
“Maafkan saya, harusnya saya menjaga kamu semalam”. Sesal Donny. Mia menggeleng, “Aku nggk apa-apa”. Donny meletakkan punggung tangannya di kening Mia, suhu tubuhnya sudah normal kembali. Wajahnya sudah tidak pucat. Mungkin kedatangan Fiona memberi efek yang luar biasa padanya.
Ya, Fiona menantangnya untuk mendapatkan hati Donny, seutuhnya. Dia sudah mendapatkan kasih sayangnya walaupun menurutnya itu hanya kasih sayang seorang kakak.
‘Apa aku boleh mengambilnya dari kekasihnya’. Mia melirik laki-laki yang sedang memegang tabletnya itu.
“Mas”. Donny mengalihkan pandangan dari tabletnya.
“Apa setelah perjanjian kita berakhir, kita masih bisa terus berhubungan?”. Saat ini Donny sudah meletakkan tabletnya, atensinya sepenuhnya tertuju pada gadis di sampingnya.
“Tidak akan ada yang berubah”.
“Lalu kekasih Mas Donny, bukankah kalian akan menikah saat perjanjian kita berakhir”. Laki-laki itu diam, Mia menatap lekat di kedua matanya. Ada gurat kesedihan di sana.
“Kita akan membahasnya nanti, kalau kamu sudah sembuh. Kamu butuh sesuatu?”. Donny berusaha mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin membahas itu sekarang. Mia hanya tersenyum dan menggeleng.
Pikirannya saat ini kembali berperang melawan hatinya. Pikirannya tidak mengijinkannya menjadi perusak hubungan orang lain, namun dia kembali teringat kata Fiona ‘bukankah seseorang juga pernah mematahkan hatimu’. Benar, tapi terluka bukan alasan untuk melukai orang lain. Apa lagi dia tahu berada di rasa itu, dia tidak mau baik Donny ataupun kekasihnya merasakan hal yang pernah dia rasakan.
Tidak teras gadis itu sudah terlelap terdengar dari nafasnya yang teratur. Donny mendekat dan kembali memeluknya. Dia sudah sangat merindukan istrinya itu.
‘Saya akan selesaikan semuanya dengan Natasya sebelum benar-benar mengakaui perasaan saya Mia, tunggulah’ ucapnya dalam hati.
Pagi kembali menyambut, mata yang masih terpejam menikmati nikmatnya alam bawah sadar harus dipaksa terbuka untuk kembali memulai segala aktifitas. Mia bergeliat kecil sebelum membuka kedua matanya.
Dia bangun dan melihat jam dia atas nakas, sudah jam tujuh lewat. Dia bangun dengan perasaan segar dan menuju kamar mandi. Hari ini perasaannya sudah lebih baik, tidak pusing dan juga demam lagi. Dia akan kembali ke kantor.
“Kamu sedang apa, Mia?” Donny yang baru masuk ke kamar dengan pakaian casualnya melihat tidak suka Mia yang sudah rapi dengan pakaian kantornya.
“Aku mau ke kantor”.
“Tapi kamu masih harus istirahat”.
__ADS_1
“Aku harus kerja, Mas”.
“Mia…”
“Mas…, aku baik-baik aja”. Donny mengehela nafas kasar. Benar, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang akan di lakukannya.
Donny juga sedikit heran dengan dirinya, dia orang yang sangat tegas tapi kenapa dengan Mia dia lebih sering mengalah. Laki-laki itu akhirnya ke kantor juga, padahal tadinya dia hanya akan menemani Mia sepanjang hari di rumah.
“Al, kemarin kamu bilang apa sama Cilla?”. Mia baru saja membaca pesan dari Cilla. Saat ini mereka sedang di perjalanan menuju kantor Wijaya Mandiri, Donny mengantarnya lebih dulu sebelum ke perusahaannya walaupun tujuan mereka berlawanan arah.
“Saya tidak mengatakan apa-apa, Nyonya”. Kata Al dengan Sopan.
“Mas, aku harus bilang apa sama Cilla”. Bibirnya sudah di majukan, Donny mencubit pipinya dengan gemas.
“Bilang saja yang sebenarnya”.
“Tentang perjanjiannya juga”. Tanya Mia sengaja. Gadis itu terkekeh melihat ekspresi Donny.
Mobil sudah sampai tepat di depan pintu utama Wijaya Mandiri.
“Mas mau apa”, Mia panik melihat Donny akan membuka pintu. “Mengantar kamu ke dalam”. Mia memegang erat lengan Donny sambil menggeleng.
“Baiklah, jangan bekerja terlalu keras. Oke”. Mia mengangguk lalu ke luar dari mobil.
Dia terlalu asyik dengan fikirannya sendiri sampai tidak sadar mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama, harusnya dia turun agak jauh tadi. Mia menepuk-nepuk kepalanya pelan.
Tiba-tiba ada orang yang memeluknya dari belakang membuatnya terlonjak.
“Cilla”. Pekiknya kesal.
“Sudah baikan”.
__ADS_1
“Seperti yang kamu lihat”. Cilla mencibir, “Pasti suami kamu itu memberikan perawatan terbaik, benarkan?”.
Mereka lalu berjalan sambil saling mengejek dan mengganggu.
“Mia, ada yang mencari kamu di bawah”. Kata salah satu teman satu divisinya setelah menutup telepon.
“Siapa”. Tanya Mia mengkerutkan keningnya, tidak mungkin Donny kan.
“Katanya seorang wanita, kalau tidak salah namanya Monika”. Mia membulatkan matanya. Monika, dia tidak salah dengarkan. Kenapa wanita itu ingin bertemu dengannya. Dan bagaimana wanita itu tahu dia bekerja disini. Mia menghela nafasnya, menstabilkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak tidak karuan lalu menemui wanita itu.
Itu dia, wanita itu. Dia sudah banyak berubah, dia menjadi cantik sekarang. Dulu dia tidak secantik itu. wanita itu berdiri saat Mia mendekat.
“Apa kabar, Mia”. wanita itu mengajak Mia ke sebuah café yang tidak jauh dari kantornya. Mia memalingkan wajahnya, melihat wanita di depannya ini kembali mengingat kejadian tujuh tahun lalu.
Dia berlari seperti orang gila mengelilingi bandara, mencari keberadaan seseorang. Dia ingin meminta penjelasan kenapa orang itu meninggalkannya, apa yang sudah dia lakukan hingga orang itu meninggalkannya tanpa penjelasan apapun bahkan tanpa kata selamat tinggal.
Lalu dia menemukannya. Laki-laki itu sedang memeluk wanita di depannya ini. Mia luruh ke lantai, hatinya hancur berkeping-keping. Dia ingin mengejar mereka tapi kakinya serasa sudah tidak bisa berdiri.
Mia mendatangi orang tua laki-laki itu, mereka juga terlihat sangat kecewa pada anaknya karena kedua orang tua laki-laki itu juga sangat menyayangi Mia. Hingga akhirnya mereka menceritakan sesuatu yang semakin menghancurkan hatinya.
Wanita itu hamil, dan laki-laki itu adalah orang yang bertanggung jawab atas kehamilannya. Mia tidak percaya, dia menolak mempercayainya. Tidak mungkin laki-laki itu mengkhianatinya. Mereka sudah berjanji akan hidup bersama selamanya, tidak mungkin.
“Dia di jebak, Nak. Wanita itu menginginkannya, dia sudah mencitainya sejak dulu. Sampai dia tidak tahan lagi dengan kedekatannya dengan kamu dan merencanakan hal serendah itu.”
“Tapi wanita itu berakting seolah dia adalah korban. Orang tua wanita itu memaksanya bertanggung jawab dengan mengancam akan menyakiti kami dan juga kamu. Kami hanya orang biasa tidak bisa melawan mereka yang berkuasa”.
“Maafkan dia, Nak. Dia sangat mencintai kamu, sangat menyayangi kamu. Hatinya juga terluka melukai kamu seperti ini”.
“Kenapa dia tidak menjelaskannya padaku, Bu”
“Dia tidak akan sanggup melihat kesedihan kamu, itu sebabnya dia memilih pergi tanpa menemui kamu dan juga tanpa mengatakan apapun”.
__ADS_1
Mia menunggu kabarnya berhari-hari, berharap laki-laki itu menghubunginya untuk meminta maaf dan memintanya untuk menunggu. Mia akan menunggunya berapa lama pun itu. Hingga seminggu kemudian Mia mendengar kabar bahwa mereka telah resmi menikah. Dadanya seperti tertusuk ribuan pisau, hingga sakitnya menjalar ke seluruh tubuhnya.