
Hari ini Mia berdandan berbeda dari biasanya. Dia memakai pakaian serba bermerk dan perhiasan yang di berikan kakak iparnya padanya. Hanya perhiasan itu yang Mia punya, sejauh ini Donny belum memberikan perhiasan apapun padanya. Mia tampil sangat mencolok dengan segala barang mewah menempel di tubuhnya.
“Anda mau kemana, Nyonya?” tanya Bu Mira spontan melihat penampilan Mia.
“Bertemu seseorang”. Jawab Mia dengan senyum yang merekah.
Dan disinilah dia, di sebuah restoran mewah yang pernah dia datangi bersama Donny. Mia yang memilih tempatnya. Leo berjalan di belakangnya tapi tidak nampak bahwa mereka datang bersama. Donny memberi ultimatum keras pada Leo agar tidak membiarkan istrinya terluka sedikitpun.
Orang-orang tidak mengalihkan tatapan darinya, bukan karena barang mewah yang menempel di tubuhnya tapi karena takjub dengan paras cantiknya yang mencolok. Tinggi sedikit lagi, Mia sudah terlihat seperti model internasional yang sedang berjalan di atas catwalk.
Monika sudah ada di sana, dia juga seperti orang lain memandangi Mia. Bedanya dia memandangi wanita itu dengan penuh kebencian dan amarah. Mia merarik kursi dan duduk berhadapan dengan Monika. Dia ingin pamer pada wanita itu bahwa dia mendapatkan seorang laki-laki yang jauh lebih baik dari Dimas
“Ada apa ingin bertemu denganku?”, tanya Mia tanpa basa basi. Monika mengepalkan tangannya, saat terakhir bertemu dia melihat Mia sangat sederhana tapi hari ini Mia memperlihatkan apa yang dia miliki pada Monika.
“Aku sudah bilang padamu jangan menemui suamiku, menjauh darinya saat kau melihatnya”. Mia meletakkan tanganya yang bersedekap di atas perutnya lalu menyandarkan punggungnya dia tas kursi dengan menyilangkan kakinya. Mia tidak akan mengalah padanya lagi.
“Dia tidak bilang padamu kalau dia yang datang mencariku”, kata Mia dengan angkuh. Monika semakin mengepalkan tangannya. Dimas sudah memberinya surat cerai semalam dan laki-laki itu juga sudah meninggalkan negara ini bersama putrinya. Monika berfikir Dimas dan Mia kembali bersama dan itu yang membuatnya sangat marah.
Monika lalu menatap Mia dengan pandangan menilai, “dari mana kau mendapatkan semua itu? aku kau memberikan tubuhmu pada Dimas dan dia memberikanmu barang-barang itu sebagai gantinya”, Monika tersenyum mengejek, sementara Mia masih terlihat tenang.
__ADS_1
“Kau tidak tahu ya kalau aku sudah menikah dengan seorang laki-laki yang luar biasa. Aku memang memberikan tubuhku tapi pada suamiku, laki-laki yang menyentuhku karena mencintaiku” ucap Mia. Monika seperti tertohok dengan ucapan Mia, dia tahu jelas alasan Dimas mau menikah dengannya.
“Apa masih ada yang ingin kau katakan, aku ingin segera menemui suamiku”.
“Baiklah, kalau kau sudah menikah jadi jangan pernah menggangu suamiku. Aku akan membuat hidupmu lebih menderita dari tujuh tahun yang lalu kalau kau masih berani bertemu dengannya lagi”. Mia tertawa sumbang. Seketika raut wajahnya berubah serius, tidak terlihat ramah seperti tadi saat pertama dia datang.
“Kau bilang suamimu”, Mia menaikkan sebelah sudut bibirnya yang seolah mengejek. "Kau tahu, laki-laki yang kau ambil dariku dengan cara menjijikkan tujuh tahun lalu, hatinya masih sama dan selalu seperti itu. Bahkan setelah kau bersamanya selama tujuh, dia tidak pernah merubah hatinya. Cintanya masih untukku, hanya untukku”. Ada penekanan pada kata terakhir yang Mia ucapkan. Mia tersenyum puas setelah mengatakannya. Dia lalu beranjak meninggalkan Monika yang wajahnya sudah merah padam karena marah.
“Aku jadi penasaran, seperti apa suamimu”. Mia berbalik, dia diam sejenak sebelum melangkah kembali mendekat. “Kenapa? Kau ingin mengambilnya seperti apa yang kau lakukan pada Mas Dimas”. Mia manaikkan sebelah alisnya, Monika tahu Mia sedang mengejeknya.
“Asal kau tahu, suamiku tidak bisa kau sentuh. Dia akan merasa jijik bahkan jika kau hanya melihatnya”. Monika sudah tidak bisa menahan Mia yang sejak tadi memprovokasinya. Dia menganyunkan tangannya hendak menampar Mia. Tapi sebelum tangan itu menyentuh kulit Mia, Leo sudah lebih dulu memegang tangan itu dengan sangat erat membuat Monika meringis sakit.
“Jaga tangan anda, atau saya akan mematahkannya”. Mia tersenyum mengangkat dagunya. Monika bangkit dengan susah payah sambil memegangi punggungnya yang terasa nyeri akibat terbentur dengan keras di tembok.
“Aku akan melaporkan kalian pada polisi”. Monika meninggalkan mereka dengan memegangi punggungnya dan sesekali mengibaskan lengannya yang di cengkram kuat oleh Leo tadi.
“Ayo pulang”. Ucap Mia, Leo menundukkan kepalanya lalu mempersilahkan Mia jalan di depan. Dia masih sempat mengirimkan pesan pada Alfandy untuk membereskan kekacauan yang di buatnya dan Mia. Banyak pengunjung yang tadi melihat kejadian itu dan ada beberapa juga yang merekamnya, juga ada cctv di beberapa bagian. Al harus bertindak cepat agar tidak ada video yang bisa tersebar.
Sepanjang perjalanan pulang, Mia tidak henti-hentinya memperlihatkan senyum kemenangan. Dia puas mengatakan apa yang harus dia katakan pada Monika. Wanita jahat itu memang pantas mendapatkannya.
__ADS_1
Senyum di wajahnya perlahan memudar berganti kekhawatiran. “Leo, apa tidak akan terjadi apa-apa setelah ini. Aku lihat banyak yang merekamnya tadi. Lalu bagaimana kalau Monika lapor polisi, kau mendorongnya sangat keras tadi”. Ucap Mia yang takut Monika akan benar-benar melaporkannya. Itu termasuk penganiayaan.
“Anda sepertinya tidak mengenal Alfandy dengan baik, Nyonya. Masalah seperti ini sangat gampang dia selesaikan” ucap Leo dengan entengnya.
“Benarkah”, katanya tidak yakin. “Lalu apa menurutmu aku jahat?” tanya Mia. Dia merasa keterlaluan, Dimas sudah membalasnya dengan memisahkannya dari anaknya. Kenapa dia masih harus mengatakan kata-kata yang akan melukai Monika.
“Tidak, Nyonya. Anda pasti punya alasan mengapa anda melakukannya. Anda memiliki hati yang baik”, Mia memicingkan matanya, tidak percaya pada ucapan Leo. Mana ada orang baik yang membalas perbuatan orang yang sudah menyakitinya.
Tapi Mia mengakui sifatnya memang banyak berubah semenjak ia tumbuh semakin dewasa. Jika saja dia bertemu Monika tujuh tahun lalu saat semua itu baru terjadi, dia pasti akan menjabak rambutnya mencakar dan memukulnya. Tempramennya dulu tidak terlalu baik karena dia memiliki dua malaikat pelindung.
Leo tiba-tiba melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mia yang dari tadi sibuk dengan lamunannya pun menjadi tersentak kaget.
“Leo…”, teriak Mia saat kepalanya hampir saja terlempar membentur kursi depan. “Ada apa?” tanyanya dengan kesal.
Leo semakin melajukan mobilnya, Mia berpegang kuat pada kursi depan. Dua motor di sisi kiri mobil memukul-mukul mobil menyuruhnya berhenti, datang lagi dua motor dari sisi kanan melakukan hal yang sama. Mereka semua berjumlah delapan orang karena saling berbocengan.
Leo menghentikan mobilnya setelah salah satu motor itu menghadang jalannya.
“Nyonya, jika terjadi sesuatu tetaplah berada di dalam mobil. Jangan keluar apapun yang terjadi”. Mia meremat kursi yang dia pegang, tangannya gemetar. Dia sangat takut. Mungkinkah mereka orang suruhan Monika yang ingin melukainya. Tidak cukupkah Monika menyakiti hatinya dulu. Apa orag-orang ini mau membunuhnya.
__ADS_1
“Mas Donny…”. Mia memanggil suaminya dengan pelan di iringi isak tangis, berharap suaminya akan datang menolongnya.