
Di dalam kamar sederhana, sepasang suami istri itu sedang melapas rindu dan saling menyatakan perasaan lewat sentuhan-sentuhan. Sedangkan di teras rumah kontrakan yang sederhana seseorang tampak khawatir, dia terus melihat ke arah pintu yang tertutup.
Dia tadi terlonjak kaget saat Donny datang dengan beberapa orang mengikutinya. Dia benar-benar takut Donny akan menyakiti Mia, tapi dia tidak bisa melakukan apapun selain berdoa agar Mia bisa menghadapi Donny di dalam sana.
“Tenang saja, Fiona. Tuan tidak mungkin menyakiti Nyonya”. Entah sudah berapa kali Alfandy mengatakannya, tapi Fiona masih saja gelisah. Dalam hati Al salut dengan ketulusan Fiona menyayangi Mia padahal mereka tidak terikat hubungan darah, hanya sebuah persahabatan yang tulus tanpa pamrih.
Alfandy tahu tentang perjalanan hidup Fiona saat dia mencari tahu semua tentang Mia. Dia penasaran dan mencari tahu. Jalan hidupnya hampir sama dengan Fiona, di abaikan keluarga atau lebih tepatnya di buang.
Tidak ada yang perduli pada mereka. Kalau Al memiliki Donny yang menjadi penyelamatnya, maka Fiona memiliki Mia yang memberinya kasih sayang seorang keluarga. Begitulah mereka mendapatka kasih sayang seperti keluarga yang tidak mereka dapatkan dari keluarga mereka sendiri.
Diam-diam Al memperhatikan Fiona, gadis itu masih terlihat cantik dengan pakaian rumahan sederhana yang melekat di tubuhnya. Cantik, kecantikan itu pasti dia dapatkan dari ibunya. Al sempat melihat foto ibunya waktu itu. Keluarganya cukup berada baik ayah dan ibunya, tapi Fiona lebih memilih meninggalkan semua dan bekerja keras di kota besar ini sendiri.
Fiona berdiri membuat Al tersadar, gadis itu mondar-mandir di depan Al seperti setrika. Alfandy menarik tangannya lalu mendudukkannya di kursi plastik yanga da di teras, tempat di mana tadi gadis itu duduk.
“Tenanglah Fiona, apa yang kau khawatirkan. Mereka pasti sudah berbaikan sekarang”, Fiona terperanjak, matanya berkedap-kedip menatap tanga Al yang masih menempel di lengannya.
“Maaf”. Al melepaskan tangannya saat menyadari keterkejutan Fiona, reaksi yang Fiona berikan tadi sangat lucu membuatnya menarik sudut bibirnya dengan samar.
Untung saja pintu segera terbuka, jadi mereka tidak perlu berada di situasi yang canggung. Fiona memperhatikan Mia dengan seksama, matanya masih sembab karena air mata. Bola matanya lalu bergulir menatap kedua tangan yang saling bertautan. Dia lalu menarik nafas lega.
“Makasih sudah selalu ada untukku”. Mia memeluk sahabatnya, mereka lalu berpelukan sebelum saling mengurainya.
“Terima kasih sudah menjaga Fiona”. Ucap Donny tulus. Fiona hanya mengangguk dengan sebuah garis di bibirnya.
“Aku pulang ya, Fi”. Fiona memeluknya sekali lagi. “Hati-hati”, ucap Fiona.
__ADS_1
“Mas, sepertinya Fiona memang tidak memiliki perasaan apapun pada Alex”. Al melirik kaca spion, dia menamjamkan pendengarannya.
“Aku juga mau melihatnya bahagia, memiliki seseorang yang mencintainya”. Katanya dengan tulus.
“Bagaimana kalau menjodohkannya dengan Al”
“Tidak…” Mia langsung menolak, Al meliriknya dengan kesal sementara Donny terkekeh. Donny memeluk istrinya erat terus mensyukuri kebersamaan mereka saat ini.
Mobil sudah berhenti di depan pintu utama, Bu Mira terlihat menunggu dengan cemas di depan pintu. Al keluar lebih dulu membuka pintu mobil untuk Donny. Senyum terukir di bbir wanita itu ketika melihat Mia keluar dari mobil. Dia lalu mengikuti Mia dan Donny masuk ke dalam rumah.
“Mia, sayang”. Johan menyambut menantunya dengan pelukan hangat. Dia sudah tahu Donny pasti bisa membujuk istrinya. Padahal sekeras apapun Donny membujuknya pasti tidak akan berhasil jika Mia memiliki hati sekeras batu, tapi wanita itu memiliki hati yang lembut dan pemahaman luar biasa.
Dia bukan wanita egois yang hanya berfikir dari sudut pandangnya saja, Donny menjelaskannya dengan sangat baik dan dia mengerti. Bukankah yang terpenting Donny sudah melepaskan Natasya dan datang padanya. Mia merasa cukup dengan itu.
“Maafin Mia yang sudah membuat Papa cemas”, ucapnya dengan wajah yang menunduk.
“Pa…”. mia seperti memohon pada Papa mertuanya agar tidak lagi menyalahkan suaminya. Dia lalu berjalan menuju Mama mertuanya yang tengah duduk di sofa.
“Ma” sapanya sedikit kaku.
“Donny pasti sangat lelah, ajak suami kamu istirahat”. Kata Laura.
“I iiya, Ma”.Mia mendongak, lalu tatapannya bertabrakan dengan Laura. Mertuanya itu tidak lagi menampilkan wajah datarnya. Mia terkejut karena dia lebih memperlihtakan wajah tenangnya, tidak lagi nampak wajah angkuh dan penuh penolakannya. Apakah dia sudah menerima kehadiran dirinya sebagai menantu.
“Kami ke kamar dulu Ma, Pa”. pamit Donny pada orang tuanya.
__ADS_1
Mia langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya, Donny menyusul istrinya ke kamar mandi dan mereka mandi bersama, hanya mandi bersama.
Setelah makan malam, Donny meninggalkan istrinya di kamar. Dia menghabiskan sepanjang malam di ruang kerja bersama Papanya.
Mia berlari membuka pintu ketika mendengar Mama mertuanya memanggilnya dari luar. “Boleh Mama masuk”, ucap Laura. “Iya, Ma”, jawab Mia mundur sedikit agar mertuanya bisa masuk lebih leluasa.
“Saya tidak akan bertele-tele, Mia”, mereka sudah duduk di sofa yang ada di dalam kamar.
“Saya sudah tidak keberatan dengan kehadiran kamu dalam keluarga ini. Saya mempercayakan Donny padamu. Saya harap kamu bisa mencintai dia denga tulus”. Mia tercengang, benarkah, semudah itu. dia bahkan belum melakukan apapun untuk menggoyahkan hati Mama mertuanya.
“Saya menerima kamu karena anak saya menginginkan kamu, bukan karena saya menyukai kamu”. benarkan tidak akan semudah itu.
“Mia mengerti”. Ucap Mia.
“Kamu tahu, saya tadinya berharap bahwa Natasya yang menjadi menantu saya. Tapi mengetahui bahwa gadis itu bahkan menolak lamaran Donny berkali-kali membuat hati saya juga terluka, apalagi dengan Donny”. Akunya dengan jujur.
Sejak awal mengetahui hubungan Natasya dengan Donny, Laura meras sangat senang. Dia juga pernah bertemu Natasya beberapa kali dan membuatnya yakin bahwa Natasya memang menantu idamannya. Tapi mengetahui dari suaminya bahwa Donny sudah berkali-kali memintanya menikah tapi gadis itu selalu menolak membuatnya kehilangan simpati pada gadis itu.
“Cintai dia dengan segenap hati kamu, jadilah istri yang berbakti”. Mia menganggukkan kepalanya dengan seyum kecil.
“Mia akan menjaga Mas Donny dengan baik”. Laura terlihat mengangguk.
“Kami akan pulang besok pagi”. Mia bersorak dalam hatinya, suasana canggung ini akan segera berlalu. Mia mengantar Mama mertuanya sampai di depan kamarnya, sebelum benar-benar pergi Laura mengatakan sesuatu yang menyentuh hatinya.
“Terimakasih sudah mau kembali”. Wanita itu menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, dan senyuman itu dia tujukan untuk Mia.
__ADS_1
Mia merasa sangat terharu, hanya sebuah senyuman tipis dari Mama mertuanya sudah membuatnya merasa senang.
Tiba-tiba dia merindukan sosok Ibu, dia juga ingin punya Ibu yang selalu mendengar ceritanya. Ibu yang mengelus kepalanya dengan kasih sayang. Dia merindukan kasih sayang ibu. Bisakah dia mendapatkannya dari Laura? bagaimana dia bisa meluluhkan hati mertuanya itu?