
“Kamu baik-baik saja?” Donny melihat wajah Dimas yang babak belur, Al menceritakan padanya tentang apa yang terjadi sampai Leo menghajarnya.
“Mas Donny menjagaku dengan baik bahkan bila tidak ada di sampingku, apa yang bisa terjadi padaku”. Ucapnya di iringi senyum. Donny memperhatikan wajah ceria istrinya, “kau dan dia…?”. Mia mengecup bibir suaminya tiba-tiba.
“Sekarang hanya ada Mas Donny, suamiku yang paling baik dan paling tampan”. Donny tidak bisa menyembunyikan senyumannya, dia memeluk istrinya dengan penuh cinta.
Mereka sampai di rumah lebih cepat dari biasanya, Donny meninggalkan kantor setelah Al menerima pesan yang Leo kirimkan tentang apa yang terjadi di luar Café tadi.
“Kenapa kau tidak membunuhnya saja, Leo” ucap Al pada Leo saat Leo keluar dari mobil. Donny dan Mia berada di mobil Al tadi.
“Aku menyesal tidak melakukannya”. Al menggelengkan kepalanya lalu masuk kembali ke dalam mobil dan meninggalkan rumah itu, dia sudah janji untuk makan malam dengan Fiona.
Donny keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya kembali memakai kemeja yang dia pakai tadi siang, Mia tidak pernah lagi memakai baju lain bila di kamar dan hanya memakai kemeja suaminya. Donny menarik sudut bibirnya, istrinya sangat tergila-gila dengan bau tubuhnya.
“Mas, aku keringin rambutnya ya”. Mia menarik tangan suaminya dan menuntunnya duduk di pinggir tempat tidur lalu mengambil handuk kecil dan mulai menggosok-gosokkan handuk itu di rambut suaminya. Donny memeluk pinggang istrinya dan menempelkan wajahnya di dada istrinya.
Mia merasa geli saat Donny semakin menenggelamkan wajahnya di dadanya. Dia menyimpan handuk yang tadi dia pakai lalu mengangkat wajah suaminya dengan telapak tangannya.
Mia gemas melihat Donny lalu mencium semua sisi wajahnya, dan berakhir dengan kecupan di bibirnya. Mia mau melepaskannya dan mengambil baju untuk suaminya yang sudah dia siapkan tadi tapi Donny menahan tangannya.
“Kamu harus bertanggung jawab Mia”, Mia hanya bergumam tidak mengerti maksud suaminya. Donny menarik tangannya dan mendudukkannya di pahanya. Dia menyatukan bibir mereka, awalnya Donny melakukannya dengan lembut dan kemudian menjadi ciuman penuh ***** dan gairah.
Donny mencecap bibir manis istrinya bergantian di lipatan atas dan bawahnya. Sesekali indra perasanya menerobos masuk dan merasai bagian dalam bibir istrinya yang terasa manis. Dia mebuka satu persatu kancing kemeja Mia dan kembali menenggelamkan wajahnya di sana.
__ADS_1
Mereka kembali larut dalam percintaan yang panas di sore hari. Donny begitu menikmati menyentuh tubuh istrinya, dia sangat menyukai tubuh polos istrinya sampai lupa waktu saat menikmatinya. Begitupun dengan Mia, sentuhan Donny di kulit polosnya terasa sangat memabukkan sehingga dia selalu membiarkan suaminya melakukan apapun yang dia inginkan pada tubuhnya.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika mereka selesai dengan percintaannya. Donny mengatakan pada Bu Mira untuk membawa makan malam mereka ke kamar karena melihat Mia yang kelelahan juga banyak tanda merah yang dia tinggalkan di leher istrinya itu.
Bu Mira masuk bersama dua orang pelayan di belakangnya dan menyajikan makan malam di atas meja.
“Apa ada lagi yang anda butuhkan, Tuan?” tanya Bu Mira dengan sopan.
“Tidak ada Bu”. Jawab Donny, Bu Mira bersama kedua pelayan itupun meninggalkan kamar itu. Mia yang baru keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang menutupi dada sampai paha langsung duduk di samping suaminya.
“Kamu masih mau?” tanya Dimas menggoda istrinya, “aku lapar”. Ucap Mia dengan wajah memelas. Donny lalu bangkit menuju ruang ganti dan mengambilkan pakaian untuk istrinya. Dia mungkin akan kembali panas melihat Mia seperti itu.
“Pakai baju dulu, nanti kamu masuk angin”. Mia memperlihatkan tangannya yang memegang sendok garpu, Donny menghela nafasnya lalu memakaikan baju pada istrinya seperti anak kecil.
“Karena aku percaya sama Mas Donny”
“Kenapa kamu percaya sama Mas Donny, saya kan juga laki-laki dewasa. Kadang saya benar-benar menahan diri untuk tidak menyentuh kamu saat itu”. Mia meletakkan ponselnya di atas meja, dia sedang berbalas pesan dengan seseorang yang ingin betemu dengannya besok, entah dari mana orang itu mendapatkan nomor ponselnya.
“Karena aku tahu Mas Donny tidak akan melakukannya, dan buktinya Mas Donny benar-benar tidak menyentuhku saat itu kan”, Mia lalu teringat sesuatu, “kecuali mencium dan memelukku saat aku tidur”.
Donny bangun dari pangkuan Mia, “Kamu tidak tidur waktu itu”. wajah Donny berubah seperti pencuri yang tertangkap. Mia terkekeh geli.
“Aku tidur, tapi karena aku merasa ada sesuatu yang hangat menyentuh bibirku jadi aku terbangun”. Donny tersenyum, dia ingat waktu itu tidak bisa menahan diri utnuk tidak menyentuh bibir manis yang menggoda di depannya.
__ADS_1
“Lalu kamu menikmatinya juga?” Donny senyum menyeringai menggoda istrinya yang pipinya sudah memerah.
“Mass..” kali ini gantian Donny yang menertawainya.
“Sejak kapan Mas Donny mulai menginginkan pernikahan ini menjadi pernikahan yang sesungguhnya?” Donny menerawang, dia sendiri tidak bisa menjawab sejak kapan dia mulai menginginkan Mia menjadi pendamping hidupnya selamanya.
“Mas tidak tahu sejak kapan itu di mulai, tapi kalau kamu bertanya sampai kapan maka Mas Donny akan menjawab sampai Mas Donny menutup mata. Selama itu Mas Donny akan tetap menjadi suami yang selalu ada untuk kamu”.
“Apa Mas Donny mencintaiku?” Donny mendekatkan wajahnya lalu menyatukan bibir mereka, dia ******* bibir itu cukup lama sampai Mia hampir kehabisan nafas.
“Apa semua yang Mas Donny lakukan tidak menunjukkannya?” Mia menarik sudut bibirnya yang masih basa lalu mengangguk. “Masih tidak percaya?”. Donny menggendongnya dan meletakkannya di tempat tidur.
“Masih mau bukti?”. Donny mulai menciumi seluruh sisi wajah istrinya dengan gemas “aku percaya, aku percaya”. Donny mengecup bibirnya singkat lalu membaringkan istrinya di atas tubuhnya, dia tahu istrinya lelah dan mungkin akan sakit jika dia memaksakan keinginannya.
“Mas, besok aku mau keluar lagi yah, aku mau ketemu seseorang”. Donny menaikan sebelah alisnya “Monika, aku mau ketemu sama dia”. Ucap Mia selalu jujur pada suaminya.
“Kenapa mau bertemu dengannya, bukankah kamu sudah merelakan semuanya?”
“Ini yang terakhir”. Mia mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya seolah berjanji pada suaminya bahwa besok adalah pertemuan terakhirnya dari orang yang pernah berada di masa lalunya terutama pada seseorang yang menjadi penyebab semuanya.
“Mia”, membelai suarai panjang istrinya dengan lembut, menyelipkan surai yang berjatuhan menutupi separuh wajahnya ke belakang telinga. “Saya tidak mau siapapun menyakiti kamu lagi, bila ada yang berani menyentuh kamu bahkan bila itu hanya sehelai rambut kamu maka dia akan berhadapan langsung dengan saya”. Mia merinding sendiri mendengarnya, dia jadi ingat bagaimana tadi Leo memukul Dimas padahal Dimas hanya memegang pergelangan tangannya dan itupun dengan lembut.
“Mas, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitiku. Lagi pula Leo kan selalu bersamaku saat di luar rumah”. Donny menghela nafas dan akhirnya memberi ijin, walau sebenarnya dia tidak suka Mia masih bertemu dengan orang-orang yang pernah menyakitinya.
__ADS_1