Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 41 Canggung


__ADS_3

Amelia terburu-buru masuk ke dalam apartemen Donny saat melihat mobil laki-laki itu meninggalkan gedung  apartemen. Amelia sangat terkejut melihat adiknya duduk di lantai dan, gadis itu menangis dengan kertas-kertas berserakan di atas meja.


“Apa yang terjadi?” tanyanya sambil membantu adiknya berdiri. Gadis itu masih diam dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.


Amelia menatap adiknya tajam. Dia bisa menebak apa yang terjadi melihat keadaan Natasya, , tidak ada rasa iba sedikitpun melihat adiknya berlinang air mata.


“Bukankah sudah ku bilang padamu untuk tidur dengannya sekali saja, kau terlalu bangga pada dirimu. Cinta, kau tidak bisa hanya mengandalkan cinta”. Ucapnya setengah teriak.


Air mata Natasya semakin deras mengalir, dia tidak mau kehilangan Donny. Dia buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi Donny. Terhubung tapi tidak ada jawaban. Dia mengulang panggilan itu hingga puluhan kali tapi hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban.


Natasya makin histeris, dia lalu setengah berlari keluar unit apartemen.


“Kau mau kemana?”, Amelia juga ikut berlari menyesuaikan langkahnya.


“Aku akan ke rumah Donny, aku mau bicara padanya”.  Amelia menarik tangannya. “Kau gila”. Natasya tidak perduli, dia melepaskan tangannya dan terus berlari. Amelia kembali menarik tangannya, kali ini lebih kuat dan membawanya masuk ke dalam lift.


“Aku harus bicara padanya, Kak. Dia bilang masih mau menikah denganku, masih mau menungguku”. Natasya terus meronta ketika mobil sudah melaju dengan cepat menuju apartemen mereka.


“kau hanya akan menimbulkan masalah kalau kau datang ke rumahnya dengan keadaan kacau seperti sekarang. Tenangkan dirimu dulu”. Natasya berhenti terisak. Ya, dia harus tenang, Donny hanya marah padanya. Dia akan membujuknya, dia bahkan akan melakukan seperti yang kakaknya katakan kalau bisa membuat Donny tetap disisinya.


Bu mira membantu Al membawa Donny ke kamar, Mia yang memang belum tidur langsung bakit dari tempat tidur begitu mendengar suara pintu di ketuk. Matanya membulat dan tangannya menutup mulutnya yang terbuka.


“Apa yang terjadi dengan Mas Donny”. Al meletakkan Donny dengan hati-hati di tempat tidur.


“Tuan minum sangat banyak tadi saat menemani tamunya”, ucap Alfandy berbohong. Tidak mungkin Alfandy mengatakan kalau Tuannya menjadi seperti ini setelah bertemu dengan kekasihnya.

__ADS_1


“Apa yang Bu Mira lakukan”. Bu Mira ingin membuka Jas yang di pakai Donny.


“Biar aku saja”. Ucap Mia menghentikan Bu Mira. “Tapi, Nyonya…”. Kalian keluarlah, aku akan mengurus suamiku.


“Tidak, Nyonya. Kami akan ada di sini”. AL tidak mau meninggalkan Donny bersama Mia. Mia memutar bola matanya jengah lalu mendorong kedua orang itu keluar dari kamarnya dan membanting pintunya dengan kasar karena kesal.


Gadis itu mendekati suaminya yang terlihat sangat berantakan lalu melepaskan sepatu dan kaos kakinya.


“Nggak bisa minum kok di paksa”. Gadis itu berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia melepaskan semua atasan Donny hingga laki-laki itu bertelanjang dada. Mia terpana melihat otot-otot yang ada di perut suaminya. Mia tidak melepas celana, dia masih normal untuk melakukan itu. gadis itu lalu mengambil wadah apapun yang bisa dia pakai di kamar mandi, mengisinya dengan air hangat lalu membersihkan tubuh suaminya menggunakan handuk kecil .


Setelah selesai, Mia mengambil kaos berbahan halus lalu memakaikannya pada Donny. Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya dan meraba seluruh wajah Donny. Wajah putih itu nampak sangat halus dan terawat.


‘Kenapa wanita itu menolak menikah dengannya’ tanyanya entah pada siapa tapi tentu dia tidak akan mendapat jawabannya.


‘apakah aku serakah kalau aku ingin menjadi istri kamu yang sebenarnya dan tinggal di sisi kamu selamanya’. Mia menyadari kalau hal itu pasti tidak mungkin melihat bagaimana Donny mencintai kekasihnya.


Mia menghela nafasnya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


Donny terbangun pukul lima pagi dengan kepala yang terasa berat. Dia melihat Mia tertidur dengan damai di sampingnya. Tangannya terulur membelai pipinya, kedua alisnya lalu jarinya mengusap lembut bibir mungil Istrinya dan lalau tanpa sadar mengecupnya dengan mesra.


Donny lagi-lagi tertegun, belakangan ini kenapa dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Laki-laki itu lalu bangkit dari tempat tidur dan membersihkan dirinya di kamar mandi.


Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, Mia bergeliat kecil di bawah selimut. Donny yang melihatnya langsung berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamarnya. Dia masih merasa canggung untuk bertemu dengan Mia, apalagi setelah tadi dia kembali mencium bibir gadis itu..


Donny terkejut melihat Alfandy yang tertidur di sofa yang terletak di dekat teras lantai dua. “Kenapa kamu tidur di sini, Al?”

__ADS_1


Alfandy masih dengan kemejanya langsung bangun dari tidurnya melihat Donny yang sudah rapi. “Anda baik-baik saja?” tanyanya melupakan pertanyaan Donny.


“kamu belum menjawab pertanyaan saya, Al. kenapa kamu tidur disini, Bukankah kamu juga punya kamar di rumah ini?”.


“Maafkan saya, Tuan. Saya sangat khawatir pada anda, jadi saya tidak bisa meninggalkan anda”. Donny menghela nafas. “bersihkan dirimu saya ingin berangkat secepatnya”. Al melihat jam di pergelangan tangannya, masih pukul enam lewat. Sudah dua hari ini Tuannya itu selalu datang ke kantor sepagi ini.


“Saya akan sarapan di kantor, Bu”. Bu Mira menunduk sopan saat melihat Donny.


“Anda baik-baik saja”. Tanya Bu Mira Sopan.


“Saya baik-baik saja, Bu. Terima kasih”. Ucap Donny tulus. “Apa Mia makan makanannya dengan baik semalam?”.


“Nyonya hanya makan sedikit, Tuan”. Donny mengangguk lalu meninggalkan dapur setelah meminum obat yang tadi di buatkan Bu Mira untuk menghilangkan sakit kepala setelah mabuk.


Alfandy sudah selesai membersihkan diri, dia memperhatikan sekeliling kamarnya  yang sangat terawat. Nampak baju-bajunya yang tergantung di lemari terlihat rapi dan bersih.


Sebelum memilih untuk tinggal sendiri, Alfandy pernah tinggal di salah satu bangunan yang ada di rumah itu. namun karena merasa tidak enak selalu mendapatkan pelayanan yang baik dari para pelayan, dia lalu memutuskan untuk hidup mandiri.


Donny sudah menganggapnya seperti adik sejak pertama mereka bertemu, Alfandy berhutang banyak padanya. Dia pernah berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan apapun untuk Donny bahkan bila itu harus mengorbankan nyawanya sekalipun.


Jalanan sudah terlihat ramai dengan kendaraan walaupun matahari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya.


Di dalam mobil sedan mewah berwarna hitam, laki-laki itu menyandarkan kepalanya pada sandaran mobil dan memijat pangkal hidungnya.


“Anda baik-baik saja, Tuan”. Alfandy melihatnya dari kaca spion bertanya dengan khawatir, efek mabuk semalam pasti masih menyisakan sakit kepala.

__ADS_1


“Saya baik-baik saja”. Alfandy melihatnya tidak yakin, dia menghela nafas pelan.


‘semua ini pasti gara-gara wanita egois itu’ makinya dalam hati.


__ADS_2