
Donny sedang memimpin rapat yang membahas proyek baru Oliver Group. Bagian desain grafis sedang menunjukkan foto-foto hasil gambaran tangan beberapa ahli sebagai skema bangunan proyek mereka.
Matanya tertuju pada layar besar di depannya tapi hatinya sedang gelisah memikirkan istrinya, entah kenapa sejak tadi fikirannya hanya tertuju pada istrinya, penjelasan-penjelasan dari bawahannya tidak masuk di kepalanya sama sekali.
Jari telunjuknya di ketuk-ketuk di atas meja dengan punggung yang bersandar di kursi terlihat sedang serius degan fikirannya “Kita tunda rapatnya”, Donny tiba-tiba berdiri mengagetkan semua orang yang ada di ruangan itu. Al yang peka memberi kode kepada sekertaris wanita Donny untuk mengatur ulang jadwal rapat hari ini.
“Di mana Mia Al?” tanyanya sambil terus melangkah terburu-buru.
“Nyonya ada di Megah Mall, Tuan. Leo bersama Nyonya sekarang sudah masuk ke dalam Mall”. Jawab Al sesuai laporan yang dia dapat dari pengawal yang selalu mengikuti Mia.
“Kita kesana!”.
“Baik, Tuan”. Al mengemudikan mobilnya dengan cepat setelah melihat kegelisahan Donny. Apalagi mereka tahu bahwa laki-laki dari masa lalunya sudah kembali ke negeri ini.
Mobil sudah berhenti di depan pintu utama Megah Mall, Donny bahkan sudah keluar sebelum Al turun dan membukakan pintu untuknya. Donny terus melangkah dengan langkah yang lebar mencari istrinya.
Dia menemukannya, dia melihat istrinya seperti seseorang yang terhipnotis diam dan tidak bergerak. Donny berlari menghampirinya.
“Mia, kamu nggap apa-apa”, jiwanya seolah masuk kembali ke dalam raganya begitu mendengar suara yang menyejukkan hatinya. Dia menatap manik hitam suaminya lalu memeluk suaminya dengan erat dan mencium dalam-dalam aroma tubuhnya. Berhasil, dia bisa kembali menguasai dirinya.
“Mas, aku mau pulang”. Donny mengangguk, dia merangkul bahu istrinya dan membawan ya keluar dari Mall itu.
Donny terus memeluknya sepanjang perjalanan pulang kembali ke rumah, Mia berusaha menahan air mata yang mulai mengenangi pelupuk matanya.
Kenapa dia harus bertemu lagi dengannya setelah dia sudah berhasil melupakannya. Kenapa rasa yang sudah dia kubur dalam-dalam kembali menyeruak dan mengganggu hatinya.
__ADS_1
Setelah melihatnya tadi Mia jadi menyadari satu hal, laki-laki itu memang tidak pernah pergi dari hatinya. Dia selalu berada di tempatnya, di dalam hatinya yang terdalam.
Lalu bagaimana posisi Donny di hatinya. Mia mengeratkan pelukannya pada laki-laki yang juga tengah memeluknya, dia yakin dia mencintai suaminya sekarang. Cinta yang bahkan lebih besar dari yang dia berikan dulu pada laki-laki itu.
Laki-laki itu, Mas Dimasnya. Sosok yang datang seperti malaikat tanpa sayap saat dia begitu sedih kehilangan Ibunya. Dia mengulurkan tangan kananya, sedangkan tangan kirinya memegang lolipop raksasa. Mia kecil yang sedang menangis di atas makam Ibunya memperhatikan anak laki-laki itu lalu menggapai tangan yang terulur di depannya.
Sejak saat itu Mia kecil mulai melupakan kesedihannya, Dimas selalu menghiburnya dengan segala macam cara. Hingga dia beranjak remaja dan mulai tumbuh benih-benih cinta di hatinya.
Dimas yang sudah sejak lama jatuh cinta pada gadis kecil yang dia jaga seperti seorang putri merasa sangat bahagia ketika mengetahui Mia tidak hanya menganggapnya seperti kakak. Mereka mulai menjalin hubungan layaknya laki-laki dan perempuan saat Mia berada di kelas sembilan.
Ayah Mia tidak keberatan dengan hubungan putrinya dengan Dimas walaupun saat itu Dimas sudah masuk universitas. Menurutnya Dimas laki-laki yang baik dan penyayang.
Dimas rutin mengantar dan menjemputnya ke sekolah, membantunya mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, kadang-kadang juga memasak untuknya. Dimas sangat mencintainya, dia mulai mencintainya sejak dia tidak tahu apa-apa tentang cinta dan saat dia mengerti tentang cinta dia semakin mencintai gadis itu.
Sampai usianya delapan belas tahun, tidak ada yang berubah dengan hubungannya dengan Dimas, laki-laki itu makin hari makin menunjukkan kasih sayang yang besar padanya.
Lalu Dimas melakukan sebuah kesalahan dengan datang ke sebuah pesta ulang tahun teman sekolahnya yang saat itu juga berkuliah di Universitas yang sama dengannya. Seorang wanita yang sudah sejak lama menyukainya merencanakan hal licik untuk menjebaknya dan dia berhasil.
Dan terjadilah sesuatu yang di luar rencananya yang jauh dari rencana masa depannya bersama Mia. Wanita itu hamil. Wanita itu dan keluarganya menuntut pertanggung jawabannya. Dimas menolak bertanggung jawab karena dia merasa di jebak, dia ingin membuktikan bahwa semua sudah di atur oleh Monika, wanita yang terus menangis karena merasa menjadi korban.
Keluarga Monika mengancam akan menyakiti Ayah, Ibunya juga Mia bila Dimas tidak mau bertanggung jawab. Dimas yang awalnya menolak akhirnya terpaksa menyetujuinya karena ancaman mereka memang tidak main-main.
Hatinya begitu terluka mengingat dia sudah menyakiti gadis yang di sayanginya, dia mengajukan syarat untuk pindah ke luar Negeri dan juga dia ingin menunggu hari kelulusan Mia. Dia tidak mungkin meninggalkan gadis kecilnya belajar sendirian, gadis kecil itu tidak bisa melakukan apapun tanpanya.
Delapan tahun dia menjaganya, mengisi hari-harinya dengan cinta dan kasih sayang, berjanji padanya akan selalu menemaninya sepanjang hidupnya. Tapi dia melanggar janjinya sendiri dan meninggalkan gadis itu, memberikannya luka yang sangat dalam.
__ADS_1
Donny memapah istrinya masuk ke dalam kamar, dia melihat saat ini istrinya sangat rapuh. Dia pasti melihat laki-laki itu tadi, bisik Donny dalam hatinya.
Air matanya mulai jatuh, semua yang sudah dia lupakan kembali datang dan berputar di kepalanya. Bagaimana dia menangisinya setiap hari, bagaimana dia mulai menjalani hidupnya setelah dua laki-laki yang paling di citainya meninggalkannya.
Mia terisak pilu, Donny memeluk istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan menekuk kakinya.
Ayahnya. Melihat Dimas tentu saja mengingatkannya pada Ayahnya.
“Seandainya aku tidak terlalu rapuh, seandainya waktu itu aku bisa lebih tegar. Mungkin Ayah masih ada di dunia saat ini”. Ucapnya di sela isak tangisnya.
Melihat kesedihan putrinya yang tidak kunjung mereda, Ayahnya berinisiatif mengajaknya liburan ke luar kota. Mia setuju, mereka lalu pergi berdua. Saat di perjalanan, tiba-tiba ada mobil dari arah berlawanan yang hilang kendali, Ayahnya mencoba menghindarinya tapi malah tertabrak dari belakang oleh mobil truck. Mobil yang di kemudikan Ayahnya terlempar dan terbalik.
“Aku melihat Ayah berlumuran darah, dia merangkak ingin memegang tanganku”, ucapannya terhenti oleh tangis yang semakin deras, “Tapi Ayah sudah menutup matanya sebelum meraih tanganku”.
Hari itu dia kehilangan Ayahnya, dia bahkan tidak bisa menghadiri pemakamannya. Mia koma di rumah sakit. Saat dia sadar, dia seperti orang gila mencari Ayahnya.
Bayangan Ayahnya yang berlumuran darah membuatnya semakin kehilangan kendali dirinya, dia terus menyakiti dirinya karena merasa menjadi penyebab kematian Ayahnya.
Donny masih memeluknya, mendengar ceritanya dalam isak tangisnya. Dia tahu tentang kecelakaan itu, tapi dia tidak tahu cerita di balik kecelakaan itu. Donny mengeratkan pelukannya, tidak ada yang bisa dia lakukan selain memeluk istrinya.
Kekuasaan yang dia miliki tidak bisa membuat istrinya berhenti menangis, tidak dia bahkan tidak ingin menyuruhnya berhenti menangis. Mungkin dengan begitu hatinya bisa sedikit lega.
Mia menyeka pipinya yang basah oleh air mata. “Mas, aku kangen Ayah, aku mau ke Bandung”. Ucapnya dengan suara serak.
Donny membantunya menghapus sisa-sisa air yang masih menempel di pipinya. “Kita ke Bandung besok”. Mia kembali menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya, seperti menjadi aroma terapi tersendiri untuknya. Pikiranya bisa tenang hanya dengan mencium aroma tubuh suaminya.
__ADS_1