Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 90 Malam pertama yang terlewatkan


__ADS_3

“Kenapa Mas Donny tersenyum seperti itu padanya, Fi?” Fiona yang sedang menikmati cake kesukaannya yang kebetulan menjadi salah satu hidangan pada acara itu sontak mengalihkan pandangannya pada arah tatap Mia.


Terlihat Donny dan Natasya sedang bercerita dengan Donny yang tersenyum ramah padanya. Fiona menyimpan cakenya, meminum lemon squash seteguk lalu membalikkan Mia ke arahnya.


“Mi, kamu nggak lagi cemburukan?” Mia menundukkan wajahnya, ingin rasanya dia menangis saat itu juga. Entah kenapa hatinya seperti terbakar melihat Donny yang berbicara dengan Natasya, apalagi sekarang mereka hanya bicara berdua saja.


“Kenapa harus mengundang Natasya, apa Mas Donny mau pamer mantan kekasihnya pada semua orang?” Fiona membuka mulutnya tipis, “Kenapa kamu bicara seperti itu, kamu tidak dengar suami kamu bilang dia mencintai kamu di depan semua orang. Kamu mau bukti apa lagi kalau dia benar-benar sudah melupakan mantannya itu”. Fiona menggelengkan kepalanya. Kenapa Mia jadi merajuk seperti itu.


Bola matanya melebar ketika mengingat Mia sedang hamil, mungkin saja itu bawaan bayinya yang membuatnya jadi sensitif. Fiona lalu mengirim pesan pada Alfandy, dan memberi kode pada Alfandy dari kejauhan untuk melihat ponselnya.


Alfandy lalu meminta Fiona membawa Mia ke loby untuk menenangkan fikirannya sekaligus berakting layaknya Mia akan pulang. Alfandy akan membawa Donny ke sana secepatnya, dia sebenarnya juga tidak suka melihat Donny berbincang bersama Natasya walaupun dia bisa melihat tatapan Donny pada wanita itu sudah berbeda. Tapi tatapan Natasya pada Donny masih sama seperti dulu membuatnya tidak nyaman.


Mia sedang berada di pelukan Fiona saat Donny sampai ke loby.


“Mi, Tuan Donny ada di sini”, bisiknya. Donny melangkah mendekat istrinya , Fiona melepaskan pelukannya dan berdiri dari tempatnya saat Donny sudah memeluk bahu istrinya.


“Kamu sakit?” Donny menjadi panik melihat matanya yang berair, pikirnya istrinya sedang menahan sakit sampai menangis.


“Aku mau pulang”, ujarnya denga suara serak menahan tangis.


“Kamu sakit?” Donny sekali lagi bertanya, dia sangat benar-benar khawatir. Donny menatap Fiona dan Al, kedua orang itu bingung bagaimana carany memberi tahu Donny kalau istrinya sedang kesal padanya.


Alfandy memberanikan diri mendekat dan membisikkan sesutau kepada Donny, mata laki-laki itu membulat lalu tersenyum melihat istrinya.


“Ayo”, Donny membawa Mia ke kamar yang khusus untuknya di hotel ini, tempat di mana mereka menginap setelah menikah di hotel yang sama. Mia menurut saja saat Donny menuntunnya.

__ADS_1


Mereka tiba di kamar itu, Donny membawa Mia masuk ke dalam kamar dan mengambil remote untuk menyalakan lampu.


Mia tercengang melihat kamar itu yang sudah di ubah bak kamar seorang pengantin baru yang akan melakukan malam pertama. Bunga mawar merah menghiasi lantai dan tempat tidur, juga ada bentuk love besar di atas tempat tidur. Balon berwarna merah dan merah muda tertempel cantik di langit-langit kamar.


Donny sudah mempersiapkan semuanya untuk istrinya, hal yang seharusnya Mia lihat saat malam pernikahan mereka. Mia terpaku untuk sesaat lalu bayangan saat Donny tersenyum pada Natasya kembali mengganggu ingatannya.


“Aku mau pulang”, Donny memeluknya, air matanya tumpah tanpa tertatahan.


“Sayang, Mas Donny dan Natasya hanya berbincang-bincang. Dia bertanya kabar Mas Donny dan Mas Donny menjawabnya….” Tangisnya semakin pecah.


“Kenapa dia menanyakan kabar Mas Donny, dia mau kembali lagi sama Mas Donny”. Donny menghela nafasnya, lalu kembali memeluk istrinya.


“Tidak mungkin Mas Donny dan dia kembali lagi, seperti kamu yang sudah mengubur masa lalu kamu, Mas Donny juga sudah menguburnya. Tidak ada yang tersisa, selain hubungan sebagai teman”. Donny kembali menghela nafasnya saat melihat air mata bercucuran dengan deras di pipi istrinya. Dia sepertinya salah lagi menyebutkan bahwa dia dan Natasya sekarang hanya berteman.


“Mas Donny bilang apa tadi?” Donny menaikkan alisnya “Tidak akan membuat hubungan apapun dengannya?” Mia menggelng, “Bukan Itu, kalimat yang pertama”


“Mas Donny mencintai kamu?” Mia mengangguk cepat, sudah lama dia ingin mendengar kata itu dari suaminya. Pertanyaan yang dulu tidak mendapat jawaban. Donny tersenyum, sepertinya ini saatnya melakukan rencananya.


Donny berdehem untuk memberinya kepercayaan diri. Dia mengambil buket bunga yang sudah di rangkai dengan indah lalu memberikannya pada istrinya.


“Mia, saya tidak tahu caranya merangkai kata-kata romantis. Saya juga tahu pernikahan kita tidak di awali dengan cinta bahkan saya membuat kamu salah faham di awal pernikahan, saya juga sudah menampar kamu”. Donny membelai lebut pipi basah istrinya, tempat dimana dia pernah menempelkan telapak tangannya dengan keras. Mia mendengarnya dengan sesegukan.


“Tapi saya bisa pastikan kalau saya akan memberikanmu cinta yang tidak ada habisnya di sepanjang hidup saya. Jadi saya mohon jangan pernah meragukan cinta saya”. Wanita itu tergugu, diam mencerna kata-kata suaminya dengan otaknya yang sudah berfungsi dengan normal.


“Apa kamu juga bersedia memberikan cinta kamu untuk saya?” Mia menghambur memeluk suaminya, dia harusnya tahu betapa suaminya sangat mencintainya.

__ADS_1


“Aku sudah memberikan cinta itu sejak dulu, aku sudah mencintai kamu sejak lama”. Ucapnya memeluk erat suaminya. Donny mengurai pelukannya, lalu menatap istrinya. dia tersenyum lalu mencium keningnya.


“Sudah tidak cemburu lagi?”, Mia menggeleng pelan, dia malu pada sikapnya sendiri yang tidak percaya pada suaminya.


“Maafin aku ya, Mas”, Mia kembali memeluk suaminya, Donny mengusap surainya dengan lembut. Lalu kembali mengurai pelukannya.


“Kamu suka dekorasi kamarnya?” Mia mengangguk cepat “Tapi kenapa tiba-tiba Mas Donny melakukan semua ini, hari ini kan hanya hari ulang tahun perushaan bukan ulang tahun pernikahan kita?”


“Ini semua sebagai ganti malam pernikahan kita, dan juga anggap saja tadi Mas Donny sedang melamar kamu”. Donny baru ingat kalau dia juga sudah menyiapkan cincin, dia mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku jasnya.


 “Tadi kan sudah”. Ucapnya melihat cincin itu melingkar di jari manisnya.


“Yang tadi lain, sekarangkan Mas Donny sedang melamar kamu”. ucap Donny menggoda istrinya.


“Telat ya, kita sudah menikah dan sudah punya bayi di perut kamu tapi acara lamarannya baru sekarang”. Mereka berdua tersenyum. Baik Mia atau Donny tidak pernah membayangkan akan ada cinta di dalam pernikahan mereka.


“Jadi apakah kita sudah bisa melakukan malam pertamanya”. Wajah Mia memerah, “Mas…”.


“Lamarannya sudah, acara pernikahannya juga sudah. Bahkan sekarang kamar kita sudah di hias seperti kamar pengantin, tinggal melakukan malam pertama”. Donny tergelak melihat wajah malu istrinya.


“Sudah ada hasilnya di perut, kok masih ada malam pertama”. Protes Mia,


“Supaya lengkap”. Donny tidak menahannya lagi, dia menyatukan bibir mereka secept kilat saat Mia belum siap. Mia perlahan-lahan menerimanya dan mulai membalas ciuman panas suaminya.


Mereka melakukan malam pertama yang terlewatkan, kembali saling memberi sentuhan-sentuhan yang memabukkan. Donny selalu melakukkannya dengan hati-hati sejak istrinya hamil, tapi tidak mengurangi rasa dalam percintaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2