
Sementara itu di suatu tempat Alfandy sedang mengintrogasi orang-orang yang tadi menghadang mobil Leo. Alfandy sudah lama tidak melakukan hal seperti itu, menyiksa orang dengan kejam.
“Sekarang katakan padaku, siapa yang menyuruh kalian?” katanya dengan sebilah p***u di tangannya.
“Tidak ada yang menyuruh kami, Tuan. Kami hanya ingin merampok”. Alfandy menusukkan p***u itu ke lengan laki-laki yang di tunjuk sebagai ketua mereka. laki-laki itu berteriak kesakitan sementara yang lain meringis melihatnya.
“Masih tidak mau mengaku?” Pi**u menggores kulit telanjang laki-laki itu, Alfandy terus menggerakkanya naik hingga ke leher dan sedikit menekan di bagian itu membuat kali-laki itu berteriak lagi. Yang lain bergedik ngeri lalu saling pandang.
“Baiklah, kalian sendiri yang sudah memilih”. Alfandi lalu memerintahkan anak buahnya untuk memberi pelajaran pada mereka semua sampai mereka mau mengakui siapa yang ada di balik semua ini.
“Kami mengaku, kami akan katakan siapa yang membayar kami”. Teriak salah satu dari mereka yang sudah tidak bisa menahan sakit karena di siksa.
“Saya sudah menduganya”. Sudut bibir Alfandy tertarik ketika salah seorang dari mereka menyebutkan sebuah nama yang membayar mereka. “Serahkan mereka pada polisi”. Perintah Al kemudian.
Mia dan Donny kini ada di ruang obgyn memeriksa kandungan Mia. wanita itu tampak sangat antusias begitu juga dengan Donny, matanya tidak beralih pada layar monitor yang menunjukkan gambar bayi mereka yang baru terlihat seperti titik putih.
“Janinnya sudah berusia empat minggu, ibu dan bayinya sehat”, kata Dokter kandungan. “Anda harus banyak istrihat dan tidak boleh berfikir terlalu keras. Banyak makan yang sehat dan bergizi”. Kata Dokter lagi melanjutkan.
“Terimakasih Dok”. Mia dan Donny meninggalkan ruang obgyn setelah mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari dokter kandungan.
“Mas, apa aku boleh pulang?” Mereka sudah sampai di ruang rawat. Donny mengangkat istrinya dari kursi roda dan memindahkanya ke tempat tidur.
“Kata Dokter kamu masih harus mendapatkan perawatan”. Mia terlihat berfikir, Donny tahu Mia tidak suka berada di rumah sakit tapi demi kesehatan istri dan anaknya dia harus sedikit memaksa Mia untuk tetap berada di rumah sakit.
“Mas Donny akan menemaniku disini?”, mungkin dengan suaminya memeluknya traumanya pada rumah sakit mungkin akan berkurang.
__ADS_1
“Tentu saja, Mas Donny akan menjaga kamu disini” Ucap Donny. Mia akhirnya menyetujuinya.
Sepanjang malam Donny tidur memeluk istrinya dengan hati-hati, takut pelukannya akan melukai anaknya yang ada di perut Mia. Sementara Mia terlihat tidur dengan tenang. Tidak ada mimpi buruk seperti yang dia katakan sebelumnya.
Entahlah, mungkin karena di dalam kamar itu bau obat-obatan khas rumah sakit tidak terlalu kental atau memang di manapun dia tidur asalkan berada di pelukan suaminya dia pasti akan tenang. Entahlah.
Mia bergeliat kecil di pelukan suaminya membuat Donny membuka matanya dan langsung bangun. Dia tersenyum kecil melihat istrinya yang ternyata masih terlelap. Donny melihat jam di atas nakas, masih pukul lima pagi. Dia mengecup kening istrinya lalu beranjak ke kamar mandi.
“Siapa yang membayar mereka?”, Al sudah muncul pagi sekali membawa sarapan untuk Donny dan juga pakaian gantinya. Matanya berkilat marah mendengar Al menyebutkan nama seseorang.
“Dimana dia?” Tanya Donny. “Masih di apartemennya, Tuan”. Jawab Al.
“Anda mau menemuinya?” Donny menatap Alfandy dengan sangat dingin, Al tahu kalau Donny sedang sangat marah.
“Tapi Tuan, jika mengeluarkan semua kartunya itu akan….”
“Saya tidak perduli, lakukan seperti apa yang saya katakan”. Al menaikkan sudut bibirnya. Dia tentu akan melakukan perintah Donny dengan senang hati. Dia sudah sangat memberi kebijakan pada orang itu, tapi ternyata dia yang menggali kuburannya sendiri.
“Bagaimana dengan kejadian di restoran?” saking khawatirnya, Donny sampai melukapan kejadian di restoran.
“Tidak ada masalah, Tuan”. Donny mengangguk puas.
“Mas…” Donny berbalik dan melihat Mia sudah duduk di atas tempat tidur, dia berjalan cepat menghampirinya. “Kenapa bangun?” Donny berniat membaringkan istrinya tapi wanita itu menolak, dia sudah tidur sepanjang malam dia ingin duduk saja menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur dan meluruskan kakinya.
“Dokter bilang kamu harus banyak istirahat”. Ucap Donny “Aku kan sudah istrirahat dari kemarin, Mas Donny sayang”. Donny membulatkan matanya lalu tergelak mendengar Mia memanggilnya sayang.
__ADS_1
“Kenapa ketawa, apanya yang lucu”. Donny tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium istrinya melihat wajah lucu Mia yang mengerucutkan bibirnya “Mas…” Mia melirik ke arah Alfandy. Donny lupa kalau dia belum menyuruh Al keluar.
“Nyonya”, Al menundukkan kepalanya sopan saat bersitatap dengan Mia. Dia jadi rindu pada Fiona melihat kemesaraan Donny dan Mia, dia sangat sibuk sejak kemarin higga tidak ada waktu untuk bertemu kekasihnya itu.
Mereka semua mengalihkan pandangan ke pintu saat terdengar ketukan, Donny menyahut dan pintu itu terbuka.
“Mia…” Fiona setengah berlari ke arah Mia, dia bahkan tidak melirik Al yang menatapnya dengan rindu. Fiona menundukkan kepalanya kepada Donny.
Al memberinya kabar bahwa Mia masuk rumah sakit, Fiona yang sedang banyak pekerjaan menyempatkan diri mengunjungi Mia di pagi hari. Tapi baik Al ataupun Fiona belum tahu kalau Mia sedang hamil.
“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Fiona dengan cemas sambil mengamati tubuh Mia.
“Nggak apa-apa”, jawab Mia. Fiona mengamati ruangan yang di tempati Mia, ruangan itu lebih terlihat seperti hotel dari pada ruang rawat rumah sakit pada umumnya. Ruangan itu memang berbeda dari ruangan lain, hanya ada dua ruangan seperti itu di rumah sakit milik Rafael. Ruangan itu sengaja di buat sedemikan mewah hanya untuk keluarga intinya. Tentu saja Mia sudah menjadi keluaga intinya sekarang.
“Kamu nginap disini?” Mia mengangguk, Fiona lalu mengernyit “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya terkejut. Fiona pernah membawa Mia pulang dari rumah sakit tengah malam saat Mia masuk rumah sakit karena asam lambungnya naik. Mia terus mengigau dan menangis dalam tidurnya. Bau rumah sakit yang memenuhi indra penciumannya mengingatkannya pada saat dia berada di rumah sakit pasca bangun dari koma.
Saat itu Mia terus berusaha menyakiti dirinya, dan juga bayangan ayahnya yang meniggal di depannya membuatnya semakin ketakutan. Itu sebabnya dia tidak mau berada di rumah sakit lagi. Tapi semalam dia bisa tidur dengan nyenyak seperti saat tidur di rumahnya. Tidak ada lagi mimpi buruk yang datang mengganggunya.
“Mungkin karena suamiku memelukku jadi aku tidak dengan nyaman”. Fiona mencibir lalu melihat ke arah Donny, dia baru sadar kalau ternyata Alfandy ada di ruangan itu. Wajahynya berbinar bahagia melihat kekasinya, mereka baru sehari tidak bertemu tapi rasanya sudah berpisah setahun.
“Fi…” Mia menjentikkan jarinya meminta Fiona mendekat “Aku hamil” bisiknya. Fiona tercengang dengan mulut yang terbuka lebar. Rasa haru menyeruak dalam dirinya, sahabatnya benar-benar telah menemukan pengganti Dimas di hatinya.
Saat kau mengikhlaskan seseuatu yang telah hilang, kau akan mendapatkan ganti yang lebih baik. percayalah.
Fiona memeluk Mia “selamat ya”, ucapnya dengan tulus.
__ADS_1