
“Mia…”, senyum sumringah menyambut Mia saat dia menemukan sosok yang memanggilnya. “Mau ketemu Fiona?”. Tanyanya. Dia menundukkan sedikit kepalanya pada selertaris Al saat tatapan mereka bertemu.
“Iya, mau gabung?” Mia menawarkan, tapi dia teringat akan sesuatu. “Eh, nggak usah ajak Fiona deh, kita berdua aja”, Mia menaik turunkan alisnya menggoda laki-laki di depannya. Al melihatnya tidak senang. Dia tidak suka melihat istri Tuannya terlihat seperti menggoda laki-laki lain.
“Bukannya anda akan makan siang dengan Fiona, kenapa sekarang anda hanya akan makan berdua dengan Alex”. Al menatap tajam pada Alex tapi laki-laki itu hanya mengangkat sebelah bahunya membuat Al semakin kesal. Mia hanya terkekeh. Al sangat lucu menurutnya, sejak kapan manusia menyebalkan itu perduli pada apa yang dia lakukan.
“Hampir semua karyawan disini sudah mengetahui siapa anda, Nyonya. Tolong jaga sikap anda”. Mia mulai kesal, “Iya, iya. Aku tahu”. Dia mendorong Al agar segera pergi.
“Fiona bisa ngambek sama aku kalau tahu kita nggak ajak dia”. Alex sudah membayangkan bagaimana wajah Fiona kalau sedang ngambek. Mia memperhatikannya, dia melihat wajah sahabat laki-lakinya itu secerah matahari saat menyebut nama Fiona.
“Kenapa nggak langsung ngomong aja sama orangnya?” Alex menaikkan sebelah alisnya dengan bibir yang masing mengukir senyuman. “kamu suka sama Fiona kan?”. Alex menelan ludahnya kasar, dia tertangkap basah.
“Kenapa kamu tahu?”. Mia mendesah kesal, “Cuma orang bodoh kayak Fiona ajak yang ngga tahu”. Ucapnya geram.
Alex terdiam, pandangannya tertuju pada spagethi di depan Mia. Mia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus menyuapkan makanan favoritnya itu ke dalam mulutnya.
“Aku takut, Mi”. Alex diam lagi, dia mendongakkan kepalanya menatap Mia. “Aku tidak mau dia meninggalkan aku karena tahu kalau aku bukan hanya menganggapnya sebagai sahabat”. Kali ini Mia ikut terdiam. Benar, selama ini dia menganggap Alex benar-benar tulus padanya sebagai sahabat.
Alex takut membayangkan kemarahan Fiona seandainya dia tahu tentang perasaannya yang sebenarnya. Fiona tidak pernah canggung bahkan untuk berbagi tempat tidur, makan sepiring atau juga berbagi minuman di gelas yang sama dengannya karena dia berfikir Alex adalah sahabat sama seperti Mia.
“Dia hanya trauma melihat kedua orang tuanya yang berpisah. Dan setelah itu tidak ada yang perduli padanya baik itu ayah atau ibunya. Itu sebabnya dia tidak mau membangun hubungan dengan siapapun karena tidak mau mengalami hal yang sama”.
“Kalau kamu benar-benar mencintainya, tunjukkan padanya perasaanmu. Jangan bersembunyi di balik kata persahabatan”. Alex menarik sudut bibirnya, “wah lihat, siapa yang sedang memberi nasihat”. Katanya mencibir.
“Kau sendiri, bagaimana hubunganmu dengan Tuan Donny?”. Wajahnya tiba-tiba merona merah “Hei, aku hanya bertanya bagaimana hubungan kalian, bukan bertanya apa saja yang sudah kalian lakukan berdua kenapa wajah mu semerah itu”. Alex tidak bisa lagi membendung tawanya membuat beberapa pengunjung restoran mengalihkan atensi pada mereka.
__ADS_1
“Hentikan tawamu, kau tidak lihat semua orang sedang memperhatikan kita”, Mia berdecak kesal. Tadinya dia mau memaksa Alex untuk jujur pada Fiona, tapi Alex malah tidak berhenti mengejeknya membuatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Eh, kita mau kemana?” Mia melihat mobil Alex sedang mengarah ke Wijaya Mandiri. “Ke kantor kamu, memangnya mau balik ke Oliver Group. Heh, baru juga pisah sebentar sudah kangen aja”. Ejeknya lagi.
“Makanya, kejar Fiona biar tahu rasanya kangen”. Balas Mia. “Huh, aku kangen dia setiap hari tahu”.
“Eh, kita balik ke Oliver Group aja, Leo tungguin aku di sana”. Alex memicingkan matanya, “Sopirnya Mas Donny”. Alex mengangguk-angguk membentuk huruf o di bibirnya.
Mia langsung berpindah ke mobil Leo saat mereka sampai di kantor pusat Oliver Group. “Kita langsung pulang aja”. Ucapnya
“Baik, Nyonya”. Jawab Leo.
“Kalian curang ya, makan berdua nggak ajak-ajak”. Alex terkekeh sudah memprediksi wajah kesal Fiona. “Mia mau ngomong masalah penting, makanya nggak ajak kamu”.
“Sejak kapan Mia menyembunyikan sesuatu dariku”. Foiona sudah meletakkan tangannya yang terlipat di atas perut.
“Kerja, Fi. Laporan kamu harus sudah ada di mejaku sebelum kamu pulang”. Fiona mengeram kesal saat Alex mendorongnya keluar walaupun dengan pelan. Sementara Alex tersenyum penuh makna di balik pintu.
“Dimana Mia Al?” Alfandy tadi melapor padanya kalau Mia tidak makan sinag bersama Fiona, melainkan bersama Alex. Mereka bahkan pergi berdua saja menggunakan mobil Alex. Donny tidak marah dan mempermasalahkannya, dia tahu Alex menyayangi Mia sama seperti Fiona.
“Nyonya sudah sampai di rumah Tuan”. Jawab Al.
“Apa alasan Mia di berhentikan?” Tanyanya lagi ketika sudah puas dengan jawaban pertanyaannya yang tadi.
__ADS_1
“Nyonya terlambat masuk kantor, Tuan. dan itu sudah yang ketiga kalinya”.
“Hanya karena itu?”
“Kemarin CEO Wijaya Mandri menegurnya dengan keras karena sudah melempar kertas-kertas yang berisi laporan ke wajah Nyonya”.
“Apa…”. Donny terlonjak, berani sekali seorang Manager memperlakukan istrinya seperti itu.
“Dia juga suka memberi pekerjaan yang lebih banyak pada Nyonya dari pada yang lain”. Donny sudah mengeram kesal. Mia tidak pernha cerita padanya tentang hal itu.
“Beritahu pada CEO Wijaya Mandiri, saya akan datang berkunjung besok. Bersama istri saya. Pastikan semua orang menyambut di pintu utama”.
“Baik, Tuan”. Donny akan memperlihatkan pada semua orang siapa Mia, dia tidak akan mebiarkan istrinya mendapat perlakuan buruk dari siapapun.
“Awasi Mia dengan baik Al, dan laporkan pada saya sekecil apapun hal yang berhubungan dengannya”.
“Baik, Tuan”.
‘Anda sudah jatuh cinta pada istri anda rupanya’. Senyuman terukir dengan samar di bibir Al, dia senang Tuannya benar-benar meninggalkan Natasya yang hanya membuatnya menunggu dengan sia-sia.
Donny tiba-tiba jadi rindu pada istrinya mendengar cerita Al. “Al, antar saya pulang!”. Al terkejut tapi tidak berani membantah. Sejak kapan Tuannya itu meninggalkan kantor siang hari begini. Sakit pun dia tetap akan pulang kantor seperti biasa kalau tidak ada rapat atau pertemuan penting.
Walaupun dia boss, dia tetap menjunjung tinggi kedispilinan, dan semua karyawannya juga mengikuti jejaknya. Tapi hari ini dia ingin pulang bahkan masih sangat awal. Apakah dia sudah sangat tergila-gila pada istrinya. Huh, semoga saja Tuan Donny tidak akan berubah seperti remaja yang sedang di mabuk cinta. Batin Al.
“Kamu kembali ke kantor, Al. Bawa kemari semua pekerjaan yang bisa saya kerjakan di rumah”. Perintahnya.
__ADS_1
“Baik, Tuan”. Al sudah akan masuk ke dalam mobil sebelum Donny kembali berbicara, “Tidak, jangan semua. Yang penting saja, yang sangat penting saja, yang tidak bisa di tunda!”. Donny ingin menghabiskan lebih banyak waktu lagi dengan istrinya.
“Baik, Tuan”. jawab Al dengan sopan.