Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 58 Memiliki seutuhnya


__ADS_3

Mereka selesai dengan aktivitasnya. Donny mengecup lembut kening Mia. “Terimakasih”, ucapnya yang terdengar begitu tulus dari hati yang terdalam. Dia lalu menjatuhkan dirinya di samping Mia. sekarang gadis itu telah benar-benar menjadi wanitanya seutuhnya.


Mia meringis saat akan turun dari tempat tidur merasakan perih di bagian intinnya, Donny yang baru keluar dari ruang ganti dengan cepat menghampiri istrinya.


“Kenapa, Mia”. Mia tidak menjawab tapi wajahnya menunjukkan kalau dia sedang merasa tidak nyaman. Donny yang peka melilitkan selimut di tubuh istrinya lalu menggendongnya ke kamar mandi. Mia menaikkan alisnya ketika Donny tidak juga keluar dari kamar mandi setelah meletakkannya di buthtub.


“Saya akan disini, mungkin kamu membutuhkan bantuan saya”. Donny terkekeh melihat wajah malu-malu istrinya. “saya sudah melihat semuanya tadi” katanya dengan binar bahagia yang baru kali ini Mia lihat.


Donny memakaikan jubah mandi pada istrinya lalu kembali menggendongnya, dia mendudukkan istrinya di sofa lalu berjalan menuju ruang ganti untuk mengambilkan baju untuknya.


Dari luar terdenga suara Bu Mira yang meminta mereka turun karena sudah waktunya makan malam. Tidak, sudah lewat waktunya. Bu Mira tadi sempat mengetuk tapi tidak ada tanggapan lalu dia kemabli lagi setelah satu jam.


“Mas…” Mia melihat ada noda darah di seprei, Donny mengikuti arah pandang Mia dan tersenyum lalu mengecup mesra kening istrinya.


“Saya akan minta Bu Mira menggantinya”. Bu Mira masuk setelah Donny membukakan pintu untuknya. Di sana Mia terlihat malu dan melihat ke sembarang arah saat Bu Mira melihat noda merah di seprei itu.


Ada senyum di bibirnya, dia senang untuk Donny. Laki-laki itu akhirnya telah benar-benar memilih istrinya untuk mendampinginya selamanya.


“Bawa makan malam ke kamar saja, Bu”, perintah Donny tapi Mia dengan cepat menggelengkan kepalanya. “aku mau makan di meja makan”. Pintanya.


“Kamu yakin?”. Mia mengangguk dengan cepat. Donny lalu menggenggam tangannya dan mereka menuju ruang makan. Mia makan banyak sekali, lebih banyak lagi dari biasanya. Donny mengulum senyumnya, wanita itu pasti kelelahan setelah apa yang mereka lakukan tadi.


Ya, Mia bukan lagi sekedar adik yang dia sayang. Sekarang dia sudah menjadi wanitanya, istri yang sebenarnya. Wanita yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anaknya.

__ADS_1


Mereka kembali ke kamar setelah menyelesaikan makan malam yang sudah terlambat. Wajah mereka nampak bersinar dari biasanya. Apalagi Donny, dialah yang terlihat paling bahagia.


Mia membersihkan dirinya, menggosok gigi dan mencuci muka walaupun tadi dia sudah melakukannya saat mandi. Donny juga melakukan hal yang sama di sampingnya, mereka tadi masuk kamar mandi bersama-sama. Donny yang memaksa, laki-laki itu terlihat seperti anak kecil yang selalu ingin mengikuti ibunya kemanapun.


Malam sudah semakin larut, Mia berusaha memejamkan matanya tapi rasa kantuk belum juga mendatanginya. Sepertinya dia sudah mulai terbiasa berasa di pelukan suaminya saat tidur, mencium wangi tubuh suaminya entah kenapa menjadi kesukaannya sekarang.


Suara pintu terdengar terbuka dengan pelan, “Kenapa belum tidur?”. Donny mematikan lampu utama yang terang benderang hingga tersisa lampu tidur yang menempel di  atas sisi kiri dan kanan tempat tidur dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan istrinya.


“Tunggu saya?”. Mia langsung menyembunyikan wajah merahnya di dada suaminya. Tapi Mia tidak melihat rona merah itu juga terlihat di wajah Donny.


 Dia memang tidak bisa tidur karena menunggu suaminya, tapi tentu saja dia tidak akan mengakuinya. Pelan-pelan Donny mengangkat kepala Mia yang terbenam di dadanya, dia mendogakkan wajah itu menatapnya dengan penuh cinta lalu perlahan kembali mempertemukan bibir mereka.


Donny selalu melakukannya dengan lembut, mengalirkan semua perasaan cintanya pada istrinya. Lalu sesuatu datang tiba-tiba saat ciuman itu berubah menjadi lebih dalam dan memabukkan.


“Boleh saya melakukannya lagi?”. Bibir merah muda yang basah itu sedikit terbuka dengan kelopak mata yang melebar. Lagi…?


Mia merapatkan bibirnya lalu menarik kedua ujungnya dan mengangguk pelan. Lalu malam itu mereka lewati dengan penuh cinta saling memberi kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. 


Donny merapatkan selimut di tubuh istrinya yang polos, wanita itu langsung tertidur setelah kelelahan meladeninya yang kecanduan dengan tubuh istrinya. Dia sudah menahannya selama bertahun-tahun bersama Natasya. Sebagai pria terhormat tentu saja dia tidak akan melakukan hal seperti itu bila belum ada hubungan pernikahan yang mengikat mereka.


Banyak koleganya menawarkan wanita padanya hanya untuk sekedar melakukan one night stand, tapi sekali lagi bahwa dia adalah laki-laki terhormat dari keluarga terhormat dan terpandang dia tidak akan melakukannya dan mencoreng nama baik keluarga dan juga nama baiknya sendiri.


Lagi pula, dia sangat menghormati seorang wanita. Dia tidak ingin memperlakukan seorang wanita seperti barang yang di buang setelah di pakai. Walaupun kadang ***** menganggunya tapi dia selalu bisa menahannya.

__ADS_1


Dan sekarang dia melampiaskan semuanya pada wanita yang dia nikahi secara terpaksa pada awalnya, pada wanita yang akan merubah seluruh rencana indah tentang masa depan yang sudah dia buat bersama mantan kekasihnya dulu.


Dia lalu merebahkan tubuhnya memeluk tubuh polos istrinya yang sudah tidak berdaya. Perasaan hangat mengalir memenuhi setiap inci di tubuhnya dan juga hatinya.


Tubuh itu menggeliat kecil bersamaan kelopak matanya yang terbuka lebar menyadari dia sedang tidak memakai apapun di tubuhnya sekarang. Donny yang sudah rapi dengan pakain kerjanya menghampiri istrinya, dia sedari tadi menunggunya bangun.


“Ini jam berapa?” tanyanya melihat ruangan yang sudah lebih terang walalupun sinar matahari tidak bisa menembus. Senyum hangat itu menyapa paginya, dia memegang selimut itu menutupi sampai dadanya.


“ini sudah jam delapan”.


“Kenapa Mas Donny nggak bangunin aku…. Aduhhh…”. Tulangnya terasa remuk, membutanya sedikit kesulitan saat akan bangun dari tempat tidur. Laki-laki itu hanya tersenyum tapi sesaat kemudian menunjukkan perasaan bersalahnya.


“Maafkan saya, saya pasti sudah menyakiti kamu”. Mia diam, dia merubah ekpresi wajahnya seceria mungkin agar suaminya tidak merasa seperti apa yang dia katakan.


“Mas Donny ke kantor aja, aku nggak apa-apa”.


“Bu Mira akan menemani kamu di sini”. Mia mengernyit, “untuk apa? Aku kan juga mau ke kantor?”. Ucapnya.


“Istirahat saja, tidak usah ke kantor”. Mia tidak menjawab, dia tidak mau berdebat tapi dia akan tetap melekukan pekerjaannya seperti biasa.


Donny memberi kecupan di setiap sisi wajah istrinya, mulai dari kedua matanya, turun ke hidung mancungnya, kedua pipi berakhir dengan ciuman mesra di bibirnya. Mia tersipu malu, jantungnya berdegup kencang mendapat perlakuan romantis dari suaminya.


Laki-laki itupun hilang di balik pintu. Mia memandangi pintu itu dengan pandangan yang tidak terbaca namun ada senyuman di bibirnya.

__ADS_1


“Aku akan melakukan apapun untuk mempertahankannya, aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya. Kali ini aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil apa yang memang sudah menjadi milikku. Untuk pertama kali dalam hidupku aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang aku inginkan”. Mia berbicara pada dirinya sendiri, meyakinkan dirinya bahwa dia sangat mencintai suaminya.


Tiba-tiba dia tersadar dengan suara ketukan Bu Mira, tidak perduli rasa pegal di sekujur tubuh juga di bagian intinta, Mia berjalan tertatih menuju kamar mandi. Dia harus segera berangkat ke kantor walaupun sudah terlambat. Dia akan mencari alasan di depan Manager kakunya itu.


__ADS_2