Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 87 Nasi campur


__ADS_3

Seorang wanita duduk di kursi pesawat dengan wajah pucat dan tangan bergetar yang saling meremat di atas pahanya. Di samping dan di belakangnya ada laki-laki yang menjaganya dengan ketat. Dia bahkan tidak tahu apa kesalahan yang telah dia lakukan hingga dia di perlakukan layaknya tahanan yang telah melakukan kejahatan besar.


“Kemana kalian akan membawaku?” pertanyaan itu sudah lebih dari sepuluh kali dia tanyakan, tapi bukannya mendapat jawaban, laki-laki di sampingnya malah menghardiknya dengan keras.


 Alfandy mendapatkannya, orang yang sudah menyambar Mia dengan sengaja. Monika. Sesuai perintah Donny, Alfandy mengirimnya ke negeri antah berantah di belahan dunia agar Mia tidak bisa melihatnya lagi. Tanpa sepeser uang dan hanya membawa pakaian yang melekat di tubuhnya. Mungkin itu lebih baik dari pada membuatnya tertidur selamanya. Donny tidak pernah mau menghilangkan nyawa orang lain. Tapi bukankah itu lebih kejam?


Wanita itu menyimpan dendam yang teramat dalam untuk Mia, dia sudah membecinya bertahun-tahun yang lalu hanya karena laki-laki yang dia inginkan sudah lebih dulu mencintai Mia. Dan saat dia melihat Mia bersenang-senang di Mall dengan membeli barang-barang mewah membuat dendamnya kian membara.


Wanita yang sudah menjadi penyebab utama hancurnya pernikahannya, kehilangan anaknya bahkan orangtuanya juga kehilangan perusahaan mereka sedang tertawa di atas penderitaannya. Tanpa dia sadari bahwa dialah penyebab dari semua hal buruk yang menimpanya, bahwa sebelumnya dialah yang menorehkan luka pada dua orang yang pernah saling mencintai dengan memisahkan mereka karena keserakahannya.


 ***


Kembali ke rutinitas pagi Mia, dia memuntahkan semua isi perutnya. Donny selalu menemaninya di depan closet dan mengurut pelan punggungnya. Obat yang di resepkan Dokter kandungan tidak terlalu bekerja padanya.


“Masih mau muntah?” Mia menggeleng lemah. Donny menggendongnya dan membaringkannya di tempat tidur. Sejak pulang dari rumah sakit, Donny tidak memperbolehkannya keluar kamar. Sebagai gantinya Donny tidak pernah pulang malam, tidak pernah bekerja di akhir pekan dan juga tidak membawa pulang pekerjaannya ke rumah. Kecuali yang paling penting. Hanya untuk yang paling penting.


Bu Mira masuk membawakannya susu hangat, hanya minuman itu saja yang bisa masuk ke perutnya kalau pagi.

__ADS_1


“Kau masih muntah”. Laura masuk bersama Johan, Donny yang melihat orang tuanya datang mengecup kening Mia lalu melangkah menuju kamar mandi.


Johan dan Laura belum kembali ke spanyol, mereka menunggu ulang tahun perusahaan sekaligus menemani Mia ketika Donny bekerja. Mia sangat senang di temani Papa dan Mama mertuanya. Donny sebenarnya berharap orang tuanya bisa menetap di Indonesia selamanya, tapi Johan sangat mencintai Spanyol. Itu sebabnya dia meninggalkan Oliver Group lebih cepat agar bisa menetap di negara itu selamnya.


Hanya tinggal Mia seorang diri ketika Donny keluar dari ruang ganti. Dia mendekati istrinya yang sedang membaca majalah dengan punggung yang bersandar pada sandaran tempat tidur dan kaki yang di luruskan. Dia mengambil majalah itu dan meltakkannya di atas nakas.


“Istirahat saja” Donny membaringkannya lalu menyelimutinya. “Kamu harus sehat sebelum ulang tahun perusahaan” ucapnya.


“Aku sudah sangat sehat, Mas. Di suruh keliling Mall juga aku sudah bisa” Mia langsung diam dengan memanyunkan bibirnya melihat tatapan Donny. Laki-laki itu kemudian terkekeh lalu mencium bibir merah muda milik istrinya.


Ciuman itu cukup panjang dan memabukkan, Donny melepasnya seseaat lalu kembali melu*mt bibir itu ketika istrinya sudah menghirup banyak oksigen. Mia mengalungkan tangannya ke leher suaminya, membuka bibirnya memberi akses pada suaminya menjelajahi bagian dalam bibirnya seperti yang sering mereka lalukakan.


“Mau titip sesuatu?” tanyanya sebelum meninggalkan kamarnya. Mia mengangguk cepat “mau makan nasi campur yang di dekat Wijaya Mandiri, tapi harus Mas Donny sendiri yang membelinya. Aku pasti tahu kalau bukan Mas Donny yang beli”. Mia memainkan alisnya menggoda suaminya sedangkan Donny membukatkan matanya.


Mana mungkin dia sendiri yang pergi membeli sesuatu apa lagi itu di tempat yang ramai dan… Donny menggelengkan kepalanya, tapi melihat senyum yang merekah di bibir istrinya membuatnya bersedia melakukan apapun.  


Saat ini Donny sudah berada di depan rumah makan nasi padang yang ada di dekat Wijaya Mandiri tempat Mia dan teman-temannya biasa makan siang. Donny masih duduk di dalam mobilnya, dia terlihat menimbang. Benarkah dia harus masuk kedalam sana dan juga bagaimana rasa makanan itu, sehatkah untuk istrinya yang sedang mengandung.

__ADS_1


Setelah mengatur nafasnya, Donny memutuskan keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah makan itu. Sontak saja dia menjadi perhatian semua orang yang ada di rumah makan itu.


“Mau pesan apa, Mas” tanya pelayan wanita dengan genitnya. Donny membelalakkan matanya tidak percaya mendengar seorang wanita yang bukan istrinya memanggilnya seperti itu. Dan juga tatapan wanita itu padanya membuatnya tidak nyaman.


Donny menyebutkan pesanannya, dia memberikan tiga lembar uang seratus ribu setelah mendapatkan pesanannya  lalu meninggalkan rumah makan itu tidak lupa mengucapkan terima kasih. Pelayan wanita yang genit itu mengejarnya bermaksud mengembalikan uangnya tapi Donny dengan langkah lebarnya segera masuk ke dalam mobil dan memerintahkan sopir dengan cepat meninggalkan tempat itu.


Alfandy tidak bisa menemaninya karena sedang sibuk menggantikan pekerjaan yang dia tinggalkan di kantor. Sementara Leo, Donny menghukumnya karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik padahal Mia berada tepat di depannya.


Donny mengirim Leo ke salah satu hotel di bawah naungan Oliver Group untuk menjadi room service selama sebulan penuh.


Dengan perasaan senang Donny membawa pesanan sang istri tercinta, dia sudah meminta Bu Mira memindahkannya ke piring. Bu Mira hanya mengulas senyum melihat Tuannya begitu bersemangat.


Mia sedang membaca majalah di balkon ketika dia masuk, wanita itu terkejut melihat suaminya sudah ada di depannya. Dia lalu memberi snyum manis dan kecupan di bibir agar suaminya itu tidak berceloteh karena melihatnya turun dari tempat tidur.


“Mas Donny kenapa pulang cepat?” tanynya dengan polos. “Bukannya kamu minta nasi campur. Kalau hanya makanan seperti ini, kamu bisa tinggal bilang sama Bu Mira”.


“Tapi aku sudah makan, Mama minta koki masak daging balado, tumis capcai, udang asam manis….”. Donny menelan ludahnya dengan kasar, “Jadi kamu sudah tidak mau ini?” tanyanya dengan kesal membayangkan pelayan wanita yang tadi memanggilnya Mas dengan genitnya. Mia hanya menggeleng melihat makanan itu tanpa selera.

__ADS_1


Donny menghela nafasnya pelan ‘Untung sayang, untung cantik’ batin Donny gemas.


“Balik ke tempat tidur ya” Mia memanyunkan bibirnya. “Bentar lagi ya, Mas. Udara di sini sejuk banget, lagi pula aku juga meluruskan kakiku jadi sama saja seperti di tempat tidur”. Mia kembali memberi senyuman manis pada suaminya, dan Donny selalu luluh dengan senyum itu. Dia menyambar bibir istrinya sekilas lalu mencium keningnya dan meninggalkannya menuju kamar mandi.


__ADS_2