
Setelah selesai di dandani, Donny meminta orang-orang keluar dari kamarnya. dia ingin memperhatikan keindahan itu dengan seksama. Gaun putih yang dia pilihkan sangat cocok di tubuh istrinya, gaun yang menjuntai panjang bahkan bisa menyapu lantai.
Bagian lehernya yang tidak memperlihatkan belahan dadanya di hiasi dengan manik-manik yang berkilauan, lengan pendek gaun itu menutupi bahu putihnya. Rambutnya di biarkan tergerai dengan jepitan di sisi kiri dan kanan agar tidak ada yang menikmati leher jenjangnya yang mulus. Pakaian itu cukup tertutup. Donny tidak mau tubuh indah istrinya menjadi tontonan orang-orang, cukup melihat wajah cantiknya saja.
Mia terperanjak saat tiba-tiba Donny memasangkan kalung bertahkahkan berlian menghiasi lehernya. Dia melihat kalung indah itu dari pantulan cermin. “cantik banget” ucapnya kagum sambil menyentuh kalungnya.
Belum selesai, Donny kembali memasangkan cincin berlian di jarinya. Dia terpaku untuk sesaat, pandangannya teralihkan pada suaminya yang memeluknya dari belakang.
“Mas, aku nggak tahu harus memberikan apa sama. Kamu sudah memberikan aku begitu banyak sementara aku tidak pernah memberikan apapun padamu”. Ucapnya memandang tepat di kedua bola mata suaminya masih lewat pantulan cermin.
“Apa yang saya berikan itu tidak sebanding dengan apa yang kamu berikan pada”. Mia berbalik menatap langsung manik gelap suaminya tanpa perantara cermin.
“Kamu memberikan diri kamu, seutuhnya”. Mia masih tercengang, sesaat kemudian di memeluk suaminya. “terima kasih, Mas”. ucapnya menahan air mata yang mungkin akan merusak make upnya.
Suasana ballroom hotel sudah mulai ramai, petinggi perusahaan serta karyawan sudah duduk di meja yang di sediakan sesuai dengan jabatannya masing-masing. Tamu-tamu undangan dari sahabat dekat dan keluarga juga menghadiri acara itu. Tidak lupa awak media yang sengaja di undang dalam acara ini.
Pintu utama balroom terbuka, sepasang suami istri masuk ke aula utama degan bergandeng tangan. Semua tertuju pada pasangan itu, melihat dengan takjub pada keduanya. Alfandy berjalan di belakang mereka lalu mempersilahkan mereka duduk di kursi yang telah di sediakan.
Acara di mulai. Johan naik ke podium memberi kata sambutan, mengucapkan terima kasih pada semua orang yang sudah membantu anaknya hingga Oliver Group sampai pada puncak tertinggi.
“Saya sudah tidak bisa lag mengurus perusahaan, oleh sebab itu, semua tanggung jawab sudah saya serahkan kepada putra saya. Dalam kesempatan ini saya juga akan mengumumkan bahwa saya memberikan lima puluh persen saham saya pada menantu perempuan saya yang sangat cantik”. Semua mata tertuju pada wanita canti yang duduk sangat anggun di samping Donny. Suara tepuk tangan riuh menggema memenuhi ballroom hotel.
__ADS_1
Setelah johan selesai, kini giliran sang presdir yang naik ke podium. Seperti Johan, Donny juga penyampaikan terima kasih yang tidak terhingga pada semua orang yang sudah bekerja keras membangun Oliver Group sehingga menjadi perusahaan besar yang tidak tertandingi.
“Seperti yang sudah kalian ketahui, bahwa saya sudah menikah dengan seorang wanita cantik yang sekarang tengah mengandung anak kami”. Donny melihat ke arah istrinya dan memintanya naik ke podium.
Semua mata memandang setiap langkah kakinya, dialah sang tokoh utama acara malam ini. Nyonya Muda Oliver Group. Donny mengulurkan tangannya membantu sang istri naik ke podium, mencium keningnya penuh cinta di hadapan semua orang. Puluhan kamera tidak henti-hentinya mengambil gambar mereka berdua.
“Dia adalah istri saya, wanita yang membuat dunia saya lebih indah, wanita yang saya cintai sepenuh hati”. Sorak tepuk tangan kembali menggema di iringi pujian-pujian bahwa betapa serasinya mereka. Mia rasanya tidak bisa lagi menahan air mata yang sejak tadi ingin berjatuhan.
Di akui di depan semua orang sebagai wanita yang di cintai Donny Adriano tentu membuat hatinya begitu terharu. Pengakuan cinta Donny juga mematahkan banyak hati yang masih berharap padanya.
Laura membawa Mia berkeliling, memamerkan pada semua orang betapa cantiknya menantunya. Johan tidak mau kalah, dia membawa Mia dari teman yang satu ke teman yang lain juga pada sanak saudara dengan bahagia bahwa menantunya sedang mengandung penerus Oliver Group.
Donny menatap Alfandy dengan sebelah alis terangkat, yang di tatap hanya menggelengkan kepala tidak tahu. Lalu saat mereka melihat laki-laki yang menggandeng tangannya, mereka jadi tahu kenapa wanita itu bisa masuk aula pesta yang di jaga sangat ketat.
“Hai, Don”. Donny tersenyum hangat padanya, dan itu tidak lepas dari pandangan seorang wanita di ujung sana.
“Apa kabar?”, sapa Donny masih dengan ramah.
“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja”, jawabnya. “Kalian pasti sudah saling kenal kan?” Natasya melirik laki-laki yang sedang menggandeng tanganya.
“Apa kabar”, sapa Donny pada laki-laki yang menggandeng tangan mantan kekasihnya sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
“Saya baik, Tuan Donny Adriano”, balas laki-laki itu tidak kalah ramahnya. Laki-laki itu adalah CEO sebuah agensi tempat Natasya saat ini bernaung sebagai modelnya.
Laki-laki itu meninggalkan Natasya dan Donny berdua, bukan sengaja tapi karena banyak rekan yang ingin bicara penting dengannya. Apalagi kalau bukan memintanya menerima anak mereka di agensinya dan membimbingnya menjadi model internasional seperti Natasya.
“Apa dia baik?” pertanyaan Donny mengalihkan pandangannya dari laki-laki yang datang bersamanya, sejujurnya dia masih tidak mampu menatap mata Donny. Jantungnya masih berdegup dengan kencang. Dia masih mencintinya, tidak mudah baginya menghilangkan cinta itu di hatinya.
Natasya mengangguk “Edward laki-laki yang baik”, jawabnya. “Aku melihat di sosial media, kau bilang aku harus mencari rumah yang nyaman untukku. Ku rasa dia bisa menjadi rumah yang nyaman untukku”. Natasya kembali mengarahkan pandangannya pada Edward, laki-laki yang sudah sejak lama mencintainya.
“Maaf untuk apa yang Kak Amel lakukan pada istrimu, sebenarnya aku sangat malu bertemu denganmu”.
“Mau menyapa Mia?” Donny mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau membahas Amelia atau siapapun yang berniat melukai istrinya. Natasya tersenyum getir, dia tadi sempat lama berdiri di luar mendengar dengan jelas apa yang Donny ucapkan di podium dan di hadapan semua orang. Harusnya dia yang berada di posisi itu, mendampingi Donny sebagai istrinya.
“Tuan, Nyonya meminta sopir untuk mengantarnya pulang. Kata sopir, Nyonya tiba-tiba pusing dan ingin beristirahat”. Alfandy memberi laporan, bukan sopir yang memberi tahunya tapi Fiona. Mia merasa tidak nyaman melihat Donny berbincang dengan Natasya.
Kedua orang tua Donny sedang sibuk di kelilingi rekan-rekan dan keluarga, akan tidak sopan mengganggu mereka.
“Di mana , Mia?” tanya Donny, wajahnya terlihat khawair. “Nyonya masih ada di loby, Tuan. Menungu sopir mengambil mobil”. Bohong lagi, dia yang meminta Fiona membawa Mia ke Lobby dan meminta kekasihnya itu menemani Mia sampai Donny datang.
Donny berlari menuju di mana istrinya berada, mengabaikan Natasya yang masih berdiri di depannya. Wanita itu menggigit bibirnya kelu. Cinta Donny padanya benar-benar sudah habis tidak tersisa sedikitpun.
“Are you oke?” Edward memeluk pinggangnya dari belakang. Dia menatap manik biru laki-laki itu, laki-laki yang dengan setia menunggunya selama bertahun-tahun. Dia mencoba mencintainya, bukan hanya sebagai pelarian tapi sebagai rumah tempat di mana dia selalu akan kembali saat dia lelah.
__ADS_1