
Dua anak manusia yang pernah menjalin kisah manis di masa lalu sedang duduk di sebuah bangku kayu yang berada tidak jauh dari area pemakaman. Beberapa pohon besar di sekitarnya melindungi mereka dari panasnya sinar matahari.
Hening, tidak ada yang memulai percakapan walau hati ingin sekali saling melepas rindu. Hanya suara gesekan dedaunan yang di goyangkan angin yang terdengar.
Mereka duduk bersebelahan dengan jarak yang tidak terlalu jauh, bangku kayu yang panjangnya sekitar satu meter hanya ada satu di sana. Saling menunduk, belum ada yang membuka suara lebih dulu. Bahkan untuk sekedang bertanya kabar masing-masing.
“Aku baru tahu paman meninggal dua tahun yang lalu”. Akhirnya laki-laki itu memulai percakapan. Mia masih tidak bergeming, masih diam membisu.
“Apa kau hidup dengan baik?" pertanyaan yang sedari tadi ingin dia lontarkan akhirnya terucap. Mia mengangguk tapi laki-laki itu tidak melihat anggukannya, dia hanya memandang lurus kedepannya dengan sesekali menundukkan kepalanya.
“Maaf”. Mia menoleh melihat laki-laki yang ada di sampingnya, dia masih mengenalinya dengan baik walau hanya melihat separuh wajahnya. Mia bisa melihat mata laki-laki itu memerah, ada cairan bening di pelupuk matanya.
“Untuk apa”. Tanya Mia dengan suara setengah bergumam.
“Karena tidak menepati janjiku padamu, aku minta maaf. Karena meninggalkanmu, aku minta maaf” dia mendongak memandang daun-daun yang bergoyang di tiup angin di atasnya lalu menarik nafas sangat dalam , menahan kristal bening yang sejak tadi ingin tumpah.
“Karena tidak ada saat kau paling membutuhkanku, aku benar-benar minta maaf”. Suaranya bergetar di iringi dengan tetesan bening yang jatuh dari matanya. Mia melihat air mata itu mengalir perlahan di pipinya.
Delapan tahun bersamanya tidak pernah sekalipun Mia melihatnya menangis. Air mata sangat tabu untuknya. Hari ini dia menangis, dia tentu juga terluka.
“Kau pasti sangat membeciku sekarang, aku sudah membuatmu sangat terluka”, pandangannya masih terarak ke depan. “Maafkan aku”. Dia menunduk menjatuhkan butiran-buturan bening itu langsung ke tanah.
Mata Mia memerah, ada sesak di dadanya membuatnya kesulitan menarik nafas. Lalu bulir bening mengalir perlahan kemudian turun semakin deras. Mereka menangis dalam diam, saling menunduk.
Donny yang sejak tadi memperhatikan mereka dari jauh mulai mendekat. Dia akan membawa istrinya pergi dari sana.
Mia mendongak dan melihat suaminya sudah berdiri di depannya, tanpa bicara lagi dia memapah Mia berdiri dan meninggalkan laki-laki itu. Mia berbalik, dia melihatnya masih menunduk di sana entah kenapa membuatnya merasakan sakit di dadanya.
__ADS_1
Dia berubah, laki-laki itu bukan lagi Mas Dimasnya. Tujuh tahun lalu laki-laki itu tidak pernah melepaskan pandangan darinya saat mereka berbicara, dia selalu menanggapi apapun yang Mia katakan. Sekarang dia berbeda menjadi dingin dan menjaga jarak dengannya.
‘Apa dia tidak bahagia, apa dia tidak pernah bahagia’ pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benaknya. Mia melihat raut yang sama dengannya saat dia bercermin beberapa tahun lalu. Raut wajah yang memperlihatkan kesedihan dan putus asa.
Laki-laki itu juga merasakan luka yang sama dalamnya, walaupun dia yang menyebabkan hadirnya luka itu. Dia ingin Mia tahu bagaimana dia menjalani hidupnya selama ini, bagaimana dia menahan diri untuk tidak datang mencarinya walaupun dia merindukannya setengah mati. Dia ingin memberi tahukan semua pada Mia, gadis kecilnya yang sekarang sudah tumbuh menjadi wanita cantik.
Dia lalu mengangkat kepalanya, melihat mobil mewah yang membawa pergi wanita yang di cintainya sampai mobil itu hilang dari pandangannya.
Mobil berhenti di sebuah restoran mewah di kota Bandung. Mia baru tersadar dari lamunanya saat Donny membuka pintu mobil dan mengulurkan tanggannya.
“Kita makan dulu ya”. Ucapnya. Mia tersenyum lalu meraih tangan suaminya.
Aneka makanan menggiurkan terhidang di atas meja, Mia menatapnya tidak berselera. Tapi dia tidak ingin membuat suaminya khawatir. Dia menarik nafas lalu mulai meletakkan beberapa jenis lauk di atas piringnya.
“Mas Donny mau makan yang mana?” Donny menunjuk beberapa jenis dan Mia mengambilkan untuk suaminya. Awalnya Mia menelan makanan itu dengan terpaksa, tapi lama kelamaan dia mulai makan secara alami seperti biasa. Donny melengkungkan bibirnya, dia merasa senang istrinya mau makan seperti biasa padahal suasana hatinya pasti sedang tidak-baik.
“Aku makan semua?” tanyanya tidak percaya melihat piring-piring kosong di atas meja. Donny mengulum senyum itu sudah menjawab pertanyaan Mia. Wanita itu memegang perutnya dan merasakan sedikit sesak. Sepertinya semua makanan itu memang berpindah ke perutnya.
Perjalanan yang lebih lama dari biasanya karena bertepatan dengan jam pulang kantor, Mia menggeliat lalu mengangkat kepalanya dari dada suaminya.
“Kita belum sampai ya, Mas”. Mia melihat di samping kiri dan kanan banyak kendaraan yang menghimpit membuat mobil yang membawa mereka bergerak sangat lambat.
“Lagi macet, kamu tidur aja lagi”. Donny menarik kepala Mia pelan ingin menyandarkannya di dadanya, tapi Mia menolak. “Memangnya Mas Donny tidak pegal aku sandarin terus”.
Donny terkekeh, “Saya kan memang tempat kamu bersandar”. Wajah wanita itu memerah malu, dia lansung kembali menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.
Donny mengelus kepalanya dengan sayang, di hatinya timbul seribu tanya apa yang terjadi dengan istrinya, sewaktu meninggalkan pemakaman wajahnya terlihat mendung tapi sekarang mendung itu seperti menghilang dari wajahnya.
__ADS_1
Matahari sudah terbenam dan mereka baru sampai di rumah. Raut lelah tergambar jelas di wajah mereka, terlebih Leo sebagai sopir.
Mia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur begitu masuk ke dalam kamar. Sejenak fikirannya kembali tertuju pada wajah dingin Dimas, wajah dingin yang mengeluarkan air mata itu serasa sangat asing baginya.
Donny keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang lebih segar, Mia memperhatikan suaminya. Setelah tidur bersama, Donny tidak lagi memakai jubah mandi, dia lebih sering menggunkan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
Tatapan mata Mia tidak berpindah dari tubuh suaminya, dia memperhatikan dengan seksama. Wajah tampan yang selalu tersenyum hangat padanya , dada bidang yang nyaman saat memeluknya dan tubuh kekar itu selalu memberi kehangatan padanya.
Lalu apa lagi yang kurang, kenapa dia masih membiarkan masa lalu mengusik masa depannya bersama suami yang bahkan meninggalkan kekasihnya demi dirinya. Mia berdiri dari tempat tidur lalu memeluk suaminya.
“Terima kasih untuk hari ini”. Ucapnya tidak melepaskan pelukan dari suaminya. Donny merengkuh pinggang istrinya agar pelukannya semakin dalam.
Mereka mengurai pelukan,Donny menangkup kedua pipi istrinya lalu mencium bibirnya dengan lembut. Mia melepaskan bibirnya setelah merasa ciuman itu semakin panas.
“Aku belum mandi dari pagi”.
“Kita mandi bersama nanti”.
"Tapi kan Mas Donny sudah mandi". Donny tersenyum menyeringai
"Mandi Lagi" Donny kembali menyatukan bibirnya, dia memagut, mencium, mencecap bibir itu.
Dia merebahkan istrinya di tepat tidur, melepas semua pakaiannya satu persatu, “saya merindukan kamu” bisiknya membuat Mia bergidik ngeri. Lalu mereka kembali saling memberi kehangatan.
Benar, seperti ini. Biarkan masa lalu tetap berada di masa lalu. Masa depannya sekarang bersama laki-laki yang sedang menyentuh tubuhnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
*****
__ADS_1
Maaf yah hari ini up nya cuma satu bab, lagi nggak enak badan soalnya 🙏
Terimakasih untuk semua dukungannya ☺🙏