
Donny dan Mia sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Donny mengernyit saat akan memasukkan potongan roti panggang ke mulutnya merasa baunya sangat menyengat di indra penciumannya. Dia menyimpan kembali roti dan menjauhkan dari depannya lalu meminta di buatkan nasi goreng saja seperti yang biasa Mia makan.
“Tumben Mas Donny mau makan nasi goreng?” Tanya Mia terkejut, suaminya itu paling anti makan nasi di pagi hari.
“Lagi pengen aja”, jawab Donny dengan santai. Mia mengkerutkan keningnya menatap aneh pada suaminya.
“Raf, kamu belum pulang”, Rafael bergabung bersama mereka untuk sarapan.
“Aku tadi mau tidur, tapi kayaknya ngantuknya sudah hilang”, ucap Rafael yang nampak lebih segar.
“Kamu tinggal di sini saja, Raf. Kenapa harus tinggal sendirian di apartemen”. Rafael hanya menaikkan sebelah bahunya.
“Angel di mana?” tanya Rafael mengalihkan pertanyaan Donny. “Sama Siska”, Rafael menaikkan sebelah alisnya, “pengasuh baby Angel”.
“Apa dia bisa di percaya? Jaman sekarang banyak sekali orang jahat, kalian harus hati-hati mempekerjakan orang lain di rumah”. Ucap Rafael.
“Dia dari agensi terpercaya, lagi pula banyak orang yang akan mengawasinya di rumah ini”. Jawab Donny.
Pesanan nasi gorengnya datang, Rafael menatap Mia dengan sebelah alis terangkat. Mia menaikkan kedua bahunya sama herannya dengan Rafael.
“Sejaka kapan kamu makan nasi di pagi hari, Don?” Donny tidak menjawab, dia memakan nasi gorengnya dengan lahap seperti orang kelaparan.
“Apa ada keanehan lain yang terjadi?” Rafael bertanya pada Mia, Mia mencoba mengingat “Tidak ada, tapi dia menjadi lebih manja. Bahkan kadang cemburu pada Angel kalau aku menyusuinya”. Mia malu sendiri mengatakannya. Rafael diam sejenak sambil memandangi sepupunya kemudian menatap Mia seperti menilisik sesuatu sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Lalu dia kembali sibuk dengan roti panggangnya dengan senyum yang tertahan.
Mia membawa baby Angel masuk ke dalam kamar saat suaminya dan Dokter Rafael pergi. Ucapan Rafael tentang Sisak sedikit mengusiknya. Dia menjadi takut bila anaknya hanya berdua saja bersama pengasuhnya, mengingat dulu banyak orang yang ingin menyakitinya.
“Nyonya, ada Nona Fiona di bawah ingin bertemu anda”. Mia membuka pintu saat mendengar suara Bu Mira dari luar.
“Bawa ke taman di lantai dua saja, Bu?” ucap Mia. “Apa anda membutuhkan bantuan Siska”
__ADS_1
“Tidak, aku tidak membutuhkannya. Suruh saja dia membantu Bu Mira”, ucap Mia dengan ketuss. “Tapi tugasnya adalah mengasuh nona muda, Nyonya. Sudah cukup banyak yang membantu saya”.
“Ya sudah,suruh apa saja. Aku bisa mengurus anakku sendiri”. Mia berdecak pada Bu Mira lalu menutup pintu kamarnya. dia merapikan bajunya dan keluar menemui Fiona dengan baby Angel dalam gendongannya.
“Angel”, Fiona mengambil Angel dan menciuminya gemas. “Memang berapa lama lagi kalian mau tunda punya anak?”. Fiona dan Al memutuskan untuk menunda mempunyai anak, atau lebih tepatnya itu keputusan Fiona. Dia merasa belum layak menjadi seorang ibu.
“Bentar lagi”, jawab Fiona dengan cueknya. Seorang pelayan datang dengan nampan di tangannya, menyajikan minuman dan cemilan untuk dua wanita itu.
“Kamu sudah bisa kok jadi ibu, kenapa masih di tunda?” Fiona terlihat sibuk bermain dengan baby Angel yang memang menggemaskan dan mengabaikan pertanyaan Mia. Dia tidak mau membahas hal itu dengan Mia, tidak akan ada habisnya Mia menceramahinya.
“Permisi, Nyonya. Saya mau mengambil nona muda untuk mengganti bajunya “, kata Siska dengan sopan.
“Biar aku aja”. Jawab Mia tanpa memandang ke arahnya.
“Tapi, Nyonya….”
“Kamu kerja yang lain aja”. Potong Mia dengan cepat sebelum Siska menyelesaikan ucapannya. Siska lalu menundukkan kepalanya sopan dan meninggalkan mereka.
“Dia di bayar mahal mungkin”, jawab Mia.
“Kamu harus hati-hati, Mi” Mia memicingkan matanya “hati-hati untuk apa?”.
“Mungkin niatnya kerja disini mau menggoda suami kamu”. Mia terdiam dengan mata yang membulat. Siska memang masih muda dan cantik, tidak mungkin kalau dia memang hanya ingin menjadi pengasuh bayi. Tapi Mia percaya pada suaminya, laki-laki itu tidak mungkin tergoda hanya karena seorang wanita cantik.
“Aku percaya sama Mas Donny, dia bahkan meninggalkan Natasya yang secantik dewi demi aku”, ucap Mia dengan sedikit sombong.
“Suami kamu mungkin bisa di percaya, tapi kita tidak tahu niat orang lain”. Mia berdecak kesal. Fiona seperti menumpahkan bensin kedalam bara api.
“Aku nggak ada maksud lain, cuma mau kamu lebih hati-hati”, ucap Fiona melihat raut kesal Mia. Mia tadinya tidak berfikir sampai ke situ, yang dia khwatirkan hanya putrinya bukan suaminya.
__ADS_1
Fiona sudah pulang, Al yang mengantar Donny pulang sekalian menjemput istrinya. Donny yang sudah mengganti baju santainya terlihat bermain bersama anaknya di atas tempat tidur sedangkan Mia masih ada di ruang ganti duduk termenung memikirkan apa yang di katakan Fiona.
“Sayang, kamu bikin apa disitu?” Donny menyusul istrinya karena merasa sudah sejak tadi istrinya berada di ruangan itu. mia berdiri lalu keluar dari ruangan itu.
“Mas…”
“Hemm….” Donny memeluk istrinya dan mencium pucuk kepalanya. Mia lalu menggeleng saat Donny menangkup kedua pipinya, menunggu apa yang akan di katakannya. Donny memicingkan matanya, “ada apa, apa ada yang mengganggu pikiran kamu?” seakan bisa menebak kalau ada sesuatu yang di pikirkan istrinya.
Mia mencium bibir suaminya dengan lembut. “Aku sangat mencintai Mas Donny, kalau Mas Donny meninggalkan aku mungkin aku akan mati”, ucapnya dengan serius setelah melepaskan ciumannya.
“Kasian, Angel akan sendrian kalo begitu”, ucap Donny melihat ke arah anaknya yang sedang bermain sendiri karena orang tuanya sedang bermesraan. Tiba-tiba dada Mia terasa sesak dengan jawaban suaminya, apakah Donny benar-banar akan meninggalkannya bersama anaknya suatu hari nanti.
“Karena saya hanya akan meninggalkan kamu saat saya sudah tidak bernafas lagi”. Donny tersenyum membelai lembut wajah istrinya. Mia merasa seperti istri yang jahat sudah berfikir yang macam-macam tentang suaminya. Mereka lalu menghampiri baby Angel dan bermain bersamanya.
“Mas, malam ini Angel tidur sama kita, ya” kata Mia membujuk suaminya.
“Tidak sayang, dia seharian sudah bersama kamu. Sekarang giliran Papanya yang akan bersama Mamanya”.
“Tapi Mas, aku nggak begitu suka sama pengasuhnya”, Donny memicingkan matanya “Kenapa?” tanyanya.
“Dia masih muda, cantik lagi. Siapa tahu aja dia akan menggoda Mas Donny nanti”. Donny tertawa lebar lalu mencubit ujung hidung istrinya yang sangat lucu dengan wajah kesalnya.
“Baiklah, kalau begitu malam ini hari terakhirnya menemani Angel tidur. Besok Mas Donny akan meminta Al mencarikan pengasuh yang seumuran Bu Mira”. Kata Donny masih menyisakan tawa di wajahnya.
“Mas Donny nggak keberatan?”
“Keberatan kenapa, karena mencari pengasuh yang baru untuk Angel. Mas Donny akan lebih keberatan melihat kamu merasa tidak nyaman berada di rumah kamu sendiri”. Mia sekali lagi memeluk suaminya dan menciuminya di seluruh permukaan wajahnya membuat Donny terkekeh geli, Angel yang melihat orang tuanyapun tertawa dengan mengoyang-goyangkan kaki dan tangannya.
__ADS_1
“Kalau begitu sekarang, biarkan angel tidur untuk yang terkahir kali bersama pengasuhnya”. Donny akan menggendong baby Angel tapi Mia menahannya. “Biar aku aja yang kasih ke pengasuhnya”. Mia tidak mau suaminya bertemu dengan Siska.
“Mas Donny akan memberikan Angel pada Bu Mira, biar Bu Mira yang memberikanya pada pengasuhnya. Mas Donny tidak mau kamu melihatnya kalau kamu tidak menyukainya”. Mia tersenyum senang. Suaminya benar-benar mencintainya.