Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 85


__ADS_3

Dua wanita itu sudah sampai di kantor pusat Oliver Group. Laura menggenggam tangan menantunya menunjukkan pada semua orang bahwa dia menyayangi istri dari anaknya itu. Karyawan senior yang mengenal Laura menunduk hormat padanya sementara yang baru dan belum mengenalinya hanya menyapa Mia dan menunduk hormat padanya.


Mereka sudah sampai di lantai tertinggi gedung itu, sekertaris wanita berdiri dari duduknya dan menghampiri mereka.


“Selamat datang, Nyonya” sapa mereka pada Laura dan Mia.


“Suami dan anakku ada di dalam kan. Apa mereka ada tamu penting”. Tanya Laura beruntun.


“Hanya ada beberapa Direktur yang datang untuk menyapa Tuan Besar, Nyonya”. Laura mengangguk lalu menarik tangan Mia.


Pintu ruangan itu terbuka, Donny langsung berdiri dari duduknya ketika melihat istrinya ada di depannya.


“Kenapa keluar rumah, kau masih sakit dan harus banyak istirahat”. Donny menghampiri istrinya lalu memapahnya duduk di kursi kebesarannya.


“Mama mau mengajaknya shoping, tapi dia bilang harus minta izin padamu dulu”. Donny menatap Mamanya dengan kesal.  Dia salah sudah menitipkan Mia pada Mamanya. Bukannya menjaganya di rumah, Laura malah membawa Mia keluar rumah.


“Mas, aku ada yang aku mau beli. Boleh ya aku ke Mall sama Mama”. Donny menghela nafasnya dengan kasar. Dia duduk berjongkok di depan istrinya.


“Sayangnya Mas Donny yang cantik, kalau kamu mau sesuatu kamu bisa tinggal bilang pada Bu Mira. Tidak perlu kamu yang mencari sendiri”. Mia memasang wajah cemberutnya. “Aku malu”. Ucapnya.


Mereka tidak sadar ada banyak pasang mata di ruangan itu yang sednag memperhatikan mereka. Mia yang merengek manja pada suaminya dan Donny yang mulai posesif dengan melarang ini dan itu pada istrinya.


Akhirnya Mia mendapatkan izin dari suaminya dengan perjanjian Mia tidak boleh lelah atau sampai terluka lagi. Laura sejak tadi diam saja memperhatikan mereka, dia ingin lihat bagaimana Mia membujuk suaminya dan ternyata dia berhasil. Donny memang sangat menyayangi istrinya.

__ADS_1


Dua wanita beda usia itu meninggalkan ruangan utama di gedung itu. Donny menghubungi Leo agar mengantar Mama dan istrinya lalu menghubungi Alfandy untuk mengirimkan anak buahnya untuk menjaga dua wanita kesayangannya.


 “Apa sejak awal pernikahan Donny memperlakukanmu dengan baik?”, Laura tahu dia tidak berhak bertanya seperti itu karena dia saja tidak pernah memperlakukan Mia dengan baik sejak awal. Mia jadi kembali teringat saat pertama dia memasuki rumah itu. Donny memang baik padanya, dia saja yang selalu salah faham pada suaminya.


“Mas Donny baik, dia memperlakukan Mia dengan baik sejak awal”. Laura terlihat tersenyum, apa yang dia ragukan dari putranya, dia tahu anaknya bukan laki-laki yang dingin yang suka bersikap kasar apalagi pada seorang wanita. Laura tidak tahu saja kalau anak kesayangannya itu pernah menampar istrinya sampai dia sakit karena menangis semalam di kamar mandi karena Mia menyebut kekasihnya wanita murahan.


Laura ingin menanyakan tentang Natasya tapi urung di lakukan, biarlah Natasya terkubur di dalam masa lalu anaknya.


Mereka sudah sampai di Mall. Mia mengatakan kalau dia ingin membel bra, semua branya sudah tidak muat karena dad*nya semakin membesar. Laura terkekeh, Mia sampai menunduk karena wajahnya menjadi merah. Mama mertuanya pasti berfikir yang tidak-tidak.


Laura membawanya ke toko pakaian dalam dengan brand ternama, Mia tidak lagi menolak dengan hal-hal mewah. Dia mulai membiasakan dirinya dengan mengikuti gaya hidup suaminya, toh tidak ada ruginya juga untuknya.


Setelah membeli banyak pakaian dalam, Laura membawanya ke toko tas branded. Dia membelikan menantunya banyak tas dengan keluaran terbaru. Begitu juga dengan pakaian dan sepatu. Laura memelikannya banyak sekali barang-barang mewah.


“Ma, kita istirahat sebentar ya, kaki Mia sudah pegal”. Laura menepuk keningnya pelan, saking asyik berbelanja dia sampai lupa kalau menantunya itu sedang hamil. Donny bisa mengamuk kalau terjadi apa-apa dengan istrinya.


“Apa yang Mama lakukan?” tanya terkejut.


“Mama mau memijat kaki kamu, kamu bilang kaki kamu pegal kan”. Ucap laura dengan lembut. Mia menolak dengan halus, merasa tidak pantas melihat seorang Nyonya besar duduk menunduk di depannya apalagi sambil memijat kakinya.


“Kalau begitu kita pulang saja ya” Ajak Laura. Mia terlihat menimbang, dia masih ingin berkeliling Mall menghilangkan penat berhari-hari berbaring di kasur, tapi dia juga sudah sangat lelah padahal baru beberapa jam berkeliling. Biasanya dia bisa seharian berkeliling Mall bersama Fiona.


Dengan terpaksa Mia akhirnya mengangguk setuju, padahal Laura juga sebenarnya masih ingin membelikanya banyak barang. Semua belanjaan mereka sudah di bawa oleh pengawal yang mengikuti mereka dalam diam sejak tadi. Leo yang mengambil semua belanjaan itu dan memberikannya pada pengawal.

__ADS_1


Laura kembali memapahnya, merangkul dan memegangnya.


“Laura, kaukah itu?” seorang wanita yang sebaya dengannya berjalan menghampi mereka, Laura tersenyum dan melepaskan tangannya dari Mia untuk memeluk wanita yang tadi menyapanya.


“Sudah lama ya kita tidak bertemu”, kata wanita itu “Siapa gadis cantik ini?” tanyanya melirik ke arah Mia. “Dia menantuku”, jawab Laura dengan bangga memperkenalkan Mia pada teman baiknya.


Mia menunduk dengan senyum menyapa teman Mama mertunya dengan sopan. Mereka bicara sambil jalan karena sama-sama buru-buru. Tiba di depan tangga eskalator, kedua teman lama itu kembali berpelukan dan saling menabrakkan pipi mereka sebelum berpisah.


Tiba-tiba seseorang muncul entah dari mana dan menyambar Mia dengan keras membuatnya terhunyung kehilangan keseimbangannya. Laura segera menarik tangannya hingga Mia jatuh meninpa tubuh mertuanya. Leo tidak bisa berbuat apa-apa mengingat semuanya terjadi begitu cepat.


Beberapa orang terlihat mengejar orang yang tadi menabrak Mia, dan yang lainnya mendekat ke arah Mia dan Laura seolah menjadi tameng untuk kedua wanita itu.


“Kau tidak apa-apa sayang?” tanya Laura khawatir, Mia menggeleng “tidak apa-apa, Ma”, jawabnya. Tapi wajah piasnya tidak bisa menutupi sakit yang tiba-tiba di perutnya.


“Mama sendiri?” tadi punggung Laura terbentur cukup keras di lantai. Tapi dia masih bisa menahannya, mengabaikan sakitnya dan lebih mengkhawatirkan menantunya yang sedang hamil.


“Kita kerumah sakit ya”. Dengan tertatih Laura merangkul Mia untuk segera membawanya ke rumah sakit. Semetara beberapa orang berpakaian setelan jas lengkap berjalan di depan dan di belakang mereka, entah dari mana mereka tiba-tiba saja muncul.


Leo memacu kemudinya dengan cepat, melihat dua wanita di kursi penumpang sedang meringis menahan sakit masing-masing karena tidak mau saling mengkhawatirkan.


Mobil sudah sampai di rumah sakit, Leo sudah memberi kabar pada Al tentang apa yang terjadi. Terlihat Rafael berlari dari dalam dan menghampir wanita setengah baya yang baru saja keluar dari Mobil.


“Mama”. Serunya lalu memperhatikan wanita itu dari atas kebawah, memutar depan belakang mencari luka yang ada. Wanita itu memuku bahu Rafael. “Mama tidak apa-apa, Raf. Cepat lihat keadaan Mia”.

__ADS_1


Rafeal membantu Mia, lalu menidurkannya di brankar dengan hati-hati. Dia juga meminta di bawakan kursi roda untuk Laura.


Kedua wanita itu sekarang berada dalam penanganan ahlinya masing-masing.  


__ADS_2