Suami Penyembuh Luka

Suami Penyembuh Luka
Epis. 69 Berbaring di pangkuanmu


__ADS_3

Papa dan Mama Donny sudah pulang pagi tadi, Mia mengantar mereka sampai bandara dan Donny kembali ke perusahaan yang sudah di tinggalkannya satu minggu.


Semua berjalan dengan lancar. Tidak ada satupun yang membahas tentang Donny dan Natasya. Semuanya benar-benar berakhir setelah kkarifikasi Donny, atau lebih tepatnya di paksa berakhir.


Saat ini Donny sudah ada di ruang kerjanya dengan Al berdiri di belakangnya dan dua pelayan wanita yang sedang menunduk di depannya.


“Bagaimana kalian bisa sampai seceroboh itu, kalian tahu kan peraturan di rumah ini”. Mereka berdua hanya terus menunduk tidak berani mendongakkan wajah menatap Donny, lebih-lebih lagi Alfandy. 


 Donny memperhatikan wajah pucat mereka, Bu Mira menjalankan sesuai perintah Alfandy untuk tidak memberi mereka makan dan minum selama di kurung di gudang. Donny menghela nafas berat.


“Kalian tidak boleh keluar dari gerbang utama selama lima tahun, dan juga jangan menampakkan wajah kalian di depan istri saya”. Wajah mereka bertambah pucat, lima tahun tidak boleh keluar dari gerbang utama. Itu sama saja dengan penjara walaupun dengan fasilitas yang lengkap.


“Apa kalian dengar yang Tuan Donny katakan”. Suara Al membuat mereka semakin pucat. “Iiiya, kami mendengar”, jawab mereka dengan terbata.


“Antar mereka keluar Al, dan sampaikan pada Bu Mira hukuman mereka”. Perintah Donny dengan tegas. Kedua pelayan itu meneteskan air mata. Mereka berdua berharap akan di pecat, itu jauh lebih baik dari pada harus terkurung selama lima tahun.


Tentu saja Donny tidak akan memecat mereka, itu terlalu ringan untuk orang yang sudah membuat istrinya salah faham walaupun mereka juga tidak sengaja melakukannya.


Donny kembali ke kamarnya, dia sudah merindukan istrinya yang cantik. Mia bangun dari berbaringnya saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar. Dia memperhatikan wajah itu dengan seksama, keningnya berkerut dan punggung tangannya terulur menyentuh kening suaminya.


“Mas Donny demam”, ucapnya panik. Donny refleks menyetuh kedua pipinya dan keningnya, dia memang sedang demam. Laki-laki itu memang merasa tidak enak badan seharian ini, tapi tetap memaksakan dirinya untuk memastikan semua baik-baik saja.


Mia menuntun suaminya ke tempat tidur dan membaringkannya. “Tolong panggil Rafael, Mi”. ucap Donny, Mia bingung bagaimana caranya menghubungi Rafael, “Kamu pakai ponsel saya aja”. Donny seakan bisa menebak kebingungan istrinya.

__ADS_1


“Ponsel Mas Donny kok nggak di kunci”, Mia terkejut melihat ponsel suaminya tidak terkunci seperti kebanyakna orang.


“Siapa yang berani memeriksa ponsel saya”. Katanya sombong, Mia hanya mangut-mangut sambil mencibir. Mia meletakkan kembali ponsel Donny di tempatnya setelah menghubungi Dokter Rafael.


“Mas nggak takut aku lancang terus periksa ponselnya Mas Donny”. Kata Mia bercanda. “Periksa saja, saya tidak mau menyembunyikan apapun dari kamu”. Hatinya berdebar mendengar kata itu dari suaminya apalagi Donny mengucapkannya dengan begitu manis dan tulus.


“Kamu mau kemana?”


“Mau ambil air sama handuk buat kompres Mas Donny”. Jawabnya.


“Tidak perlu, kamu di sini saja temani saya”. Mia menurut dan naik ke atas tempat tidur dan duduk dengan menyilangkan kakinya di samping suaminya yag tengah berbaring. Donny memidahkan kepalanya di atas kaki istrinya, Mia lalu mengambil bantal untuk mengalas kepala Donny di atas kakinya yang menyilang.


Mia mengusap lembut kepala Donny, tangannya lalu turun membelai setiap garis wajah yang hampir sempurna itu. Lalu Mia menundukkan kepalanya menciumi setiap sisi wajah suaminya yang terasa hangat, lalu berakhir dengan ciuman lembut di bibir laki-laki itu. Mia melepas ciumannya tapi Donny menahan kepalanya dengan sebelah tangannya. Ciuman yang hampir saja berakhir panas itu terhenti ketika terdengar suara pintu di ketuk.


“Kamu hanya kelelahan, istirahat sebentar pasti sudah akan membaik”. Dokter Raafel memberikan beberapa macam vitamin pada Mia, “Pastikan dia minum semua vitaminnya”.


“Pasti”, Jawab Mia. Dokter muda itu memperhatikan wajah sepupunya, dia memang terlihat agak pucat tapi rona bahagia lebih mendominasi di wajahnya begitu juga dengan wanita yang tetap duduk di sampingnya. Dokter Rafael mengulas senyum tulus. “Terima kasih sudah mau mempertahankan pernikahan kalian”. Ucapnya tulus dengan pandangan yang tertuju pada Mia.


Dokter Rafael tidak pernah lupa bagaimana Donny datang padanya berkeluh kesah setiap kali Natasya menolak permintaannya untuk menikah. Dia sangat kecewa, tapi cintanya pada Natasya bisa menutupi rasa kecewanya. Hingga dia terpaksa harus menikah dengan Mia, dan wanita itu entah bagaimana mengambil posisi Natasya di hati Donny.


“Baiklah, saya tidak akan lama-lama”. Dokter Rafael kemudian meninggalkan mereka, “Semoga kalian cepat memberi saya keponakan”. Mia menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.


“Tidak perlu mengantar saya, jaga saja suami kamu”, ucap Dokter Rafael dengan kerlingan di matanya yang seolah menggoda Mia.

__ADS_1


“Jangan menggodanya, Raf”. Teriak Donny dari tempat tidur. Dokter Rafael lalu keluar dari kamar utama, di depan pintu sudah ada Bu Mira yang akan mengantarnya sampai di pintu utama.


“Saya masih mau seperti tadi”. Mia mengernyit. “Berbaring di pangkuan kamu”, Mia terkekeh lalu kembali naik ke atas tempat tidur dan meletakkan kepala Donny di atas pahanya tanpa ada bantal yang mengalasnya. Mia membelainya dengan lembut seperti seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya. Sesekali dia menciuminya karena gemas. Donny merasa sangat nyaman hingga akhirnya dia benar-benar tertidur.


Mia memperbaiki posisi tidur suaminya, lalu ikut berbaring di sampingnya. Mia tidak bisa tertidur karena khawatir pada suaminya walaupun Dokter mengatakan dia baik-baik saja, Mia tetap merasa cemas hingga dia tidak bisa tidur. Dini hari Mia baru terlelap dengan handuk kecil di tangannya.


Donny buru-buru bangun dan mengangkat Mia ke tempat tidur, dia mendapati istrinya tidur di kursi di sampingnya dengan tangan di atas tempat tidur sebagai bantalnya. Begitupun dengan Mia, dia terlonjak bangun dari tempat tidur dan tidak menemukan suaminya.


Lalu Donny keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah, sesaat Mia kembali terpesona mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat indah di hadapannya.


“Mas mau ke kantor?” tanyanya saat kesadarannya kembali. Donny hanya berdehem menjawabnya.


“Tapi Mas Donny kan masih sakit, Dokter Rafael bilang Mas Donny harus banyak istirahat”.


“Saya sudah sangat sehat, seorang bidadari merawat saya semalam”. Mia berdecak tidak perduli dengan gombalan suaminya.


“Istirahat sehari aja, ya…”. Berusaha membujuk suaminya agar mau istirahat sehari saja di rumah. Donny mendekati istrinya dengan pandangan yang menyeringai. Donny terus mendekat dan Mia semakin mundur hinnga akhirnya jatuh di atas tempat tidur.


Donny mengukung istrinya yang separuh tubuhnya sudah tergeletak di atas tempat tidur. “Istrinya Mas Donny yang cantik ini mau bukti kalau tenaga suaminya sudah kembali”.


“Mas…” Mia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia mengerti maksud suaminya. Donny memindahkan tangan Mia dan menundukkan kepalanya.  Dia mencium lembut bibir istrinya. Ciuman yang lembut dan memabukkan, ciuman itu turun ke leher putih Mia cukup lama Donny membenamkan wajahnya di leher Mia. Lalu bibirnya turun ke dada melakukan hal yang sama yang dia lakukan di leher tadi.


Donny melakukannya dengan penuh gairah dan kerinduan.

__ADS_1


Mia tidak pernah menolak suaminya, dia melakukannya dengan tulus sebagai bukti cintanya, begitupun dengan Donny sentuhan lembut di tubuh istrinya mengalirkan semua perasaan cinta dan kasih sayangnya pada istrinya.


__ADS_2