
Setelah selesai dengan ulang tahun perusahaan yang berjalan dengan sukses, Alfandy kini di sibukkan dengan mengurus pernikahannya dengan Fiona. Dia hanya bertanya pernikahan seperti apa yang di impikan kekasihnya dan dia akan mengurus semuanya.
“Fi, kamu beneran tidak mau memberi tahu orang tua kamu?” Fiona sedang mengunjungi Mia, Donny yang memintanya karena Mia tidak berhenti merengek ingin bertemu sahabatnya. Fiona terlihat berfikir sambil memainkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Jauh di lubuk hatinya yang terdalam dia sangat ingin orang tuanya hadir di pernikahannya, tapi ego yang begitu tinggi juga rasa sakit yang tidak pernah hilang seolah mengubur keinginannya.
“Mereka semua sudah bahagia dengan keluarganya, Mi. Aku, aku bukan bagian dari mereka lagi”.
“Tapi hubungan darah tidak bisa terputus, Fi. Kamu selamanya bagian dari orang tua kamu”. Fiona terlihat berfikir lagi, “Kamu benar, mereka selamanya orang tuaku dan aku tidak memungkiri itu. Tapi mereka membuangku, mereka tidak lagi menganggapku ada sejak mereka memiliki keluarga masing-masing”. Mia menghela nafasnya, usahanya untuk menyatukan Fiona dengan orang tuanya hanya sia-sia.
Harusnya Mia sudah tahu, bahwa tidak mudah bagi Fiona untuk memaafkan kedua orang tua yang sudah menyia-nyiakannya.
“Kamu sudah fitting baju pengantin”, Mia mengganti topik pembicaraannya, wajah Fiona langsung cerah. “Sudah”, jawabnya.
“Mi, di pernikahan ku nanti kamu nggak boleh lebih cantik dari aku. Cukup aku aja yang jadi pusat perhatian”, Mia terkekeh “Fi, aku nggak dandan juga aku sudah jadi pusat perhatian”. Fiona berdecak sebal.
“Tapi Aku tidak menyangka Tuan Donny mau menjadi wali Alfandy, aku pikir Tuan Donny akan menolak”.
“Mas Donny pernah bilang kalau dia sudah menganggap Alfandy seperti adiknya sendiri, jadi dia pasti mau jadi wali nikah Alfandy”. Fiona tersenyum senang, tidak menyangka boss besarnya sendiri yang akan menikahkan mereka.
“Mi, aku boleh request kado pernikahan nggak?” Mia memicingkan matanya “memangnya yang mau ngasih kamu kado pernikahan siapa?”
“Miaaaaa”. Mia terkekeh dengan rengekan sahabatnya, jika mereka ada di kontrakan mungkin Fiona sudah melemparinya dengan bantal. Fiona tentu tidak berani melakukannya di rumah Donny, apalagi di kejauhan ada Bu Mira yang memperhatikan mereka
“Memangnya kamu mau apa? Tapi jangan yang mahal-mahal. Aku sekarangkan pengangguran”, Fiona memelototinya dengan kesal.
“Tinggal minta sama suami kamu”, ujar Fiona kesal.
__ADS_1
“Aku mau pakai uangku sendiri tahu, aku juga punya tabungan biarpun nggak seberapa”. Fiona hanya berdecak-decak sambil menggeleng.
“Memangnya kamu mau apa sih?” tanyanya lagi dengan nada penasaran.
“Tenang aja, kadonya nggak pake uang kok”, kening Mia mengkerut. “emmm… kamu bisa bilang ngga sama Tuan Donny buat kasih aku sama Al cuti lebih lama, biar aku sama Al bisa menikmati bulan madu romantis lebih lama juga”. Fiona memainkan matanya naik turun, sok imut di depan Mia.
Mia tercengang dengan mulut yang terbuka, “Fionaaaaaaaa”. Fiona tersipu malu tidak perduli wajah geram Mia.
“Kenapa teriak-teriak, Mia” dua wanita itu menoleh ke arah asal suara, Donny sedang berjalan mendekati mereka. Alfandy mengikuti di belakangnya.
“Mas Donny” Mia berdiri memeluk suaminya.
“Tuan”. Fiona menundukkan kepalanya sopan.
“Saya pernah bilang sama kamu, kalau kamu bisa memanggil saya seperti Mia memanggil saya. Mia sudah menganggap kamu seperti keluarga, itu artinya kamu juga keluarga saya”. Ujar Donny menatap Fiona. Mia mengangguk setuju. Sementara Alfandy menunduk menyembunyikan senyumnya.
“Ntar aja deh, di kamar”. Mia tersenyum puas melihat wajah pias Fiona, entah sejak kapan sahabatnya itu mengerti tentang yang namanya romantis.
Hari pernikahanpun tiba. Fiona lebih memilih tema outdoor yang sederhana tapi romantis dari pada pesta indoor mewah yang di tawarkan Alfandy.
Gadis itu nampak cantik dengan balutan gaun putih yang panjang membetuk payung di bawahnya dengan bagian dada yang sedikit terbuka. Rambutnya di gulung tinggi ke atas memperlihatkan bahu putih bersih dan leher jenjangnya.
“Kamu cantik”, bisik Alfandy “Baru sadar”. Mereka berdua terkekeh, ratusan undangan yang hadir ikut senyum-senyum melihat interaksi mereka. Tidak ada yang menyangka seorang Alfandy yang kaku dan menyebalkan akan jatuh pada pesona Fiona.
Semua orang sempat berfikir Alex dan Fiona memiliki hubungan yang spesial di lihat betapa dekatnya mereka. Tapi tiba-tiba Alex di pindah tugaskan ke Bali dan Fiona menjalin hubungan dengan sekertaris Al. Mereka berasumsi bahwa telah terjadi cinta bertepuk sebelah tangan.
“Fi, selamat ya”, Fiona tersenyum senang, sahabat yang dia rindukan sekarang ada di hadapannya. Alfandy langsung menjabat tanga Alex yang terulur pada Fiona. Fiona memukul tangan Al lalu menggenggam tangan Alex.
__ADS_1
“Kangen”, Al membelalakan matanya saat Fiona memeluk laki-laki lain di hadapannya.
“Fiona, jaga sikap kamu. Bisa-bisanya kamu memeluk lai-laki lain di depan suami kamu” ujar Al dengan kesal, lebih kesal lagi karena mendapat pelolotan mata dari Fiona.
“Makasih ya, sudah mau datang”. Alex tersenyum getir, jujur hatinya sangat terluka. Tapi melihat wajah berseri Fiona membuatnya tidak menampakkan lukanya. Dia ikut merasa bahagia untuk wanita itu.
‘Begitukah cinta, merasa bahagia melihatnya bahagia walau bukann aku penyebab kebahagian itu’
“Alex….” Mia berjalan cepat ke arah Alex, bila Donny tidak menggenggam tangannya erat wanita itu mungkin sudah berlari. Walau bagaimanapun, Alex adalah satu-satunya laki-laki yang dekat dengannya sebelum dia menikah. Bukan sebagai kekasih, tapi sebagai sahabat yang selalu ada untuknya.
Aelx menunduk sopan pada Donny, Donnya hanya mengangguk dengan wajah dinginnya tidak terlihat ramah seperti biasa.
“Kenapa kamu mengundangnya Al”, Donny dan Alfandy sedang memandang dari kejauhan istri mereka sedang tertawa riang bersama Alex. Donny sangat geram melihatnya, Mia mengancam tidak akan memberinya jatah bila dia tidak mengizinkannya berbincang-bincang bersama Alex.
“Saya juga tidak tahu, Tuan. Fiona yang mengiriminya undangan tanpa sepengetahuan saya”. Alfandy sama geramnya dengan Donny, dia ditinggalkan sendiri di tengah pesta dan wanita yang baru saja sah menjadi istrinya malah terus memperlihatkan senyum cantiknya pada laki-laki yang jelas-jelas sudah mengatakan cinta padanya.
Mereka tidak tahu, kalau istri mereka sedang menceritakan betapa bahagianya mereka sekarang memiliki suami yang mencintai mereka dengan sepenuh hati. Setelah rasa sakit yang kedua wanita itu pernah rasakan. Sekarang mereka akhirnya menemukan kebahagiaannya.
Mia dan Fiona juga sangat merindukan sahabatnya, mereka merasa kehilangan saat Alex memutuskan kembali ke kampung halamanya walaupun masih tetap bekerja di bawah naungan Oliver Group.
“Sayang, kita pulang ya”. Donny yang sudah tidak tahan lalu mendekati istrinya dan mengajaknya pulang “Tapi kan pestanya belum selasai”, Kilahnya, dia masih ingin menemani Fiona dan juga mengobrol bersama Alex.
“Kamu harus istirahat”. Mia melihat tidak enak pada Alex, laki-laki itu memberinya kode agar mengikuti suaminya. Mia akhirmya mengikuti suaminya dengan wajah yang cemberut.
“Fi, ayo saya kenalkan dengan teman saya”. Alfandy juga datang ingin membawa Fiona, Alex melakukan seperti yang dia lakukan pada Mia.
Pada akhirnya dia kembali sendiri, kedua wanita yang dia sayang dengan rasa yang berbeda sudah di bawa pergi pasangan hidupnya masing-masing.
__ADS_1