
Donny menaikkan sebelah alisnya ketika Mia menyodorkan ponsel padanya. Saat ini mereka sedang duduk di ruang tengah setelah makan malam. Mia bosan hanya berada di kamar dan ruang makan saja.
“Aku nggak punya nomor ponsel Mas, Donny”. Donny terkejut mendengarnya, “Benarkah?”. Mia mengangguk dengan cepat.
Setelah selesai mengetik nomornya, dia menyerahkan ponsel itu kembali pada Mia. Mia membulatkan matanya, seketika wajahnya memerah menahan malu. Bagaimana tidak Donny menamai dirinya di ponsel Mia dengan nama My Husband.
“Saya ganti saja kalau kamu keberatan”, Donny mencoba mengambil kembali ponsel itu dari tangan Mia namun Mia dengan cepat manjauhkan ponselnya dari jangkauan Donny. “Siapa bilang aku keberatan”.
“Lalu siapa namaku di ponsel Mas Donny”. Donny lalu mengambil kembali ponsel Mia dan menghubungi nomornya. Ponsel di atas meja itu menyala, Mia melihatnya.
‘ My Wifee’
“Sejak kapan Mas Donny menyimpan nomor ponselku”. Tanya Mia menyembunyukan rona bahagia di hatinya.
“Sudah sejak lama”.
“Lalu kenapa tidak pernah menghubungiku”. Donny diam sejenak, “Benarkah? Kalau begitu mulai sekarang saya akan sering menghubungi kamu”. Mia mencibir, “memangnya Mas Donny punya waktu?”.
“Saya akan menyempatkannya”. Bunga-bunga seperti sedang bermekaran di dalam hatinya. Mia bahagia walau hanya kata-kata sederhana seperti itu, dan tatapan Donny padanya terasa sangat dalam dan penuh makna. Mia menyukainya, menyukai rasa yang hadir di hatinya.
Ponsel Donny di atas meja tiba-tiba menyala, ada nama Alfady di layar. Donny menggesar icon yang berwarna hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
“Kenapa Al”. Donny berdiri menjauh dari Mia, jika Alfandy menghubunginya malam begini berarti ada hal penting yang harus dia sampaikan.
‘Nona Natasya ada di gerbang utama Tuan, dia memaksa untuk masuk’. Lapor Al dari seberang telepon. Donny sudah mengantisipasi kedatangan Natasya, oleh sebeb itu dia meminta penjaga keamanan untuk menghalanginya masuk. Dia tidak ingin membuat Mia merasa tidak nyaman.
“Katakan padanya saya akan menemuinya besok siang”. Donny memutuskan sambungan telepon, pendangannya terarah pada gadis yang sedang duduk di sofa. Donny lalu menghampirinya, dia tidak menyangka kalau menemani gadis itu bercerita tentang hal-hal receh yang pernah terjadi padanya akan semenyenangkan ini.
Dia tidak perduli bahwa sekarang Natasya sedang berusaha menemuinya, dia merasa perasaannya pada kekasinya itu memang telah berubah. Bukan lagi rasa jenuh, tapi rasa lelah dan muak menghadapai keegoisannya.
__ADS_1
Dan semua itu memudarkan rasa cinta yang pernah ada untuk kekasihnya. Terlebih sekarang ada seorang gadis cantik yang mengalihkan perhatiannya,seorang gadis yang bahkan sudah menjadi istrinya.
“Apa ada masalah”. Donny menggeleng, dia lalu kembali duduk di samping Mia. Gadis itu sedang memangku salad buah kesukaannya.
“Memangnya Alfandy sudah lama jadi sekertaris Mas Donny?. Mia yang sejak dulu penasaran tentang Alfandy akhirnya menemukan momen yang pas untuk bertanya tentang laki-laki yang pernah menyinggungnya dulu.
“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang Al?” Donny memicingkan matanya curiga. “Pengen tahu aja”. Balas Mia dengan mulut yang sedang mengunyah.
“Saya bertemu Al di Amerika saat saya sedang menyelesaikan gelar master saya di sana”.
“atau lebih tepatnya, saya menemukannya di sana”. Mia mengkerutkan keningnya. Donny mengurai kerutan di kening istrinya lalu melanjutkan ceritanya.
“saya menemukannya di pinggir jalan dengan tubuh yang penuh luka. Saya membawanya ke rumah sakit da merawatnya. Dia tidak punya siapa-siapa di Amerika, seseorang membawanya ke sana lalu meninggalkannya”. Mia dian mendengar cerita Donny, dia tidak tahu Alfandy ternyata punya kisah hidup yang menyedihkan.
Bukankah semua orang memang mempunyai kisah hidupnya masing-masing, hanya bagaimana orang-orang memilik cara yang berbeda menghadapai masa lalunya. Ada yang memilih bangkit dan melupakan semua rasa sakit di masa lalu tapi ada juga yang tetap tenggelam dalam masa lalunya.
“sejak saat itu Al mengikuti saya, saya tidak keberatan karena dia cukup pintar dan mau di bimbing. Setelah dia menyelesaikan pendidikannya, saya menempatkannya di perusahaan menjadi sekertaris saya. Dia cukup bisa di andalkan”. Sekarang Mia jadi mengerti kenapa laki-laki itu sangat memperhatikan Donny. Mungkin seperti hutang budi.
“Memangnya Al pernah cerita?”. Donny menggeleng, “Kamu kelihatan sangat takut padanya, saya hanya menebak dan tebakan saya benar”. Mia memanyunka bibirnya, “Aku bukan taku, tapi kesal”.
Donny membelai lembut surai panjangnya, “Dia tidak akan melakukannya lagi”. Mia hanya diam, dia akan berdamai dengan Alfady dan melupakan kekesalannya pada laki-laki itu.
Sementara itu Natasya yang tidak berhasil bertemu Donny merasa sangat kecewa. Donny tidak pernah menolak bertemu dengannya walau dia sedang dalam keadaan lelah sekalipun, laki-laki itu tidak pernah menolaknya.
Hatinya berdenyut nyeri membayangkan Donny yang mengabaikannya. Dia tidak pernah mengira Donny akan menutup pintu rumahnya untuknya. Air matanya lagi-lagi menetes mengalir pelan di pipinya. Dia memilih tinggal di apartemen Donny dan menunggunya di sana.
Natasya berhambur memeluk Donny saat laki-laki itu datang. Donny mengurai pelukannya dan membawanya duduk di sofa.
“Hanya sekali lagi Don, sekali ini saja setelah itu aku benar-benar akan tinggal di sisimu selamanya”. Masih berusaha meminta Donny menunggunya.
__ADS_1
“Bukankah saya sudah bilang, kemarin adalah kesempatan terakhir kamu. Saya tidak bisa lagi menunggu kamu, Natasya”.
“Apa maksud kamu?”, wajah Natasya berubah pias.
“Mari akhiri ini sampai disini”.
Deg. Denyut jantung Natasya terasa berhenti.
“Tapi kenapa, bukankah kamu bilang masih mau menikah denganku”.
“Saya lelah, saya tidak bisa lagi menunggu kamu”. Natasya terdiam, hatinya terguncang hebat.
“Kamu tahu sekeras apa aku berjuang untuk mendapatkannya”.
“Saya tahu, bukankah saya menemani kamu dari awal, menunggu kamu dengan setia selama bertahu-tahun”.
“Maafkan saya, Natasya. Kali ini saya benar-benar tidak bisa lagi menunggu kamu”. Donny lalu meningalkannya. Hatinya juga terluka melihat gadis yang pernah di cintainya terpuruk seperti itu. Tapi dia tidak mau lagi mentolerirnya, sudah cukup kesabarannya.
“Apa karena gadis itu”. Donny menghentikan langkahnya, “Kau jatuh cinta padanya, kan?”
“Jangan libatkan siapun, ini hanya tentang saya dan kamu”. Ucap Donny tegas.
“Apa lagi yang kamu cari, saya bisa memberikan semuanya untuk kamu. Kenapa tidak mau bergantung pada saya. Saya bahkan akan memberikan dunia jika kamu mengingankannya”.
“Itu yang tidak aku mau, aku tidak mau bergantung padamu. Aku tidak mau hanya jadi bayangan di balik nama besarmu. Aku ingin orang-orang menegnalku karena itu aku bukan karena aku wanita seorang Donny Adriano”. Seru Natasya dengan suara yang sedikit meninggi.
Donny menganggukkan-anggukkan kepalanya. Dia telah melakukan keputusan yang tepat meninggalkan Natasya walaupun keputusan itu di rasanya cukup terlambat.
Donny lalu benar-benar meninggalkan Natasya dengan kesedihan dan kemaran yang bercampur jadi satu.
__ADS_1
Al yang menunggu di depan pintu langsung mengikutinya begitu dia melihat Tuannya itu keluar dari apartemen.