Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 61 Terlambat


__ADS_3

Donny mendapati istrinya sedang terlelap di atas tempat tidur. Selimut hanya menutupinya sebatas pinggang. Donny melihat istrinya memakai kemejanya, dia memberi kecupan di keningnya sebelum meninggalkannya untuk mengganti pakaian.


“Mas Donny kapan pulangnya”, Mia terlonjak kaget saat melihat suaminya sudah duduk di sofa dengan tabletnya.


“Tadi siang”. Mia mengernyit, “Mas Donny nggak kerja?”. Tanyanya heran. Donny meletakkan tabletnya dan mendekati istrinya.


“Saya bolos kerja”, Mia menarik sudut bibirnya. “Iya, iya tahu. Mas Donny kan Bossnya”, ucap Mia.


“Aku pakai kemeja Mas Donny lagi, maaf. Aku ganti baju dulu”. Donny menarik tangannya sehingga Mia jatuh kembali ke tempat tidur. Selimut yang tadi menutupinya tersibak memperlihatkan pahanya yang putih bersih.


“Nggak usah di ganti, kamu boleh pakai semau kamu”. Suara Donny berubah serak, Mia membulatkan matanya ketika Donny semakin mendekatkan wajahnya. Donny kemali menyatukan bibir mereka, Mia yang awalnya terkejut lalu mulai bisa menguasai diri. Seperti biasa dia selalu bisa membalas ciuman suaminya.


“Boleh saya melakukannya?”. Mia melepaskan tanganya dari leher suaminya, dia menangkup pipi suaminya dengan telapak tanganya dengan senyum manis yang terukir di wajahnya dia mengatakan “Mas adalah suami aku, Mas tidak perlu meminta ijin padaku kalau mau melakukannya”.


Donny tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya mendengar apa yang di katakan Mia, dia merasa sangat bersyukur Papanya telah memaksanya menikah dengan wanita itu.


Dan merekapun melakukannya, saling memberi kepuasan batin walaupun langit masih cerah di luar sana.


Donny menggendong istrinya ke kamar mandi, mereka mandi bersama untuk yang pertama kali. Dan mandi yang biasanya hanya lima belas menit itu berubah menjadi satu jam lebih, mereka melanjutkannya lagi di sana.


Mereka seperti pengantin baru yang menikah karena saling jatuh cinta, menikmati malam pertama yang terasa memabukkan. Malam pertama yang sangat terlambat.


“Apa ini, Mas?” Mia menunjuk kotak dan juga paper bag yang tadi di antar Bu Mira ke kamar.


“Saya mau ajak kamu ke suatu tempat, nanti siang Al akan menjemput kamu. Kamu pakai semua ini ya, dan juga dandan yang cantik”. Wajahnya merona lagi, membayangkan Donny akan mengajaknya ke suatu tempat yang romantis. Tapi kenapa siang, bukannya hal romantis kadang terjadi di malam hari.

__ADS_1


Mia mengambil sepatu dari tangan Donny lalu duduk berlutut memakaikan sepatu untuk suaminya. Tapi Donny menahan tangannya sebelum dia benar-benar melakukannya.


“Apa yang kamu lakukan, Mia”, ucapnya tidak suka. “Kamu adalah istri saya, bukan pelayan”. Ucapnyalagi dengan tegas.


“Aku memang istrinya Mas Donny, karena itu aku mau memakaikan sepatu untuk Mas Donny. Aku sekarangkan pengangguran, jadi aku mau mengurus suamiku saja dan ini salah satunya”. Donny masih tidak terima dengan alasan Mia walaupun hatinya juga berdebar mendengar alasan istrinya.


“Kamu mengurus yang lain saja, saya bisa pakai sepatu saya sendiri”. Mereka pun akhirnya berdebat tentang siapa yang akan memakaikan sepatu, Mia merasa ini adalah tanda baktinya pada suaminya sedangkan Donny berfikir tidak layak membiarkan istrinya berlutut di depannya dan memakaikannya sepatu.


Perdebatan itu di menangkan Mia, dengan telaten dia memasangkan sepatu itu di kaki suaminya. Dia juga membantu Donny dengan dasinya. Donny sudah merasa menjadi suami paling bahagia di dunia.


Kecupan lembut Mia berikan sebelum mereka akhirnya keluar kamar dengan bergandengan tangan. Pemandangan yang sangat indah di pagi hari yang cerah.


Setelah selesai sarapan Mia mengantar suaminya sapai ke pintu utama, Donny memberi kecupan di kening sebelum masuk kedalam mobil yang sudah di buka Al. Mia masuk kembali setelah mobil yang di tumpangi suaminya tidak terlihat lagi.


“Maafkan kami, Tuan. Kami sudah menahannya tapi nona itu memaksa masuk. Donny mengernyit.


“Siapa?” tanya Donny sebelum melangkah masuk ke dalam ruangannya.


“Katanya kekasih Tuan Donny”. Sekertaris wanita itu memelankan suaranya bahkan sampai hampir tidak terdengar karena takut. Donny langsung masuk ke dalam ruangannya.


Natasya berdiri memberi senyum manisnya pada Donny. Donny mempersilahkannya kembali duduk, lalu dia juga ikut duduk di sofa yang berseberangan. Al masuk ke ruangan itu setelah memberi ceramah panjang pada dua sekertaris wanita itu.


“Ada apa, Na?” Natasya melirik Alfandy, laki-laki itu sedang memberi tatapan seakan akan menelannya mentah-mentah.


“Aku ingin kita kembali seperti dulu Don”, katanya. “Aku sudah melepaskan semuanya, aku sudah siap menikah dengan kamu kapanpun kamu mau”. Donny menarik nafasnya pelan, matanya sedang menatap intens gadis di depannya itu.

__ADS_1


“Terlambat, Natasya. Bukankah saya sudah mengatakannya tempo hari”. Natasya berdiri, dia berpindah duduk di samping Donny. Gadis itu mengalungkan tangannya dilengan Donny dan menyandarkan kepalanya di bahu seperti yang biasa dia lakukan dulu.


“Beri saya kesempatan sekali lagi Don, saya akan buktikan bahwa kamu hanya sedang bimbang. Biarkan saya tetap di samping kamu beberapa hari dan kamu pasti akan melupakan gadis itu”. Donny melepaskan tangan Natasya dengan lembut. Laki-laki itu memang selalu hangat dan lembut.


“Saya sudah tidak bisa melepaskan dia, Na. Saya, saya jatuh cinta padanya. Maafkan saya”. Seperti seorang yang sedang mengemis, seperti itulah Natsaya sekarang. Dulu Donny juga bahkan mengemis padanya untuk meninggalkan segalanya dan menjadi istrinya tapi dia mengabaikannya. Dan sekarang saat dia sudah bisa melepas sumuanya Donny justru menemukan wanita yang tepat yang membuatnya berpaling dari cinta yang melelahkan hatinya.


“Apa sudah tidak ada kesempatan lagi”. Air matanya jatuh, dia menyadari laki-laki di hadapannya ini sudah tidak lagi seperti dulu. Penyesalan pun datang menggerayangi hatinya.


Dia menunduk, membiarkan air matanya berjatuhan. Donny merasa terluka melihat wanita yang pernah dia cintai menangis tanpa mengeluarkan suara.


Dia mendekatinya, mengusap lembut surai hitam panjangnya. “Maafkan saya, Natasya. Kamu tahu saya sangat mencintai kamu dulu. Saya bahkan sudah merencanakan banyak hal untuk kamu agar kamu tidak merasa tertekan saat menjadi istri saya. Tapi kamu menyia-nyiakan itu kesempatan terakhir yang saya berikan. Sekali lagi, maafkan saya”. Air matanya semakin mengalir deras. Dia memeluk Donny dan menangis di pelukan laki-laki itu. bagaimana dia bisa begitu bodoh memilih karir dari pada laki-laki yang begitu tulus seperti Donny.


Alfandy membuang mukanya melihat kejadian itu. Dia tidak punya sedikitpun rasa kasihan pada Natasya. Gadis itu pantas mendapatkannya.


“Aku yang seharusnya minta maaf, karena keegoisanku aku membuat kamu menunggu begitu lama. Maafka aku”. Ucapnya begitu sendu. Donny mengurai pelukannya, tangannya terulur membasuh air mata di pipi mantan kekasihnya.


“Hiduplah dengan baik, Na. saya akan selalu ada kalau kamu membutuhkan bantuan”. Natasya mengangguk pelan. Hatinya sakit seperti tertusuk ribuan pisau.


“Apa kamu bahagia bersamanya?”, senyum yang terukir tiba-tiba di bbir Donny sudah menjawab pertanyaan Natasya tanpa Donny menjawab sekalipun. Gadis itu mengangguk, dia sudah mengetahui jawabannya.


‘Aku kalah, bahkan aku sudah kalah sebelum aku melakukan apapun’ ucapnya lirih. Al mengantarnya keluar sampai di depan pintu utama.


“Saya harap anda tidak akan mengganggu Nyonya Muda. Saya tidak akan tinggal diam kalau anda  menyentuhnya sedikit saja bahkan bila Tuan Donny bisa memaafkan anda”. Natasya idak memperdulikan ucapan Al, memangnya apa yang dia akan lakukan. Dia bukan wanita jahat yang akan mengganggu kebahagian orang lain.


Dia menerima kekalahannya karena menyadari sepenuhnya adalah kesalahannya, walaupun hatinya sangat terluka dengan kenyataan itu.

__ADS_1


__ADS_2