
Al sudah menjemput Mia seperti yang di katakan Donny tadi pagi. Dia memakai dress yang di berikan Donny tadi pagi lengkap dengan sepatu dan tasnya. Al terkejut melihat Nyonya mudanya dengan penampilannya. Cantik dan sangat elegan. Mia menggulung rambutnya ke atas, anak-anak rambutnya menempel di leher putihnya.
“Silahkan, Nyonya”. Al mengemudikan mobil setelah Mia sudah duduk dengan nyaman.
“Mas Donny mau ajak aku ke mana, Al?” Mia masih merasa canggung berdua saja bersama Alfandy, menurutnya Al sangat kaku, tidak seperti Leo yang santai dan asyik.
“Anda akan tahu nanti, Nyonya”. Mia memanyunkan bibirnya tidak mau bicara lagi. Mobil terus melaju dalam keheningan.
Mereka sampai di gedung Oliver Group. Mereka menunduk sopan saat berhadapan dengan Mia, wanita itu hanya tersenyum canggung di perlakukan seperti itu oleh orang-orang.
“Ayo”, Donny langsung mengajaknya pergi begitu Mia sampai diruangannya.
“Kenapa nggak bilang langsung mau jalan, aku kan bisa tunggu di mobil”, protesnya pada suaminya. Donny hanya menanggapinya dengan kekehan. Dia sengaja menunggu Mia di ruangannya agar bisa menggandeng istrinya. Donny ingin menunjukkan pada semua orang posisi Mia untuknya agar tidak ada yang berani menyakitinya atau merendahkannya.
Donny akan memperkenalkan istrinya secara resmi saat ulang tahun Perusahaan dua bulan lagi seperti janji pada Ayahnya, janji yang hanya asal dia ucapkan karena tidak membayangkan bahwa wanita itu akan mengalihkan hatinya.
“Mas, kita mau kemana?”, pertanyaan yang sama yang dia tanyakan pada Alfandy tadi.
“Kamu akan tahu nanti”. Dan jawaban yang sama seperti yang di katakan Alfandy. Mia mendesah kesal lalu memailingkan pandanganya pada jendela di sampingnya.
Mia memperhatikan jalanan yang tidak asing baginya, itu jalanan yang setiap hari di laluinya.
“Mas, kita mau bikin apa disini”. Mia terlojak kaget saat mobil berhenti tepat di pintu utama Wijaya Mandiri. Di depan sudah ada CEO, para petinggi perusahaan juga para Manager yang menaymbut. Mia tidak mau turun dari mobil padahal Donny sendiri yang membukakan pintu untuknya.
“Ayo Mia”. Ajak Donny. Mia turun dari mobil dengan terpaksa, dia menyembunyikan wajahnya di balik puggung suaminya.
“Selamat datang Tuan Donny”, Ucap Pak Hardiawan selaku CEO Wijaya Mandiri. Donny hanya menganggukkan kepalanya tanpa senyum seperti biasanya. Dia menarik Mia agar berjalan di sampingnya. Mia sudah berdiri di samping Donny dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Angkat kepala kamu Mia, kamu adalah istri Donny Adriano, kamu tidak perlu menundukkan kepala kamu di depan siapapun”. Perlahan Mia mengangkat kepalanya. Pandangannya langsung bertemu dengan Bu Maureen, orang yang sudah memecatnya kemarin.
Wajah Bu Maureen tiba-tiba berubah pias. Dia terkejut bukan main tidak pernah membayangkan Mia adalah istri dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Dia bahkan hampir jatuh jika saja tidak berpegang pada salah satu staff. Cilla tersenyum puas melihat wajah piasnya.
Mia tersenyum canggung di depan para mantan bosnya, mereka perlakukannya sangat sopan membuatnya merasa tidak nyaman.
“Mas, aku boleh ketemu Cilla dan yang lain. Aku kemarin belum pamit sama mereka, aku juga mau ambil beberpa barang”. Katanya pada suaminya.
Donny tersenyum membelai pipinya di depan semua orang, “Al akan mengantar kamu”. Mia melirik Al tidak suka, tapi dia tetap menangguk saja.
Al lalu mengikuti Mia keluar ruangan. “Al, kenapa Mas Donny tiba-tiba ajak aku ke sini”.
“Tuan hanya ingin memperlihatkan pada semua orang bahwa anda adalah istrinya, Nyonya. Tidak ada yang boleh memperlakukan anda dengan buruk”. Mia mencibir. “Terus siapa yang dulu bicara kurang ajar padaku sampai mengancamku”. Al menghentikan langkahnya, Mia yang berjalan lebih dulu berbalik ketika tidak mendengar langkah Al.
Mia membuka bibirnya lebar dan langsung berlari kecil menghampiri Alfandy yang sedang berlutut padahal orang-orang sedang lalu lalang di sekitar mereka, alhasil tindakan Al menjadi tontonan orang-orang.
“Iya, aku maafkan kok”. Al lalu berdiri dan menundukkan kepalanya, “terima kasih anda mau memaafkan saya”. Mia berdesis memukul lengan Al dengan keras tapi malah tangannya yang sakit.
“Banyak cara untuk meminta maaf, Al. jangan merendahkan diri kamu seperti itu”. ucap Mia dengan kesal. “saya memang marah sama kamu, tapi saya nggak dendam kok”. Mia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Al.
Cilla langsung memeluk Mia saat melihatnya, lalu melirik Alfandy yang ada di belakang Mia.
“Apa kabar”, tanya Cilla dengan pandangan yang mengarah pada Alfandy. Laki-laki itu tidak menjawabnya dan hanya menganggukkan kepalanya.
“Sejak kapan kalian kenal”. Tanya Mia mengkerutkan keningnya.
“Waktu antar aku balik ke kantor”. Cilla memberi senyum amnis pada Alfandy. Laki-laki itu masih dengan wajha kakunya yang tidak bisa menunjukkan ekpresinya.
__ADS_1
Al menyerahkan kotak berisi barang-barang Mia pada salah satu anak buahnya yang mengikutinya sejak tadi. Mia menatap ruangan Bu Maureen yang tertutup rapat.
“Bu Maureen di panggil ke ruangan CEO”, kata Cilla.
“Kenapa”. Cilla mengangkat bahunya cuek. Mia langsung memandang Al meminta jawaban. Tidak mungkin masalah pekerjaan kan, masih ada di atasnya yang harus bertanggung jawab di depan CEO terlebih di sana ada Donny.
“Cil, aku pergi dulu yah. Kapan-kapan kita main bareng. Bye semua”. Mia langsung berjalan cepat menuju ruangan CEO, perasaannya jadi tidak enak mengenai Bu Maureen. Walaupun jahat padanya, Mia tidak pernah berharap hal buruk untuk orang lain.
Benar saja, saat dia masuk Bu Mauuren sudah berdiri dengan menundukkan kepalanya di depan Donny. Pandangannya lalu terarah pada suaminya, Mia lalu menghampirinya dan menggenggam tangannya.
“Mas…”
“Saya dengar wanita ini melemparkan kertas di wajah kamu, apa itu benar?” Donny mengatakannya sambil membelai pipinya. Mia sedikit takut melihatnya karena suaminya itu terlihat berbeda dari biasanya. Mia tidak menemukan wajah teduh dan suara lembut yang seperti biasa. Apakah seperti ini kalau dia sedang marah. Mia bergumam sendiri dalam hatinya.
Mia meraih tangan Donny yang berada di pipinya, dia melihat canggung ke arah beberapa orang di ruangan itu yang dia kenali.
“Bu Maureen tidak melemparnya ke wajahku, dia hanya meletakkannya saja di atas meja”. Ucapnya berbohong, tapi Donny sudah mengetahui yang sebenarnya.
“Mas, Bu Maureen sudah bekerja dengan baik. Maafin dia yah”. Mia mengucapkannya dengan sangat lembut berharap bisa menyentuh hati Donny.
Donny menatap istrinya lekat, seutas senyum terbit di bibirnya. Wajahnya yang tadinya dingin seakan ingin menerkam seseorang mejadi lebih hangat.
“Kamu mau menghukumnya?” Mia menggeleng dengan cepat. “Kalau begitu saya yang akan menghukumnya”.
“Turunkan jabatannya setara dengan karyawan baru yang masih training. Dan tidak ada promosi untuknya selama lima tahun”. Donny berdiri di ikuti semua orang yang ada di ruangan itu, sementara Bu Maureen terlihat shock dengan hukuman yang di berikan Donny padanya tapi tidak punya keberanian sedikitpun untuk protes.
“Ayo”. Donny menggandeng tangan istrinya keluar dari ruangan CEO. Mia merasa sangat tidak enak pada Bu Maureen. Dia akan mencoba membujuk suaminya untuk memberi hukuman yang lebih ringan lagi pada wanita itu.
__ADS_1
Karyawan Wijaya Mandiri benar-benar di buat terkejut oleh kedatangan pemilik perusahaan dan lebih terkejutnya lagi bahwa teman mereka yang hanya staf administrasi biasa adalah istri dari pemilik perusahaan itu. Tapi melihat Mia dengan tampilan berbeda membuat orang-orang merasa kalau dia memang pantas bertanding dengan Donny. Mereka terlihat serasi.