
Pagi ini Mia bangun dengan kepala yang pusing dan mual. Dia bangun dan berjalan cepat ke kamar mandi. Dia duduk di depan closet dan memuntahkan semua makanan yang dia makan semalam. Donny yang masih tidur tersentak bangun sangat mendengar suara istrinya yang muntah di kamar mandi.
“Kamu kenapa”, tanya Donny dengan wajah pias nya melihat istrinya duduk dengan lemas di depan closet. Mia kembali muntah, Donny panik tidak tahu harus melakukan apa untuk menolong istrinya.
“Mas, aku mau kembali ke tempat tidur”. Donny langsung menggendongnya dan membawanya ke tempat tidur. Setelah membaringkan istrinya, dia memanggill Bu Mira lewat intercom.tidak lama kemudian Bu Mira datang dengan wajah sedikit panik karena mendebgar nada bicara Donny yang terdengar marah.
“Ada apa, Tuan” tanya Bu Mira masih dengan wajah paniknya.
“Apa yang mereka berikan pada istriku, kenapa dia memuntahkan semua makanan yang dia makan semalam?” Tanyanya mencoba menahan amarahnya di depan istrinya. Sifat ramah dan sopannya tidak berlaku bila itu tentang istrinya.
“Nyonya makan seperti yang anda makan Tuan”, Bu Mira melihat sekilas Mia yang memang terlihat pucat.
“Bu, aku mau minum susu panas, tolong buatkan aku ya”. Kata Mia dengan lemas, suaminya mungkin akan memarahi Bu Mira kalau wanita itu lebih lama di kamarnya.
“Baik, Nyonya”.
“Kita ke rumah sakit lagi ya”, Mia menggeleng pelan. “Aku nggak apa-apa, Cuma sedikit pusing”. Donny menghela nafas, dia tidak mau memaksanya istrinya yang terlihat tidak berdaya. Donny menghubungi Dokter Rafael meminta tolong untuk di panggilkan Dokter kandungan agar datang memeriksa istrinya.
“Mas Donny nggak kerja?” sudah jam tujuh pagi tapi Donny bahkan belum mandi.
“Mana bisa Mas Donny kerja kalau istrinya Mas Donny yang cantik lagi kesakitan seperti ini”. Wajah pucat itu mengulas senyum, Donny pun ikut tersenyum walau hatinya di penuhi kekhawatiran. Ini pertama kalinya dia mengahadapi situasi seperti ini dalam hidupnya.
Tidak lama Bu Mira masuk bersama seorang Dokter wanita yang memeriksa kandungan Mia di rumah sakit hari itu. Dia tidak datang sendiri, Dokter Rafael datang bersamanya.
“Bagaimana keadaannya, Dok? Apa perlu di rawat di rumah sakit?” Dokter itu tersenyum melihat wajah panik Donny.
__ADS_1
“Tidak ada masalah, Tuan. Keadaan seperti ini normal bagi ibu hamil”, jelas Dokter. “Di awal kehamilan, ibu hamil akan mengalami mual dan pusing di pagi hari. Saya akan meresepkan obat anti mual untuk mengatasinya”. Lanjutnya lagi.
“Apakah akan seperti itu setiap hari?” tanya Donny yang melihat istrinya tidak tega.
“Biasanya itu terjadi selama trimester awal”. Donny menghela nafasnya, ingin sekali rasanya dia menggantikan istrinya merasakan itu semua.
Dokter Rafael dan Dokter wanita itu sudah pergi, Dokter Rafael sempat memberi pengertian pada sepupunya bahwa itu tidak masalah, tidak akan terjadi apa-apa pada istrinya selama dia mengatur pola makannya dengan baik. Hampir semua wanita hamil mengalaminya.
“Mas kerja aja, aku sudah nggak apa-apa”. Donny terlihat menimbang, dia ingin menjaga istrinya tapi ada pertemuan penting dengan klien yang datang dari luar negeri. Bisa saja pertemuan itu diwakilkan, tapi dia merasa tidak sopan bila tidak langsung menemui klien yang datang dari jauh untuk menjalin kerjasama dengannya.
“Benar, tidak apa-apa Mas Donny tinggal?” Mia mengangguk. Mereka lalu mengalihkan pandangan ke pintu ketika pintu itu terbuka seperti di dorong dengan terburu-buru.
“Papa, Mama!” seru Donny melihat orang tuanya datang. Wajah kedua orang tuanya berseri-seri, mereka langsung menghampiri Mia di tempat tidur menghiarukan anak kandung mereka.
“Iya, Pa”, jawab Mia malu-malu. Johan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dia tertawa dengan senangnya. Begitu juga dengan Laura, wanita yang masih sangat cantik itu tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
Mereka sudah punya cucu dari kakak perempuan Donny, seorang laki-laki-laki yang mulai beranjak remaja. Tapi mereka menginginkan cucu dari Donny dan Mia akan segera mangabulkannya. Mereka sangat bahagia mendengar kabar kehamilan menantunya dan segera pulang untuk memastikan kabar bahagia itu.
“Apa kau makan dengan baik?” Tanya Laura yang sekarang sudah duduk di pinggir tempat tidur di samping Mia.
“Dia tidak makan dengan Baik, Ma. Dia baru saja memuntahkan semua isi perutnya”. Donny yang menjawab, Laura meliriknya kesal.
“Mama bicara dengan Mia, bukan dengan kamu”. kata Laura. Mia merasakan perubahan sikap mertuanya. Biasanya bila mereka berkumpul, mertuanya itu tidak pernah mau bicara dengannya dan hanya bicara dengan anak dan suaminya saja.
“Mia makan dengan baik, Ma. Mungkin Mia makan terlalu banyak semalam, jadinya tadi pagi Mia muntahkan semuanya”. Mama mertuanya itu mengelus tangannya dengan lembut.
__ADS_1
“Sekarang kamu mau makan apa?” Mia merasakan kehangatan menjalar di seluruh tubuhnya saat Laura menyentuh tangannya dengan lembut. Dia menatap mertuanya itu memastikan benarkah itu mertuanya yang mengatakan kalau dia tidak menyukai Mia sebagai menantunya.
Donny dan Papanya melihat interaksi kedua wanita itu, lalu mereka sama menarik sudut bibirnya. Sekarang Laura mungkin sudah sepenuhnya menerima Mia, bukan hanya karena Donny atau Johan yang menginginkannya. Tapi karena dia juga mulai menginginkannya.
Akhirnya Donny bisa dengan tenang meniggalkan istrinya. Mamanya pasti akan merawat Mia dengan baik. Johan yang di abaikan istri dan menantunya kahirnya mengikuti Donny ke perusahaan sekaligus melihat langsung keadaan perusahaan yang sudah dia tinggalkan sejak beberpa tahun itu.
“Terimakasih karena sudah mau mengandung anak Donny”. Ucap Laura dengan tulus. “Kamu maukan memaafkan Mama yang mungkin sudah menyakiti hati kamu”. Mia langsung memeluk Mama mertuanya. Laura mengusap punggungnya dengan lembut.
Mia sangat terharu karena Akhirnya Laura mau menerimanya sebagai menantu dengan sepenuh hati. Dia merasakan pelukan yang berbeda dari biasanya, pelukan Laura seperti pelukan seorang Ibu yang sudah lama dia rindukan.
“Kamu sudah merasa lebih baik?” Mia mengangguk, “iya, Ma” jawabnya.
“Kita Shoping ya. Mama mau membelikan apa saja yang kamu mau”. Wajah Mia langsung cemberut “kenapa sayang?” tanya Laura yang melihat perubahan wajah Mia.
“Turun dari tempat tidur saja aku nggak boleh, apa lagi shoping”. Laura terkekeh, dia merasa lucu membayangkan anaknya yang tidak suka banyak bicara itu menjadi posesif pada istrinya.
“Kita minta izin dulu kalau begitu”. Mia mengangguk setuju lalu mengambil ponselnya di atas nakas. Laura mengambil ponsel itu dari Mia “Kenapa, Ma? Aku mau minta izin Mas Donny dulu”. Laura meletakkan kembali ponsel Mia di atas nakas.
“Kita langsung minta izin, nggak perlu lewat telepon”. Mia mengkerutkan keningnya, tidak mengerti maksud mertuanya.
“kita mampir ke perusahaan dulu, baru shoping”. Laura terkekeh membayangkan reaksi Donny ketika melihat istrinya datang bersamanya. Sementara Mia tersenyum senang, dia memang ingin membeli sesuatu. Lagi pula dia juga merasa bosan hanya di kamar sepanjang hari.
Bu Mira tidak bisa menghentikan Mia ketika yang membawa Mia adalah sang Nyonya besar. Dia hanya menghela nafas berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka mengingat kejadian tempo hari di mana mobil Mia di hadang orang-orang tidak di kenal.
Mereka berdua akhirnya pergi dengan Laura yang mengemudi. Leo tadi mengantar Donny dan Johan. Dan juga Leo tidak tahu kalau Nyonya mudanya akan keluar rumah hari ini karena setahunya Tuannya masih tidak memperbolehkan istrinya untuk keluar rumah.
__ADS_1