
Donny merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sebelah tangannya menjadi bantal di kepalanya sementara Mia menelungkupkan tubuhnya di atas tubuh kekar suaminya. Donny paling menyukai posisi seperti itu saat sedang bercerita denga istrinya. dia bisa melihat wajah cantik istrinya dengan sangat jelas.
Sejak tadi pembahasan Mia hanya Fiona dan Alfandy. Donny meyakinkan Mia bahwa Al laki-laki yang baik, dia memang terlihat dingin dan kaku tapi sebenarnya dia orang yang hangat dan setia.
“Al tidak pernah sekalipun melirik wanita, tidak ada yang pernah membuatnya tertarik. Bila Fiona bisa mengalihkan perhatiannya, berarti Fiona orang yang spesial untuknya”. Ucap Donny, dia akan berada di pihak Al. Donny juga ingin melihat Alfandy menjalani hidupnya dengan normal seperti yang lain dan bukan hanya mengurus dirinya dan Perusahaan.
“Jangan cemaskan mereka lagi, mmm”. Mia mengerucutkan bibirnya, Donny menaikkan kepalanya mencium bibir itu, dia membalik tubuhnya dan sekarang dia berada di atas tubuh istrinya.
Donny menciumi seluruh bagian tubuh istrinya, Mia di buat geli karenanya.
“Mas…” Donny bergumam. “Bagaimana dengan perjanjian yang pernah kita tandatangani?”. Donny mendongakkan kepalanya sejenak menghentikan aktifitasnya di atas tubuh istrinya yang sudah setengah polos.
“Kenapa, kamu mau mengubah isinya?” Donny kembali melanjutkan aktifitasnya, menenggelamkan kepalanya di dada istrinya. Mia mengangkat kepala Donny dengan telapak tangannya.
“Aku serius”. Donny menghela nafas, mengancing kemejanya yang di pakai Mia lalu kembali menaikkan istrinya itu di atas tubuhnya.
Dia memang belum pernah menceritakan pada istrinya menegnai perjanjian itu, bukan karena menurutnya perjanjian itu sudah tidak penting tapi karena dia benar-benar lupa untuk menceritakannya.
“Kenapa kamu membahas perjanjian itu lagi?”katanya memainkan surai panjang Mia. “Tadi Mas bilang mau mengubah isinya”. Donny tersenyum. “Memangnya kamu mau ubah bagaimana?”. Mia mengubah ekpresi wajahnya, dia menjadi takut kalau perjanjian itu akan menjadi bomerang dalam pernikahannya.
Walau bagaimanapun mereka pernah membuat perjanjian yang sah di mata hukum, perjanjian yang di tanda tangani di atas materai dan di saksikan pengacara. Perjanjian itu akan berakhir beberapa hari lagi.
Donny terkekeh dan menarik hidung istrinya. “kertas-kertas yang dulu kamu tanda tangani sudah saya bakar, tidak tersisa satu lembarpun”. Mia terperanjak, tiba-tiba dia bangun dan duduk di atas perut suaminya.
__ADS_1
Di posisi seperti itu membuat Donny tidak bisa menahan dirinya lagi dan melanjutkan aktifitas yang tadi tertunda. “ sekarang kamu adalah istri saya, satu-satunya wanita yang akan menemani saya seumur hidup”. Bisiknya mesra di telinga istrinya.
Kertas yang mereka tanda tangani sudah Donny bakar, dia yang langsung membakarnya dengan kedua tangannya sejak malam di mana pertama kali mereka melakukan hubungan suami istri. Perjanjian enam bulan pernikahan tidak berlaku lagi, sekarang mereka hanya terikat perjanjian sehidup semati.
Donny mencium kening istrinya yang tertidur setelah mereka selesai dengan aktifitas panasnya. Dia mendekatkan tubuh polos itu padanya dan memeluknya, memeluknya dengan sangat erat seolah takut seseorang mungkin akan mengambilnya.
“Mas, aku mau ke Mall ya”, ucap Mia saat mereka sarapan. “Mau saya temani, kita bisa sekalian makan siang”. Donny menawarkan dirinya, dia selalu senang menemani istrinya kemanapun jika memang memiliki waktu senggang. Tapi Mia justru merasa sebaliknya.
Jika hanya berdua saja dengan suamninya tentu saja menyenangkan, tapi orang-orang yang selalu mengikuti di belakang mereka membuatnya sedikit risih. Apalagi bila itu di jam kerja, suaminya itu menjadi pusat perhatian dengan pakaian formalnya yang mencolok di antara yang lain. Belum lagi wajah tampannya, banyak wanita kadang memandanginya dengan tatapan memuja membuatnya merasa tidak nyaman.
“Kamu pikir saya tidak keberatan jika ada laki-laki yang memandangi kamu atau mengagumi kecantikan kamu?” Mia menghentikan tangannya yang akan memasukka roti ke mulutnya yang sudah terbuka.
“Mas memang punya kemampuan membaca pikiran aku yah?”. Donny tergelak, mengarahkan tangan Mia yang masih memegang sepotong roti masuk ke mulut istrinya.
Mereka ternyata sudah membalikan badannya. Pipinya merah karena malu, dia mencubit perut suaminya. Yang di cubit bukannya meringis malah tertawa terbahak-bahak.
“Mas, jangan gitu yah di depan orang lain”. Mia sudah memasang wajah tidak sukanya berarti dia sedang serius, tapi suaminya yang nakal itu malah kembali mengecup bibirnya di depan Leo.
“Mas….”, teriaknya kesal. Dia melirik Leo tapi Leo sudah mengalihkan pandangannya ke tempat yang lain.
“Leo akan mengantar kamu sebentar”. Ucap Donny sebelum masuk ke dalam mobil. Mia mengangguk masih dengan wajah cemberutnya. Donny langsung masuk ke dalam mobil yang sudah di Buka Leo sedari tadi. Jika lebih lama melihat wajah cemberut istrinya, mungkin dia akan membuatnya kesal lagi karena menciumnya.
Leo sudah sering melihat Donny tersenyum pada orang-orang, tapi senyuman yang terukir di bibirnya akhir-akhir ini terlihat berbeda dari biasanya. Sebuah senyum yang memancarkan kebahagian dari hatinya, bukan senyum formal agar terlihat sopan dan menghargai.
__ADS_1
Selama bersama Natasya pun Tuannya itu tidak pernah memperlihatkan senyum bahagia setelah mereka bertemu, justru lebih banyak menghela nafas dengan memejamkan matanya. Sekarang Donny malah kadang tergelak sendiri di kursi penumpang, entah apa yang membuatnya sampai seperti itu.
“Kamu langsung pulang saja, Leo. Nyonya mau keluar”, Perintah Donny. “Baik, Tuan”, jawab Leo.
“Jaga istri saya baik-baik, Leo. Tetap di belakangnya dan jangan meninggalkannya”. Perintahnya lagi dengan tegas dan ada penekanan di setiap katanya. Leo jadi merinding.
“Baik, Tuan”. jawab Leo.
Mia sudah sampai di Mall, dia tidak keberatan Leo mengikutinya walau kadang Leo juga menjadi perhatian orang-orang terutama wanita. Leo lumayan tampan, kulitnya hitam manis tapi bersih. Tubuhnya tinngi besar membuatnya terlihat macho dalam balutan kemeja hitam ketat yang lengannya di gulung sampai siku. Belum lagi kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya membuatnya semakin terlihat keren.
“Leo”.
“Iya, Nyonya”.
“Kamu nggak punya pacar, masak kalah sama Al”. Hati Leo seperti di tusuk duri mendengarnya, dia juga tidak percaya Alfandy yang kadang menjengkelkan itu sudah punya calon pasangan hidup dan itu adalah Fiona, sahabat Nyonya mudanya yang tidak kalah cantik.
Leo baru akan menjawab tapi dia melihat Nyonya mudanya nya sudah mematung di tempatnya dengan wajah pucat. Leo mengikuti arah pandangnya. Ada seorang laki-laki yang mungkin seumuran Donny sedang memegang tangan anak perempuan.
“Nyonya anda tidak apa-apa”, Leo berusaha mengembalikan kesadarannya tapi Nyonya mudanya tampak sedang hanyut dengan pikirannya. Leo ingin menyentuh bahunya tapi tentu saja dia tidak berani.
“Mas Dimas…” Mia menyebut nama itu tanpa suara.
Separuh hatinya ingin berlari ke arah laki-laki itu, memeluknya melepaskan kerinduan yang tiba-tiba menyeruak di hatinya, tapi separuh hatinya yang lain ingin melangkah mundur dan menghilang menjauhkan laki-laki itu dari pandangannya.
__ADS_1
Mia masih membeku di tempatnya, dia sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya seolah pandangannya terkunci pada objek yang menjadi sumber kebekuannya sampai sebuah sosok yang sangat akrab berdiri di depannya dan menghalangi pandangannya dari laki-laki itu.