor pintu mobil dari berbagai sisi.


 “Nyonya, tetaplah berada di dalam mobil. Jangan keluar apapun yang terjadi”. Mia yang menjadi target orang-orang tidak di kenal itu menangis takut, mereka cukup banyak sementara Leo hanya seorang diri bagaimana Leo mengalahkan mereka.


Leo baru saja akan keluar dari mobil tapi mobil sedan yang biasanya mengikuti mereka tiba-tiba datang, empat orang keluar dari mobil itu, lalu datang lagi tiga mobil lainnya. Sekarang semua pengendara motor itu terkepung dan mereka kalah jumlah.


Masih dengan rasa percaya diri yang tinggi mereka maju dan menyerang semua orang –orang yang keluar dari mobil tadi. Tidak banyak perlawanan, sebentar saja para pengendara motor itu sudah tumbang satu persatu.  


“Nyonya, semua sudah aman. Anak buah Alfandy sudah melumpuhkan mereka semua”. Mia melihat keluar dan benar semua pengendara motor sudah mengerang kesakitan di tanah.


“Tunggu sebentar di sini, Nyonya. Saya akan berbicara dengan mereka sebentar”. Leo berkata dengan sangat lembut. Dia melihat Mia sangat takut tadi.


“Kita pulang saja Leo”, ucap Mia dengan gemetar. Leo mengangguk, “Baiklah, Nyonya”. Leo membuka kaca mobil dan seseorang mendekat. Mereka berbicara sebentar lelu kemudia Leo menutup kaca mobil dan melajukan mobilnya.


“Nyonya”. Leo memberikan sebotol air mineral pada Mia, wanita itu mengambil dan meminumnya sedikit. Persaannya sudah jauh lebih baik sekarang.


“Siapa mereka, Leo?” tanya Mia, dia sudah kelihatan lenih baik ketika rumah sudah terlihat dari kejauhan.


“Saya tidak tahu, Nyonya. Anak buah Alfandy yang akan mengurus mereka”.


“Apa Mas Donny tahu?”

__ADS_1


“Tuan sudah tahu, Nyonya. Tuan sedang dalam perjalanan pulang”. Mia mengangguk mengerti. Leo melirik kaca spion melihat keadaan Mia.


“Nyonya, wajah anda sangat pucat”. Leo tersentak saat melihat wajah Mia yang tiba-tiba pucat padahal tadi dia sudah baik-baik saja.


“Perutku sakit”. Mia meringis memegangi perutnya yang tiba-tiba nyeri. Dia membungkukkan badannya sambil memegangi perutnya. Namun rasa sakitnya malah bertambah.


Mobl sudah berhenti, Leo turun dengan cepat membuka pintu penumpang. “Bu, Tolong bantu bawa Nyonya ke kamar”. Bu Mira baru akan membantu Mia tapi Donny datang dan masuk ke dalam mobl melihat istrinya.


“Kamu kenapa?” Tanyanya dengan panik melihat wajah pucat istrinya.


“Perutku sakit”. Mia meringis masih memegangi perutnya.


“Kerumah sakit Leo, cepat!” Leo masuk kembali kedalam mobil dan mengemudikan mobil itu dengan cepat. Lalu Donny terperanjak ketika melihat darah mengalir di kaki istrinya.


Dia mendekap istrinya dengan erat, pikirannya tiba-tiba kosong melihat darah itu. Mia menangis kesakitan dalam pelukannya membuat hatinya  tersayat.


“Lebih cepat Leo”. Suaranya bergetar, rasa takut menghinggapinya. Leo melihat dari kaca spion, mata yang selalu memancarkan wibawa seorang presdir itu berkabut dan sedikit basah.


Setibanya di rumah sakit, Mia langsung di bawa ke UGD. Donny hanya bisa menuggu di depan pintu UGD berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan istrinya.


Pintu UGD terbuka, seorang Dokter wanita yang tadi membawa Mia masuk ke dalam menghampiri Donny.


“Anda ingin melihatny?” Tanya Dokter itu dengan sopan, Donny mengangguk lalu ikut masuk bersama Dokter.


Dia melihat istrinya yang sedang tidur karena berada di bawah pengaruh obat. Wajahnya sudah tidak pucat lagi menandakan kalau dia sudah baik-baik saja.


“Dia kenapa Raf”. Dokter Rafael melihat Dokter wanita itu, dia yang akan menjelaskannya.


“Nyonya tidak apa-apa, Tuan. Hanya pendarahan ringan”. Donny menaikkan alisnya tidak mengerti. Dokter wanita itu tersenyum lalu melanjutkan penjelasannya.


“Pendarahan biasa terjadi karena stress atau lelah. Karena Nyonya sedang hamil muda, sebaiknya menghindari hal-hal yang mebuatnya banyak berfikir”. Donny terpaku, dia melihat istrinya lalu kembali melihat Dokter wanita itu.


“Istri saya hamil”, tanyanya tidak percaya.


“Kamu tidak tahu istri kamu hamil?” Dokter Rafael bertanya dengan kenyitan di dahinya. Wajah cemas Donny berubah berganti bahagia. Dia mencium kening istrinya dengan lembut lalu membelai pipinya.

__ADS_1


“Apa dia dan bayinya baik-baik saja?”


“Mereka berdua baik-baik saja”. Donny tertawa kecil, dia tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya.


“Sebaiknya kamu memeriksakan istri kamu di bagian obgyn saat dia bangun nanti untuk meriksa lebih jelasnya”. Donny mengangguk “Terima kasih”, ucapnya.


Semua orang yang ada di ruangan itu keluar hanya tersisa Mia yang masih tertidur Donny dan Rafael.


“Apa kalian ada masalah?” Tanya Rafael, Donny seketika ingat kejadian yang mungkin menjadi penyebab Mia pendarahan.


“Pendarahan seperti ini hanya terjadi apabila seorang wanita hamil stres atau kelelahan. Apa kalian baik-baik saja?”. Donny lalu menjelaskan apa yang terjadi pada sepupunya.


“Kira-kira siapa yang ingin menyakiti Mia?”


“Anak buah Alfandy sudah mengurus mereka, sebentar lagi kita akan tahu”. Dokter Rafael mengangguk. “Saya akan memberitahu perawat untuk memindahkan istri kamu ke ruang perawatan”.


“Terima kasih, Raf”. Rafael lalu meninggalkan Donny, memberi waktu pada mereka untuk berbagi kebahagiaan.


”Mas”, Mia membuka matanya dan melihat suaminya membelai pipinya.


“Perut kamu masih sakit?” Mia refleks memegang perutnya, “sudah tidak terlalu” jawabnya.


“Aku kenapa?” tanya Mia, Donny mengecup keningnya “Kamu hamil”. Mia tercengang, dia diam mematung untuk sekian detik.


“Aku hamil?”, Donny mengangguk cepat.


Air mata keluar dari sudut mata Mia, rasa sakit itu berganti dengan kebahagian yang tidak ternilai. Ini pertama kalinya sejak tujuh tuhun dia menangis karena bahagia.


Donny memeluk istrinya “terimakasih” bisiknya.


***


Terimakasih untuk yang masih setia menunggu updetannya... 😊


mohon maafkan segala kekurangan dalam ceritanya, baik penulisan katanya atau yang lainnya 🙏

__ADS_1


love you all 😊😊😘


__ADS_2