Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 88 Ulang tahun perusahaan 1


__ADS_3

Keadaan Mia sudah jauh lebih baik menurut Donny, padahal sejak keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu Mia sudah merasa lebih baik. Mia sudah boleh ikut makan malam di meja makan setelah sebelumnya hanya boleh makan di kamar. Wajahnya berseri senang orang yang melihatnya pun ikut senang.


“Don, jangan lagi mengurung istrimu di kamar. Kau tidak lihat wajahnya sesenang itu bisa keluar kamar. Papa dulu tidak seposesif itu pada Mamamu”. Ucap Johan membela Mia, wanita itu mengangguk setuju.


“Tidak ada yang ingin menyakiti Mama dulu, Pa”. Suasana makan malam yang tadinya ceria tiba-tiba hening setelah Donny berbicara dengan nada kesal.


“Mas Donny hanya mau melindungi kamu dari siapun yang mencoba menyakiti kamu, kamu mengerti kan?”. Mia mengangguk pelan tanpa melihat suaminya.


“Bukan karena kamu jahat, tapi karena kamu terlalu baik jadi orang-orang iri pada kebaikan hati kamu”. ucap Donny mengelus tangan istrinya lembut. Mia mengubah wajah murungnya jadi senyum, dia benar-benar heran kenapa suaminya bisa selalu tahu apa yang dia pikirkan.


Melihat sang tokoh utama kembali tersenyum, makan malam pun berlanjut dengan nyaman.


Selain sudah boleh keluar kamar, Mia juga sudah bisa memegang ponselnya. Seminggu hanya berada di dalam kamar, tanpa ponsel atau televisi benar-benar membuatnya hampir gila. Untung Mama mertuanya selalu setia menemaninya.


Puluhan pesan dari Fiona, juga ada pesan dari Alex dan Cilla. Mia membalas semua pesan mereka satu persatu. Setelah membalas pesan mereka semua, Mia membuka sosial media mencari tahu apa saja yang sudah terjadi di dunia maya selama dia meninggalkannya seminggu.


 Matanya terbelalak mendapati sebuah berita, dia membukanya karena mengenal orang dalam berita itu.


“Mas, ini bukannya kakaknya Natasya?” tanyanya memperlihatkan layar depan ponselnya pada suaminya yang baru keluar dari ruang ganti. Donny mengambil ponselnya dan menyimpannya kembali ke tempatnya semula. Donny tidak menjawab pertanyaannya, dia meraba perut istrinya yang masih rata lalu sesekali menciumnya.


 “Sayang…” panggilan Donny yang seperti itu padanya memberi kesejukan sampai di dalam hati terdalamnya, apalagi Donny mengucapkannya dengan begitu lembut sambil membelai pipinya dengan tatapan yang begitu hangat.


“Jangan sakit lagi”. Mia tersentuh, dulu dia fikir hanya Dimas laki-laki yang bisa memperlakukannya seperti seorang putri. Tapi sekarang suaminya bahkan memperlakukannya seperti ratu yang sesungguhnya. Dia mendapatkan semuanya dari suaminya, berkali-kali lipat dari apa yang Dimas pernah berikan padanya.

__ADS_1


Donny memeluk istrinya, Mia bisa merasakan kehangatannya. Laki-laki itu mulai mencium setiap jengkal wajah istrinya, ******* bibirnya dengan pelan dan lembut seperti anak kecil yang memakan makanan kesukaannya sedikit-sedikit karena takut cepat habis.


Ciumannya berpindah ke leher lalu turun ke bahu. Setelah suaminya bermain di dadanya cukup lama,  Mia menahan tangan suaminya yang akan menurunkan celananya. “Mas Donny akan pelan-pelan”, jawabnya seperti tahu maksud istrinya.


Seperti ucapannya, Donny melakukannya dengan pelan melapiaskan hasratnya yang hampir dua minggu tidak tersalurkan. Dokter melarang mereka melakukan hubungan badan sampai Mia benar-benar pulih. Donny menahan dirinya dua minggu, dia hanya memberi ciuman pada istrinya dan bermain di dadanya karena tidak ingin melukai istri dan calon anaknya.


Besok adalah hari yang paling Donny nantikan, tahun-tahun sebelumnya saat ulang tahun perusahaan Donny tidak seantusias tahun ini. Kali ini ada yang berbeda, ada yang ingin dia tunjukkan pada semua orang.


“Don, Mama boleh ajak Mia membeli gaun untuk dia pakai besok?” tanya Laura berharap Donny memberi izin. Dia tidak mau lagi bersikap seenaknya seperti tempo hari.


“Donny sudah memesankan gaun untuk Mia, Ma. Sepasang dengan Donny”. Laura berdecak sedangkan Mia dan Johan tersenyum. Mia tersenyum karena senang mereka akan memakai baju couple, sedangkan Johan tersenyum karena melihat wajah kesal istrinya.


“Ajak Papa aja, biar kita juga bisa couplean. Masak kita kalah sama anak muda”. Johan menaik turunkan alisnya menggoda istrinya. Donny hanya geleng-geleng kepala melihat Papanya sedangkan Mia masih dengan senyum yang belum hilang dari wajahnya.


“Mau taruhan kalau baju kamu pasti pas kamu pakai?” Donny tersenyum nakal pada istrinya.


“Kenapa Mas bisa seyakin itu?” Donny mendekat dan memeluk istrinya, “saya memeluk kamu setiap hari, bagaimana mungkin saya tidak tahu ukuran kamu”. Mia memukul bahu suaminya dan laki-laki itu tekekeh mencubit pipi istrinya dengan gemas.   


“Besok pasti banyak yang hadir, dan pasti banyak orang-orang penting yang punya kedudukan tinggi. Iya kan?”


“Terus kenapa?” Mia memainkan tangannya di dada suaminya yang masih di lapisi baju tidur.


“Apa Mas nggak malu bawa aku ke sana?” Donny mengangkat kepalanya, dengan satu tangan yang menopang kepalanya bertumpu pada sikunya.

__ADS_1


“Saya justru akan bangga memperlihatkan kamu pada orang-orang, kenapa saya harus malu?”, Mia menatap suaminya yang berada sejengkal di atas kepalanya.


“Karna aku nggak punya apa-apa. Aku nggak seperti mereka yang punya segalanya” Donny menundukkan kepalanya mengecup bibir istrinya.


“Kamu punya sesuatu yang tidak di miliki siapapun”. Mia menaikkan sebelah alisnya, dia bingung. Memangnya apa yang dia punya. Yang dia punya hanya suaminya. Matanya lalu membulat. Donny seperti mengiyakan apa yang dia pikirkan.


“Kamu punya Donny Adriano sebagai suami kamu”. Mia tersenyum malu, dia menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada suaminya. Donny terkekeh dan mencium pucuk kepalanya berulang kali.


Setiap hari ini seluruh kantor Oliver Group di liburkan, perusahaan memberi bugdet kepada tiap-tiap cabang untuk yang berada di luar kota dan luar negeri untuk berpesta merayakannya. Dan pesta utamanya tentu ada di Jakarta, di mana Oliver Group berpusat.


Paket atas nama Donny sudah datang, Mia dengan girang membuka tiga buah kotak besar yang ada sudah tidak sabar melihat isinya. Kelopak matanya melebar setelah membuka kotak yang paling besar, sebuah gaun mewah berwarna putih bersih, dia mengankatnya dari kotak itu dengan hati-hati dan tidak berhenti mengaguminya.


Kota yang kedua berisi tas pesta yang yang mewah berwarna silver, warna senada dengan sepatu yang ada di kotak ketiga yang dia buka.


Mia tidak mau mengisarkan harganya, dari merknya dia bisa tahu kalau barang-barang yang ada di depannya ini pasti sudah menghabiskan banyak uang suaminya. Dia berlari kecil ingin mengecup bibir suaminya yang sedari tadi memperhatikannya.


“Mia, sayang. Jangan berlari seperti itu”, katanya lebih dulu menghampiri istrinya.


“Terimakasih, Mas”. dia kembali memberi kecupan singkat di bibir suaminya.


Donny mengusap kepalanya dengan sayang, istrinya selalu seperti itu. Dia mudah senang bahkan dengan hal-hal kecil yang Donny berikan padanya. Donny menagkup kedua pipi istrnya memberi ciuman mesra padanya. Mia mengalungkan tangannya dan membalas ciuman suaminya.


Ciuman itu terhenti saat Laura terdengar mengetuk pintu, wanita itu sangat penasaran seperti apa gaun yang Donny pilihkan untuk Mia, dia bisa cepat menggantinya bila itu tidak sesuai dengan acara nanti malam.

__ADS_1


__ADS_2